Hingga hampir tengah malam, Rahagi dan Kanaya berbincang. Walaupun lebih tepat, Rahagi yang banyak bicara dan Kanaya mendengarkan. Seperti burung yang lelah terbang dan telah menemukan rumahnya, Rahagi tak sungkan mengungkapkan kegelisahan hatinya. Dia meluapkan kemarahannya pada Marina yang dicapnya egois karena berencana memindahkan sekolah Alana yang baru memasuki pekan pertama, padahal sebelumnya dia menolak rencana Rahagi melakukan hal yang sama. Kemudian, murkanya berganti dengan kegundahan bila harus berentang jarak ratusan kilometer dari anak perempuannya. Sebab, dia tak lagi bisa semudah sebelumnya untuk bertemu. Membutuhkan energi dan biaya yang lumayan untuk sering-sering menjumpainya. Kanaya tak banyak berkata, dia malah melamun sendiri. Teringat pada ayahnya yang sepertinya

