Rahagi balas menatap Kanaya. Udara di antara mereka menghampa sesaat. Hanya terdengar debur jantungnya yang seperti ombak menghantam karang, keras berderak-derak. “Aku nggak salah dengar nih, Kak?” tanya Kanaya tidak percaya. “Memang kamu dengarnya apa?” “Yang tadi Kakak bilang!” “Ya, aku bilang apa?” “Mau ngelamar aku! Kakak serius?” Kanaya balik bertanya. “Memangnya boleh aku nggak serius?” “Kakak suka bercandain aku soalnya.” “Kamu maunya aku serius apa bercanda?” “Jangan bercanda soal beginian.” “Aku kan sudah bilang serius.” “Ya, tapi kayak orang bercanda.” Rahagi meletakkan jari telunjuknya di bibir Kanaya. Mengakhiri pembahasan yang semestinya romantis, namun malah jadi perdebatan receh yang bisa tidak ada tamatnya. “Aku nggak bercanda, Kanaya!” Kanaya merapatkan bi

