Part 23Matahari pagi meredup, gulungan awan perlahan terlihat berarak. Sepertinya akan turun gerombolan air dari langit sebentar lagi. "Yaaah mendung, malah mau hujan. Kita jadi gagal menikmati suasana pagi di alun-alun kota. Maaf, ya, sayang." Aku menyimpan jari jemari Yasmin di genggaman tangan. Harusnya tadi kami bisa menemani Nuna berlarian kecil di hijaunya rumput taman alun-alun, namun kami justru membuntuti Riani hingga mendung bergelayut. "Tak apa, Mas. Tak boleh mengeluhkan hujan yang turun, itu rahmat dari Allah. Bisa nanti sore kita jalan lagi, pulang saja dulu bagaimana?" Yasmin menyunggingkan seulas senyum, teduh menenangkan. Aku pun mengangguk. Mobil melaju meninggalkan sisi depan rumah tempat Riani membawa masuk nasi kuning yang dibelinya tadi. "Mas, perbanyak rasa syuk

