Yasmin masih saja berdiri di depan lemari pakaiannya. "Aku juga takut setelah merasakan pujian dari orang, nantinya aku tergoda menukar model pakaianku yang lama dengan yang baru-baru." "Ya ampun, Yasmin. Jangan berlebihan kalau berpikir. Semua kan tergantung niatnya." Aku mendekati istriku, mengambil jilbab di tangannya lalu mencoba memakaikan di kepalanya. "Wah, iya. Mas pintar, aku harus memperbaiki niatku setiap saat, menjaganya agar tak besar hati jika mendapat pujian dari siapapun nanti. Eh, GR, ada yang muji juga gak." "Sudah cantik dan rapi, ayo kita berangkat." Aku meraih tangan Yasmin, menuntunnya keluar kamar agar cepat berangkat ke acara kantor yang akan diampunya. Yasmin merapikan jilbabnya sekali lagi, mengambil tasnya dan mengikuti langkahku. "Bismillah, bebaskan hat

