Bertemu Kembali

1006 Kata
Clarita melamun menatap keluar jendela mobil. Hari sudah sangat larut. Ia juga sudah mengabari kedua orang tuanya jika ia tidak akan pulang ke rumah karena terlalu larut dan ... ia tidak yakin akan tenang tanpa adanya pertanyaan mengenai siapa itu “Stevano”. “Beberapa orang mengaku bernama Stevano dan membanjiri kolom komentar dan mengirim DM pada instagrammu,” ujar Devi yang tengah mengecek i********: milik Clarita setelah tadi mengupload beberapa photo untuk keperluan endors. “Abaikan,” jawab Clarita malas. “Termasuk yang mengataimu seorang pelakor?” tanya Devi yang sukses merebut semua perhatian Clarita dari jalanan. “Pelakor?” “Setelah wawancara tadi banyak media yang mulai mencari tahu siapa Stevano Archer. Dan ... ia sudah menikah lima tahun lalu dan sudah memiliki seorang anak,” ujar Devi sambil membaca beberapa komentar di akun i********: Clarita. Tubuh Clarita rasanya sangat lemas. “Benar-benar bodoh!” Clarita merutuki dirinya. “Ya, kau bodoh.” Clarita menatap ke arah Devi. “Kau baru saja mengataiku bodoh?” Devi mengangkat bahunya. “Kau yang lebih dulu mengatai dirimu sendiri.” “Kita sudah sampai nona,” ujar sopir pribadinya dan mobil yang ia tumpangi sudah berada di depan lobi sebuah hotel. “Kau sudah memesan kamarnya, kan?” tanya Clarita pada Devi, memastikan. Devi menganggukkan kepalanya dan menunjukkan bukti transaksi dan nomor kamar yang dipesannya. Devi berjalan mendahului Clarita untuk mengambil kunci di resepsionis. Sementara itu, Clarita memilih mengamati interior di dalam hotel. Ia mendapati beberapa pegawai hotel sedang membersihkan lobi dari beberapa hiasan. “Ini kunci kamarmu.” Devi menyerahkan sebuah kartu pada Clarita. “Sepertinya tadi ada acara,” ujar Clarita yang kini mengamati karpet merah yang membentang sepanjang koridor. Devi mengangkat tabnya. “Sepertinya ini hari tersialmu.” Clarita menatap bingung pada Devi. “Maksudmu?” “Stevano Archer baru saja merayakan ulang tahun perusahaannya ... di sini.” Clarita menahan napasnya untuk beberapa saat. “Jangan bilang jika ...“ “Hotel ini milik Archer Family,” potong Devi. Clarita menghela napasnya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lift. “Semoga tidak ada media yang meliput,” gumam Clarita yang masih terdengar oleh Devi yang menunggu di hadapan lift. “Bagaimana dengan mereka?” Devi menunjuk pada ujung koridor. Clarita mengikuti arah telunjuk Devi, nampak terdapat beberapa pegawai hotel yang berkerumun dan pura-pura sibuk dengan beberapa dekorasi yang sebenarnya sudah dirapihkan. “Sial!” Tak lama lift berdenting. Saat pintu terbuka, buru-buru Clarita masuk tapi sayang ia menabrak seseorang hingga ia dan orang itu terjatuh. Clarita mengusap pantatnya yang harus terbentur lantai keras hotel. Tak jauh berbeda dengan Clarita, orang yang ditabrak Clarita juga terjatuh dengan posisi terduduk. “Maafkan aku,” ujar Clarita sambil mengambil tas milikya yang berada di dekat kaki orang yang ditabraknya. Dan saat akan mengambil ponselnya yang berada di sisi tubuh orang yang ditabraknya, tanpa sengaja Clarita menatap wajah orang tersebut. “Clarita Harington,” panggil orang tersebut. Tubuh Clarita terasa kaku saat menyadari siapa yang berada di hadapannya kini. Di saat yang bersamaan, ponsel Clarita berdering dan menampilkan sebuah nada panggilan dari Robert. “Sial!” ** CLARITA HARINGTON DAN STEVANO ARCHER TERLIHAT DI SEBUAH HOTEL MILIK STEVANO TADI MALAM, BENARKAH KEDUANYA TENGAH MENJALIN HUBUNGAN? Robert memijat pangkal hidungnya. Membaca beberapa artikel di internet serta surat kabar yang berisi berita mengenai kedekatan putri sulungnya dengan Stevano Archer. “Benarkan tebakanku! Jika Clarita tengah dekat dengan pria itu,” gerutu Anne yang juga tengah membaca berita mengenai putrinya itu. Sedari tadi Anne mengomel di hadapan suaminya. “Kita harus segera memastikannya! Aku tidak mau anak itu semakin membuat nama keluarga kita jelek!” “Apalagi semalam mereka ada di hotel yang sama,” ujar Anne penuh kemarahan. Robert mengusap punggung istrinya, “Tenangkan dirimu dulu.” “Aku akan segera menemui Stevano Archer, karena aku yakin Clarita akan menghindar lagi seperti kemarin,” lanjut Robert. Anne menghela napasnya. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Robert. “Aku hanya khawatir.” “Aku tahu.” “Stevano sudah menikah dan memiliki seorang anak.” “Dia pasti akan langsung mengkonfirmasi jika itu semua hanya kesalah pahaman.” Anne menganggukkan kepalanya dan memeluk erat suaminya. ** Michael menatap tak suka pada sosok wanita yang kini duduk di sampingnya. Sedari tadi mereka hanya diliputi keheningan. Dalam hati Michael menahan amarahnya pada sang ayah yang mengatakan jika mereka akan makan siang bersama untuk membahas masalah Clarita. Dipandangnya wanita dihadapannya ini dari atas hingga bawah. Ayahnya memang tidak pernah memberinya wanita sembarangan. Terbukti dari penampilan wanita dihadapannya yang anggun tetapi tetap sopan. “Kau ingin memesan sesuatu?” tanya wanita di hadapannya yang bernama Tessa. Michael meraih buku menu yang sedari tadi ia anggurkan. Menyebutkan beberapa menu pada pelayan yang entah kapan berdiri di sana dan ia baru disadarinya. Tessa juga melakukan hal serupa. Pelayan tersebut meninggalkan mereka berdua. Michael menatap layar ponselnya, mengecek apakah ayahnya membalas pesan dirinya atau tidak. “Tuan Robert bilang kau ingin bertemu denganku.” Michael mengalihkan perhatiannya pada Tessa. “Jadi ... apa yang ingin kau katakan?” Menahan geraman marah, Michael memilih untuk mengalihkan perhatiannya. Ia tahu, jika ini perbuatan Robert. “Tidak ada,” ujar Michael acuh tak acuh. Tessa tersenyum. “Ayahmu juga mengatakan jika kau pemalu.” Michael mengepal tangannya. “Pemalu? Kita lihat apa yang akan dilakukan si pemalu,” gumam Michael. Pura-pura melirik jam tangannya, Michael bangit dari duduknya dan hal itu sukses menyedot perhatian Tessa. “Aku baru ingat jika ada meeting di luar kota. Maaf tidak bisa menemanimu makan siang. Aku permisi.” Tessa hanya duduk terpaku di tempatnya. Sedangkan Michael sudah beranjak pergi meninggalkanya dengan seringai di wajahnya. ** Clarita mengipasi telinganya yang terasa panas sejak tadi pagi ia pergi keluar. Menatap sekitarnya, Clarita tidak ingin sesuatu yang sial menimpanya seperti kemarin. Memasang tudung hoodie-nya, Clarita melangkah keluar dari salah satu salon. Hari ini, ia tidak ditemani Devi maupun sopinya hari setiap akhir pekan merupakan jadwalnya untuk libur dari rutinitasnya. Sampai di dalam mobilnya, Clarita menghela napas lega. Membuka tudung hoodie-nya, Clarita memilih menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak. Tak lama ia merasakan ponselnya bergetar. Clarita meraih ponsel yang berada di dalam saku hoodie-nya. Nampak dua pesan masuk secara bersamaan. Clarita memilih membuka pesan dari ayahnya terlebih dahulu. Malam ini pulang ke rumah. Clarita menghela napasnya. Daripada menggunakan tanda seru, Robert lebih sering ngenggunakan titik untuk menunjukkan jika pesannya berisi perintah yang tidak bisa dibantah. Clarita tahu apa yang akan dibahas oleh ayahnya, apalagi jika bukan berita dirinya yang digosipkan tengah dekat dengan Stevano Archer dan menjadi berita nomor satu saat ini. Clarita beralih membuka pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Matanya terbelalak saat melihatnya pesan dari orang yang baru saja dia pikirkan sejenak, pikirannya melayang pada cinta pertamanya. Sesorang yang mampu mendebarkan hatinya, bahkan kini jauh lebih kencang, hanya saja sedikit kekecewaan dalam hatinya bahwa Stevan memiliki seorang duda tampan. Aku senang kita bisa bertemu kembali.   Stevano Archer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN