Clarita menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di hadapannya Robert dan Anne sedang menatapnya dengan tajam. Dalam hati Clarita terus merutuki dirinya yang bertindak bodoh dan berakhir di kantor ayahnya setelah ia selesai melakukan wawancara singkat secara live di sebuah acara talk show.
(Flashback on)
“Hari ini kita kedatangan bintang tamu yang sedang menjadi pembicaraan banyak orang karena perannya dalam sebuah film action yang baru saja diluruncurkan. Siapa lagi kalau bukan Clarita Harington,” ujar pembawa acara dengan begitu semangatnya dan masuklah Clarita ke atas panggung diiringi dengan suara tepuk tangan penonton.
“Apa kabar Clarita?” Pembawa acar tersebut menjabat tangan Clarita.
“Baik,” balas Clarita.
“Silahkan duduk.” Clarita duduk di salah satu kursi yang sudah disiapkan.
“Seperti yang kita tahu, jika Clarita ini biasanya membintangi film-film yang bergendre romans, dan tiba-tiba muncul dalam film action. Bagaimana kamu bisa memutuskan untuk ikut bermain dalam film action tersebut?” tanya pembawa acara.
“Pas ditawarin film ini aku mikirnya cukup lama, karena kan biasanya aku cuman bintangin film-film romans. Ini aku bisa atau enggak,” jawab Clarita.
“Karena di film itu aku harus ngelakuin beberapa adegan bela diri dan sebelumnya aku belum pernah berlatih bela diri,” lanjut Clarita.
“Ah iya, dibeberapa adegan memang harus ngeluarin jurus dulu,” ujar pembawa acara dengan sedikit guyonan dan gerakan yang mengundang tawa penonton.
Clarita juga ikut tertawa dan menganggukkan kepalanya. “Tapi aku pikir aku butuh suasana baru nih, jadi aku ambil tawarannya.”
“Selama proses syuting pernah sampe terluka?”
“Luka sampe berdarah sih enggak. Cuman lumayan bikin badan sakit-sakit sih.”
“Kalo saya yang jadi kamu, baru keluar udah encok kali,” ujar pembawa acara yang lagi mengundang tawa penonton. “Maklum faktor U.”
“Eh, iya bentar lagi Clarita ulang tahun yang ke ...”
“Tiga puluh tahun,” lanjut Clarita.
“Sudah mau tiga puluh tahun tapi tetap bugar, ya.” Clarita hanya menanggapinya dengan senyuman. “Eh, tapi selama ini kita belum pernah dengar kamu deket dengan pria. Udah ada gandengan belum buat kepelaminan? Secara umur kamu kan udah mau tiga puluh tahun.”
“Doakan saja,” jawab Clarita.
“Wah, sepertinya sudah ada nih,” seru pembawa acara. “Siapa sih orangnya? Penonton juga pasti pada penasaran.” Penonton yang berada di studio serempak mengiyakan ucapan pembawa acara.
“Nanti juga tahu,” ujar Clarita malu-malu, padahal dirinya tengah cemas saat ini.
“Ayolah.” Clarisa menggelengkan kepalanya. “Inisial deh,” tawar pembawa acara.
“Stevano,” ujar Clarisa secara spontan dan langsung menutup mulutnya.
“Wah ... siapa nih Stevano,” goda sang pembawa acara.
(Flashback off)
“Siapa Stevano?” tanya Robert dengan nada penuh intimidasi. Clarita bergeming di tempatnya. “Dia kekasihmu?”
Clarita tidak menjawab. Ia mencoba memikirkan sebuah nama laki-laki yang memiliki kemiripan.
“Stevano Archer?” tanya Anne sambil menurunkan ponselnya dan menatap Clarita. Clarita mengerutkan keningnya lama.
“Stevano Archer,” gumam Clarita.
“Perusahaan Archer Family?” tanya Robert pada sang istri.
Anne menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan sebuah artikel mengenai biografi Stevan Archer. Robert menerima ponsel Anne dan mulai fokus membacanya. “Kau mengenalnya?”
“Banyak nama Stevano di dunia ini, bu,” jawab Clarita.
“Ibu hanya asal menyebutkan?” tebak Anne dan Clarita tidak langsung menjawab. “Aku anggap itu benar.”
Anne menghela napasnya pelan. “Kau seorang publik figur yang tengah naik daun dan anak pertama keluarga Harington,” ucap Anne. “Bagaimana jika orang-orang tahu kau hanya membual?”
“Aku akan mengenalkannya pada kalian dalam waktu dekat,” ucap Clarita yang tidak terima dengan ucapan ibunya. “Kalian jangan khawatir, aku akan mengatasinya.”
Clarita bangkit dari duduknya. “Aku pergi dulu.”
“Kuharap kau tidak terlambat mengenalkannya,” ucapan Robert membuat Clarita yang hendak membuka pintu terhenti dan berbalik menatap Robert yang tengah mengacungkan ponsel milik Anne. “Ayah tidak ragu untuk menelponnya.”
Menarik napasnya pelan, Clarita membalikkan tubuhnya dan membuka pintu ruangan ayahnya dan pergi entah kemana.
“Aku akan memanggil Archer untuk bertemu dengan Clarita,” ujar Robert begitu Clarita pergi.
“Kau berniat menjodohkan mereka?” Anne menatap suaminya dalam. Robert mengangkat bahunya. “Kupikir kau sudah menyerah menjodohkannya.”
“Aku rasa Clarita tidak akan menolaknya kali ini,” ujar Robert dengan percaya dirinya.
**
El tertawa keras mendengar cerita Clarita. “Bagaimana bisa kau asal menyebut nama?”
“Kau tahu, pembawa acara tadi seperti meledekku dengan menanyakan soal pria,” jawab Clarita dengan wajah yang ditekuk kesal.
“Stevano, itu nama yang cukup keren dan sepertinya orang-orang tidak akn menyadarinya dengan cepat.” El meredakan tawanya. “Kuharap mereka tidak mewawancarain seluruh pria yang bernama Stevano.”
“Stevano,” gumam Clarita merasa familiar dengan nama itu.
Clarita merasa jantungnya berhenti berdetak saat ia mengingat jika ada seseorang bernama Stevano dalam hidupnya. Anak pria tengil dengan wajah dekil, namun mampu membuatnya jatuh cinta. Bagaimana mungkin dia melupakan cinta pertamanya. Dan seingatnya hanya pria itu yang membuatnya demikian.
“Kau tahu,” ujar El membuat Clarita keluar dari lamunannya. “Ucapan spontan adalah ucapan paling jujur.”
“Apa benar, jika aku masih mencintainya,” batin Clarita.
“Kau baik-baik saja?” tanya El begitu menatap wajah kusam Clarita.
“Aku harus menemukan Stevano yang tepat,” keluh Clarita.
“Kau bisa mencari nama pengusaha yang memiliki nama Stevano di google, atau membuka website biro jodoh?”
“Ide terkonyol.” Clarita memutar matanya malas. Ia melirik jam tangannya dan berajak dari duduknya. “Aku harus pergi, jam tujuh nanti ada acara dan aku harus bersiap.”
“Bersiap untuk ditanya siapa itu Stevano?” El kembali tertawa.
“Aku menyesal memberi tahumu,” gerutu Clarita sambil berlalu keluar dari rumah El.
“AKU DOAKAN KALIAN BERJODOH!!” ujar El sambil tertawa. “Siapapun Stevano itu.” Clarita menghentakkan kakinya dengan wajah tertekuk.
**
Clarita menebar senyumannya pada kamera yang menyorotnya. Kali ini ia tengah bersama beberapa pemain lain yang ikut bermain dalam film yang membuat namanya melejit kini. Dan saat ini, mereka tengah diberikan pertanyaan perorang.
“Clarita,” panggil pembawa acara yang berarti kini giliran dirinya. “Siapakah sosok Stevano yang kau maksud?” Berbeda dengan pemain lainnya yang diberi pertanyaan seputar film, Clarita justru mendapat pertanyaan yang sedang berusaha dia lupakan.
Beberapa pemain lain mulai menggodanya. Suara penonton juga mulai mendesaknya yang kebingungan menjawab. Seharusnya Clarita tidak mengabaikan perkataan El tentang ‘siapa itu Stevano’.
Mengangkat sedikit kedua ujung bibirnya, Clarita menjawab, “Rahasia.”
Sorak sorai penonton semakin menjadi. Begitu juga dengan beberapa pemain yang terus mendesaknya.
“Tapi tim kami sudah mencari tahu siapa kira-kira sosok Stevan yang Anda maksud,” ujar pembawa acara yang membuat Clarita gelisah. “Kita semua tahu jika Clarita berasal dari keluarga Harington yang merupakan pemilik sebuah perusahaan besar dan tentunya ... Stevano ini bukan orang sembarangan.”
“Mampus,” batin Clarita.
“Tim Kreatif mana photonya?” tanya pembawa acara karena belum mendapati poto Stevan yang ia maksud dilayar monitor.
Clarita menatap layar monitor yang berada di belakangnya. Nampak sebuah wajah pria matang dengan setelan jas serta rambut rapih. Clarita mengenalnya dan mengingatnya dengan versi lain. Versi anak SMP yang tengil juga dekil.
“Stevano Archer.”