Karir vs Jodoh

1061 Kata
"Dan apa katamu tadi?" Anne menatap tajam ke arah Clarita. "Aku lebih suka membaca kontrak kerja daripada buku nikah" ulang Anne. "Bu, sekarang ini aku mau fokus pada karirku," ujar Clarita. "Kau terus mengucapkan kalimat yang sama berulang kali, sejak 4 tahun yang lalu." Clarita menghela napas pelan. Ia lupa jika sang ibu memiliki ingatan yang kuat walaupun sudah berusia 56 tahun. "Teman-temanmu sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki dua anak. Kau? Kekasih saja tidak punya." "Aku punya!" seru Clarita yang membuat semua orang langsung menatapnya. Menyadari ucapannya, Clarita memilih mengalihkan pandangannya. "Aku tidak yakin!" seru Michael saat menatap wajah sang kakak. "Orang-orang pasti akan langsung memberitakanmu, jika kau dekat dengan pria." Clarita tidak menjawab, ia memilih beranjak dan melakukan sedikit peregangan. "Aku ijin ke kamar lebih dulu, selamat malam." Clarita beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya dengan langkah yang dia buat senatural mungkin. Ia bersyukur memiliki bakat berakting yang bagus, sehingga orang-orang tidak mencurigainya. ** Devi mengerutkkan keningnya bingung. Biasanya di pagi hari seperti ini, Clarita belum bangun dan harus ia bangunkan dengan menggedor pintu kamar hingga tangannya memerah. Tapi pagi ini Clarita sudah siap dengan penampilan rapih serta wajah cemberut yang benar-benar membuat make up yang ia kenakan terlihat sia-sia. “Cepatlah!” Clarita berlalu mendahului Devi menuju mobilnya. “Kau tidak ingin kita terlambat, kan Devi?!” Devi mengerjapkan matanya sebelum ikut masuk ke dalam mobil. “Apa jadwal kita hari ini?” Clarita menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya. “Mengisi acara talk show di statiun televisi A, wawancara di radio G jam sebelas, syuting iklan jam satu siang, dan pemotretan untuk keperluan endors jam enam sore,” ujar Devi membacakan jadwal Clarita. Menghela napasnya, Clarita menegakkan posisi duduknya dan menatap ke arah Devi. “Selama aku syuting di statiun televisi A, bisakah kau mencarika hadiah ulang tahun untuk anak laki-laki yang berusia lima tahun?” “Hadiah seperti apa yang kau inginkan?” “Terserah, aku tidak paham dengan mainan anak. Bukannya kau juga memiliki anak berusia lima tahun?” tanya Clarita sambil mengingat wajah anak managernya tersebut. “Anakku berusia enam tahun dan dia perempuan,” koreksi Devi. “Ya setidaknya dia pernah berusia lima tahun dan bukannya mainan anak perempuan selalu bersebelahan dengan mainan anak laki-laki?” ujar Clarita dengan segala perkiraanya. Devi memutar matanya malas. “Bagaimana jika anak itu tidak menyukai hadiahnya?” “Dia tidak akan membukanya tahu jika itu hadiah dariku.” Devi menganggukkan kepalanya. “Baiklah.” “Kapan kau akan pergi ke acara itu?” tanya Devi sambil mengeluarkan tab-nya, membuka poto undangan yang dikirim Clarita tadi pagi. Calrita mengangkat bahunya. “Mungkin jam sembilan malam?” “ Di undangan, acara dimulai jam sembilan pagi,” ujar Devi. “Jika kau ingin menanggung denda pembatalan kontrak, aku tidak masalah,” balas Clarita yang langsung disambut gelengan kepala dari Devi. ** “Kau terlambar dua belas jam, nyonya Clarita,” ujar El begitu mendapati Clarita di depan rumahnya. “Setidaknya aku datang,” balas Clarita. “Kau tidak membiarkan aku masuk, duduk, dan memberiku lemon tea hangat dengan biskuit?” El menatap malas ke arah Clarita. “Kau baru saja mengabsen jamuan yang kau inginkan, nyonya Clarita?” Clarita terkekeh pelan menatap wajah tidak bersahabta milik temannya. “Kau tahu aku pilih-pilih makanan.” “Agar tubuhmu tetap langsing, wajahmu bebas jerawat, suaramu tetap bagus, dan ... sesuai dengan seleramu.” Clarita tertawa mendengar kalimat yang biasa dirinya ucapkan setiap kali berkunjung ke rumah temannya ini. “Kau terlalu mengenalku, El.” “Kau selalu mengulanginya.” “Dan kau selalu bertanya hal yang sama,” ujar Clarita. “Kau tidak membiarkan aku masuk, duduk-“ “Silahkan nyonya Clarita,” ujar El sambil membuka lebar pintu rumahnya. Clarita menalangkah masuk ke dalam rumah El dan langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah temannya. Meletakkan kantong berisi kado di atas meja, Clarita kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. “Kau tidak menemaniku?” tanya Clarita begitu mendapati El yang berlalu. “Tadi Anda meminta lemon tea hangat dan biskuit, betul nyonya?” tanya El dengan gaya seperti pelayan restoran. “Bukankah kau bisa menyuruh pembantu untuk membuatkannya dan menemaniku di sini?” “Mereka sedang sibuk membereskan halaman belakang. Jadi, duduklah dengan manis dan pesananmu akan segera datang.” El beranjak dari hadapan Clarita. Seperginya El, Clarita memulih membuka ponselnya dan melihat beberapa postingan teman-temannya di akun i********: miliknya. Tak dihiraukannya beberapa notifikasi dari para netrizen yang sudah ia bisa ia tebak. Tangannya terhenti pada sebuah postingan milik El. Di sana nampak potrek keluarga kecil El tertawa bahagia menyaksikan anak pertamanya meniup lilin. Juga beberapa tamu undangan yang bertepuk tangan. Clarita bukan tidak ingin untuk menikah, tapi sejauh ini ia belum menemukan pasangan yang cocok. Di tambah kesibukannya setiap hari dan ia juga belum rela dengan apa yang didapatnya kini harus ditinggalkan begitu saja. “Sepertinya kau tidak datang hanya untuk memberikan kado,” ujar El sambil meletakkan nampan berisi dua gelan lemon tea hangat dan setoples biskuit. “Dan sekali lagi, kau terlalu mengenalku,” balas Clarita sambil meraih segelas lemon tea hangat. El menganggukkan kepalanya. “Ya, dan sekali lagi lagi tebakanku benar maka kau harus memberiku hadiah.” Clarita menatap El dengan halis terangkat. “Aku tebak, kau akan megeluh soal pernikahan.” Clarita menghela napasnya kesal dan El memekik senang karena tebakannya benar. “Aku ingin jika Cancel mengeluarkan tas terbaru mereka, kau harus langsung membelikannya untukku.” “Aku bahkan belum memiliki tas terbaru mereka, dan kau sudah meminta produk yang belum mereka pikirkan.” Clarita mendengus sebal. El tertawa renyah melihat temannya kesal. “Dan kau tahu? Aku sudah memiliki tas terbaru itu.” El mengeluarkan ponselnya dan menunjukan poto dirinya dan tas yang dimaksudnya. Membuat Clarita menatap El dengan ragu. “Kau tidak percaya? Aku akan mengambilnya,” ujar El begitu mendapati keraguan Clarita. “Tidak usah,” cegas Clarita. “aku tidak punya cukup waktu untuk meladeni kesombonganmu itu.” El mendengus tak suka dengan kalimat yang dilontarkan Clarita. “Kau bilang aku akan mengeluh soal pernikahan, jadi kita mulai saja.” Menarik napas dalam-dalam Clarita mulai bercerita. “Tadi pagi, aku sengaja bangun lebih cepat dari biasanya karena aku yakin ibu akan membicarakan hal itu lagi.” “Memangnya kalian membicarakannya kemarin?” “Ya, dan semua ini gara-gara kau datang ke rumahku.” Clarita menatap tajam ke arah El yang justru terkekeh pelan. “Ibu langsung merecokiku perihal menikah, puncaknya tadi pagi. Ibu menemukanku yang tengah mengendap-endap untuk pergi.” “Ibu memaksaku utuk sarapan bersama. Saat sarapan ibu menyinggu soal pernikahan lagi.” Clarita menghela napasnya. “Ia bertanya soal siapa kekasihku-“ “Kau punya kekasih?!” seru El dengan semangat. “Aku terpancing emosi saat itu karena selalu dipojokkan, jadi aku bilang aku sudah punya kekasih.” “Kau melakukan kesalahn fatal.” “Ya, aku tahu,” ujar Clarita. “Tapi aku tidak bisa menarik kata-kataku-“ “Kau ingin meminta bantuanku untuk mencarikanmu kekasih yang siap menikahimu, begitu?” tebak El memotong ucapan Clarita. “Kau berpikir terlalu jauh, tapi sepertinya aku akan mempertimbangkan hal itu.” “Sial!” Clarita terkekeh mendapati wajah kesal El. “Ibu mengatakan jika dirinya khawatir jika nantinya aku akan hamil diusia tua karena memiliki resiko besar,” ujar Clarita melanjutkan ceritanya. “Ibumu benar.” “Aku hanya takut jika nanti karirku harus benar-benar berakhir.” “Kau harus mencari laki-laki yang menerima pekerjaanmu dan selalu mendukungmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN