Putus Ya?

1004 Kata
"Wah, nyonya sibuk apa nih?" goda Michael Melihat Marshanda yang sibuk sekali dengan laporan keuangan. Sejak kemarin ada hal janggal dari laporan keuangan, semenjak restoran Marshanda lebih besar dan ramai pembeli, ada beberapa transaksi yang tidak ia catat, membuatnya kelimpungan menghitung dana pemasukan dan pengeluaran. Sesekali Marshansa memijat pelipisnya, bahkan ucapan Michael tak terdengar olehnya. Dia sangat fokus dan mencari letak kesalahan pada nominal debit dan kredit. Marshanda masih menganggap semua ini uang Michael dan modal yang diberikan harus dia kembalikan, Marshanda memang begitu, gadis tanggung jawab yang tidak mau merepotkan orang lain meski itu pacarnya sendiri, baginya Michael seperti penolong hujan dalam kekeringan. Dia harusnya berterimakasih banyak kepada Michael atas bantuan lelaki itu, tapi Marshanda malah memilih untuk merasa terbebani atas semua ini.  Sebenarnya Michael sendiri sudah tak ambil pusing atas dana yang dia berikan, dia sangat ikhlas dan dengan senang hati membantu Marshanda untuk mensukseskan bisnisnya. Bukan masalah besar bagi Michael jika mengeluarkan semua dana yang dia miliki, karena baginya prioritas Marshanda adalah yang paling utama. Masrhanda adalah gadis cantik yang mampu memikat hatinya. Bukan hanya karena kecantikan Marsha, tapi keuletan, kebaikan hati, dan keteguhan Marsha. Benar-benar cocok sebagai idaman Michael. Hari ini, Michael akan memberi surprise kepada Marshanda.  Kini restauran Marshanda dikenal oleh seantero jagad raya, semua kenal restoran padang milik Marshanda dan ibunya, bahkan tak jarang reporter datang dan beberapa vlogger meliput restorannya.  Kalau dulu hanya restoran kecil biasa, tapi kini lebarnya bahkan lima kali lipat, sangat luas. Rencananya Marsha juga akan memperluas bagian belakang membuat taman hias dan kolam untuk suasana makan outdoor. Satu-satunya kunci sukses Marsha adalah sabar. Dia selalu sabar dalam menghadapi situasi apapun dan senantiasa positive thinking atas semua yang terjadi. Michael masih setia menunggu Marsha yang sibuk dengan kertas di hadapannya. Michael memilih keluar restoran dan melihat parkiran, ada sentuhan desain yang ingin ia tambahkan agar lebih menarik. “Loh, nak Michael?” sapa bu Ina, ibu Marsha. “Eh Ibu, gimana Bu kabarnya?” Michael menjulurkan tangannya dan salam kepada ibu Marsha. “Baik Nak, lama ya kamu enggak kesini kayanya hampir sebulan. Marsha sering lo galau terus mimpiin kamu, nyebut-nyebut nama kamu lagi.” “Oh iya kah Bu? Maaf kalau saya memang ngangenin ya Bu.” Michael tertawa renyah, hingga membuat matanya menjadi agak sipit. “Sudah bertemu dengan Marsha?” tanya bu Ina. “Belum Bu, sepertinya sedang sibuk Marsha. Jadi saya tunggu saja di sini.” “Ah iya benar, sepertinya ada masalah dengan laporan keuangan, mungkin nak Michael bisa membantu?” Michael menaikkan alisnya karena terkejut, selama ini Marsha selalu mengatakan baik-baik saja padahal. Dia lalu berpamitan lagi masuk ke dalam, dan duduk di depan Marsha. “Kenapa kamu enggak pernah cerita kalau ada masalah?” tanya Michael. Marsha mendongak dan terkejut jika kekasihnya ada di depannya. “Mi-Michael?” “Kenapa Marsha? Ada masalah apa?” tanya Michael dengan tatapan yang teduh. Kali ini dia mencoba membuat Marsha lebih nyaman. “Enggak papa, cuma ... aku lagi curiga sama kasir, kenapa pendapatannya enggak sesuai dengan yang seharusnya.” Marshanda memijat pelipisnya pusing, entah yang dia katakan benar atau tidak, tapi yang jelas uangnya berkurang. “Pasang aja cctv.” Marshanda mengangguk, dia sempat berpikir seperti itu. Dia lalu menatap Michael, rasanya sudah lama tidak melihat kekasihnya ini. Bukan rindu, tapi ada sesuatu yang janggal membuatnya ragu kepada Michael. Marshanda khawatir jika sebenarnya ini hanyalah rasa sungkan, bukan rasa cinta. Hanya rasa ingin mengembalikan uang Michael. Entah kenapa, melihat Michael tidak membuat Marsha merasa jatuh cinta. “Kenapa kamu ngelihatin begitu? Aku ada salah?” tanya Michael menaikkan alisnya, sejujurnya dia bingung dengan tatapan aneh Marsha. Dia merasa kehilangan ‘feel’ dengan kekasihnya. “Enggak papa kok, kita jalan-jalan aja yuk,” ajak Marsha. Michael dengan senang hati mengembangkan senyumnya dan meraih tangan Marsha. Dia berpamitan kepada ibu Marsha dan membawanya ke tempat yang telah dia persiapkan.  "Mic ...," panggil Marsha. Dia ragu mengungkapkan isi hatinya, "Ya?"  "Aku pengen ... kita putus."  Ucapan Marsha sukses membuat Michael membelalakkan matanya, dia tak menyangka dengan mudahnya Marsha meminta putus dengannya. "Kamu kenapa sayang? Kamu kenapa tiba-tiba kaya gini? Aku salah apa? Kamu jangan bercanda aneh-aneh Sha," jawab Michael "Mic, aku punya janji sama seseorang. Janji di masa kecil, cinta pertamaku yang sebenarnya bukan kamu, tapi dia," ucap Marshanda.  Hati Michael seperti dihunus pedang tajam, bagaimana bisa dengan mudahnya Marshanda mengatakan itu kepada Michael sedangkan niatnya malam ini membawa Marsha kepada keluarga besarnya. Dia ingin melamar Marsha dan membuat Marsha menjadi perempuan satu-satunya yang mencintai dan mendampingi hidupnya. Tapi rupanya semuanya gagal, tatapan Marsha sungguh-sungguh meminta putus. Mau tak mau lelaki ini harus menuruti keinginan Marsha, karena cinta yang dipaksakan akan sia-sia. Biar saja Michael yang sakit hati tak apa, dia rela. Michael lalu meminggirkan mobilnya, dia menempelkan dahinya pada setir mobil, sedangkan Marsha menatapnya khawatir dan meminta maaf. Tapi berulang ucap kata maaf pun tidak mampu membuat Michael sembuh dari rasa sakit. Marsha turun dari mobil dan meninggalkan Michael. Aneh. Itulah yang Michael rasakan hari ini, Marsha tiba-tiba meminta putus, padahal beberapa menit yang lalu gadis itu sendiri yang meminta untuk jalan-jalan melepaskan penat. Michael melajukan mobilnya lagi dan menuju taman kota, dia membeli minuman dingin dan meneguknya sampai habis. Seorang anak kecil datang duduk di sampingnya sambil memperhatikan bunga yang dia bawa. "Nama kamu siapa?" tanya Michael. Dia merasa penasaran, wajah anak itu mungil dan tampan, masih muda tapi sudah tercetak jelas bahwa dia akan tumbuh menjadi lelaki tampan idaman para wanita. "Namaku Mike Om," ucap bocah berumur lima tahun itu.  "Benarkah? Sama denganku, tapi aku Michael." Belum sempat anak itu menjawab lagi, ibunya datang dan membawanya pergi, anak itu menoleh ke belakang, menatap Michael yang sendu, dia lalu berlari kecil kembali berdiri di depan Michael dan memberikan sebatang cokelat. "Mama bilang, cokelat bisa membuat kita bahagia," ucap Mike. Michael tertawa kecil lalu mengusap kepala Mike, dia lalu melambaikan tangannya dan memakan cokelat pemberian Mike. Manis, crunchy karena kacang mentenya yang enak. Tapi tak seperti hati Mike, pahit dan asam bak rasa jamu. Meski matanya tertutup, wajah Marshanda terlihat jelas dan tercetak dalam memorinya, melekan dan tak bisa dilupakan. Gadis cantik itu, cinta pertama Michael, cinta yang membuat Michael lara, pertama kali seumur hidup hatinya hancur lebur hanya dengan kata 'putus'. Selamat tinggal cinta pertama, mungkin memang bukan kamu yang pantas untuk Michael, mungkin juga bukan Michael yang pantas untukmu, karena mungkin hati kalian juga tidak bisa dipaksakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN