"Clar? Ijinkan aku masuk," ucap Stevan.
Clarita masih tak bergeming, sudah seminggu dia mengunci dirinya di kamar, dan tak mau membukakan pintu untuk siapapun. Bahkan Clarita hanya minum air putih dan s**u, dia tak makan sesendok nasi. Hatinya patah dan hancur ketika ayahnya menolak penawaran ayah Stevan. Berat baginya jika harus tetap menjalin hubungan dengan Stevan, tapi hati Clarita yang telah memilih, dia yang menginginkan. Dia yang mencintai Stevan apa adanya.
Sejak ayahnya tidak merestui, Clarita memilih tinggal di apartemen sendiri dengan alasan syuting di luar kota. Dia pergi tanpa Devi—manajernya yang selalu mengikutinya kemanapun. Tapi Clarita pergi tanpa sepengetahuan siapapun, hanya pamit akan syuting ke luar kota. Tapi sebenarnya dia tinggal di apartemen. Handphonenya pun dia ganti. Dia ingin menenangkan dirinya sendiri, melanjutkan kembali karirnya yang telah lama dia pupuk sejak kecil. Dia tidak rela jika harus mengikuti Stevan ke London ataupun Swiss, melepas karirnya sebagai artis. Clarita selalu berpikir, mungkin dia bisa menjadi terkenal di negaranya sendiri, tapi belum tentu dia bisa melejitkan karirnya di luar negeri, merajut lagi memulai dari awal. Apalagi Stevan lebih menyukai Clarita untuk bekerja di kantornya.
Suara Stevan di depan pintu apartemennya membuat Clarita semakin yakin dirinya sudah gila sampai berhalusinasi suara Stevan ada di dekatnya. Bagaimana cara melepas seseorang yang kita cintai? Bagaimana berhenti mencintai? Tidak Bisa.
Yang Clarita rasakan hanyalah perih, dia tak mampu untuk tersenyum. Dia hanya duduk di sofa dan memeluk lututnya, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan meratapi nasibnya. Semua orang mencari Clarita. Tapi gadis itu pergi tanpa jejak apapun.
"Clar ..., ini aku Stevan, aku tahu kamu ada di sini, kamu kira hanya kamu yang sakit? Tidak Clar, aku juga kacau, buka pintunya Clar," ucap Stevan.
"Clar, aku mohon buka untukku, aku ada di sini. Tolong Clar," ucap Stevan mengetuk pintu apartemen Clarita, namun masih tidak ada jawaban. Gadis itu masih mendekap lututnya dan menangis terisak, apalagi suara Stevan yang terdengar jelas, makin membuat Clarita bingung antara halusinasi atau kenyataan. Clarita tak tau lagi apa yang harus dia lakukan jika memang Stevan ada di sini. Bagi Clarita semuanya terasa menyakitkan. Tidak direstui ayahnya, dan dia juga lelah harus bagaimana, dia bingung bagaimana bisa menerima Stevan dan melepaskan karirnya. Masalahnya ini pertaruhan karir dan masa depan Clarita, orang tuanya sellu mendidiknya untuk tidak bergantung kepada siapapun meski itu suaminya, orang tuanya juga mengharapkan Clarita untuk tetap menjadi artis dan memiliki penghasilan sendiri.
Clarita kacau, depresi, belum pernah seumur hidupnya ayah tercintanya membentaknya karena sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal. Karena lelaki yang bernama Stevan, hanya karena dia adalah musuh bisnis ayahnya, semuanya jadi hancur.
"Clar, kumohon jangan hanya diam, aku tau kamu di dalam sana, aku tau Clar," ucap Stevan
Tok Tok Tok
"Clar?"
Seketika Clarita membuka matanya dan terkejut, mendengar suara ketukan pintu, dan berjalan membuka pintu apartemen, tapi sayangnya kakinya tidak sengaja menginjak pecahan gelas kaca hingga membuat kulit telapak kakinya robek dan berdarah.
"AW!" pekik Clarita.
Stevan semakin panik dan mengetuk pintunya semakin keras, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Clarita, Stevan mencoba membuka pintu apartemen Clarita.
"Clar! Apa kodenya?" ucap Stevan setengah berteriak dan menggedor pintu apartemen Clarita
***
“Aku kira hujan, tapi ternyata kenangan.”
Seperti hatiku lara, penuh luka. Ranting diluar sana pun begitu, lapuk dan layu basah terkena air hujan. Hatiku juga rapuh, hatiku lara, seseorang itu membuatku perih penuh luka. Dia, perempuan itu egois dan menghunus pedang tajam ke dalam jantungku. Apa salahku hingga ia melakukan semua ini. Apa aku memang layak ditinggalkan?
-Michael Harington-
Masih sama, hari ini Michael menatap kaca jendelanya yang penuh butiran tetesan air hujan. Dia sama sekali tidak menyentuh kertas laporan di hadapannya. Hatinya tidak bisa berpaling dari Marshanda Juliana. Gadis itu berhasil merenggut satu-satunya yang berharga yang dia punya, hatinya.
Dia meremas pelan undangan yang dia terima, bagaimana bisa teganya Marsha mengirim undangan pernikahannya dengan lelaki ini. Terlalu aneh dan terlalu cepat bagi Michael, Marsha juga sudah mengembalikan uang milik Michael. Nasi telah menjadi bubur, tidak ada lagi yang bisa membuat Michael berharap kepada gadis itu. Malam ini Marsha akan sah menjadi milik lelaki bernama Darel itu. Handphone Michael berdering membuatnya tersentak kaget, dan mengangkatnya. Suara Jessica disana terdengar alunan musik yang keras.
“Kak!” panggil Jessica di telepon. Tapi entah kenapa Michael malah merasa kesal karena suara Jessica tidak terdengar baik. Dia memilih mematikan hpnya dan menaruhnya di loker kerja lalu membenamkan wajahnya dan tidur. Tidak ada yang ingin Michael lakukan sekarang, dunia rasanya gelap dan kejam padanya. Tanpa ia sadari, air matanya sukses meluncur dari wajah tampannya. Membayangkan Marsha bersanding dengan lelaki yang lain. Michael terhanyut dalam pedihnya hati hingga membuatnya tertidur.
BRAKK
Suara gebrakan di meja kantornya membuat Michael tersadar, dan Jessica ada di depannya. Adik semata wayangnya yang terkadang membuatnya kesal dan pusing sendiri.
“LO GIMANA SIH KAK? PACAR LO NIKAH MALAH DIEM AJA?!” bentak Jessica.
Adiknya sangat tahu jika Marsha adalah cinta pertama Michael, tapi dia juga kesal karena Michael hanya diam dan tak bergeming, malah kini matanya sembab. Hal yang memalukan bagi adiknya, kenapa harus mennagisi seorang wanita? Harusnya kakaknya lebih gesit dalam bertindak, bukan malah membiarkan kekasihnya menikah dengan pria lain.
"Kak? Jawab dong, ayo kita kesana!" Jessica menarik Michael dengan agak kasar dan penuh paksaan. Dia sekarang tau penyebab kakak laki-lakinya sering diam dan murung. Bahkan terkadang tidak menyelesaikan makan paginya dan berlalu begitu saja pergi ke kantor. Bagi Jessica, cinta itu harus diperjuangkan, bukan hanya diam duduk termenung meratapi nasib, setidaknya Mic harus datang ke pernikahan Marsha dan mengungkapkan perasaannya sebelum janur kuning melengkung. Tapi Mic menarik kembali tangannya.
"Untuk apa? Untuk apa aku berjuang sendirian? Apa penting aku memiliki seseorang yang sama sekali tidak menghargai perasaanku? Apa penting semua ini? Semua usaha yang aku berikan kepadanya, perhatian, waktu, uang?! Dimana letak hati dia? Apa harus? Haruskah aku semua yang berjuang? Aku lelah Jes! KENAPA HARUS AKU? Apa hanya perjuanganku yang tak ternilai? Kenapa dia hanya pasrah dan menerima lelaki itu?"
Michael duduk dan mengusap wajahnya kasar dia menjambak rambutnya sendiri frustasi.
"Kak, cinta itu tentang perjuangan dan kekuatan pengorbanan, apa begini saja mampumu? Sudah? Menyerah? Untuk apa Kak? Kenapa hanya sampai disini? Harusnya kakak berjuang sampai mendapatkan Marsha seutuhnya bukan hanya duduk diam dan meratapi. Percuma! Apa yang kakak tangisi? Jangan seperti ini aku mohon, kejar dia jika memang kakak mencintainya!"