Hamil?

1008 Kata
Dengan cepat Stevan memasukkan kode apartemen Clarita dan membuka pintunya. Darah bercucuran dari telapak kaki Clarita, membuat Stevan panik dan menggendongnya lalu membawanya ke klinik. Pecahan kaca itu menancap di kaki Clarita. “Hiks.. sakit ...,” ucap Clarita merintih kesakitan. Stevan memacukan mobilnya menuju klinik terdekat, untung saja dokter yang bekerja masih ada di dalam. “Astaga, kenapa bisa begini. Silahkan duduk.” Dengan telaten dokter itu menjahit kaki Clarita, pecahan kaca cukup besar hingga membuat kaki Clarita harus dijahit sebanyak sepuluh jahitan. “Lain kali hati-hati dong kalau jalan.” Stevan menatap Clarita penuh khawatir. Dia memperhatikan kekasihnya dari atas hingga bawah, rambutnya kusut, kantung matanya menghitam dan sembab. Lebih tepatnya Clarita sangat kacau. Stevan sendiri memang sakit hati dan galau, tapi dia tidak bisa meratapi kesedihan karena Aileen membutuhkannya sebagai sosok ayah. Dia bukan lagi ABG yang harus menangisi hanya karena soal cinta, pundak dan hatinya harus kuat menjadi orang tua tunggal. “Maaf,” ucap Clarita menunduk, dia tak berani menatap Stevan. Jalan Clarita masih tertatih, Stevan tak tega melihatnya dan berjongkok di depan Clarita, menawarkan menggendongnya di punggung. “Ayo, naik.” Stevan menepuk pundaknya memberi isyarat untuk Clarita agar cepat naik, tapi rupanya Clarita malah malu dan mundur. “Clar, kaki kamu masih sakit. Dokter sendiri tadi bilang, jangan banyak bergerak biar jahitannya enggak lepas. Ayolah naik sini.” Clarita malu-malu tapi mau dia naik perlahan ke punggung Stevan dang mengaitkan kakinya ke pinggang Stevan. “Oke, tuan putri mau kemana?” canda Stevan. Tubuh Clarita sangat ringan, sama rasanya seperti saat dia menggendong Aileen. Clarita tak menjawab, dia menangis. Bukan karena kakinya kesakitan, tapi hatinya yang rapuh, akhirnya dia bertemu dengan sosok yang dia rindukan. Sosok Stevan yang menhantuinya bebberapa hari ini. Dia tak mau melepaskan pelukan dengan Stevan. Hatinya sudah egois, perasaannya terlalu dalam. Dia jatuh cinta kepada Stevan sepenuh hatinya. Tapi, dia belum bisa merelakan karir. Angin berhembus menerpa kulit mereka yang kini sedang asik duduk di taman kota, air mancur bersih dan segar memanjakan mereka. Beberapa anak kecil yang berlarian pun terlihat bahagia dan senang. Sejak setengah jam yang lalu Stevan dan Clarita masih asik terdiam merenungi hal, entah nasib ataupun hati. Stevan bingung harus memulai darimana menjelaskan kepada Clarita. Sama halnya dengan gadis itu juga bingung harus bagaimana, dia takut menyakiti Stevan, cukup dirinya yang tersakiti.  "Bagaimana kabar Aileen? Apa dia baik-baik saja?" tanya Clarita mencoba membuka suara.  "Tentu saja dia merindukan calon ibunya," balas Stevan.  Sejak Clarita jarang datang ke rumah, Aileen selalu menanyakan keberadaan Clarita, dia merindukan gadis cantik ini. Bahkan terkadang setiap malam Aileen memanggil nama Clarita ditengah tidur pulasnya. Aileen merindukan sosok ibu dalam hidupnya. Stevan hanya bisa menenangkan Aileen dan menceritakan dongeng di malam hari agar dia bisa tenang dan tertidur pulas lagi.  Clarita tau, arah pembicaraan pasti saja akan kembali kepada hubungan mereka, tapi bagaimana? Restu belum ada, dia sendiri belum berani melepas karirnya, masalah memang ada pada dirinya. Clarita hanya terdiam lagi dan menunduk. Hubungan mereka masih belum jelas dan tidak terlihat bagaiamana masa depan keduanya. Dua bulan lagi Stevan akan kembali ke Swiss, dia harus mulai mengemasi segalanya, termasuk kenangan. Awalnya rencana dia setelah menikah akan membawa Clarita ke Swiss. "Jadi bagaimana?" tanya Stevan pada Clarita. Gadis itu merasa terjerat dalam ikatan dan memilih mengalihkan pembicaraan, untung saja ada bakso datang. "Aku lapar! Sudah lama tidak makan, ayo beli itu." Clarita menarik Stevan menuju gerobak bakso, tidak biasanya memang mereka makan di pinggir jalan, tapi kali ini Clarita ingin mengalihkan pembicaraan. Jelas saja Stevan tau dan dapat melihat gerak-gerik Clarita, dia tau gadis ini berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kamu mau apa saja? Bakso campur atau bagaimana?"  "Terserah." Jujur saja Stevan sangat jengkel kepada Clarita, dia kesal karena Clarita tidak menanggapinya serius. Entah apa yang dipikirkan Clarita, dia malah merasa Clarita tidak begitu mencintainya dan tidak yakin dengannya. Harusnya jika Clarita serius dengannya dia rela melakukan apapun yang Stevan mau. Mengabdi sepenuh hatinya untuk mau bersama Stevan, tapi Clarita berbeda, seolah tidak sepenuhnya mencintai lelaki itu, Stevan selalu berpikir jika Clarita tak serius dengannya. "Pak, baksonya dua campur ya," ucap Clarita dengan tersenyum.  Dia berusaha menyembunyikan gundahnya dibalik senyuman manisnya. Karena dia tau jika dia terus meratapi kesedihan tidak akan ada ujungnya, sama halnya dengan Stevan, lelaki itu juga hanya bisa diam dan tak mau membahas soal hubungan dengan Clarita, mau bagaimanapun, melihat Clarita yang bisa ceria dan tersenyum saja sudah membuat hatinya menghangat.  "Ini coba, suapanku pasti terasa lebih enak." Clarita menyendokkan bakso miliknya dan meminta Stevan membuka mulutnya. "Ya, enak." Stevan tersenyum dan terkekeh geli karena Clarita bertingkah seperti anak kecil. Sedetik kemudian mereka terdiam lagi, tak ada yang membuka suara diantara keduanya, hanya dentingan mangkuk dan sendok serta suara anak kecil yang tertawa berlari di taman yang memenuhi pendengaran mereka. Perut Clarita sudah lama tidak diisi dengan makanan, rasanya perih ketika bakso memasuki perutnya dan dia meremas pelan perutnya menahan rasa sakit dan ekspresinya. Dia tak mau merepotkan Stevan lagi. Sayangnya perlahan rasa sakit di perutnya semakin menjadi dan tak tertahankan.  "Stev ...," rintih Clarita.  Stevan awalnya hanya terdiam membisu menikmati makanannya dan tidak melihat ke arah Clarita, namun dalam hitungan detik gadis itu ambruk di samping Stevan. "ASTAGA!" pekik Stevan. Dia menyelipkan sejumlah uang untuk membayar bakso dan mengangkat tubuh Clarita menggendongnya menuju mobil. "Wah alhamdulillah, mas ganteng tadi bayar dua ratus ribu!" ucap anak penjual bakso yang kegirangan melihat lembaran uang ratusan ribu. "Alhamdulillah, rejeki kita emang nak, kelihatan dari pakaiannya, itu pasti orang kaya. Tuh mobilnya aja mahal." *** "Ba-bagaimana dok?" tanya Stevan kepada Harry, sepupunya yang seorang dokter penyakit dalam. "Alhamdulillah, selamat ya Van, calon istrimu yang cantik jelita ini bak Emma Watson akhirnya hamil. Artinya punyamu tokcer!" Harry menepuk pundak Stevan dan menjabat tangannya lalu terkekeh dan keluar ruangan. Sedangkan Stevan hanya melongo dia mengingat-ingat, rasanya dia tidak pernah menyentuh Clarita, itupun hanya sebuah kecupan di dahi atau di bibir. Tidak pernah lebih dari itu, lalu siapa yang berani menghamili dia? Ataukah Stevan pernah mabuk tak sadarkan diri dan tak sengaja menyentuhnya? "Pak, pesan dokter Harry mohon vitamin dan obatnya diminum oleh ibu Clarita." Seorang suster memberikan makanan dan obat untuk Clarita, Stevan mengangguk dan duduk di kursi samping tempat tidur Clarita. Stevan masih tidak menyangka jika Clarita hamil, dia lalu mengusap pelan perut Clarita, tidak mungkin jika gadis ini melakukan hal itu dengan lelaki lain, mungkin saja memang anakku, batin Stevan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN