Michael mengemasi barang-barangnya dan menyiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan. Dia lalu menyeret kopernya dan membawanya pergi.
"Aku pergi dulu."
Semua anggota keluarga menganga melihat Michael yang membawa koper besar dan masuk ke taxi.
"Kamu mau kemana Mic?" tanya ibunya. Michael hanya tersenyum. Hatinya hancur, dia kemarin tidak sempat menggagalkan pernikahan Marsha. Saat itu juga dia kembali dan terdiam di perjalanan, untung saja Jessica sabar menghadapi kakak laki-lakinya yang hanya pasrah dan diam saja. Tapi ini hidup milik Michael, Jessica tidak bisa bertindak lebih jauh. Mau bagaimana lagi jika kakaknya sudah menyerah pada Marsha.
Cinta tidak bisa dipaksakan, biar lara melebur dalam putaran waktu meski kita tahu tidak akan bisa melupa. Meski berat, biarkan saja. Lalui semua dengan kekuatan dan senyuman. Bagi Michael rasa cinta cukup untuk mengacaukan hidupnya dan membuatnya benar-benar hancur. Tapi, dia tidak bertekuk lutut atas nama cinta. Michael tidak pernah membiarkan rasa itu menguasai dirinya.
“Bentar kok Ma, biarin aku mau liburan dulu.”
Michael tersenyum dan mengecup pipi ibunya lalu masuk ke dalam taksi. Jessica yang masih di dalam kamarnya cepat-cepat turun dan menemui kakaknya. Ada rasa khawatir kakaknya akan nekat, siapa tau?
“Kak! Jangan mati ditanganmu sendiri! Kalau mau bunuh diri, biar aku yang membunuhmu duluan!”
Jessica mengepalkan tangannya dan meninju ke udara, Michael hanya tertawa kecil dan memberi hormat kepada adiknya yang super cerewet itu. Sedangkan ibunya melambaikan tangan kepada Michael.
“Jangan lebih dari dua bulan ya Mic, cepat pulang.”
Michael tersenyum dan menginstruksikan supir taksi untuk melajukan mobilnya. Saat yang tepat untuk menyembuhkan lara adalah saat pertama kali hatimu terluka, detik itu juga carilah cara untuk melupakan semuanya, melupakan semua masa lalu. Entah berlari atau pergi jauh menenangkan diri, tak apa untuk sakit hati. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang kecewa dan tersakiti jadi, jangan pernah merasa sendirian.
“Mau ke mana kita Pak?” tanya supir taksi dan menyalakan radionya.
Momen yang pas musik Amnesia dari 5 Second of Summer mengalun, ‘I wish that I could wake up with amnesia, and forget about this stupid little things’. Lirik lagu itu membuat Michael tersenyum getir, andai saja dia benar bangun dalam keadaan amnesia mungkin hidupnya tidak akan terusik oleh bayangan Marshanda.
“Ke bandara ya pak,” ucap Michael.
Supir itu mengangguk dan menggunakan jalan tol untuk rute yang lebih cepat. Jalan tol sangat sepi, mungkin karena sudah larut malam, supir taksi itu mempercepat lajunya menuju bandara, sayangnya dia tidak melihat spion, truck besar bermuatan minyak remnya blong dan tak bisa mengendalikan kemudinya hingga menabrak taksi yang dinaiki Michael, taksi itu terseret retak, hancur. Keadaan tol sepi, bala bantuan terlambat untuk datang.
***
“Masih sakit?” Stevan menyuapi Clarita dengan bubur ayam dari rumah sakit. Gadis itu terbaring lemah di kamar rumah sakit. Perutnya terasa perih dan sakit
“Iya,” ucap Clarita. Dengan susah payah dia menelan bubur dan menahan rasa sakitnya.
“Clar ... aku mau bertanya sesuatu siapa anak yang ...,” ucap Stevan terpotong. Suara handphonenya berdering membuat dia mengehentikan ucapannya dan mengangkatnya. Dia mendengar kabar bahwa kecelakaan di jalan tol adalah Michael, supir taksinya meninggal. Stevan segera bangkit dari duduknya dan panik.
“Clar, aku minta maaf tidak bisa menjagamu saat ini, aku harus pergi. Ini tentang Michael, dia kecelakaan. Kamu jangan sampai shock ataupun strees, jaga baik kandungan kamu.”
Clarita menyerngitkan dahinya saat Stevan mengatakan ‘Jaga baik kandungan kamu.’ Kandungan siapa? Clarita jelas tau obat yang ada di nakas samping tempat tidurnya adalah obat magh, tidak mungkin jika dia hamil, lagipula dia tidak berhubungan intim dengan siapapun, jelas saja Clarita masih perawan!. Clarita mengambil handphonenya dan menelpon Jessica memberi kabar tentang Michael yang kecelakaan. Clarita khawatir jika Michael akan terluka parah.
“Astaga! Bagaimana bisa terjadi? Belum sampai setengah jam dia keluar dari rumah, cepat panggil ayahmu!”
Jessica lari terbirit-b***t memanggil ayahnya yang sibuk membaca laporan perusahaan.
“AYAH! KAK MIC! AYO YAH!”
Jessica tidak bisa menjelaskan lebih banyak, dia menarik tangan ayahnya dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu menyuruh supirnya untuk berjalan menuju rumah sakit. Darah terus mengalir dari pelipis Michael, dia tak sadarkan diri, sedangkan supir taksi yang membawanya sudah pergi dulu menuju surga. Secara logika, harusnya penumpang bagian belakang yang bisa saja kehilangan nyawa karena truck itu menabrak dari belakang, tapi mati dan hidup manusia siapa yang tahu?
“Tolong, keluarga jangan panik. Akan kami usahakan semaksimal mungkin. Kami mohon bantuan doanya.”
Dari raut wajah dokter terlihat cemas, sepertinya Michael sangat sulit untuk disembuhkan. Stevan mengusap wajahnya kasar, ayah dan ibu Michael juga sama cemasnya dengan Jessica. Tapi Robbert menatap Stevan dengan tatapan tajam.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Robbert menatap Stevan.
“Ayah! Apa ini waktunya bertengkar?” ucap Jessica menatap ayahnya. Dia tau ayahnya memang seseorang yang emosional, tapi ini saat yang penting untuk mendoakan kesembuhan Michael.
Stevan hanya diam dan menunduk, dia lalu mendekati Jessica dan berbisik, “Kakakmu ada di rumah sakit ini juga, Clarita sedang dirawat, dia sedang hamil. Tolong jangan beritahu ini kepada siapapun dulu Jes.”
Jessica membulatkan matanya saat tahu kakaknya hamil, dia tak menyangka Stevan berani berbuat nekat menghamili Jessica. Tak lama, Jessica datang ke ruangan Clarita. Gadis itu masih terbaring lemah sambil menyuapkan pelan buburnya sendiri.
“Yaampun, sebentar lagi aku akan memiliki keponakan, kira-kira perempuan atau laki-laki ya,” ucap Jessica dengan mata berbinar dan menatap perut Jessica. Entah kenapa dia sangat menyukai anak kecil dan mengharapkan cepat memiliki keponakan, apalagi jika ibunya tau jika Clarita hamil pasti akan sangat senang, tapi untuk saat ini mereka semua masih mengkhawatirkan kondisi Michael.
“Apa yang terjadi dengan Mic?” tanya Clarita. Dia tidak menghiraukan ucapan Jessica yang menurutnya itu hanyalah candaan belaka.
“Dia kecelakaan parah kak, dia membutuhkan donor darah dan darah yang cocok hanya darah kak Clarita, ibu sedang kekurangan darah dan kak Clarita sekarang juga sedang di rawat inap. Jadi hanya kak Stevan yang bisa menyelamatkan nyawa Michael. Untung saja darah mereka cocok sama AB.”
“Bagaimana bisa dia kecelakaan parah?” tanya Clarita bingung,
“Aku juga tak tau kak pastinya, tapi kak Michael rencana berlibur, kekasihnya kak Marshanda menikah dengan pria lain, hingga membuat kak Mic stress dan frustasi. Padahal awalnya aku yang menyarankan untuk berlibur dan relax, tapi malah seperti ini. Aku jadi sangat bersalah kak.”
“Tunggu dulu, jadi maksudmu? Marshanda? Menikah dengan lelaki lain?”
Jessica menjawab kakaknya dengan anggukan mantap, Clarita membulatkan matanya tak mempercayai Marshanda tega melakukan hal seperti itu kepada Michael. Jelas saja jika Michael frustasi, Marshanda adalah cinta pertamanya.
“Kak, jawab dulu pertanyaanku, kakak hamil berapa bulan?”
“APA? CLARITA HAMIL?” tanya ibunya saat masuk ke dalam ruangan Clarita. Semua terkejut dengan ucapan Jessica jika Clarita hamil.
Clarita hanya bisa tertawa menatap semua orang yang mengiranya hamil, padahal penyakit lambungnya yang kambuh.
“Siapa yang bilang jika aku ham ...,” ucap Clarita terpotong saat Stevan masuk ke dalam ruangannya.
Stevan lalu berlutut dan memohon maaf di depan keluarga Clarita, dia benar-benar merasa bersalah menghamili Clarita, meski dia tak tau atau lupa kapan tepatnya menghamili Clarita. Sontak Clarita tertawa melihat Stevan yang berlutut di depan keluarganya. Bahkan ayahnya sudah mencengkram kerah baju Michael.
“Kata siapa aku ini hamil?” ucap Clarita.
“Clar, aku minta maaf. Tapi Harry dokter yang memeriksa kamu jelas mengatakan jika kamu hamil.”
Clarita membulatkan matanya dan menatap Stevan tidak percaya, rasanya baru seminggu yang lalu dia selesai menstruasi, bagaimana bisa sekarang dia hamil? Lalu siapa yang menghamilinya?
“Sungguh? Aku hamil?” tanya Clarita
PLAK
Sebuah tamparan keras dari ayah Clarita mendarat di pipi Stevan. Lelaki tampan itu sangat tahu jika ayah Clarita pasti akan menampar atau bahkan memukulnya, apalagi berita media saat ini sedang gencar menyiarkan video panas Clarita berciuman dengan Stevan saat di rumah Stevan.
"Robbert, sudah cukup. Kenapa kamu menampar calon ayah bayi dari Clarita?" ucap ibu Clarita menghentikan Robbert untuk memukul Stevan
"Sudah, kumohon kalian jangan bertengkar. Michael sedang sekarat. Apa pantas kalian bertengkar?"
Ibu Clarita menatap Robbert penuh arti dan memeluk suaminya agar tenang. Bagaimanapun juga Stevan adalah calon menantunya.
"Kalau sudah begini tidak ada jalan lain, kalian harus segera menikah sebelum orang lain tau dan media menyebarkan berita tidak benar," ucap ibu Clarita.
"Tapi aku tidak sudi memiliki menantu ...," ucap Robbert.
"Sayang, kalau sudah begini apakah kamu masih mementingkan egomu? Lagipula apa salahnya memiliki menantu yang tampan dan cerdas seperti Stevan? Apa karena dia seorang duda? Aku rasa Clarita akan tetap bahagia bersama Stevan. Jadi aku mohon kepadamu Robbert untuk menerima Stevan, jangan hanya karena dia musuh bisnismu, kamu jadi terbawa emosi. Tolong pikirkan Clarita juga," ucap ibu Clarita penuh pengertian.