"Yasudah, kalau begini mau bagaimana lagi. Saya juga enggak mau kamu tidak bertanggung jawab. Cepat urus pernikahan kalian sambil menunggu Michael sembuh."
Robbert menghela napasnya, bagaimana lagi Clarita sudah terlanjur hamil, sebenarnya dia tak mau memiliki menantu duda, tapi semua demi kebahagiaan Clarita. Terkadang memang kita harus bisa menekan ego kita demi kebahagiaan orang yang dicinta. Begitu juga dengan Robbert, tak peduli bagaimana dia kesal kepada Stevan, hal yang terpenting kebahagiaan anaknya.
Mereka semua kembali ke ruangan Michael kecuali Stevan dan dan Clarita. Duda tampan itu masih sibuk menyuapi Clarita dengan senang hati. Tentu saja hatinya saat sangat gembira mendengar ayahnya memberi restu.
"Stevan, tunggu dulu aku masih bingung. Bagaimana bisa aku hamil?" tanya Clarita.
Stevan malah tertawa terbahak-bahak dan membelai wajah Clarita.
"Rupanya kita berdua melakukannya saat mabuk? Kita sama-sama lupa?" ucap Stevan terkekeh.
"Ha? Maksudnya?" Clarita masih tidak memahami dan memandang Stevan dengan tatapan aneh dan bingung.
"Dokter Harry tadi mengatakan bahwa kamu telah hamil."
"Apa? Tapi ini? Ini obat magh Stev, beberapa hari yang lalu aku memang tidak makan apapun hanya air putuh dan susu."
Stevan menyerngitkan dahinya dan mengambil obat milik Clarita, lalu membuka google dan mengetiknya di search engine. Dan benar saja, nama obar Clarita itu untuk penyakit lambung. Stevan lalu bangkit dan menuju ruangan Harry—sepupu sekaligus dokter spesialis penyakit dalam.
"Harry!" ucap Stevan emosi, untung saja tidak pasien yang sedang berobat. Harry malah asik video call dengan pacarnya Angel.
"What's Up Bro?" Harry mematikan vidcallnya dan menopang dagunya, bersiap mendengarkan omelan Stevan. Dia menahan tawanya karena ekspresi marah Stevan.
"Kau bilang Clarita hamil?!" ucap Stevan menarik kerah Harry. Sedangkan Harry malah tertawa renyah.
"Yaampun, aku kan hanya bercanda, lagi pula kau sendiri kenapa percaya? Atau jangan-jangan memang kamu pernah menyentuhnya?" tanya Harry sambil menggoda menaik turunkan alisnya. Stevan sangat geram melihat Harry. Sepupunya ini sangat mengesalkan. Bercandanya sudah kelewatan tapi ada untungnya, mereka memperoleh restu dari orang tua Clarita.
"Masalahnya, candaanmu itu membuat masalah," ucap Stevan. Dia mengurut keningnya karena pening, pusing memikirkan semua ini. Bagaimana dia menjelaskan kepada Robert—ayah Clarita, sedangkan Robbert terlanjur merestui hubungan mereka, Robbert pasti akan marah besar jika Stevan memberitahu jika Clarita sebenarnya tidak hamil.
"Masalah? Masalah apa?" tanya Harry polos.
"Orang tua Clarita mengira Clarita hamil betulan, awalnya hubungan kami tidak direstui, tapi karena berita kehamilan Clarita, akhirnya kami direstui."
"Bagus dong, lalu dimana letak masalahnya?" tanya Harry bingung. Dia memang dokter yang sangat menyebalkan karena sikapnya yang usil dan jahil.
"MASALAHNYA CLARITA TIDAK HAMIL BETULAN HARRY!" teriak Stevan frustasi.
"Buat saja dia hamil," ucap Harry enteng. Dia lalu mengambil beberapa kacang almond dan memakannya, tak lupa dia menawari Stevan.
"Kau! Astaga aku dan Clarita belum menjadi suami istri!" ucap Stevan emosi.
"Kalau begitu besok kalian menikah."
Stevan membulatkan matanya dan hampir saja mau membuat wajah tampan Harry lebam membiru, ucapannya seolah sangat ringan dan asal ceplas ceplos.
"Gila!" pekik Stevan.
Mempersiapkan pernikahan mana bisa dalam waktu sehari? Setidaknya membutuhkan waktu minimal sebulan untuk bisa mempersiapkan semuanya.
"Ijab Kabul saja dulu, resepsinya nanti, yang penting buat dulu Clarita hamil. Aku rasa penyakit Clarita tidak begitu parah, hasil USG tadi tampaknya lambungnya masih normal, jadi kalian boleh pulang sore ini, tapi Clarita harus meminum obatnya sampai habis."
Harry tersenyum dan meyakinkan Stevan, dia sangat tau sepupunya ini sangat menaati peraturan dan menjaga kesucian wanitanya.
"Ternyata kau pintar juga," ucap Stevan tertawa.
"Jelas! Kalau aku tidak pintar tidak akan menjadi dokter spesialis penyakit dalam Stev, hahaha."
Stevan lalu menuju ruangan Michael, ingin menjenguk adik iparnya. Sejak menerima berita Michael kecelakaan parah, Stevan yang segera menandatangani administrasi pembayaran biaya rumah sakit dan juga memberikan donor darah kepada Michael. Meskipun Michael membencinya karena urusan bisnis, tapi Stevan tidak mau mengibarkan bendera perang kepada adik iparnya itu. Michael terbaring di ranjang rumah sakit, ayah dan ibunya serta Jessica—adik perempuannya duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh Michael yang tak berdaya, terlihat jelas bekas jahitan di bagian kepala Michael dan di lengan kanan Michael. Untung saja meski dia duduk di belakang mobil dia masih bisa selamat nyawanya. Stevan sangat berharap Michael bisa hidup normal kembali, dia tidak pernah membenci Michael seumur hidupnya. Bahkan diam-diam Stevan selalu membantunya mendapatkan investor yang mau bekerja sama dengan perusahaan Mic, jujur saja dia sangat senang sebenarnya membantu Michael meski sebenarnya mereka adalah musuh bisnis. Dengan langkah tegap dan besar Stevan berjalan menuju ruangan Clarita. Gadis itu ternyata masih terbaring lemah dan memejamkan matanya. Diam-diam Stevan mendekat kepadanya dan membelai halus wajah cantiknya.
"Mana tega aku menghamilimu diluar pernikahan?" ucap Stevan lirih.
"Jadi? Aku memang tidak hamil kan?" tanya Clarita tertawa renyah.
"Harry memang sialan, dia berbohong kepadaku. Dia sengaja mengerjaiku Clar, aku minta maaf."
Clarita menepuk pelan lengan Stevan yang kekar, lelaki tampan yang dia cintai sangat lucu dimatanya. Tubuhnya besar dan kekar tapi sangat mudah dijahili oleh sepupunya sendiri. Ini hal yang paling Clarita sukai dan Stevan. Dia lelaki polos dan bertanggung jawab. Sampai detik inipun Clarita tidak pernah disentuh Stevan seujung jari pun. Bahkan jika Stevan mau pun, dia pasti meminta ijin walau hanya mengecup bibir dan kening.
"Tak apa, yang penting kita sudah mendapat restu. Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit kita akan mendaftar di Kantor Agama, tapi Stev sebelum itu kita lihat dulu ya keadaan Michael. Tidak mungkin kan kita berbahagia tapi Michael masih dirawat di rumah sakit."
Stevan mengangguk setuju dengan Clarita, tapi kalau saja menunggu waktu yang lama, orang tua Clarita bisa curiga dan mengetahui yang sebenarnya jika gadis itu tidak hamil, yang Stevan takutkan adalah kehilangan restu dari Robbert. Berat dan susah sekali rasanya mendapatkan restu dari atag Clarita, dia juga takut jika tidak dipercayai lagi oleh Robbert jika dia berbohong. Stevan menghela napasnya dan menatap Clarita dengan tatapan kosong, apa yang harus dia lakukan lagi untuk bisa membuat Clarita benar-benar ada di dekatnya. Kesembuhan Michael memang yang terpenting, tapi jika semua itu terlalu lama hingga mungkin berbulan-bulan, bisa juga membuka kedok bahwa Clarita tidak hamil. Pilihan terburuk adalah menghamili Clarita saat ini juga, tapi Stevan masih menjaga kesucian gadis cantik ini, ide yang buruk dan tidak bisa Stevan lakukan sebenarnya. Karena Clarita tentu saja pasti masih perawan, apalagi dia tidak pernah memiliki pacar.
"Kenapa kamu menunggu untuk menikah Stev? Ya, aku tau hal itu memang sebenarnya harusnya dilakukan saat kita sudah menikah, tapi kan orang tuaku juga tau jika kita sudah melakukannya diluar pernikahan? Kenapa tidak kita lanjutkan saja kebohongan ini?"