Belum Sadar

1001 Kata
“Jangan membuat macan tidur bangun Clar,” ucap Stevan tersenyum. Clarita sepertinya akan sangat suka menggoda Stevan, lelaki polos yang sangat menjaga kesucian Clarita. Demi apapun Clarita tidak pernah se-bucin ini sebelumnya, bahkan hanya untuk sekedar menggoda lelaki saja dia tidak mau. Hanya dengan Stevan Clarita bisa terbuka dan mencintainya sepenuh hati. Apalagi di otak lelaki itu tidak berisi seperti kebanyakan lelaki lainnya yang isinya hanya seks dan harta, Stevan lelaki yang paling dia percaya dan bertanggung jawab seumur hidupnya. “Buat apa ditunda? Di ranjang rumah sakit pun aku mau,” ucap Clarita mengedipkan matanya. Stevan berdehem dan meneguk salivanya, mencoba menhan hasrat yang tiba-tiba muncul karena godaan Clarita. Dia lalu mengambil air mineral dan meneguknya sampai habis. Clarita menarik Stevan dan membelai dadanya. Stevan menepis dengan halus tangan Clarita, “Kumohon jangan siksa aku,” ucap Stevan yang sukses membuat Clarita tertawa. Stevan akhirnya memutuskan untuk keluar ruang inap Clarita dan menuju ruang inap Michael. Lelaki tampan usia dua puluhan terbaring lemah di sana, semua keluarganya hanya bisa melihatnya dengan tatapan sendu, satu-satunya harapan ayahnya sebagai pewaris perusahaan, tapi dia–terbaring lemah disana. Stevan melihatnya pun iba, terdapat banyak luka dan bekas jahitan di tubuhnya. Kepala Michael diperban, dan tubuhnya penuh jahitan. Pecahan kaca mobil bagian belakang menusuknya dan membuat kepalanya terbentur keras sehingga perlu dioperasi. Beruntungnya Michael masih hidup dan selamat dari malaikat pencabut nyawa. Mungkin dia memang diberikan kesempatan untuk masih hidup dan mencari belahan jiwanya. “Mah, gimana keadaan Michael?” tanya Stevan kepada Anne–Ibu Clarita. Stevan mencoba bertanya meski tau keadaan Michael tidak memungkinkan “Seperti yang kamu lihat Stev, dia sekarat. Semoga saja dia masih bisa bertahan dan melewati masa kritisnya. Ibu tidak tega jika dia harus mati dengan cara seperti ini.”  Stevan sepenuhnya marah terhadap dirinya sendiri, kenapa bisa dia tidak menjaga calon adiknya juga. Harusnya dia juga mengawasi Michael, tidak terpancing emosi karena Michael membencinya. Memang mereka awalnya rekan bisnis, bahkan dulu Michael bekerja di perusahaan Stevan sebelum memegang kendali Hangriton Corp. Hanya saja sering terjadi ketidakcocokan dan Michael yang selalu marah dan emosional ketika Stevan menjadi atasannya, kedua orang ini memiliki kepribadian yang berbanding terbalik. Saat Stevan memberikan saran berinvestasi pada perusahaan A, Michael lebih memilih ke perusahaan C, jadi tidak ada yang bisa mengalah. Akhirnya Michael memilih mengundurkan diri dan menjadi pengangguran selama satu bulan. Ayahnya – Robbert merasa anaknya tidak berguna karena tidak bisa bekerja dengan Stevan, Robbert akhirnya memilih mengajari anaknya sendiri untuk bekerja di perusahaannya. Well, memang menjadi pimpinan itu susah, siapa bilang pimpinan berduit itu dengan mudah mendapatkan jabatan? Jelas tidak, Michael sendiri belajar dari bawah, which is dia menjadi seorang office boy, iya. Sungguh! Awalnya dia menjadi seorang office boy di kantor ayahnya. Alasan Robbert hanya satu, cobalah kamu berpikir. Semakin ke atas jabatanmu maka otakmu yang digunakan, sedangkan semakin kebawah jabatanmu, tenagamu yang kamu gunakan. Ayahnya selalu menghargai para office boy yang selalu bekerja keras membuat kantornya tetap kinclong dan berkilau setiap harinya. Mereka memastikan setiap sudut kantor tidak ada debu yang menempel. Untuk itulah, Robbert selalu memberikan banyak tunjangan kepada mereka. Intinya dalam suatu pekerjaan kalau atasan bisa loyal, maka pegawainya juga akan setia di sana. That’s the point. Michael memang bukan anak kecil yang harus diberi ajaran dari 0, tapi sikap kekanakannya yang cuek dan emosional yang membuat Robbert sendiri geleng kepala. Dia selalu protes dan memberontak jika tidak sesuai dengan keinginannya. Hal itulah yang kadang membuat Robbert geram kepada anaknya sendiri. But, bisnis tetaplah bisnis. Di kantor ayahnya berubah menjadi seorang owner yang begitu kejam dan membuat Michael tahan banting dalam situasi dan kondisi apapun, Michael satu-satu anak laki-laki Robbert, jadi dia harus mendidiknya dengan benar, karena sudah jelas Clarita dengan Jessica tidak mau menjadi penerus bisnis ayahnya. Ya, Clarita dan Jessica dua anaknya yang lebih memilih bersolek dan menghapalkan ratusan naskah dan menjadi pemain sinetron ketimbang berpikir keras sebagai seorang pebisnis. Pilihan hidup memang di tangan anaknya masing-masing, tapi lain halnya dengan Michael, dia selalu diatur dan juga telah ditetapkan oleh ayahnya tentang masa depannya. Ya jelas, lelaki tampan dengan tinggi 185 cm itu harus menjadi penerus Hangriton Corp. Mengingat hal itu semua membuat Robbert menyadari, dia tidak pernah memberikan kebebasan kepada Michael termasuk mencari perempuan, dia menyesal mengetahui semuanya dari Jessica bahwa Michael depresi karena Marshanda meninggalkannya, kalau saja dia menyetujui pernikahannya dengan Marshanda mungkin saat ini Michael masih sehat dan tertawa dengannya. Tapi takdir siapa yang tau? Robbert hanya ingin apa yang selalu terbaik untuk anaknya tapi nyatanya hal itu semua menyiksa anaknya. Dia juga memikirkan Clarita yang hamil diluar pernikahan, dia merasa gagal menjadi ayah yang bisa membuat anaknya tersenyum. Masih ada Jessica, kali ini dia tak mau mengulangi lagi kesalahannya. Biarlah putri ragilnya bahagia dengan siapapun yang dia pilih, biar dia menerima patah hati, luka dan bahagia bersamaan. Biar dia mencicipi semua rasa dalam hidup ini tanpa dicegah oleh Robbert. Tidak ada orang tua yang ingin menceburkan anaknya ke dalam kolam penuh darah dan luka. Robbert selalu berusaha menjodohkan mereka dengan pria tampan berkelas karena tidak ingin terjatuh dalam susahnya hidup. Tapi kini melihat Michael yang terbaring sengsara dan lemah membuatnya membuka matanya, dia salah, sepenuhnya salah karena tidak memberikan satu kesempatan kepada mereka memilih apa yang mereka mau. Cinta, memang tidak bisa dipaksakan. Harus mengalir begitu saja karena jodoh datangnya dari Tuhan. “Kasihan kak Mic, belum sempat menyenangkan diri malah tersiksa. Kenapa sih kak hidupmu merana?” ucap Jessica. Dia memeluk ibunya yang masih menangis terisak karena melihat Michael. Lelaki itu pun masih belum bergerak, hari sudah malam. Stevan harus pamit untuk pulang karena Aileen masih dia titipkan di rumah Albert, teman sekantornya yang sudah memiliki istri dan seorang anak. Jessica mengambil handphonenya dan menelpon Marshanda, terdengar suaranya yang bergetar, membuat Jessica memilih menjauh dari keluarganya dan menelpon Marsha di luar rumah sakit. “Halo? Kenapa Kak? Kok suaramu ...,” ucap Jessica. “Jess! Aku mohon, tolong aku, bawa aku keluar dari sini. Aku di apartemen Deluxe nomo 517. Sekarang, aku mohon tolong. Passcode 65412.” Klik. Telpon dimatikan begitu saja dan membuat Jessica beranjak menuju parkiran mobil dan melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan oleh Marshanda, entah apa yang terjadi tapi yang pasti bukan sesuatu yang baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN