Marsha yang berusaha untuk menjauh dari orang-orang di depannya ini. "Kalian mau apa?!" teriak Marsha yang bersandar di tembok.
Perlahan orang-orang di depannya ini mendekat dan langsung menarik tangan Marsha dengan kasar membuat sang empuh meringis kesakitan. "Ck!"
Orang di depannya itu tersenyum miring dan memegang dagu Marsha dengan cekat. Dia lalu tertawa di depan wajah Marsha membuat Marsha muak dan mau menendang orang di depannya ini.
"Lepasin!" Marsha berusaha memberontak dengan sekuat tenaganya.
"Enggak semuda itu gadis cantik," ujarnya dengan nada yang lembut membuat Marsha ingin muntah di depannya.
Dia seperti orang yang sangat sial mendapatkan orang yang gila seperti di depannya ini. "Tutup mulutnya," perintah seorang lelaki yang ada di depan Marsha itu.
"Kenneth Putra Xavier!" geram Marsha dan kembali memberontak.
Lelaki yang awalnya membelakangi Marsha kini berbalik arah. "Ada apa sayang?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ini akibat kalau kamu berani bermain-main denganku tadi!" bentaknya.
Lelaki yang bernama Kenneth itu mendekat ke arah Marsha. "Siapa yang tadi coba kamu telfon itu? Selingkuhan? Ibu kamu? Atau calon suami kamu yang dulu?" tanya Kenneth menaikkan alisnya.
Plak .... ///
Kenneth menampar Marsha. Pipi Marsha rasanya sangat panas, ada apa dengan orang di depannya ini. Apakah dia sudah gila? Atau bagaimana! Marsha kembali memberontak, namun air matanya sudah jatuh terlebih dahulu. Dia tak pernah dipukul oleh siapa pun sebelum dari ini. Dan orang di depannya ini berani-beraninya memukul Marsha.
Marsha kini tak bisa membuka mulutnya lagi, karena mulutnya ditutup oleh kain, dalam hati Marsha terus memohon kepada Tuhan agar ada seseorang yang menyelamatkan dirinya dari psikopat berdarah dingin di depannya ini. Marsha sudah tak tahan, dia sudah tak kuat memberontak.
Di sisi lain Jessica sampai di apartemen Deluxe, dia menatap ke arah depan. Dia menghela napasnya pelan lalu keluar dari mobilnya, dia berjalan sepanjang koridor dan berjalan menuju lift dan masuk ke dalam ruangan yang Marsha katakan padanya.
Namun ada yang aneh di apartemen ini, karena sangat sepi bahkan dia tak menemukan orang-orang atau pegawai di sini? Dan Jessica juga tak tau banyak soal apartemen ini, hanya sering mendengarkan orang-orang kalau pemilik apartemen ini adalah orang yang bahkan kaya-nya hampir serata dengan kaya keluarganya.
Jessica menatap ke arah pintu di depannya. Dia sedikit ragu, dia perlahan memegang gagang pintu itu, dia memutarnya namun tak bisa terbuka. Tapi sepertinya ruangan di depannya ini sangat sunyi.
Jessica menghela napasnya pelan.
BRAKH .... ///
Jessica menendang pintu di depannya dengan sekali tendangan saja. Dia menatap sekeliling dan matanya menangkap Marsha yang sudah tak berdaya. Dan orang-orang yang ada di sekeliling Marsha, Jessica masuk dengan tidak sopannya.
"Lepasin dia!" Suara Jessica menggelegar di seluruh ruangan apartemen ini.
Kenneth tertawa. "Lepaskan? Kamu ini siapa?!" bentaknya membuat Jessica menutup matanya.
"Lo laki atau cewek sih? Main kasar sama cewek," ujar Jessica lalu memasang kedua tangannya di depan dadanya.
"Tangkap dia!" perintah Kenneth.
Semua orang suruhannya berjalan menuju Jessica. Jessica hanya tetap diam di depannya. "Kalian berani dekat sama gue? Gue aduin lo sama abang gue ya!" ujar Jessica.
Kenneth berdecih. "Jangan dengerin dia, cewek ingusan yang belagu kayak dia enggak ada apa-apanya," ujar Kenneth.
Jessica mengikat rambutnya dan memasang jurusnya. "Majulah," gumamnya dengan posisi kuda-kuda.
"Kalah jangan nangis," ujar salah satu dari mereka.
Jessica memutar bola matanya lalu kembali dengan posisi tegak. "Lo mau adu mulut atau mau berkelahi?" tanya Jessica.
Jessica menatap ke arah Marsha yang sudah sadarkan diri. Mata Marsha mengatakan tidak kepada Jessica, Jessica tau kalau Marsha adalah orang baik. Orang yang pernah Michael ceritakan kepada Jessica, dilihat dari penampilan dan cara bicaranya Jessica sudah tau.
Dia harus mempertahankan Marsha, Marsha satu-satunya orang yang bisa menyemangati hati Michael dari masa kritisnya. Jessica langsung meninju orang di depannya, dan menendang salah satu di sampingnya.
Satu pukulan hampir terkena di wajah Jessica, namun dia mengelak dengan cepat. Dia menendang perut orang di depannya dan langsung mengambil satu tongkat yang ada di dekat jendela dan memukul orang di depannya habis-habisan.
Jessica menghela napasnya. Dia sebenarnya takut untuk mengambil jurus ini, dan melukai orang yang bahkan Jessica tak tau bobot bebetnya. Dan tinggallah dua orang yang berada di dekat Marsha.
Satu menodongkan pistol ke kepala Marsha. "Berhenti, atau kamu akan kehilangan teman kamu!" ujarnya membuat Jessica melempar tongkat di tangannya itu.
Dia menarik lengan bajunya sampai siku. Dan berdiri tegak. "Lo mau apa dari dia?" tanya Jessica berhati-hati.
"Mau apa? Sepertinya ini pertanyaan yang cocok buat lo. Seharusnya gue yang nanya, lo mau apa sama dia? Dan lo ini siapa! Berani-beraninya masuk ke dalam apartemen ini!" bentak Kenneth.
Jessica bingung dia menatap ke arah sekitar dia bingung mau melakukan langkah apa jika dia melawan sudah tentu Marsha akan ditembak habis-habisan oleh orang jahat di depannya ini. "Gue adik iparnya, kenapa? Ada masalah?" tanya Jessica tertawa.
Membuat Kenneth menatap ke arah Marsha lalu memegang dagu Marsha dengan kasar. "Bener apa yang dia bilang?"
Jessica langsung menendang Kenneth saat Kenneth sibuk menatap ke arah Marsha. Membuat Kenneth terhempas ke lantai.
"Bos!" Orang yang ingin menodong Marsha kini membantu Kenneth berdiri. Jessica menarik kursi Marsha ke belakang dirinya.
"s**t!" umpatnya membuat Jessica berdecak.
"Mulut lo kasar buat gue yang masih anak-anak," ujar Jessica dan perlahan melepas ikatan di tangan Marsha.
Jessica berdiri. Mereka belum bisa lari dari sini karena jarak dari pintu terhalang oleh kedua orang di depannya ini. Kris—adalah suruhan dari Jessica, Kris memakai topeng hingga Jessica dan Marsha tak bisa melihat wajah orang di dekat Kenneth itu.
"Mending gue saranin, kalian menyerah aja deh," ujar Kenneth lalu mendekat dengan pisau yang ada di tangannya.
"Menyerah? Itu hanya buat lo, bukan buat gue," ujar Jessica.
Kenneth semakin mendekat, satu langkah dan
Srek! .... //
Jessica merasakan perutnya yang digores oleh pisau dia menutup matanya dan dengan pergerakan yang cepat Jessica menendang tulang kering Kenneth dan langsung memukul-mukul wajah orang di depannya dengan penuh kemarahan, hingga tak sadarkan diri.
"Lo benar-benar udah kelewatan!" Jessica melempar barang-barang di depannya ke arah orang yang bernama Kris itu. Kris yang melihat itu memilih untuk berlari.
Jessica menghela napasnya pelan. Lalu berbalik arah dan menatap ke arah Marsha, dan tersenyum. Kenneth yang kembali sadar membuat mata Marsha membulat dengan cepat Marsha mengambil tongkat dan memukul Kenneth kembali.
"Argh!" ringisnya membuat Jessica menoleh dan tertawa.
"Sakit?" Jessica memegang perutnya dan tertawa kembali melihat Kenneth yang sudah tak sadarkan diri.
Marsha berlari dan memeluk Jessica. "Makasih, Jes. Kalau kamu enggak ada mungkin aku udah ...."
Jessica membalas pelukan Marsha. "Enggak usah bilang gitu, gue cuman mau lo bisa bebas dari orang jahat itu."
Marsha yang semakin merasakan berat langsung menoleh dan mendapati Jessica yang sudah tak sadarkan diri. Dengan cepat Marsha membawa Jessica pergi dari apartemen ini. Dia memasuki mobil Jessica dan membawanya menuju rumah sakit.
****
Robert mencari keberadaan Jessica. "Dia di mana?" tanya Robert kepada Anne.
"Enggak tau, tadi dia ngangkat telfon terus ...."
Anne merasa sangat khawatir entah sejak kapan dia jadi khawatir seperti ini. Dia menatap jam dinding sekarang sudah hampir malam hari. Anne mengusap wajahnya, Clarita datang dengan pakaian yang masih memakai pakaian rumah sakit.
"Sabar, Ma. Pasti Jessica baik-baik aja kok," ujar Clarita yang sebenarnya juga sangat khawatir ditambah tadi dia memecahkan gelas. Dia harus berusaha positif thinking.
Di sisi lain Marsha yang sedang mengemudi, dan tak lama Jessica menoleh ke arah Marsha. "Sha, lo harus ke rumah sakit. Kak Michael kecelakaan," ujar Jessica membuat Marsha terkejut.
"Tapi kamu?"
"Enggak usah risau soal gue, yang penting kita ketemu sama kak Michael dulu," ujar Jessica yang berusaha menahan rasa sakitnya. Perutnya sudah mengeluarkan darah segar tanpa henti.
Tapi bersyukur Marsha sempat membalutnya dengan kain jaketnya. Marsha melajukan mobil Jessica dengan kelajuan di atas rata-rata. Tak lama mereka sampai di tempat tujuan.
Marsha memapah Jessica masuk. "Suster!" Marsha memanggil salah satu suster untuk membawa Jessica menuju ruangan untuk diobati.
"Dia kena tusukan," ujar Marsha.
"Sha, lo harus ke ruangan Kak Michael," ujar Jessica.
Marsha menghela napasnya pelan. "Lo butuh gue juga, gue akan nemenin lo di sini sampai lo benar-benar udah diobatin," ujar Marsha.
Jessica memegang tangan Marsha. "Enggak, dia butuh lo. Jangan aneh-aneh deh," ujar Jessica. Dia menghela napasnya dan memegang perutnya dan meringis.
"Dokter! Cepat obatin luka dia," ujar Marsha yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Jes, maafin gue. Lo jadi gini karena gue," ujar Marsha.
Jessica sudah diberikan obat bius. "Lukanya lumayan dalam, tolong mbak keluar dulu. Kita akan melakukan yang terbaik," ujar Dokter membuat Marsha mengangguk.
Marsha menghapus air matanya dengan kasar ini semua salah dirinya. Michael seperti ini juga karena dirinya, dan Jessica seperti ini juga karena dirinya. "Lo bodoh banget!" ujarnya lalu duduk di salah satu tempat duduk di depan ruangan Jessica.
Dia menatap sekeliling. Kata Jessica, Michael juga berada di rumah sakit ini. Marsha, malu untuk bertemu dengan keluarga Harington, belum lagi kalau mereka tau soal ini. Soal Jessica yang terluka juga karena menyelamatkan Marsha.
Marsha mengusap wajahnya kasar dan menunduk. "Marsha?" Suara itu membuat Marsha mendongak. Dia menatap mata orang di depannya ini dalam.
Anne tersenyum dan langsung memeluk Marsha. Membuatnya terdiam, Anne melepas pelukannya dan duduk di samping Marsha. "Kamu di sini? Maaf, maafin kami," ujarnya membuat Marsha menaikkan sebelah alisnya.
Seharusnya, dialah yang meminta maaf. Tapi kenapa jadi seperti ini? Marsha masih bingung dengan semuanya. Anne menghela napasnya. "Kamu ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya membuat Marsha terpaku.
Bagaimana dia harus mengatakan semuanya? Dia tak mau membuat orang tau Jessica khawatir dengan keadaan Jessica sekarang. Belum lagi soal Michael, kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Marsha menghela napasnya dan menggeleng. Tidak, dia harus memberitahukan semuanya.
Dia tak boleh menutup-nutupi kebenaran ini. "Jessica ...."
Anne mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa?"
"Tadi, dia nolongin aku, Tan. Dan dia ...."
"Jessica kenapa?" Marsha menatap ke arah pintu, Anne mengikuti mata Marsha menuju. Dia menatap ke arah ruangan yang sedikit transparan itu.
"Jessica?" Anne berdiri.
"Kenapa dengan dia?!" tanya Anne dengan nada sedikit berteriak.
Marsha ikut berdiri dan langsung memegang tangan Anne. Sungguh, Marsha merasa sangat bersalah, karena dirinya Michael dan Jessica berada dalam rumah sakit ini. Andai saja, Marsha tak meminta putus tiba-tiba, pasti dia sekarang sudah berada bersama dengan Michael dan Jessica tak perlu dirawat di sini dengan luka di perutnya.
"Maafin, Marsha. Semuanya gara-gara Marsha, karena Marsha Jessica jadi seperti itu. Karena Jessica nolongin Marsha, dia tertusuk pisau, dan karena Marsha juga Michael ada di rumah sakit ini. Maafin Marsha, ini semua memang salah Marsha, maafin Marsha, Tan," ujar Marsha bersama dengan tangisnya.
Marsha terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Anne menatap ke arah Marsha dan membawanya ke dalam pelukannya. Anne menghela napasnya pelan. "Semuanya udah terjadi, percuma ditangisi dan percuma disesali," ujar Anne.
"Di sini enggak ada yang salah, takdir pun tak salah. Semuanya ini cobaan." Anne melepas pelukannya dan mengusap air mata Marsha.
"Mama!" Teriakan itu membuat mereka berdua menoleh.
"Ada apa, Clar?"
"Michael! Dia semakin parah, Mah!" ujar Clarita dengan terburu-buru.
Dengan cepat ketiga berjalan menuju ruangan ICU. Marsha menghentikan langkahnya, sebelum dia benar-benar berada di depan ruangan ICU. Dia belum bisa bergabung di antara mereka. Rasa bersalah masih terus menyelubungi dirinya.
"Sha," lirih Clarita membuat Marsha menoleh.
"Kamu kemana aja?" tanyanya membuat Marsha terdiam.
"Michael butuh kamu. Dia cinta sama kamu, satu-satunya orang yang bisa bantu dia sekarang hanya kamu," ujar Clarita membuat Marsha menggeleng.
"Enggak, Kak. Kalau Marsha ada, Michael semakin menderita. Dia semakin sakit, karena Marsha lah yang buat Michael jadi gini," ujar Marsha dan tertunduk.
Clarita sebenarnya masih sangat pusing dan perutnya juga masih sangat sakit. Dia memegang kedua pundak Marsha. "Sha, kalau kamu menghindar, dia akan semakin sakit. Emang cinta ya, susah buat dijelaskan oleh kata-kata. Tapi, hati kalian berdua lah yang bisa menjadi jawabannya," ujar Clarita.
Clarita berbicara seperti ini karena dia tau, perasaan susah buat diungkapkan dengan kata-kata dan tak ada orang yang bisa memahaminya jauh daripada diri sendiri. Clarita sudah mengalaminya, berada pada situasi seperti ini memang sangatlah sulit, Clarita juga belum sepenuhnya bisa mengawal hatinya untuk tetap tersenyum.
Masih ada rasa sakit melihat adiknya terbaring lemah di sana, dan dia sebagai kakak juga tak bisa berbuat banyak. Clarita menyuruh Marsha duduk. "Tenangkan dirimu, aku harap kamu bisa membantu Michael kembali sehat," ujar Clarita sedikit lirih di bagian akhirnya.
Pikiran Marsha terbagi menjadi dua, di sisi lain Michael dan di sisi lain adalah Jessica. Keduanya sama-sama berharga dalam lingkup keluarga ini. Marsha harus bisa mengembalikan situasi seperti semula.