Vanessa?

2017 Kata
Kini Marsha berada tepat di depan ruangan Michael, orang yang sangat dia cintai. Orang yang selama ini menjadi pembangkit semangat Marsha, kini terbaring lemah di dalam sana berjuang antara hidup dan matinya. "Maafin aku, Kak. Karena aku, kakak jadi kayak gini. Ini semua memang salah aku," gumam Marsha yang hanya dia yang bisa mendengar. Clarita melirik ke arah Marsha yang tertunduk dia tau. Marsha sekarang dalam situasi yang sulit buat dipahami, dia pasti punya alasan yang kuat kenapa meninggalkan adiknya Michael. Perlahan Clarita mendekat ke arah Marsha. Clarita memegang pundak Marsha membuat Marsha menoleh. "Take it easy, dia akan baik-baik aja. Aku yakin," ujar Clarita. Dia harus berusaha tegar, salah satu yang bisa membantu Michael adalah semangat dari keluarga dan orang terdekatnya. Sebelum ini Michael tak pernah dekat dengan siapapun selain dari Marsha. Clarita salut dengan Marsha, karena bisa membuat Michael yang berhati dingin itu jatuh cinta padanya. Michael, adiknya tak pernah memandang seseorang dari harta, jabatan dan juga kekuasaan yang mereka punya. Bahkan Clarita sendiri belum tentu bisa menjadi seperti adiknya itu. Marsha menatap nanar pintu di depannya ini. Berharap, dan berharap Michael akan segera sadar dan melewati masa kritisnya. "Jessica, adik kamu? Kemana?" tanya Anne yang mulai khawatir karena putrinya belum juga kembali dari beberapa jam yang lalu. Marsha rasanya mati rasa. Bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya, Marsha menghela napasnya. Tidak! Dia harus menjelaskan semuanya, keluarganya patut tau. "Tan, sebenarnya ...." Lagi-lagi Marsha menggantungkan ucapannya. "Sebenarnya apa, Sha?" tanya Clarita. Tak lama Stevan datang membawa beberapa bungkusan makanan dan memberikannya kepada Clarita, Anne, dan Marsha. Hanya mereka, karena hanya merekalah yang berada di sini. Stevan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi. "Ada apa, Marsha?" tanya Anne. Marsha menghela napasnya, dia sedang mengumpulkan keberanian dan keyakinannya. "Sebenarnya Jessica tadi bantuin aku di apartemen, saat disekap oleh orang jahat," ujar Marsha. Anne terkejut. "Bantuin? Lalu di mana Jessica sekarang?" "Dia ada di rumah sakit ini juga," ujar Marsha. Membuat Clarita dan Anne saling bertatapan bingung. Marsha menutup matanya dan membukanya kembali. "Iya, ini salah aku. Jessica terkena tusukan di bagian perut karena nyelamatin aku tadi, dia udah dirawat di salah satu ruangan di rumah sakit ini," jelas Marsha. "Apa?!" Anne memegang kepalanya yang terasa sakit. Ketiga anaknya sekarang berada di sini, dalam status sebagai pasien. Clarita yang sekarang hamil, Michael yang sekarat, dan Jessica yang sedang dirawat karena tusukan di perutnya. Anne rasanya ingin pingsan. "Eh, Mah. Mama jangan banyak pikiran dulu," ujar Clarita memapah Anne untuk duduk. Inilah yang ditakutkan Marsha, membuat keluarga mereka semakin khawatir saja. Marsha membawa mereka semua ke ruangan milik Jessica dirawat, sambil menunggu Michael mendapatkan kabar lagi. Stevan yang menjaga ruangan Michael, jika saja dokter tiba-tiba keluar. Anne masuk ke dalam ruangan. Terlihatlah Jessica yang sedang terbaring di atas tempat tidur pasien. "Jessica, anakku ...." Anne langsung memeluk anaknya yang masih tak sadarkan diri. Tak lama dokter datang. "Kenapa dengan anak saya dok?" tanya Anne. "Dia terkena tusukan, untung saja tidak terlalu besar. Sobekannya sudah dijahit jadi semuanya kembali aman, dia hanya perlu beristirahat untuk kembali memulihkan imun tubuhnya, dia juga terlalu lelah," jelas Dokter membuat Anne langsung menatap putri bungsunya itu. Clarita menghela napasnya pelan. "Makasih dok," ujar Clarita. Dokter pun meninggalkan ruangan. Ketiganya duduk di sofa di dalam ruangan ini, menunggu Jessica kembali sadar. Stevan datang dan membawa bungkusan makanan yang sempat dia kasih kepada mereka bertiga namun ditinggalkan di depan ruangan Michael. "Kalian, ini makanan. Dimakan, terutama kamu, Clarita. Kamu kan punya penyakit maag," ujar Stevan lalu menyimpan bungkusan makanan di atas meja. Clarita hanya menyengir kuda. Rasanya dia hilang selera makan, karena melihat kedua adiknya dalam keadaan tak berdaya. Dia mau menyembuhkan adiknya namun dia bukan dokter. Stevan beralih ke Jessica. "Gimana? Apa kata dokter?" tanya Stevan. "Hem, sobekannya udah dijahit," ujar Clarita membuat Stevan mengangguk. Dia lalu berpamitan kembali ke ruangan Michael. Dia hanya berdiri di depan saja, tak diperbolehkan untuk masuk. Dokter datang menghampiri Stevan. "Keadaan pasien semakin lemah, dia membutuhkan darah yang lumayan banyak," ujar Dokter. Stevan terdiam. "Apa golongan darah pasien?" tanya Stevan. "O negatif," ujar Dokter. *** Jessica sudah sadarkan diri. Dia duduk di atas kasur rumah sakit, dia menatap semua keluarganya yang duduk di sofa termasuk Robert yang baru saja selesai memarahi Jessica karena bertindak sendirian tanpa meminta bantuan kepada Robert atau orang lain. Robert kini kembali diam, dia memegang pelipisnya dia sekarang sangatlah bingung karena kata dokter tidak ada golongan darah yang cocok untuk Michael. Padahal Michael adalah anak mereka, kenapa bisa tidak ada yang mirip antara keduanya? FLASHBACK ON Dokter berjalan menuju Robert, Anne, Clarita, Marsha dan Stevan. "Maaf tapi di antara kalian tidak ada golongan yang sama dengan pasien," ujar Dokter. "Kok bisa dok? Michael adalah anak kandung kami, kenapa di antara kami tidak ada yang cocok dengan golongan darahnya?" "Memang benar, bapak dan ibu memiliki golongan darah A dan untuk kedua putri kalian memiliki golongan yang sama dengan kalian juga, namun Michael tidak. Ini sudah sering terjadi dalam pembagian gen," ujar Dokter membuat Robert menggeleng. FLASHBACK OFF Yang sekarang dia pikirkan adalah siapa yang akan mendonorkan darahnya kepada Michael, Robert berjalan keluar ruangan dia melihat satu orang yang sedang berdiri di depan pintu rumah sakit Michael, Robert mengernyitkan dahinya lalu tersenyum. Robert berjalan ke depan ruangan Michael diikuti oleh Anne yang baru saja keluar ruangan Jessica. Mereka berdua menatap orang yang tengah berbincang bersama dengan dokter. "Vanessa?" tanya Anne membuat sang empu menoleh dan tersenyum. "Tante, Om." Gadis yang bernama Vanessa Carlton ini menyalami tangan Robert dan Anne. Vanessa adalah sahabat SMA Michael, mereka sangat dekat. Dulu, hingga pada akhirnya mereka terpisah, itulah sebabnya Michael jarang bermain bersama perempuan lagi. Dia lebih nyaman sendiri, apalagi tanpa kehadiran Vanessa. Vanessa adalah orang yang selalu menghibur Michael dulu semasa SMA. Mereka satu perkuliahan walau hanya beberapa semester saja. Vanessa pindah bersama dengan kedua orang tuanya ke Swiss, awalnya Vanessa menolak. Tapi, dia tak bisa jauh dari orang taunya dan berakhirlah Michael ditinggal oleh sahabatnya. "Kamu? Udah pulang?" tanya Anne. "Iya, Tan. Aku kembali pulang, dan aku dengar kalau Michael kecelakaan. Aku dengar dari teman-teman kampus kami dulu," ujar Vanessa. Anne dan Robert saling bertatapan dan mengangguk. "Dan, saya dengar kalau Michael butuh darah golongan darah O negatif? Kebetulan saya juga golongan darah O negatif." *** Setelah berbincang masalah Michael akhirnya mereka semua kembali duduk di depan ruangan menunggu Vanessa selesai melakukan transfusi darahnya. Awalnya Anne dan Robert merasa tidak enak, tapi Vanessa juga ingin menyelamatkan sahabat karibnya dulu itu. Dokter keluar membuat Robert dengan cepat berdiri. "Bagaimana dokter?" tanya Robert. "Syukur, semuanya berjalan dengan baik. Dan Michael sudah melewati masa kritisnya dia sekarang mau dibawa ke ruang rawat inap. Dia harus lebih banyak beristirahat dan belum diperbolehkan untuk pulang," jelas Dokter. "Baik, dokter terimakasih." "Lalu bagaimana dengan anak saya dokter?" tanya Gavin. Gavin adalah papa dari Vanessa. "Vanessa sekarang berada di ruangan yang sama dengan Michael, dia perlu rehat beberapa menit," jelas Dokter membuat Gavin hanya mengangguk. Gavin yang mengantar anaknya ke sini, karena desakan dari Vanessa. Karena Vanessa adalah putri satu-satunya, jadi begitulah. Setelah Michael dipindahkan ke ruang rawat. Vanessa pun sudah selesai dalam masa istirahatnya, Anne dan Robert sangat berterimakasih kepada Vanessa karena berkat dirinya, Michael anak mereka bisa melewati masa kritisnya. Mereka semua sekarang berada di dalam ruangan Michael, Michael masih belum sadarkan diri juga. Kata dokter harus menunggu beberapa jam lagi, karena dia masih tahap pemulihan dalam tubuhnya yang memang terkena aspal dan benturan batu-batu. Anne menghela napasnya pelan. Dia harus bisa sabar, setidaknya anaknya sudah melewati masa kritisnya. Marsha bingung mau berbuat apa sekarang, di sisi lain Robert meminta dia untuk tetap di sini. Namun dia melihat, semua orang banyak yang sayang dengan Michael termasuk dirinya, namun Marsha sangat merasa bersalah untuk saat ini. Karena dia tak bisa menjaga hatinya untuk Michael. Flashback on Robert menatap dalam mata Marsha, dia dapat melihat raut dan mata kekhawatiran dari Marsha. Dia juga merasa bersalah sudah menjauhkan mereka berdua, dan tak merestui mereka berdua. Memang salah besar jika sebuah cinta dihalangi, akan berdampak seperti ini. Robert paham. Kalau sebenarnya anak-anaknya ini butuh ruang sedikit untuk memandirikan dirinya, seperti halnya tentang cinta mereka. Namun, Robert melahirkan mereka semua juga karena perjodohan dari kedua orang tuanya, dan berakhir dia dan Anne sekarang saling sayang dan menyayangi. Kenapa? Siapa sangka mereka dulu pernah menyimpan rasa pas kuliah. Mereka dekat, dan ternyata kedua orang tua mereka saling kenal, dan Robert dijodohkan dengan orang yang bahkan dia tak tau. Dia juga tak berpikir kalau itu Anne, namun di sisi lain dia berusaha melepas semuanya dengan kerja, kerja, kerja, dan akhirnya dia lambat untuk menikah. "Maaf, Om." Robert masih tak bergeming, hanya ada 3 orang saja di luar ruangan ini. Robert, Marsha dan juga Anne. Anne memegang pundak Marsha menyalurkan ketenangan agar dia tak perlu risau soal kemarahan Robert, karena Robert memang bukan ingin marah saat ini. "Saya mau kalau kamu, selalu ada di dekat Michael," ujar Robert. Marsha terdiam. Bagaimana bisa? Bagaimana dengan janji yang ibunya buat dulu buat mereka. Namun, mungkin untuk saat ini Marsha hanya bisa mengiyakan ke depannya akan dia lihat dan hadapi serta pasrah saja. Marsha mengangguk final membuat Robert dan Anne tersenyum walau hanya senyum tipis. "Maafin kami juga ya," ujar Anne. Marsha mendongak. "Enggak, Tan. Seharusnya aku yang minta maaf kar—" "Ssst, sudah enggak usah diungkit lagi. Yang terpenting adalah, membantu Michael pulih dari masa kritisnya," ujar Anne. Flashback off Clarita diminta untuk kembali ke ruangannya untuk beristirahat ditemani oleh Stevan, Robert sekarang harus bisa positif thinking dan harus bisa percaya kalau cinta itu bisa menyelamatkan semuanya. Walau dia sebenarnya belum yakin dengan Stevan. Bagaimana bisa yakin dengan secepat itu? Stevan menghamili anak sulungnya, Clarita Harington. Benar-benar membuat orang marah, dan berakhirlah mereka harus nikah dengan cepat. Tapi keuntungan bagi Clarita dan Stevan. Dan pada hakikat sebenarnya, Clarita tak hamil. Dia hanya memiliki penyakit maag saja. "Hem, bagaimana jika kita sudah menikah dan perut kamu ...." "Ish! Ini semua gara-gara kamu sih percaya aja kata teman kamu itu," ujar Clarita. "Lah, kan. Masa hal seperti itu enggak dipercayai sih? Entar kalau aku enggak percaya terus kamunya beneran hamil. Entar kamu kira aku enggak mau tanggung jawab lagi," ujar Stevan membuat Clarita menggeleng dan tertawa. Lucu, iya lucu menurut Clarita. Bagaimana bisa? Ayahnya dengan mudah percaya bahwa Clarita benar-benar hamil, tapi enggak apa-apa. Ada keuntungan dan juga kerugian, kerugiannya adalah dia berbohong dan mendapatkan dosa. Apalagi ini berurusan dengan kedua orang tuanya. Entah sampai kapan akan seperti ini. Terjadi keheningan beberapa saat. Hingga Clarita kembali membuka suaranya. "Itu tadi Vanessa, aku enggak pernah tau loh. Kalau Michael ternyata punya sahabat cewek," ujar Clarita. "Kamu sibuk jadi artis sih," ledek Stevan membuat Clarita menghela napasnya. Memang benar, kalau Michael ini jarang sekali terbuka soal perempuan kepada keluarganya. Karena yang mereka tau Michael adalah anak yang sibuk sama prioritasnya yaitu belajar dan juga bekerja. Bahkan Clarita sampai bilang kalau Michael adalah gay? Lumayan lucu sih, namun ngeri kalau beneran Michael itu gay. Namun ada satu hal yang membuat Clarita bernapas lega. Marsha, adalah satu-satunya orang yang berani Michael bawa ke rumah berhadapan dengan kedua orang tuanya walau berakhir mereka berdua tak direstui. Clarita sampai bingung dengan sikap ayah dan ibunya. Mereka menyuruh anak-anaknya mencari pasangan, namun bukan anaknya yang memilih. Namun kedua orang tuanya yang memilih-milih, percuma juga. Pada akhirnya mereka direstui dengan orang yang hanya tepat di mata mereka. Bukan tepat di mata anak-anaknya. Usia yang sudah terbilang bukan mudah atau remaja lagi, harus bisa menghindar dari zona orang tuanya. "Bukan sibuk, emang sibuk sih. Cuman aku kan tau semua apa-apa tentang adikku," ujar Clarita. "Benarkah?" Clarita hanya mengangguk polos, membuat Stevan menggeleng dan tertawa. "Kalau tau tentang diri sendiri? Udah belum?" "Entahlah," ujarnya menghela napasnya pelan. Akhir-akhir ini Clarita memang sering down karena banyaknya hujatan natizen kepada dirinya dan Stevan. Dia harus bisa melepas salah satu di antara mereka juga, antara karir dan menikah. Dua pilihan yang masih sangat sulit untuk diputuskan. Iyalah begitu sulit, ini untuk masa depannya. Clarita yang sudah terlahir dengan kemampuan akting-nya keturunan dari ibunya. Sama, Michael memiliki jiwa dari Robert dan Jessica serta Clarita memiliki jiwa dari Anne. Lengkap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN