Khawatir

2018 Kata
Marsha berjalan masuk ke dalam ruangan Michael, lelaki yang dicintainya itu belum juga sadarkan diri. Marsha duduk di tempat duduk dekat tempat tidur pasien, Marsha memegang tangan Michael seolah memberikan sebuah kekuatan agar Michael cepat sadar. Marsha menatap sendu wajah pucat Michael. "Kak, maafin aku ya." Marsha melepas pegangannya. Marsha menghela napasnya pelan, tak lama Vanessa datang membawa bungkusan berisi buah. Mata Marsha menangkap sosok gadis dengan rambut pendek seleher itu dengan kulit putih, ya. Dia Vanessa orang yang menyelamatkan Michael, orang yang memberikan darahnya kepada Michael. "Hm." Suara itu membuat Marsha bangkit dari duduknya. Dia menunduk dan mempersilahkan Vanessa untuk duduk. Ada rasa sakit di dalam hati Marsha, namun dia harus bisa menahannya. Toh, sekarang Michael dan Marsha bukan siapa-siapa lagi, tidak ada hubungan di antara keduanya beberapa Minggu lepas Marsha mengatakan putus, begitu cepat. Marsha rasanya tak tahan melihat Vanessa yang berada di sana akhirnya dia memilih keluar. Saat berjalan keluar dia berpapasan dengan Jessica. "Eh, mau kemana, Kak? Bukannya kak Michael enggak ada yang jagain?" tanya Jessica. Marsha menatap ke arah ruangan Michael. "Em, udah ada kok. Vanessa udah ada, jadi aku mau pulang beristirahat dulu ya," ujar Marsha. Memang dia sudah cukup lama menjaga Michael, sekitar 5 jam lebih. Saat semua keluarganya pergi untuk membersihkan tubuhnya di rumah, Marsha lah yang menjaga Michael. Jessica bisa melihat rasa sakit dari mata Marsha, bahkan Marsha mengelakkan pandangannya dari Jessica. Jessica menghela napasnya pelan. "Yaudah, kakak istirahat ya. Jaga kesehatan juga, hati-hati ya, eh tapi mau aku anter enggak?" tanya Jessica. "Enggak usah, Jes. Kamu udah bantu banyak. Aku pulang ya," ujar Marsha lalu melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Jessica. Jessica bahkan tak tau apa yang akan dilakukan jika sudah begini, Marsha yang memang cinta dengan Michael. Pasti memutuskan kisah asmara mereka juga punya alasan yang lebih besar lagi, yang sudah tak bisa Marsha pendam. Marsha anak yang baik, cantik dan sopan. Dan terlebih dia tak pernah mengingkari janjinya kepada siapa pun. Marsha rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Namun ini seperti drama Korea saja kalau Marsha lakukan itu sekarang, tapi dia benar-benar merasa sesak di dadanya. Dia memesan taksi dan menuju rumahnya. Hanya sekitar 15 menit dia masuk ke dalan rumahnya yang sepi. Marsha mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Namun dia tak menjumpai ibunya, Marsha duduk di salah satu sofa. Dia menghela napasnya pelan, mungkin saja Ibunya pergi ke rumah budhe-nya. Karena Ibunya pernah bilang kalau dia sangat rindu dengan budhe-nya. Marsha memilih untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, dia masuk ke dalam kamarnya. Menyimpan tasnya, dia duduk di tepi ranjang. "Hem, aku kok kayak orang bodoh ya kalau gini?" kesal Marsha. "Ih, Sha! Seharusnya kamu itu dulu bisa pertahankan Michael, bahkan bisa memberitahunya tentang perjanjian itu," monolog Marsha. Dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. "Kak, Michael. Orang gagah, tapi cinta sama orang biasa kayak aku." Marsha tersenyum saat mengingat Michael menembaknya dengan kata-kata yang kaku. Mungkin dia belum pernah pacaran? Oh no! Bahkan Marsha saja belum pernah, namun dia pernah menyukai kakak kelasnya. Namun berakhir dia sakit hati, karena kakak kelasnya dulu ternyata sudah punya pacar. Masa lalu tak boleh diungkit kembali. Marsha belum sepenuhnya membalas budi dari keluarga Harington, mungkin Jessica tak akan kembali mengingat saat-saat dia menyelamatkan dirinya. Namun, percayalah Marsha sangat tak enak hati melibatkan Jessica dalam hal ini. Geng-nya Kenneth bukan geng biasa, dia seperti psikopat. Marsha hanya takut, Jessica terluka karena dirinya yang melibatkan Jessica dalam hal ini. Marsha mengacak-acak rambutnya kesal. "Bodoh!" Di sisi lain Aileen yang merasakan kesepian semenjak Stevan dan juga Clarita berada di rumah sakit. Bahkan Aileen sudah sering ditinggal sendirian, bukan hal yang biasa untuk anak seusianya. Ibunya juga meninggal sudah lama, apa yang Aileen tau soal ini? Dia hanya anak kecil polos yang bahkan tak tau apa-apa. Aileen berjalan menuju kolam renang, di sinilah satu-satunya tempat Aileen bermain, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Namun, Stevan belum juga pulang dari rumah sakit. Karena Aileen merasa sangat bosan, akhirnya dia memilih untuk keluar rumah. Dia berjalan keluar pekarangan rumahnya. Mengambil sepedanya dan membuka gerbang rumahnya. Usianya memang masih 5 tahun, namun Aileen sudah pandai dan sudah hapal semua jalanan yang ada di sekitaran rumahnya. Karena Stevan suka mengajak Aileen waktu umur 4 tahun. *** Michael sudah sadarkan diri, pas Marsha pulang. Dia sudah membuka matanya, sungguh sangat disayangkan. Jessica duduk di salah satu sofa hanya sibuk menyimak Vanessa yang sibuk merawat Michael. Sedangkan kakaknya itu hanya terdiam dan termenung. Jessica menghela napasnya. "Woi, Kak. Denger si Nessa ngomong enggak sih?" tanya Jessica yang kasihan pada Vanessa yang terus berbicara soal dirinya di Swiss namun sepertinya sangat diabaikan oleh Michael. Michael menoleh ke arah adiknya itu, dia menutup matanya dan kembali membukanya. "Jess, Marsha enggak datang?" tanya Michael membuat Jessica menoleh. "Datang kok, malah ngajagain kakak tadi. Em sekitar 5 jam-an," ujar Jessica. Michael terdiam, dia sebenarnya bingung dengan apa yang dilakukan Marsha. Tapi dalam hatinya sangat senang, setidaknya Marsha masih peduli padanya. Setidaknya gadis yang dia cintai ini masih mau menemuinya. Jessica sebenarnya mau memberitahukan sesuatu kepada Michael soal Marsha. Namun melihat situasi yang sekarang belum memungkinkan. Jadi Jessica mengundurkan niatnya untuk memberitahu yang sebenarnya, Jessica juga belum pasti bobot bebet kenapa Marsha bisa diculik oleh orang-orang itu. Jessica membuka handphone-nya ternyata ada pesan dari Damian kepadanya. Michael menatap ke arah Vanessa yang kini terdiam sambil mengaduk-aduk bubur yang akan dia berikan kepada Michael. "Lo udah pulang? Kapan?" tanya Michael. Vanessa akhirnya tersenyum. "Hem, gue pulang udah seminggu yang lalu sih." "Kok enggak bilang?" tanya Michael. "Lah situ yang enggak balas pesan email yang gue kasih," ujar Vanessa kesal. Dia setiap saat mengabari Michael lewat email, namun tak pernah dibalas oleh Michael. Vanessa selalu menunggu namun, dia selalu berusaha positif thinking mungkin saja Michael sibuk. Michael hanya menggaruk tengkuknya. "Gue sibuk kerja hehe," ujar Michael. Sebenarnya dia tidak sesibuk apanya, dia hanya fokus sama isi hatinya yaitu Marsha. Jadi dia jarang merespon cewek-cewek yang sedang mendekatinya. Walau Michael tau kalau, Marsha sudah mau menikah dengan orang lain. Namun, Michael akan tetap menjaga hati ini buat Marsha, sampai kapan pun. Dia sudah cinta mati dengan Marsha, gadis polos yang dia temui di sebuah warung kecil yang ternyata adalah anak pemilik warung tersebut. Beruntung, di sana Michael bisa bertemu dengan Marsha. "Hem, yaudah lo makan gih," ujar Vanessa memberikan mangkuk berisi bubur itu. "Simpan aja deh, gue enggak lapar. Nanti aja," ujar Michael. Vanessa menghela napasnya dan mengiyakan. Tak lama Clarita datang dengan pakaian biasannya, dia sudah tak lagi dirawat di sini karena imun tubuhnya juga sudah sangat baik. Clarita menatap ke arah Michael dan berjalan menuju adiknya itu. Clarita menjewer kuping adiknya itu hingga sang empu meringis kesakitan. "Aduh, woy kak lo napa?" tanya Michael sambil memegang telinganya yang sakit. "Lo ya, makanya kalau mau apa-apa pikir dulu sebelum bertindak. Lo hampir buat jantung kita semua copot tau enggak," kesal Clarita lalu memasang kedua tangannya di depan dadanya. "Ya maaf, mana gue tau bakal kayak gini." Clarita menghela napasnya berat. "Lo kalau ada masalah bilang sama kita, jangan lari-larian gitu ih, udah kayak anak kecil aja. Ingat umur!" Clarita menunjuk jidat milik Michael. Michael hanya memutar bola matanya malas. "Iya kakak bawel. Sumpah bukannya dikasih apa kek, adiknya abis kecelakaan malah dapat hadiah semprotan pedas dari sang kakak. Sungguh kakak yang tak punya hati," ujar Michael dengan dramatisnya. "Jijik!" Clarita berjalan menuju Jessica yang tertawa melihat keduanya. Vanessa pun ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakak beradik ini. "Udahlah, Kak. Kasian kak Michael," ujar Jesicca. "Iya, lain kali awas lo. Kalau cinta sama orang itu diperjuangkan bukannya malah lari dan merasa galau," ujar Clarita. Seperti dirinya yang rela apa pun yang terjadi agar bisa terus bersama dengan Stevan. Bukan hal yang mudah untuk bisa mendapatkan restu kedua orang tua yang sangat pemilih ini, memilih demi kepentingan anaknya? Kalau anaknya tak merasa bahagia juga sama saja bohong. "Iya bawel," kesal Michael yang terus diceramahi oleh kakaknya itu. "Bawel demi kebaikan kamu enggak apa-apa kan?" tanya Clarita menaik-turunkan alisnya. "Serah." *** Stevan melihat anaknya yang sedang bermain dengan anak tetangganya itu, anak sahabatnya dulu sewaktu dia masih kuliah. Stevan tersenyum, setidaknya Aileen tak merasakan kesepian karena dirinya yang tak selalu ada waktu buat Aileen. "Aileen," panggil Stevan membuat Aileen menoleh dan tersenyum dia langsung berlari dan memeluk ayahnya itu. "Ayah!" "Ayah dari mana aja?" tanya Aileen yang masih ada di pelukan Stevan. "Ayah dari antar Mama ke rumahnya kan dia lagi sakit," ujar Stevan. "Sakit? Sakit apa, Yah?" *Sakit biasa kok, ayo udah selesai mainnya?" tanya Stevan membuat Aileen menoleh ke arah anak laki-laki yang berdiri dan tersenyum itu. "Aku masuk ya!" ujar Aileen lalu melambaikan tangannya. Anak laki-laki itu membalas lambaian tangan Aileen. Aileen masuk dibawa oleh Stevan. "Mungkin sebentar lagi, Ayah sama Mama akan nikah," ujar Stevan lalu mencubit hidung mungil milik Aileen. Aileen tersenyum, dalam hati kecil anak ini. Akankah dia akan merasakan sebuah kasih sayang seorang ibu? Stevan yang melihat raut wajah anaknya yang berubah langsung membawa anaknya ke dalam pangkuannya. "Anak Ayah yang cantik kenapa?" tanya Stevan. "Mama Clar, nanti akan sayang kan sama Aileen?" tanya Aileen lalu memilin tangannya. "Tentu, Mama Clarita akan sayang sama Aileen. Karena dia udah anggap Aileen sebagai anaknya sendiri," ujar Stevan membuat mata Aileen berbinar. Stevan masih kepikiran soal Clarita yang akan sibuk juga dengan karirnya? Atau mau bagaimana ke depannya? Itu keputusan Clarita. Stevan hanya berharap kalau Clarita memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Jauh lebih baik sepertinya. Dia akan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya kelak. Setelah berbincang dan bermain bersama anaknya, Stevan masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia masuk ke dalam kamarnya dan memakai pakaiannya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, ini waktunya dia makan malam. Di sisi lain, Marsha yang berusaha menelfon ibunya tapi dia tak mengangkatnya sama sekali. Marsha merasa khawatir dan risau, Marsha keluar dari rumahnya. Kalau memang benar Ibunya ada di kafe, pasti Ibunya memberitahu dirinya. Dan kalau dia pergi ke rumah budhenya kenapa bisa selama ini? Marsha berusaha berpikir positif, dia hanya takut kalau Ibunya berada dalam bahaya karena ulah dirinya. Marsha menghela napasnya pelan lalu masuk kembali ke rumahnya. Rumahnya sangat sepi dan hanya ada dirinya di rumah. Rumahnya kini mewah dan minimalis, ini semua berkat usaha dan kerja kerasnya. Dan tentunya atas bantuan Michael dulu, ini alasan kenapa dia masih merasa tak enak hati kepada Michael. Dia seperti hanya memanfaatkan Michael saja untuk berbisnis. Namun pada hakikatnya dia tak seperti itu, dia benar-benar tulus dan sayang kepada Michael. Kenapa semuanya bisa terjadi? Ah, sungguh kesalahan masa lalu memang harus diperbaiki agar tak menambah luka untuk masa depan. "Astaga, Ibu kemana sih? Masa aku nyusul ke rumah Budhe, jauh banget. Mana kalau naik motor udah malam lagi," ujar Marsha. Marsha juga tak punya nomor budhenya. Dia baru saja mengganti handphonenya karena rusak, Marsha terus menggerutu kesal dalam batinnya dia mengucapkan banyak sekali kata-kata. Dia cukup takut berada di dalam rumah yang lumayan besar ini. Ah kenapa pikiran Marsha jadi seperti ini? Seperti amburadul dan tak ada arahnya. Dia terus saja merasa gelisah dan hatinya tak tenang. "Sabar, Marsha." Marsha menarik napasnya dan membuangnya. "Oke untuk menghilangkan rasa takut, mari kita ikuti langkah berikut," ujarnya pada dirinya sendiri. Marsha melangkah masuk ke dalam dapur. Dia mengambil roti dan juga selai, dia membuat s**u dan mengambil beberapa kue yang ada di toples. "Nah, mungkin aku lapar kali ya? Jadi makan aja dulu," ujarnya lalu melahap roti yang ada di depannya. Setelah cukup, Marsha mengambil beberapa buku di salah satu rak bukunya. Buku novel, dia akan membaca buku malam ini. Tapi setelah dia membaca sama saja, dia tak fokus dengan apa yang dia baca. Padahal perutnya tak lagi kosong. Marsha menutup matanya dan bersandar pada sofa. Dia lelah sekali memikirkan semuanya, suara detikan jam terdengar di telinga Marsha. Dia membuka matanya dan langsung menyalakan televisi, setidaknya agar tidak terlalu sepi. "Astaga!" kesalnya melihat semua acara televisi tiba-tiba menjadi horor. Marsha memilih untuk menutup pintu rumahnya. Dia sangat khawatir dengan ibunya, semoga saja ibunya berada di rumah Budhenya. Iya, Marsha sangat berharap itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN