“Sejak kapan kamu menjadi pembangkang dan tidak menurut pada keluargamu?” tanya Stevan menatap Clarita penuh arti.
“Sejak aku mengenalmu dan ingin hidup bersamamu. Aku tidak suka mereka melarangku bersamamu, kamu tau kan Stev? Sejak kecil jalan hidupku selalu dituntuntut untuk bisa selalu mengikuti kemauan mereka, aku benci untuk selalu menurut, kapan aku boleh menentukan jalan hidupku? Kapan aku boleh bahagia atas semua yang aku inginkan. Kamu tau kan Stev? Sungguh aku benci terus menerus dikekang.”
“Clarita, yang perlu aku pertanyakan padamu, apa kamu yakin jika aku yang kamu pilih sebagai belahan jiwamu? Aku takut jika suatu saat menyakitimu. Aku takut Clarita jika mengecewakanmu. Aku mohon untuk tetap memikirkan matang bagaimana keyakinannmu kepadaku, karena pernikahan itu sehidup semati.” Stevan menatap sendu Clarita dan memeluknya, dia sungggu mencintai gadis ini, tapi dia takut untuk melepasnya.
Di sisi lain, dia juga takut untuk menyakitinya. Stevan adalah seorang pebisnis yang sangat sibuk dan selalu memikirkan untung rugi, dia pasti memiliki sedikit waktu untuk Clarita nantinya, apalagi perusahaannnya yang di London. Dia harus pergi ke London untuk beberapa waktu dan kembali lagi ke Indonesia. Stevan menatap Clarita bingung. Dia harus mengucapkan apa, dia tak ingin sampai Clarita kecewa dengannya. Apalagi dia tahu Clarita telah jatuh hati padanya. Entah kenapa ayahnya Clarita yang tidak menyetujui hubungannya membuat Stevan agak ragu, dia tak tau bagaimana harus melangkah menuju Clarita lagi.
Clarita membalas tatapan Stevan seolah mengatakan 'Aku sangat yakin padamu Stev.' Dahi mereka saling bersentuhan, merasakan napas mereka yang berhembus hangat menghiasi rasa mereka. Bekum pernah Clarita sebahagia ini setelah bertahun-tahun. Dia tidak pernah merasakan degupan jantung yang berpacu cepat dan membuat Clarita bingung tak karuan. Dia sangat mencintai lelaki tampan ini. Sejak kecil, sejak masih SMP. Sayangnya setelah kelulusan Clarita tidak pernah lagi mendengar kabar Stevan, dia hanya tau jika Stevan berada di London bersama ayahnya.
"Kau tau hal apa yang membuatku bahagia?" tanya Stevan dengan tatapan seriusnya.
"Apa Stev?" Clarita tersenyum membelai pipi Stevan.
"Melihatmu tersenyum bahagia.Aku sangat suka Clar, kau sangat menawan, dan rasanya aku ingin segera memilikimu selamanya."
"Ehm." Ayah Stevan datang dan sengaja mengganggu mereka yang sangat mesra.
"Stevan, kata sekertarismu, kau memenangkan akuisisi? Dan lawanmu adalah keluarga Hangriton? Jelas saja calon mertuamu membencimu." Ayah Stevan tertawa terbahak-bahak, dia menatap anaknya sambil geleng-geleng dan memegang perutnya yang agak sakit karena tertawa.
"Iya, lalu? Dimana letak kesalahanku? Bisnis adalah bisnis, pernikahan ya tetap pernikahan. Tidak bisa begitu, Ayah. Aku tidak mungkin mau mengalah dan memberikannya begitu saja kepada keluarga Hangriton, semua hasil jerih payahku Ayah, dan apakah Ayah tau? Itu adalah Debaire Corp! Perusahan tekstil ternama di dunia yang hampir bangkrut, apa aku salah mengakuisisi mereka?" Stevan melepaskan pelukannya dari Clarita dan menatap tegas ayahnya. Entah kenapa rasanya dia emosi, apa juga hubungannya bisnis dengan pernikahan. Ini bukan hal yang benar.
"Tentu saja Stevan, kau sudah salah dari awal. Coba pikirkan baik-baik, kau menikahi Clarita untuk apa? Bahagia kan? Menikah itu tidak hanya mencari kebahagiaan, tapi juga mempersatukan kedua keluarga, jadi kau harus bisa mengalah dengan calon mertuamu. Tidak sembarang saja seenaknya memutuskan sendiri. Hargai calon mertuamu Stevan. Ayah tidak akan setuju kamu menikah jika hanya membelit mengurus bisnis. Apa kamu tidak kasihan dengan Clarita?"
"Tapi Ayah, aku tidak mungkin melepaskan Debaire Corp," ucap Stevan dengan tatapan memelas dan sendu.
"Yasudah, kalau kamu tidak bisa melepaskan, biar ayah saja."
Ayahnya lalu bergegas keluar, Stevan sempat mengejar ayahnya, namun tidak bisa, dia pasrah harus menerima kenyataan jika Debaire akan ayahnya limpahkan kepada Robert Hangriton.
Stevan menghiraukan panggilan Clarita dari belakang, entah kenapa rasanya dia sangat kesal dengannya juga, lebih tepatnya Stevan kesal dengan ayah Clarita, perusahaan yang Stevan ingin miliki kenapa harus diberikan kepada ayahnya. Dia telah menyiapkan segala kebutuhan dari perencanaan pembangunan dan investasi pada perusahaan Debaire. Tapi sayangnya mimpinya harus kandas jika beralih ke tangan Robbert karena pasti akan dialihkan kepemilikan kepada Michael. Stevan duduk di pinggir kolam dan memeluk lututnya, membenamkan wajahnya.
“Aku ingin semuanya berubah, aku hanya ingin aku bahagia, apa aku salah?” ucap Stevan lirih, air matanya memuncak dan hampir saja ingin menangis. Clarita memeluknya, dia sangat tahu bahwa Stevan juga terluka sepertinya, namun tidak ada jalan yang bisa dia pilih. Clarita mengusap pelan rambut Stevan dan sesekali mengecupnya.
“Cinta kita apa memang ditakdirkan seberat ini?” ucap Clarita, dia juga menangis.
“Tunggu, Stevan. Dimana Aileen?” tanya Clarita, sejak makan tadu dua belum melihat kemana perginya Aileen.
“Anak itu pasti bermain dengan Gilbert, anak salah satu pelayan kami, yang seumuran dengannya.”
Stevan kembali menatap Clarita dengan rasa sendu, dua merasakan hatinya terluka dan iba, menatap wajah Clarita dengan raut yang tidak bisa diartikan, keduanya merasakan sakit dengan maalah yang berbeda,
“Kenapa aku melihat tatapanmu yang terluka? Sudahlah, yang penting sekarang kita bersama. Dan aku berjanji tidak akan meninggalkanmu.” Clarita mengecup pipi Stevan malu-malu. Dia menatap Stevan dengan wajah binar dan bahagia. Menggemaskan. Stevan juga mengecup pipi Clarita singkat lalu memalingkan wajahnya.
“Sebenarnya aku takut Clarita, takut bila kamu tersakiti,” ucap Stevan.
Clarita menggeleng dan tersenyum, hidup di samping Stevan sudah membuatnya sangat bahagia dan bersyukur. Stevan lelaki yang lembut dan baik, tidak mungkin dia akan memperlakukan Clarita kasar.
“Aku tidak menyakitimu dengan berperilaku kasar, tapi mungkin saja aku akan sering pergi meninggalkanmu untuk bekerja di London.” Stevan menatap Clarita dengan tatapan bingung, dia bingung merangkai kata, bagaimana agar halus dan tidak menyakiti Clarita, kenyataannya gadis itu raut wajahnya menjadi sendu.
“Apa aku harus melepaskan kamu?” tanya Clarita. Dia tak tau kenapa sedari tadi Stevan terlihat ragu dengan Clarita, apalagi kini raut wajahnya telah berubah menjadi bingung.
Dulu Clarita hanya bercita-cita mencintai satu lelaki di dunia ini, dan itu adalah Stevan, tapi kini kenapa rasanya sulit meyakinkan lelaki ini, rasanya berat jika membuat Stevan harus kembali yakin akan kekuatan cinta mereka berdua.
"Kalau kamu melepaskan aku, apa arti semua ini Clar? Apa kamu mau melepaskan pekerjaanmu dan hidup bersama aku di London?" tanya Stevan.
Clarita menatap air kolam yang biru, dia berharap setidaknya Stevan tidak memberi pilihan sesulit ini. Memang sebenarnya dulu dia tidak ingin menjadi artis, tapi setelah semua ini apa bisa dia melepaskan karir yang telah dia pupuk selama ini? Jika saja dia melepaskan Stevan, apa bisa dia melupakan lelaki tampan nan gagah ini? Atau apakah mungkin dia tetap bahagia bersama Stevan selamanya tanpa hambatan? Apa boleh dia mencintai Stevan? Mana yang harus dia pilih? Bersama Stevan atau memilih karirnya?