"Michael! Berhenti!" bentak Clarita.
Ayahnya masih memegang kedua tangan Clarita menarik paksanya untuk pulang. Aileen yang tidur terusik dan bangun, dia keluar kamar dan menuju sumber suara yang menyebabkan keributan.
"Daddy?" panggil Aileen saat melihat Stevan yang penuh luka darah karena hantaman Michael.
"Sayang, kemarilah."
"What happen to you?" Dia lalu mendekati Stevan dan menyentuh lukanya, Stevan hanya meringis kesakitan. Clarita tidak tega melihat Stevan yang terluka, rasanya ingin mengobati, tapi kedua tangannya dipegang oleh Robert.
"Mom, daddy kenapa?" tanya Aileen polos. Robeet membulatkan matanya saat anak Stevan memanggilnya dengan sebutan 'Mom'.
"Kita pulang sekarang Clarita!" bentak Robert. Clarita masih meronta meminta melepaskan cengkraman tangan ayahnya. Tapi Robert masih menggenggam kuat.
"Ayah, biarkan aku mengobati luka Stevan."
Robert menampar Clarita dan membentaknya.
"PULANG!"
Hati Clarita bagai teriris pisau tajam, seumur hidupnya ayahnya tidak pernah berkelakuan kasar dengannya, tapi kini ayahnya menamparnya, Robert sudah kehilangan kendali emosi. Sudah sangat marah melihat putrinya yang hampir saja menyerahkan keperawanan kepada duda.
Clarita hanya menunduk saat diseret oleh Michael dan Robert untuk pulang. Aileen segera mengejarnya dan memeluk kaki Clarita.
"Mom! Jangan pulang!" Anak kecil itu menangis histeris saat Clarita diajak paksa pulang, dia tak tega melihat calon ibunya yang disakiti. Tapi Robert sudah tak mendengar apapun, dia mendorong masuk paksa anaknya ke dalam mobil. Stevan menggendong Aileen dan mencegahnya untuk keluar rumah mengikuti mobil Robert yang kian menjauh.
"Ssst, Aileen jangan menangis, kan ada daddy."
Aileen masih menangis seenggukan dalam pelukan Stevan. Sosok ibu yang baru saja hadir dalam hidupnya harus pergi meninggalkannya.
Stevan menepuk bahu Aileen dan membuatnya tertidur pulas.
*
"Kakak? Apa kakak sudah gila?!" pekik Jessica.
Clarita hanya tertawa miris, dia masih menangis dan suaranya bergetar.
"Apa salah aku mencintai Stevan?" tanya Clarita dengan suara serak karena menangis, hidungnya memerah karena terlalu lama menangis, matanya bengkak seperti orang yang habis dipukuli.
"Masalahnya, Stevano Archer adalah seorang duda! Dan kau adalah ikon keluarga Hangriton Kak, jadi semua media akan menyorotmu, dan bisa saja saham perusahaan ayah akan anjlok menurun." Jessica mengambil beberapa keripik cemilan, menyuapkan ke mulutnya.
"Memangnya salah jika aku menyukai seorang duda? Lagipula Stevan sudah lama melajang, oh ayolah dia cinta pertamaku," ucap Clarita.
Memang Stevan seorang duda tampan dan kaya raya, perempuan mana pun pasti mengantri menjadi istrinya.
"Sudahlah kak, kau memang bebal." Jessica membawa kripik kentangnya dan menutup pintu kamar Clarita.
"Baiklah, kalau tidak ada yang mendukungku, aku akan kawin lari!" ucap Clarita pada dirinya sendiri.
Dia mengambil koper kecilnya dan memasukkan beberapa bajunya.
Handphonenya tiba-tiba berdering, managernya menelpon. Clarita mendengus sebal dan mengangkat telponnya.
"Ya? Ada apa?" tanya Clarita.
"Cepat nyalakan televisimu sekarang."
Clarita menaikkan sebelah alisnya, berpikir sejenak, berita hot apa hari ini. Dia lalu menyalakan tvnya, disana terpampang jelas Clarita yang berciuman panas semalam dengan Stevan.
"Astaga! Siapa yang mengirim video ini?? Yaampun." Clarita menggigit jarinya dan mengacak rambutnya frustasi, dia lalu mematikan tvnya.
"Kau ceroboh," ucap managernya di seberang sana.
"Yaampun Dev!! Aku harus bagaimana ini? Ayahku mungkin akan segera memenggal kepalaku. Aduh!"
"Cepat, hubungi Stevan dan buat klarifikasi secepatnya."
Clarita menghubungi Stevan, namun sama sekali tidak diangkat, rupanya pria itu kini sedang asik bermain dengan putrinya di kolam renang rumahnya.
"Daddy! Ajak Mommy kesini Dad!" ucap Aileen sambil menyipak-nyipakkan air kolam.
"Mommy sangat sibuk sayang, mungkin akan jarang kemari."
"Kenapa Daddy?"
"Karena mommy pasti si-."
BRAKK
Ucapan Stevan terpotong saat mendengar suara pintu rumahnya yang didobrak. Stevan segera ke depan. Masih dengan shirtless dia lalu berlari ke depan dan betapa terkejutnya dia Michael berdiri di hadapannya dengan membawa tongkat kasti. Pintu rumahnya hancur karena perbuatan Michael, pecahan kaca bertebaran kemana-mana.
"DASAR b******n!" Michael mendekat dan hendak memukul Stevan, untungnya lelaki itu mampu menahan Michael dan melempar tongkat kasti ke sembarang arah.
"Tenangkan dirimu! Ada apa ini? Kenapa kamu rusak pintu rumahku? Padahal kamu bisa hanya memencet bel, dan aku akan membukakannya."
Bugh.
Tanpa aba-aba Michael memukul keras wajah Stevan. Lelaki itu tersungkur ke lantai saat menerima pukulan maut Michael.
"Kau!" pekik Stevan meringis, dia merasa rahangnya retak dan sudut bibirnya berdarah.
Michael hampir saja akan melayangkan tinjunya pada Stevan, tapi beruntung Stevan menahan dan membelit tangannya.
"Cukup, aku tidak mau berkelahi denganmu, katakan padaku, apa yang membuatmu kesetanan seperti ini?" ucap Stevan.
"Argh! Lepas!" ucap Michael, dia merasa kesakitan tangannya dipiting oleh Stevan.
"Katakan dulu padaku! Ada apa ini?" tanya Stevan.
"Nyalakan televisimu dan lihat sendiri!" bentak Michael.
Stevan lalu melepaskan Michael dan menyalakan televisinya, betapa terkejutnya dia adegan ciuman panasnya dengan Clarita diberitakan di layar kaca.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Stevan pada Michael, dia sendiri terkejut.
"Tanyakan pada dirimu sendiri!" Michael lalu merapikan jasnya dan keluar dari rumah Stevan. Setidaknya Michael sudah memberikan pelajaran pada Stevan.
"Daddy aku lap-," ucapan Aileen terpotong saat melihat pecahan kaca bertebaran dan pintu rumahnya rusak, gadis cilik ini baru saja selesai mandi seusai berenang, dia menangis lalu naik ke pangkuan ayahnya. Keduanya saling berpelukan, Stevan kini benar-benar bingung harus melakukan apa.
20 Menit kemudian,
"Stevan!" panggil Clarita.
Clarita membersihkan kaca yang berserakan dan pintu rumah yang lubang.
"Astaga, pasti ini ulah Michael kan?"
Stevan tak menjawab, dia hanya diam. Sedangkan Aileen lari berhambur memeluk Clarita.
"Stevan, aku bertanya padamu, jawablah." Stevan tak bergeming, lidahnya kelu.
Tapi Stevan tak menjawab lalu masuk ke dalam kamarnya, mengganti bajunya dengan yang lebih sopan, ketimbang shirtless.
"Ikut aku," ucap Stevan.
Lelaki duda tampan ini menggandeng tangan Clarita.
"Stev, kita mau kemana?" mereka kini sudah berada di dalam mobil Stevan, Clarita tak tahu kemana Stevan akan pergi.
Stevan tidak menjawab, raut wajahnya terlihat masam dan kesal. Hanphone Stevan berdering, sekertarisnya Delia menelponnya.
"Batalkan semua jadwal hari ini."
"Ta-tapi pak, hari ini bapak ada janji dengan Mr. Alfred ayah bapak sendiri untuk makan siang bersama."
"Baiklah, aku akan kesana."
Stevan menancap gasnya berbalik arah, dia menuju mansion utama milik ayahnya. Jaraknya lumayan jauh, membutuhkan waktu sekitar 2 jam, ayahnya baru saja pulang dari Aussie mengurus bisnis keluarganya.
"Wah wah, cucu kakek sudah besar ya ...," ucap Alfred, ayah Stevan. Dia menggendong cucunya dan membawanya masuk.
"Oh, siapa gadis cantik ini? Sepertinya dia artis terkenal, kalau tidak salah ... Clarita?" tanya Alfred.
Clarita seketika canggung, bahkan pakaian yang dia pakai menurutnya kurang pantas untuk berhadapan dengan calon mertua.
"I-iya betul, perkenalkan saya Clarita Hangrinton."
Alfred mengangguk dan mempersilahkan Clarita duduk. Tak lama beberapa pelayan datang menyajikan makanan untuk makan siang.
"Bagaimana Stevan? Apa kau sudah segera meminta restu Hangrinton?" tanya ayahnya.
"Sudah yah, tapi-," ucap Stevan.
"Baiklah, biar aku yang turun tangan." Alfred tersenyum misterius menatap keduanya. Dia mengambil hanphonenya lalu menelpon entah siapa.
"Lakukan sekarang."