Kabur

1009 Kata
Michael naik ke atas dan menemui Clarita. Dia menghentakkan kakinya di setiap anak tangga. "Kakak buka pintunya!" teriak Michael. "Apa?" tanya Clarita. Dia menatap adiknya penuh tanya, karena terlihat Michael yang emosi. Michael me menerobos masuk dan menutup pintu kamar Clarita. Dia melipat tangannya ke depan d**a. "Kakak sudah gila apa?! Memiliki hubungan dengan Stevano Archer?" Michael mendelik dan menunjukkan tatapan tidak sukanya. Tapi Clarita menyerngitkan dahinya, apa salahnya jatuh cinta dan berhubungan dengan Stevano Archer? "Kenapa? Apa masalahnya?" Clarita kembali menantang adiknya. Dia membalas tatapan Michael dengan sinis. "Pertama, dia pemilik Archer Corp. Itu artinya pesaing perusahaan Hangriton Corp. Kedua, dia adalah seorang duda! Sedangkan kau! Masih suci! Kenapa mau menikahi pria seperti dia? Jelas ayah sangat marah dan tidak merestui hubunganmu," ucap Michael. Ucapan Michael membuat hati Clarita sangat sakit, harga dirinya merasa direndahkan dia kesal dan menampar pipi Michael. "Kau!" desis Clarita. Tak lama Clarita membawa tas kecilnya dan turun. Dia melihat sudah tidak ada Stevan di ruang tamu. Clarita mengenakan sneakersnya dan berlari mengejar mobil Stevan, entah kemana rasa lelahnya, menguap begitu saja. Ucapan Michael membuatnya sangat marah, sampai-sampai dia tak menyadari telah berlari marathon sepanjang 1 km. Stevano melirik spion mobilnya dan menghentikan secara mendadak, dia terkejut dengan Clarita yang masih mengenakan dress mengejarnya. Stevan keluar dari mobil dan berlari kecil menuju Clarita, mereka berhambur saling berpelukan. Clarita menitikkan air matanya, dia tak mungkin bisa merelakan sosok Stevan dalam hidupnya. “Bawa aku Stev! Aku ingin pergi bersamamu!” Clarita lalu menarik wajah Stevan dan menyatukan kening mereka. Stevano memejamkan mata menikmati hembusan napas Clarita. Wanita ini yang mampu mengetuk hati Stevan sejak istrinya meninggal. Dia sangat menyayangi Clarita lebih dari apapun. “Daddy!” teriak Aline lalu gadis cilik itu berlari berhambur ke arah mereka. “Mom? Why are you crying? Why mom?” tanya Aileen dengan logat Inggrisnya. “I’m Fine.” Clarita lalu memeluk Aileen dan menggendongnya. Rasanya mereka sudah sangat dekat bagai ibu dan anak. “Clarita, biar aku membawamu pulang.” Stevan menarik pelan pergelangan tangan Clarita, tapi dia menggeleng keras. “Tidak, bawa aku ke rumahmu Stev.” Stevan lalu berpikir sejenak, dia lalu menggeleng. “Kau mau aku mati dibunuh ayahmu?” canda Stevan. Clarita malah cemberut, dia merajuk dan masuk ke dalam mobil Stevan. Lalu menyalakan radio mobil, Clarita adalah seorang Aries, perempuan yang berani mengambil risiko apapun yang terjadi ke depannya, lagipula dia sangat mencintai Stevan dan sangat menginginkan Stevan menjadi suaminya sehidup semati. Sayangnya ayahnya mengacaukan semua mimpinya, tidak ada yang salah dari Stevano Archer, seorang pebisnis duda dan kaya raya. "Clarita, aku tak mau kita ambil risiko, ini berat. Apa yang harus aku katakan kepada ayahmu nanti? Bisa-bisa aku dibumi hanguskan. Tolong Clarita, mengertilah, aku akan mengantarmu pulang." Stevan menggenggam lembut tangan Clarita, tapi gadis ini malah makin masam. Dia lalu memeluk Aileen dan menepuk-nepuk pelan dan membelai rambutnya, agar gadis cilik ini tertidur. "Ssst." Clarita menempelkan ujung jari terlunjuknya pada bibir, mengisyaratkan menyuruh Stevan untuk diam. "Ayo jalan Stev, kumohon. Hari ini saja, biarkan aku tinggal di rumah atau apartemenmu," ucap Clarita memohon. Stevano akhirnya menyerah, dia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dengan perlahan dan penuh hati-hati Clarita merebahkan tubuh Aileen di kamarnya. Mengusap pelan rambutnya dan menyelimutinya, mengecup kening Aileen dan menutup pintunya. "Stev? Dimana kamu?" panggil Cla rita. Tapi tak ada jawaban, Clarita memutuskan masuk ke dalam kamar Stevan. "Astaga!" pekik Clarita. Dia membalikkan badannya saat menatap pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Stevan yang polos tanpa busana menikmati guyuran shower. Untung saja Stevan tidak menghadap ke arahnya, membelakangi Clarita. Dengan cepat Clarita membuka pintu kamar dan menutupnya. Clarita berjalan ke arah dapur, tenggorokannya terasa kering, dia membuka kulkas dan mengambil jus jeruk meneguknya perlahan, dia mencoba menetralkan pikiran kotornya. Ada sedikit rasa kesal kenapa Stevan tidak menghadap ke arahnya saja. "Yaampun, otakku benar-benar kotor," ucap Clarita merutuki dirinya sendiri. Hanphone Clarita berdering, tertera nama ayahnya di sana. Dia mendecih sebal dan mereject panggilan dari ayahnya. Lalu mematikan ponselnya. Dia memilih duduk di ruang tamu dan menyalakan tv. Melihat drama yang dia mainkan, lama-lama dia merasa bosan dan menutup matanya. "Clarita?" panggil Stevan, tapi rupanya tidak ada jawaban. "Clar?" panggil Stevan lagi, dia menggendong Clarita pelan dan memindahkannya di kamarnya. Stevan lelaki yang sopan dan menghargai wanita, dia menutupi Clarita dengan selimut lalu dia memilih tidur di sofa ruang tamu. Dia sangat mematuhi aturan hubungan dalam pernikahan yang sah. Tak lama, handphone Stevan berdering, nomor tidak diketahui menelponnya, tapi Stevan tidak biasanya menerima telpon begitu saja. Dia memilih mereject panggilan itu dan melanjutkan tidurnya. *** “Halo Marsha?” Michael menelpon kekasihnya, dia merindukan suara Marsha. “Michael? Ini sudah hampir dini hari, ada kau menelponku?” tanya Marsha “Aku ingin tidur denganmu. Maksudku aku rindu.” Michael tertawa sendiri dan bergulung-gulung di atas kasur saking senang dan malu. Klik. Telpon dimatikan. Marsha mematikan panggilan Michael. “Ha-halo? Marsha?” Michael menatap hpnya dan terbengong. “Michael! Buka pintu kamarmu!” Robert mengetuk keras karena sangat panik karena Clarita belum pulang dan entah kemana perginya. “Ayah? Ada apa yah?” Michael membuka pintu dan mempersilahkan ayahnya masuk ke dalam kamarnya. Raut wajah ayahnya terlihat sangat kacau dan gelisah. Robert menarik tangan Michael dan membawanya turun lalu masuk ke dalam mobil. Tanpa berucap kata lagi, Robert menancap gasnya dan menuju rumah Stevano. Di rumah Stevan, Clarita tiba-tiba gelisah dan bangun dari tidurnya. Mencari keberadaan Stevan. “Stev?” Clarita membulatkan matanya saat Stevan tidur di sofa, pasti badannya kesaikitan tidur di atas sofa seperti itu. Clarita tersenyum kecil dan membelai pipinya dan mengecup keningnya. “Sayang,” bisik Clarita. Namun Stevano tidak ada respon. Tatapan Clarita beralih pada bibir ranum milik Stevan, dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirnya, lalu melumatnya pelan. Stevan membuka matanya dan membalas lumatan Clarita dan mereka saling bertukar saliva. “Kau mau di kamar?” tawar Clarita. Tapi Stevan menggeleng keras. Tatapan Clarita kini sangat menggoda dan membuatnya ingin melapah Clarita, menikmati setiap jengkal tubuhnya. “Tidak, disini saja.” Stevan tersenyum kecil dan melumat kembali bibir Clarita, dia masih sadar dan menyentuh Clarita hanya sebatas mencium. Namun naluri lelakinya bergerak, tangannya menelusup ke dalam baju Clarita membuat Clarita melenguh. “Stev.. Kumohon, sekarang,” pinta Clarita. “Hentikan aku Clar ...,” ucap Stevan. Tapi Clarita malah melakukan sebaliknya, mencium dan melumat bibir Stevan lebih ganas. BRAKK. Pintu rumah Stevan dibuka paksa oleh Robert. “CLARITA!” teriak Robert menatap putrinya dengan tatapan membunuh, dia menarik paksa anaknya dan menjauhkan dari Stevan. Michael segera menghampiri Stevan dan melayangkan tinjunya pada pipi Stevan. “Kurang ajar! Beraninya kamu menculik kakakku!” Michael menghajar Stevan bertubi-tubi. “Cukup!” teriak Clarita. Dia menarik adiknya dan menghentikan Michael.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN