Restu

1033 Kata
“Sayang, apa kamu mau ikut mama?” tanya Stevano kepada putri semata wayangnya, Aileen Archer. “Mama?” Aileen menyerngitkan dahinya, tidak memahami maksud Stevan, dia lalu melihat ke arah wanita di sampingnya, Clarita. “Iya sayang. Mau?” Dengan cepat Aileen mengangguk dan tersenyum riang, hati Clarita menjadi menghangat ketika menatap senyuman Aileen. Manis dan sangat tulus. Senyuman anak kecil selalu tulus dan tidak bisa berbohong. Aileen sangat cantik, persis dengan ibu kandungnya. Clarita sangat bersyukur jika bisa merawat dan mendidik Aileen seperti anaknya sendiri. Aileen menghampiri Clarita dan duduk manja di atas pangkuannya. “Mama?” tanya Aileen dengan mata bulat dan cerahnya. Cantik nan polos. “Ya, panggil mama yah sekarang.” Clarita memeluk Aileen erat, sedangkan Stevan tak hentinya menyunggingkan senyum di wajahnya. Akhirnya dia menemukan pasangan hidup setelah sekian lama kehilangan istrinya, rupanya Clarita berhasil menarik hati Aileen. Dia bisa menjadi ibu yang baik bagi Aileen. “Oke, kalau begitu hari ini aku akan meminta restu orang tuamu Clarita. Kita akan secepatnya menikah.” Ucapan Stevano sukses membuat pipi Clarita bersemu merah, dia sudah pernah mendengar ribuan lelaki melamarnya, tapi kali ini berbeda. Ini Stevano Archer! Cinta pertama Clarita. Rasanya seperti mimpi, cinta pertamanya kembali dekat dengannya apalagi kini bersedia melamarnya. Perut Clarita seperti digelitik oleh ribuan kupu-kupu. Semilir angin dan cuaca yang cerah membuat harinya semakin baik, Clarita tersenyum dan menggenggam tangan Stevano. “Terimakasih sayang.” Stevano mencium kening Clarita lalu menggamit tangannya dan Aileen kini berada dalam gendongannya, mereka beranjak dari restoran dan menuju rumah Clarita. *** Mereka sampai di depan rumah Clarita, namun rupanya Aileen masih tertidur pulas dan nyenyak di bagian belakang mobil sambil memeluk boneka pemberian Clarita. Mereka berdua tak tega membangunkan Aileen dan keluar dari mobil tanpa membangunkan Aileen. Stevan mengetuk pintu dan Robert yang keluar. “Selamat datang di rumah keluarga Harington, saudara Archer,” sambut Robert, ayah Clarita. Mendadak semua tegang dan canggung, rasanya wajah Robert mengeras saat Clarita membawa Stevan ke rumahnya. “Clarita, bantu ibu di dalam.” Robert memberikan instruksi kepada anaknya untuk masuk ke dalam, pembicaraan ini sangat privasi, malah membuat Clarita semakin berdegup kencang, dia takut sesuatu terjadi pada Archer. Atau bahkan ayahnya nekat akan mengusirnya, dari sorot mata dan air wajah Robert, Clarita sangat tahu bahwa Robert tidak menyukai Stevan. Clarita mengangguk mematuhi ayahnya, kali ini dia tidak mau membuat suasana semakin kacau dengan membantah, karena Stevan adalah lelaki pilihannya. “Astaga, apa yang akan ayah lakukan?” tanya Clarita panik, berbicara pada dirinya sendiri. Ibunya masih menata kue bolu dan membuat secangkir teh hangat untuk Stevan. Clarita menghampiri ibunya dan menarik ujung baju ibunya. Memberikan tatapan panik dan bingung, sedangkan ibunya hanya tersenyum. “Jodoh itu di tangan Tuhan, jadi jangan khawatir.” Ibunya membawa nampan berisi kue dan minuman lalu menuju ke depan. Saat Clarita menawarkan dia yang membawa, ibunya menolak, malah menyuruh Clarita menunggu di kamar. Mau tak mau Clarita naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya, memanjatkan doa untuk mendapat restu dari sang ayah. Robert menghela napasnya, menatap pemuda tampan dan gagah, kumis tipis menghiasi ketampanannya, dan jambang yang di samping telinganya, membuatnya maskulin. “Jadi, kamu benar Stevano Archer?” tanya Robert seketika, lebih tepatnya pertanyaan itu dilontarkan dengan nada tidak suka. Masalah terbesarnya, Stevano Archer memegang perusahaan yang notabene nya adalah perusahaan pesaing milik Robert Harington. “Aku datang,” ucap Michael memasuki rumah, dia terkejut dan membulatkan matanya saat pesaing bisnisnya ada di dalam rumahnya. “Stevano Archer?” tanya Michael dengan tatapan sinis. Namun Stevan berusaha tenang dan menyembunyikan rasa gugupnya. Mereka memang bersaing bisnis, tapi Stevan tidak peduli lagi, yang ia cintai adalah Clarita, dan dia ingin memilikinya seutuhnya. “Oh, halo Michael Harington.” Senyuman dan keramahan Stevan malah membuat Michael muak. Dia membuang muka dan berjalan melewati ruang tamu tanpa membalas sapaan Stevan. “MICHAEL!” ucap Robert dengan nada tinggi. Michael dengan malas berbalik dan duduk di kursi ruang tamu tepat di samping Robert. “Jadi ada apa seorang Stevano Archer datang ke rumah kami?” tanya Robert to the point. Michael menatap Stevan tajam. Dia sangat membenci Stevan karena perusahaannya berhasil memenangkan proyek bulan lalu. Apalagi nilai saham Archer Corp kini sedang melejit dan memimpin nilai kapitalisasi pasar. “Saya berniat untuk melamar Clarita bapak Robert,” ucap Stevano dengan nada serendah mungkin, mencoba untuk mencairkan suasana. “APA? KAK CLARITA?” ucap Michael setengah teriak. Hampir saja cangkir teh yang Michael pegang jatuh ke lantai karena sangat terkejut dengan ucapan Stevan. “Iya, saya sangat bersungguh-sungguh dengan Clarita.” Robert masih diam, menatap Stevan sejenak. Menimang-nimang, apa maksud Stevan meminang putrinya? Apakah karena ingin menyatukan perusahaan atau murni karena cinta. Robert tidak mungkin melepas putri pertamanya begitu saja, apalagi Clarita seorang perempuan yang sedikit ceroboh dan mudah dimanipulasi. “Apa motifmu?” tanya Robert menatap tajam. Pegangannya pada samping kursi makin erat, membuat kukunya memutih, membayangkan bahwa Stevan memainkan putrinya membuatnya naik darah. “Saya sungguh mencintai Clarita.” Stevan tersenyum tulus. “Omong kosong!” bentak Michael, dia berdiri dan hendak mencengkram kemeja Stevan. Untung saja Robert segera mencegahnya sebelum terjadi baku hantam. “Michael, tenanglah. Duduk! Apa ayah tidak mengajarimu sopan santun?” Michael duduk dan menatap Stevan marah, berulang kali menghembuskan napasnya kasar, dia sudah sangat ingin menyeret Stevan keluar dari rumahnya. “Cinta? Berapa lama anda mengenal Clarita?” tanya Anne, ibu Clarita. Kali ini ibunya mencoba mencairkan suasana, jika saja di dunia ini tidak ada perempuan, mungki semua akan hancur lebur karena perang lelaki. “Sejak masih di bangku SMP. Tapi sayangnya kami harus berpisah karena saya mengemban pendidikan di Oxford, dan juga, saya dijodohkan oleh orang tua saya.” Anne mengangguk mengerti lalu kembali menatap Robert. Memberi isyarat untuk melanjutkan pembicaraan. “Lalu? Menurutmu apakah aku akan menyerahkan begitu saja putriku yang masih perawan denganmu yang duda?” Stevan tertegun atas ucapan Robert, dia merasa ditikam oleh ribuan belati, penolakannya sungguh sangat halus. Sedangkan adik Clarita, Michael menatapnya sengit. Seluruh keluarga Hangriton memang tidak menyukai keberadaannya. Napas Stevan tercekat dan tak mampu mengeluarkan kata-kata. “Ta-tapi, sungguh. Saya sangat mencintai Clarita.” Robert tertawa sinis atas ucapan Stevan. “Kau kira ini bisnis Mr. Stevano Archer? Tidak sembarang orang bisa mendekati putriku. Aku tau kau pengusaha sukses. Tapi dengan tidak mengurangi rasa hormat, kau seharusnya sudah tau apa jawabanku.” Stevan menunduk lemah dan dia menatap Robert dengan tatapan sendu. “Saya sungguh menyanyangi Clarita,” ucap Stevan lagi mencoba meyakinkan Robert. “Kau tidak dengar apa kata ayah? Kau mau keluar sendiri atau aku yang menyeretmu Tuan Archer?” tanya Michael dengan tatapan singanya. Stevan menatap ke arah ibu Clarita, meminta restu, namun Anne hanya diam. Kalau suaminya sudah berucap tidak bisa dibantah. Mau tak mau Stevano harus menerima keadaan bahwa dia dan Clarita tidak bisa bersatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN