Bayar Hutang

955 Kata
Michael menyelesaikan pekerjaannya dengan tidak fokus. Sedari tadi ia terus bolak balik membaca laporan karena ia salah mengoreksi. Tadi ia sempat menelpon Clarita dan memarahi kakaknya itu. Tetapi Clarita malah menjawabnya dengan santai. “Kau menolak banyak wanita, jadi wajar jika ayah sampai curiga.” Tentu saja Robert tidak akan tiba-tiba mengatakan hal demikian jika tidak ada pemicunya. Dan ia yakin jika Clarita sudah memperngaruhi ayahnya. “Gaun merah C&K,” ujar Clarita sebelum mematikan sambungan teleponnya. Seharusnya ia menduga hal ini lebih awal. Suara nada dering ponselnya mengalihkan perhatian Michael dari pekerjaanya. Ia meraih ponsel yang ia lempar ke atas kasur miliknya. Michael mengerutkan keningnya karena mendapati nomortidak dikenal menghubunginya. “Halo?” “Pak Michael?” tanya seberang sana. “Ya, dengan siapa?” tanya Michael, tapi ia merasa mengenali nada suara orang tersebut. Terdengar suara geresak-gerusuk dari sana. “Ini dengan Marshanda.” “Marshanda?” gumam Michael sambil mencoba mengingat siapa saja wanita yang pernah berbicara dengannya. “Anak pemilik rumah makan Padang dan yang tidak sengaja menabrak mobil bapak,” ujar Marshanda begitu mendapati keheningan di seberang sana. “Ah ya, tentu saja aku mengingatmu,” ujar Michael seolah mengatakan jika ia tidak lupa padahal sebaliknya. “Begini pak. Baru saja saya mendapat pesan bahwa mobil Anda sudah bisa diambil sore ini.” Michael menganggukkan kepalanya walaupun tidak dapat dilihat oleh Marshanda. Ia berjalan ke arah meja kerjanya. “Lalu?” “Em ...” Michael lanjut memeriksa pekerjaanya sambil menunggu jawaban Marshanda. “Begini ... biaya untuk memperbaiki mobil bapak sebesar lima juta.” “Lalu?” tanya Michael dengan santai. Ia tahu akan berakhir apa percakapan ini. Di seberang sana Marshanda tengah menghentakkan kakinya karena sikap santai Michael. Sedangkan di sini Marshanda tengah cemas dengan biaya ganti rugi itu. Belum lagi pihak bengkel sudah menagihnya. “Apa bisa bapak tanggung dulu?” tanya Marshanda dengan hati-hati. “Itu bagianmu, jangan lempar padaku.” “Saya belum memiliki uang sebanyak itu sekarang,” ujar Marshanda dengan nada yang mulai memelas. “Kau bisa mengadaikan motormu, masalah selesai.” Michael menutup telepon secara sepihak. Sedangkan di seberang sana, Marshanda menggeram kesal dengan jawaban Michael. Michael kembali pada kesibukannya. Tetapi suara dering telepon kembali mengganggunya. Michael yang sedang dalam kondisi mood yang belum stabil, langsung menyambar ponselnya dan menyapa si penelpon dengan tidak santai. “Tidak ada tawar menawar ...” “Wow, santai kak santai ...” potong orang di sebrang sana yang Michael kenali suaranya sebagai adiknya, Jessica. Michael menjauhkan ponselnya dan menatap layar ponselnya yang menunjukkan nama Jessica. “Ada apa?” “Kak bisa tolong transfer uang?” ujar Jessica. Michael menghela napasnya. Apa kedua saudarinya tidak memiliki hal penting lainnya selain meminta uang padanya. “Untuk apa?” “Aku terkena tilang dan uang direkeningku sudah habis,” ujar Jessica. “Itu karena kau terlalu boros.” Michael memijat pangkal hidungnya. “Dan sudah kukatakan semalam, jika kalian tidak bisa menguras isi dompetku.” “Ayolah, kak ....” rengek Jessica. “Ck! Kenapa wanita begitu merepotkan!” Michael menutup telponnya secara sepihak dan langsung mentransfer uang ke nomor rekening adiknya. Di seberang sana Jessica menghela napas lega begitu mendapati pesan jika kakaknya itu mentransfer uang. Namun ada hal aneh yang membuatnya bingung. “Kenapa kak Michael bilang semua wanita merepotkan, ya?” Jessica memiringkan kepalanya, tanda jika ia tengah berpikir keras. “Selama ini yang sering meminta uang padanya hanya aku dan kak Clarita.” Jessica melebarkan matanya begitu dia mendapatkan pencerahan. “Berarti benar kata kak Clarita jika kak Michael itu gay?” “Ih ... menggelikan. Aku tidak akan dekat-dekat dengannya.” Jessica bergidik geli. Ia segera mencairkan uang transfer dan berjalan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke kejaksaan. Tetapi begitu berada di dalam mobil Jessica kembali dibuat bingung. “Tapi, kak clarita tahu darimana jika kak Michael itu gay?” Lama Jessica melamun, memikirkan kedua kakaknya tersebut. “Terserahlah, yang penting kak Michael masih mau menstranfer uangnya padaku.” Jessica menggedikkan bahunya sebelum menyalakan mesin mobilnya keluar dari parkiran bank. ** Marshanda menatap uang yang berada di hadapannya. Ia menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Sebelah tangan lainnya ia gunakan untuk mencatat. “Itu salah kamu, udah dibilangin kalo bawa motor pas malam jangan suka kebut-kebutan,” ujar Ibu Inah, pemilik rumah makan dan Ibu dari Marshanda. Ia baru saja masuk ke dalam dapur dan masih mendapati anaknya yang melamun sedari tadi. “Emang duitmu ada berapa?” Marshanda melirik catatannya. “Semuanya ada tiga juga. Udah dipake DP enam ratus sembilan puluh lima rebu, nyisa dua juta tiga ratus lima ribu.” “Terus tagihannya berapa?” “Lima juta dipotong DP satu juta, jadi empat juta. Masih kurang satu juta enamratus sembilan puluh lima ribu.” Marshanda melemparkan balpoin ditanggannya ke arah meja. “Lah, lecet dikit kok biayanya mahal.” Ibu Inah meraih ponsel anaknya dan membaca pesan yang dikirim pihak bengkel. “Coba tanya lagi. Itu beneran segitu atau bohongan.” “Ibu kan tahu mobilnya, mobil mahal. Ya pasti biayanya juga mahal.” Marshanda mendesah frustasi. “Aku pinjam uang rumah makan ya bu?” Ibu Inah menepuk lengan Marshanda sambil melotot. “Di suruh dateng ke sini itu biar bisa bantuin ibu bikin rumah makan ini laku terus jadi besar. Kamu malah mau ngambil uangnya. Baru aja kemarin ada yang makan sampe tiga ratus ribu, eh mesti diridho-in karena kamu nabrak mobil orang.” “Nanti juga aku ganti bu,” bujuk Marshanda sambil memegang lengan ibunya dan sedikit digoyangkan. “Koknya enggak,” tolak Ibu Inah. Marshanda melepaskan pegangannya pada lengan bu Inah dan membiarkan ibunya pergi. “Coba kamu pinjam dulu ke teman atau gadaikan saja motormu itu,” teriak bu Inah. Marshanda menatap motol matiknya yang terparkir. Ia tidak mungkin tega menggadaikan motornya yang merupakan hasil jerih payahnya selama diperantauan. Tapi jika ia meminjam pada temannya .... “Oke kita ke pegadaian,” ujar Marshanda. Ia meraih kunci motornya dan membulatkan niat untuk menggadaikan motornya saja. Marshanda meraih helm yang ia design serasi dengan motornya. Dan melangkah mendekati ibunya untuk berpamitan. “Mau ke mana?” tanya Ibu Inah menatap anaknya membawa helm. “Mau ke pegadaian, bu,” jawab Marshanda dan mengulurkan tangannya pada bu Inah. “Minta duit?” tanya bu Inah melihat anaknya mengulurkan tangan. “Mau salim bu. Tapi minta duit juga buat ongkos pulang, hehe.” “Dasar!” Bu Inah mengulurkan tangannya dan langsung disalami oleh Marshanda. Kemudian Ibu Inah pergi ke tempat ia menyimpan uang dagangannya. Mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan memberikannya pada Marshanda. Marshanda segera menerimanya dan pamit pergi. “Hati-hati di jalan! Jangan sampai nabrak kendaraan orang lain!” teriak Ibu Inah yang dibalas dengan anggukan kepala dari Marshanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN