"Jadwal ku hari ini apa saja?"
"Tidak ada, hanya saja kamu harus menghadiri talkshow jam 8 malam."
Clarita hanya diam sambil menikmati sebotol air mineral yang diberikan manajernya. "Dan perlu kamu tahu, bahwa Stevano juga membintangi acara talkshow tersebut." Clarita tersedak mendengar penuturan Devi.
"Yang benar saja? Untuk apa mereka mengundangnya juga?" kesal Clarita.
"Berita kalian sedang hot issue sekarang, jadi mereka sengaja mengundang Stevano agar bisa memberikan kepastian dari berita yang beredar." Clarita merutuki dirinya sendiri, mengapa ia begitu bodoh melakukan tindakan konyol tersebut. Jika sampai Stevano mengatakan yang sebenarnya pada awak media, maka malulah dia.
"Ah sudahlah, kamu atur saja. Aku ingin pulang dan tidur." Clarita beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Devi yang hanya geleng kepala memperhatikannya.
****
Stevano diam memperhatikan ponselnya yang ada digenggamannya, ia masih teringat dengan tawaran yang diajukan padanya beberapa menit yang lalu.
(flashback)
"Selamat siang, apa benar ini dengan tuan Archer? " tanya seorang wanita di seberang saluran panggilan tersebut.
"Iya, selamat siang. Benar, saya tuan Archer. Ada apa?"
"Jadi begini, saya host dari acara talkshow. Saya bermaksud ingin mengundang anda dan juga nona Harington di acara talkshow saya malam ini pada jam 8, untuk mengkonfirmasi hubungan anda dan nona Harington yang sedang hangat-hangatnya untuk di bahas saat ini."
Tak ada jawaban yang diberikan oleh pria tersebut, dia bingung harus menerima atau menolak tawaran tersebut. Tetapi ini menyangkut dengan reputasi dan perasaannya kini. "Apa anda masih di sana, tuan Archer?"
"A-ah, iya. Saya masih di sini." Ia tersadar dari lamunannya.
"Apa anda bersedia untuk hadir dan menjadi bintang tamu kami?"
"Baiklah, saya bersedia."
(flashback off)
Stevano tersenyum mengingat pertemuannya lagi dengan cinta pertamanya, Clarita Harington. Gadis kecil yang lucu dan imut itu mampu membuatnya jatuh hati dahulu ketika dia masih duduk di bangku SMP, sekarang gadis itu tumbuh menjadi wanita karir yang cantik, anggun dan mempesona.
Entah mengapa, saat dirinya berhadapan dengan wanita itu, terasa perasaan berbeda yang pernah hadir dalam hidupnya. Sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan kepada mantan istrinya, Jennie.
"Ah, ada apa dengan diriku ini?" ucapnya saat sadar dirinya terbawa dalam pikirannya sendiri. Dia bangkit dari duduknya keluar dari ruang kerjanya, ia memutuskan untuk menghampiri anaknya. "Hai, sayang, kamu lagi apa nih?" Stevano mengintip Aileen yang sedang bermain di dalam kamarnya.
"Hallo, daddy. Aku lagi main acara minum teh, daddy mau ikut?" Aileen menyodorkan cangkir teh kecil tanpa isi padanya, Stevano tersenyum dan masuk ke kamar anaknya dan duduk dikursi kecil dan meja bundar kecil yang berhadapan dengan Aileen.
"Sepertinya menyenangkan, daddy ingin bergabung juga." Stevano tersenyum manis pada anaknya dan dibalas dengan senyuman menggemaskan yang di tampilkan Aileen.
Stevano merasa tak ada yang ia butuhkan lagi, saat melihat putri kesayangannya ini tersenyum bahagia seperti yang ia lihat kini. Namun diusia Aileen yang masih 5 tahun, gadis kecil ini masih sangat membutuhkan kehadiran Sang ibu.
"Aileen, mau ngga kalau daddy bawakan mommy baru untukmu?" tanya Stevano hati-hati. "Mommy? Apa daddy ingin memberiku mommy baru?" Stevano hanya tersenyum menanggapinya.
****
"Selamat malam pemirsa, saat ini kita kedatangan dua bintang tamu yang marak diperbincangkan di awak media. Beri tepuk tangan kepada Clarita Harington dan Stevano Archer."
Keduanya hanya menampilkan senyum terbaiknya atas sambutan Sang pembawa acara. "Wah, terlihat serasi sekali ya. Seorang aktris terkenal dan pengusaha yang sukses, bisa ceritakan kisah cinta kalian?"
Senyum yang ditampilkan Clarita seketika memudar, ia bingung harus menjawab apa dan memilih melirik Stevano yang duduk disampingnya. Ia melihat pria itu hanya tersenyum santai, Clarita takut jika ia di permalukan disini.
"Awal mula pertemuan kami adalah di hotel yang saya miliki, saat itu Clarita sedang melakukan meeting dengan kliennya. Entah mengapa, saya langsung tertarik dan jatuh hati saat melihatnya." Clarita tertegun mendengar apa yang disampaikan oleh Stevano.
"Jadi, dari sejak itu kalian mulai berkenalan dan berkencan?" Stevano kembali menampilkan senyum terbaiknya. "Iya, sejak itu kami semakin dekat dan membuat saya semakin jatuh hati padanya." Clarita memandang sosok yang melontarkan perkataan tersebut, Stevano pun memandangnya dengan tatapan penuh arti.
Acara talkshow tersebut telah selesai beberapa menit yang lalu, kini Clarita duduk sendiri menikmati segelas kopi hangat di rooftop gedung tersebut. Entah mengapa beberapa saat yang lalu, Stevano memintanya pergi ke rooftop untuk menemui pria tersebut .
"Udah lama nunggu?" Clarita langsung menoleh ke sumber suara, saat ia tahu siapa pemilik suara tersebut ia hanya mengangguk dan tersenyum hangat.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Stevano memilih duduk di samping Clarita dan memandang pemandangan malam yang indah dari gedung tersebut.
"Sudah lama kita tak berjumpa, dan kita dipertemukan lagi dengan situasi yang lucu seperti ini." Clarita hanya tersenyum miring menanggapinya. "Kamu tahu, sejak berita itu beredar rasanya sulit untuk tidur dengan nyenyak."
"Jika itu mengganggumu, biar aku yang katakan pada media yang sebenarnya." Clarita mengubah posisinya menghadap pria tersebut. "Kamu tidak mengerti maksudku?" Wanita itu mengerutkan keningnya.
"Aku ingin hubungan ini nyata, Clarita. Bukan hanya sekedar berita kosong saja, bisakah aku mengenalmu kembali dan menjalin hubungan yang dulu sempat tertunda?" Kedua bola mata Clarita terbelalak mendengar apa yang diucapkan pria yang ada dihadapannya kini.
"Sepertinya perasaan yang dulu pernah hadir muncul kembali, malamku selalu terganggu dengan gambaran wajahmu itu."
"Apa kamu yakin ingin mengenalku?" ragunya, ia takut jika Stevano hanya ingin menaikkan reputasinya.
"Aku tak pernah main-main dengan perkataanku, Clarita. Aku benar ingin mengenalmu." Raut wajah Stevano berubah serius. "Jangan memikirkan hal yang bukan-bukan, aku benar-benar menyukaimu dan entah mengapa membuatku ingin mengenalmu lebih lagi."
Clarita tak mampu menjawab apapun, sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh pria itu. "Baiklah, aku menerimanya. Aku juga ingin mengenalmu lebih lagi." ucapnya dengan mengulas senyum manis.
Stevano memandanginnya dengan senyum bahagia. "Besok kamu mau jalan denganku?" Clarita tersenyum. "Apa ini sebuah ajakan kencan?"
"Tentu, jika kamu menganggapnya sebagai sebuah ajakan kencan." Stevano menaikkan kedua alisnya.
"Baiklah, aku menerima ajakan kencanmu," jawabnya dan meminum kembali kopi yang hampir tandas tersebut.
Stevano tersenyum sampai-sampai menampilkan deretan giginya yang rapi akibat jawaban yang di lontarkan Clarita pada, wanita yang ia sukai.
"Aku harap kita benar-benar bisa semakin dekat." Stevano masih setia memandang pemandangan kota di bawah gelapnya malam menyelimuti.
"Setidaknya jika alasanmu mendekatiku bukan karena ingin pamor dan reputasimu naik," ucap wanita tersebut tanpa menatapnya.
"Aku bukan pria yang gila akan semua itu.” Stevano beralih menatap Clarita yang hanya meliriknya sekilas.
"Aku harap niatmu baik."
"Percaya padaku, aku selalu serius dengan apa yang kukatakan."