Seorang gadis kecil tengah duduk menikmati acara televisi di ruang keluarga seorang diri, dengan berteman semangkuk sup ayam dan segelas jus jeruk. “Ish, aunty itu benar-benar jahat sekali, aku tidak suka padanya,” gerutunya sambil meminum jus jeruknya.
Gadis itu beralih melihat jam dinding yang tak jauh dari area televisi, dia mendengus. “Daddy jadi jarang pulang, apa sesibuk itukah daddy?” Aileen memeluk kedua lututnya dengan wajah yang cemberut. “Daddy, aku kesepian. Cepatlah pulang.”
****
Stevano tengah sibuk diruangannya, ia sedang berkutat dengan beberapa laporan yang diserahkan oleh sekretarisnya. “Mengapa laporan keuangan menjadi seperti ini?” kesalnya, dia beralih menggambil ponselnya dan mencoba menghubungi salah satu kontak yang sering ia hubungi 2 bulan terakhir. “Hai, Clarita. Kamu dimana? Kita makan siang bersama, bisa?” tanyanya.
“Baiklah, aku jemput kamu disana.” Sambungan telepon terputus, ia pun bergegas untuk menjemput wanita yang menjadi salah satu bagian terpenting baginya.
Stevano tiba di sebuah taman kota yang penuh dengan beberapa kru dan staff disana, ia mulai mencari Clarita yang berada di bawah pohon rindang bersama manejernya. “Hai, udah selesai syutingnya?” Wanita itu menoleh kearahnya dan tersenyum. “Iya, baru aja nih.”
“Ayo, kita makan siang bersama, aku sudah sangat lapar,” ringisnya menepuk perutnya. Clarita hanya tersenyum singkat sebagai tanggapan, keduanya berlalu meninggalkan area taman menuju mobil Stevano. Bukan menjadi rahasia umum lagi bagi mereka jika semua orang mulai mengetahui kedekatan mereka.
“Oke, kita makan dimana?” tanya Clarita seraya memposisikan duduknya. “Setidaknya pakai sabuk pengamanmu dulu, beb. Aku ngga mau kita ditilang cuman karena ngga pakai sabuk pengaman.” Stevano mengode Clarita dengan lirikan matanya pada sabuk pengaman yang masih belum ia pasang. “Hei, sudah berani ya manggil beb segala, belum resmi apa-apa juga.” Clarita menggeleng kepalanya singkat dan memasang sabuk pengamannya, sedangkan Stevano hanya tertawa.
“Kita makan di restoran jepang, aku tiba-tiba mau makan itu, kamu mau?” tanya Stevano seraya melajukan mobilnya.
“Aku juga lagi pengen makan itu.” Clarita fokus memperhatikan ponselnya dan beralih menatap jalan raya yang ramai.
Tibalah keduanya direstoran yang dimaksud, saat memilih tempat duduk dan memesan makanan, keduanya mulai membuka obrolan.
“Clartia, emm... kamu mau bertemu anakku?” pertanyaan itu mampu membuat Clarita terhenti dari aktivitasnya. “Apa ngga terlalu cepat, Stev? Kita aja masih dalam masa pengenalan,” tanyanya. “Setidaknya anakku tau aku sedang dekat dengan siapa.” Stevano memberi pengertian kepada Clarita.
Wanita itu hanya diam, ia masih bingung untuk menanggapi ajakan Stevano, ia rasa ini terlalu cepat hanya saja benar yang dikatakan Stevano, setidaknya anaknya tahu dengan siapa ayahnya sekarang. Lagi pula ini pun pendekatan untuknya dengan anak Stevano.
“Cuman pertemuan biasa, Clar. Kita akan makan bersama dirumahku.”
“Kapan maunya?” tanya Clarita menatap Stevano.
“Hari minggu kamu ada jadwal?”
“Minggu ini aku kosong.”
“Hari minggu aku jemput kamu jam 10 pagi.”
****
“Kamu serius mau ikut casting lagi?” Michael fokus dengan acara televisinya dan juga tetap mendengarkan curhatan adik bungsunya itu.
“Aku mau nyoba lagi, kak. Kamu tau kan itu mimpiku.” Jessica merengek pada kakak laki-lakinya. Michael beralih menatap Sang adik dan merubah posisinya yang awalnya berbaring menjadi duduk. “Semua orang tau itu mimpimu, tapi kamu sadar ngga sih kamu tu cuman buang-buang waktu, udah berapa kali ikut tapi hasilnya gagal.”
Jessica diam tak menjawab, ia merasa tersinggung dengan perkataan Michael tetapi apa yang dikatakan benar adanya. Tetapi ia tetap akan mencoba, karena ia yakin usahanya tak akan mengkhianati hasil. “Kakak liat aja nanti, aku pasti bisa lolos kok. Kalian semua memang ngga ada yang mau dukung aku.” Jessica beranjak meninggalkan Michael dengan kaki yang ia hentak-hentakkan, Michael cukup lelah menghadapi kekeraskepalaan adiknya itu, ia cukup prihatin melihat nasib adiknya yang sampai kini masih ingin menjadi aktris.
“Kamu yang bodoh, atau emang nasib kamu yang jelek sih, dek?” Michael kembali beralih ke acara televisi yang dia nikmati sedari tadi, sudah cukup baginya untuk memberi tahu adiknya tersebut. Tapi hasilnya sama saja, hanya kekeraskepalaan Jessica ia dapat.
****
Clarita tengah sibuk memilih baju yang akan ia kenakan nanti untuk bertemu dengan anaknya Stevano, ia sudah tahu jika Stevano telah memiliki anak dari mantan istrinya dahulu dan dia pun tahu nama anak tersebut. Segalanya telah di ceritakan Stevano padanya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Si pemanggil tersebut, Stevano. Bergegas ia mengangkat panggilan tersebut. “Iya, hallo. Kamu udah mau jemput?” Clarita mendapatkan baju yang akan ia kenakan nanti sambil menjawab panggilan Stevano. “Oke, aku tunggu kamu.” Panggilan langsung berakhir saat itu juga, ia bergegas memakai baju yang akan ia pakai dan mulai memoles wajahnya dengan sedikit make up.
Tak lama, suara mobil Stevano telah tiba dihalaman rumahnya, Clarita bergegas untuk menemui Stevano yang tengah meminta izin kepada kedua orang tua Clartia. Akhirnya keduanya berjalan menuju mobil Stevano
Hanya beberapa percakapan kecil yang dibicarakan, sampai akhirnya tibalah mereka di rumah Stevano. Stevano membuka pintu mobil untuk Clarita dan kedua berjalan beriringan masuk kerumah milik Stevano.
Rumah yang sangat luas dan rapi dan hanya di tinggalin oleh Stevano, Aileen dan pengasuh Aileen. Tak jauh dari pandangan Clarita, ia melihat Aileen tengah asik menonton acara televisinya dan Stevano yang langsung duduk disampinya.
“Sayang, kenalkan ini aunty Clarita.” Aileen langsung menoleh dan menatap detail Clarita. “Hai, Aileen. Kenalkan, nama aunty Clarita.” Ia mengulurkan tangannya dengan maksud ingin bersalaman dengan Aileen.
“Dia yang daddy maksud mommy baruku? Aku tidak menyukai dia.” Betapa terkejutnya Stevano dan Clarita mendengar penuturan Aileen, ini kali pertama mereka berjumpa. Tapi Aileen langsung tak suka padanya.
“Kenapa, sayang?” Stevano mencoba bertanya secara hati-hati. “Aunty ini jahat, aku melihatnya di film. Dia kejam, daddy. Aku benar-benar tak menyukai dia.”
“Itu hanya film, sayang.”
“Tidak, daddy. Aunty ini memang jahat, ia menyiksa keluarga yang tak bersalah dan mengambil hak yang bukan miliknya.” Aileen tiba-tiba berlalu meninggalkan Clarita dan Stevano yang diam seribu bahasa atas apa yang di uatarakan Aileen.