Pertemuan Pertam

987 Kata
Michael tengah pusing melihat tingkah adiknya, Jessica. Sudah hampir sejam adiknya itu merengek-rengek dikamar Michael agar menemaninya casting di suatu gedung ternama. "Kakkkk.... Ayolah, cuman 2 jam aja kok." Mata Michael seketika terbelalak. "Kamu kira 2 jam itu sebentar apa?" Dengan sedikit emosi Michael menjawab dan memalingkan wajahnya dengan melipat kedua tangannya didepan d**a. Rasanya lelah sekali menghadapi adik yang sangat keras kepala seperti Jessica, jika tidak dituruti pastilah adiknya ini sangat marah dan merasa tidak di dukung karirnya. Cukup lama Michael diam dan berkutat dengan pikirannya. "Kaakkkkk....." Michael mendengus. "Cepat siap-siap sana, 2 jam aja kan? Jangan lebih dari itu." Raut wajah Jessica berubah cerita saat itu juga dan ia bergegas keluar dari kamar Michael menuju kamarnya untuk menyiapkan beberapa keperluannya. Tiba-tiba adiknya muncul kembali kekamarnya dengan pakaian yang sama, hal itu mampu membuat kening Michael berkerut. "Kenapa belum siap?" Adiknya tersenyum canggung dan menutup perlahan pintu kamar Michael. "Itu... Castingnya jam 1 siang. " "Terus ini jam berapa?" tanya Michael malas. "Masih jam 10 pagi ka, kita kesana jam 12 aja. Bisa kan?" Jessica memastikan agar kakaknya masih mau mengantarnya nanti. Michael memutar bola matanya malas. "Yaudah, aku mau tidur dulu. Kamu keluar, nanti bangunin aja." Michael merebahkan dirinya dikasur dan bersiap untuk masuk ke alam mimpi. Jessica menuruti perintah Sang kakak, ia pun pergi meninggalkan kamar Michael dan memilih untuk kembali ke kamarnya. **** Jessica baru saja tiba di lokasi castingnya kini, Michael berencana untuk menunggunya tetapi sepertinya dia ada keperlerluan, karena ada seseorang yang menghubunginya. Jadilah ia ditinggal sendiri di lokasi casting saat ini. Wanita itu sedang mencari ruang tunggu untuknya berganti baju dan bersiap-siap, dan akhirnya ia menemukannya. Namun, saat menuju ruang tunggu ia tak sengaja bertemu seseorang yang ia kenal. Seorang pria dewasa dan tampan, Damian Alvaro. Pria tersebut merupakan aktor terkenal dan sedang trending topik saat ini, berkat aktingnya di salah satu film yang ia mainkan yang mampu melumpuhkan hati para penontonnya. Tak dipungkiri, Damian adalah idola Jessica dan motivasinya untuk menjadi seorang aktris. Ia tak menyangka, akan bertemu secara langsung dengan Sang aktor. Ia berniat ingin menghampiri pria tersebut dengan maksud ingin berfoto bersama dan meminta tanda tangannya. Namun niatnya urung karena salah satu staff telah memanggilkannya untuk segera bersiap-siap dan masuk kedalam ruang tunggu tersebut. "Lain kali mungkin aku bisa bertemu lagi dengannya," bisik Jessica, ia sangat berharap untuk bertemu kembali dengan Sang idolanya. Kini ia telah selesai bersiap-siap dan menunggu namanya yang dipanggil. "Jessica Harington." Ia bergegas memasuki ruang casting. Ia benar-benar merasa sangat gugup saat ini, ia berdoa agar kali ini dia dapat lolos casting. Saat ia memasuki ruang casting, ia melihat 3 orang juri yang menatapnya dengan sedikit terkejut. Ia paham kenapa ditatap seperti itu, karena dia berasal dari keluarga Harington. "Perkenalkan, nama saya Jessica Harington. Saya harap saya lolos karena kemampuan saya, bukan karena status keluarga saya." Dia berusaha menetralkan perasaannya yang kini mampu membuatnya gemetar dihadapan para juri. "Baik, silakan tunjukkan kemampuanmu." **** Sudah 15 menit Michael berada di sebuah taman mini, ia mulai bosan menunggu seseorang yang menghubunginya beberapa saat yang lalu ketika ia mengantarkan adiknya. "Maaf, pak. Membuat anda menunggu lama." Michael langsung menatap malas Sang empunya suara. "Kamu tau, aku sudah sejam menunggum disini," bohong Michael dan itu berhasil membuar Marshanda merasa bersalah. Entah mengapa ia suka melihat tingkah polos wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Duduklah, mau bicara apa?" Marshanda menunduk tak berani menatap mata wajah pria yang ada dihadapannya, melirik pun Marshanda merasa akan dibunuh. "Ituu..." **** "Bodoh kamu Jessica, bodohhhh...." Jessica merutuki dirinya sendiri, kali ini ia gagal lagi dalam casting. Penyebabnya apalagi jika bukan ia melupakan beberapa dialog yang telah ia hafal, dan ekspersinya yang tak mampu membuat para juri merasa tersentuh malah terkesan konyol. Kini ia berada di sebuah mall besar, ia bosan menunggu Michael menjemputnya. Kakaknya itu sepertinya sangat sibuk sampai-sampai panggilannya tak dijawab berkali-kali. Untungnya lokasi casting bersebelahan dengan mall, jadilah ia berjalan-jalan ke mall sekaligus menghibur dirinya. Ia memilih duduk di sebuah kafe dan memesan segelas green tea, dia butuh relaksasi agar tak merasa stress akibat gagal lagi. Ia mendengus dan mengacak kasar rambutnya yang panjang. "Miris sekali hidupmu, Jess." Ia meringis meratapi nasibnya yang lagi-lagi mendapatkan kekecewaan. Jessica yakin kali ini keluarganya akan memasukkannya di kantor Michael dan bekerja disana, ia cukup putus asa. "Aku butuh teman curhat, tapi aku tak punya teman seperti itu." Jessica menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. "Pesanan anda, nona." Jessica mengambil pesanannya di bartender dan membawanya keluar dari kafe tersebut. Ia berjalan tak tau ingin kemana di dalam mall tersebut, pikirannya sangat kalut saat ini. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. "Aaaaa..... Damian, Damiannnnn......!!!" Jessica kaget saat ada dua orang wanita menabraknya dari arah belakang dan menerikai nama Damian. "Damian? Jangan-jangan...." Jessica berlari mengikuti kedua wanita yang menabraknya tadi. Dan benar saja, didepan sana ada banyak wartawan dan fans yang mengejar Damian. Dan dia melihat Damian berlari menghindari para wartawan dan fansnya tersebut, Jessica berniat ingin membantu Damian, ia pun bergegas berlari menyusul Damian. Kini ia berada di samping pria tersebut, Jessica secara spontan menarik pergelangan tangan Damian dan membawanya lari secepat mungkin hingga para wartawan dan fans Damian kehilangan jejak. "Kita sembunyi disana," ucap Jessica, ia langsung membawa Damian bersembunyi di sudut ruangan yang tidak akan dilihat oleh siapapun. "Pakai ini." Jessica menyodorkan syalnya pada Damian untuk menutupi wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya. Dan beberapa saat itu juga para wartawan dan fans Damian melewati mereka dengan berlari dan juga teriakan histeris para fansnya, dan tak menyadari keberadaan keduanya. Saat dirasa aman, keduanya membuang nafas gusar dan terduduk di sudut ruang tersebut. "Terimakasih banyak." Jessica menatap Demian dan tersenyum. "Ngga perlu bilang begitu, aku tau kamu pasti kesusahan dengan adanya mereka," ucap Jessica menyeka keringatnya dengan tangannya. "Namamu siapa?" tanya Damian. "Jessica Harington." "Jessica Harington?" Jessica hanya mengangguk. "Dan aku adalah fansmu juga, kamu roll modelku untuk menjadi idola.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN