*Bab 14*
"Kamu berarti adiknya Clarita Harington dan Michael Harington?" Jessica hanya mengangguk singkat dan mengulung bibirnya. "Aku baru saja ikut casting dan ujungnya...." Ia membuang nafas kasar. "Aku gagal lagi."
Seketika itu juga ia menangis, ia tak tahu mengapa tak mampu membendung rasa sedihnya saat ini. "Maafkan aku, aku malah menangis didepanmu." Jessica mulai menyapu air matanya, Damian menggeleng cepat. "Tak apa, aku tahu rasanya. Ceritakan saja padaku."
Pria itu tersenyum hangat padanya, dan itu mampu membuat hati Jessica memanas melihatnya. "Aku tak tau lagi harus gimana, kalo keluarga ku tau aku pasti disuruh kerja di kantor ka Michael. Dan mimpi aku jadi aktris harus aku kubur." Jessica menunduk berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi, namun usahanya gagal.
"Aku mau jadi aktris, tapi aku selalu ngga bisa buat hafal isi naskah dan ekspersiku juga buruk. Udah beberapa kali aku gagal casting karena faktor itu dan juga karena aku gugup, aku pengen banget jadi aktris, tapi keluargaku ngga ada yang mau mendukungku dan hanya menyepelekan."
Jessica benar-benar mencurahkan segala isi hatinya kini pada Damian, air matanya tak berhenti berjatuhan dan hal itu semakin membuat dirinya merasa sangat tak berguna.
Damian pun memeluk Jessica, ia tak tega melihat wanita menangis didepannya. "Aku juga pernah di posisimu dan aku juga beberapa kali gagal juga dan hampir bikin aku putus asa. " Damian mengelus lembut punggung dan rambut Jessica, ia ingin membuat wanita itu tenang.
"Tapi akhirnya kamu jadi aktor kan, aku tau perjuangan kamu. Makanya aku mau ngikutin itu." Damian tersenyum mendengar ucapan Jessica, ia menghargai semangat yang dimiliki anak bungsu keluarga Harington tersebut.
"Kalo kamu mau, aku bakalan ngajarin kamu sampai kamu benar-benar bisa mewujudkan mimpi kamu, kamu mau?"
Jessica seketika melepaskan pelukan Damian dan menatap takub pada pria tersebut, ia tak menyangka akan tawaran Damian padanya. Ia segera menghapus air matanya dan tersenyum girang pada Damian.
"Iya, aku mau. Terimakasih mau membantuku." Jessica kembali memeluk Damian, ia benar-benar sangat senang mendengar tawaran yang diajukan apadanya. Ia yakin kali ini ia pasti berhasil jika Damian mengajarinya apalagi Damian adalah idolanya, semakin semangatlah ia.
"Kapan kita mulai? Sekarang?" Jessica melepas kembali pelukan itu dan merapikan rambutnya yang agak berantakan.
Damian tersenyum menanggapi kegirangan wanita dihadapannya ini. "Besok aja, dirumahku. Bisa ngga aku nyimpen nomormu? Biar besok aku kabarin jamnya." Jessica mengangguk sebagai jawaban, Damian merogoh ranselnya dan mengeluarkan ponsel berwarna hitam.
Ia lalu menyerahkannya kepada Jessica dan gadis itu mulai mengetik digit nomor ponselnya, setelah itu ia menyerahkan kembali ponsel itu dengan senyum yang tak pernah memudar sejak tadi.
"Oke, besok aku hubungin kamu. Oh, ya. Kamu ngga pulang?" tanya Damian padanya.
"Kakakku masih ada urusan jadi aku berencana menunggunya dengan jalan-jalan dimall. Eh, aku tadi ngga sengaja liat kamu di gedung tempat aku casting tadi."
"Oh, itu. Aku awalnya diminta untuk jadi juri di acara casting itu gara-gara salah satu juri katanya ngga bisa hadir tapi akhirnya juri itu hadir dan aku ngga jadi gantiin," jelas Damian, Jessica mengangguk mengerti atas penjelasan Damian.
"Aku antar pulang, ya? Daripada nunggu kakak kamu nanti kelamaan," tawar Damian padanya.
Jessica sempat berpikir sebentar dan akhirnya menerima tawaran Damian. Sebelum keduanya meninggalkan sudut ruangan tersebut, Jessica mengenakan syalnya pada kepala Damian agar tak ada yang mengenalinya dan meminta Damian mengenakan kacamata agar tak ada yang mengenalinya.
Keduanya berhasil lolos dan berakhir di parkiran mall tersebut, Jessica memasuki mobil bersamaan dengan Damian. Tak berapa lama mobilnya melajut meninggalkan area parkiran tersebut.
****
Siang ini Jessica berencana kerumah Damian karena pria tersebut telah menghubunginya untuk datang siang ini, ia meminta Michael mengantarnya.
Memang ada penolakan awalnya, tetapi akhirnya Michael mengantarnya kerumah Damian. Jessica sadar jika rumah Damian sangat jauh dari rumahnya dan lokasinya pun berada di perumahan elit khusus para aktris dan aktor.
"Rumahnya yang mana, dek?" Jessica mengecek kembali ponselnya dan melihat alamat yang dikirim Damian via pesan padanya.
"Kedepan dikit lagi, ka. Rumahnya disebelah kanan." Michael memperlambat laju mobilnya.
"Oke, stop." Seketika Michael mengerem secara mendadak dan berhasil membuat keduanya tersungkur kedepan.
"Direm santai aja kali, ngga usah mendadak juga," kesal Jessica.
"Kamu yang ngasih taunya juga dadakan, coba dari jarak beberapa meter tadi kan udah bisa ngerem." Michael tak mau kalah berdebat dengan Sang adik.
Jessica mengerucutkan bibirnya dan keluar dari mobil, ia membanting pintu mobil tersebut dan sontak membuat Michael terkejut.
"Ngga bisa santai apa tutup pintunya, ini mobil papah bukan mobil aku," omel Michael dan tak digubris oleh Jessica dan Michael mulai melajukan mobilnya dengan perasaan dongkol terhadap adiknya. Wanita masuk ke halaman rumah yang sangat mewah milik Damian dan ia menekan tombol pintu ruma tersebut.
Tak lama pintu rumah tersebut diterbuka dan menampilkan seorang wanita berusia sekitar 40-an. "Maaf, cari siapa, ya?" Jessica tersenyum. "Saya cari Damian Alvaro, saya ada janji dengannya." Wanita itu mengangguk mengerti dan tersenyum hangat. "Oh, nona Harington. Tuan sudah menunggu anda." Wanita itu mempersilakan Jessica masuk.
Dan tak jauh dari penglihatan Jessica, Damian tengah duduk diruang keluarga dengan menonton acara televisi. Saat sadar akan kehadiran Jessica, Damian mempersilakan Jessica duduk dan ia mematikan televisinya.
"Kamu sama siapa kesini?"
"Kakakku yang mengantarku."
"Oke, kamu mau minum apa?"
"Lemon tea aja."
Damian memanggil wanita paruh baya tadi dan memintanya untuk mengantarkan lemon tea kepada Jessica. "Oke, kita langsung aja ya. Mungkin kita latihan dasarnya dulu."
"Iya."
Jessica sangat antusias saat Damian mengajarinya, ia masih tak menyangka jika idolanya sendiri yang mengajarinya.
Damian tak lupa memberinya beberapa tips dan saran agar tidak gugup saat casting, dan itu sangat membantu bagi Jessica yang masih dalam tahap belajar.