Kesal

884 Kata
*Bab 15* "Huhh.." Sudah keseikan kalinya Devi mendengar dengusan Clarita, ia pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh aktris sekaligus temannya ini. Sejak tadi ia bertanya selalu dijawab dengan gelengan dan tatapan yang menyedihkan. "Ayolah, Clarita. Kamu ini kenapa sih? Pusing aku liat kamu kaya gini," kesal Devi. Ia pun menghampiri Clarita dan duduk di samping wanita tersebut. Devi mengedikkan kepalanya, meminta agar Clartia menceritakan apa yang sedang wanita itu pikirkan. "Cepat cerita." Devi melipat kedua tangannya didepan d**a. Clarita masih saja diam dan enggan untuk cerita tetapi Devi mendesaknya untuk bercerita. Clarita menatap murung Devi. "Kemaren aku ketemu Aileen, anaknya Stevano." Devi merasa tertarik dengan penuturan temannya ini. "Lalu?" "Dia ngga suka sama aku." Devi sangat kesal saat ini, mengapa temannya ini harus bercerita tidak sampai tuntas. "Kenapa?" "Karna aktingku di film, dia kira aku jahat." Clarita menatap kosong kearah lain, Devi akhirnya tahu apa yang membuat temannya ini hampir seperti mayat hidup. Padahal aktingnya di layar kaca hanyalah akting belaka, tapi bagaimanapun juga anak kecil seperti Aileen hanya mempercayai apa yang dia lihat. Mau tak mau Devi juga harus bisa menenangkan Clarita, jika tidak moodnya akan buruk dan membuat Clarita tidak bisa berakting baik di layar kaca. "Harusnya kamu jelasin dan kasih pengertian buat dia dong, bukan malah stress begini." Devi meminum sebotol air mineral, ia merasa miris melihat Clarita hingga membuatnya haus. "Aku ngga tau caranya gimana, lagian aku ngga pernah nanganin anak kecil." Clarita benar-benar putus asa. "Coba kamu tanya Stevano apa yang disukai anakknya, secara dia ayahnya ya pasti tau apa yang bisa bikin anaknya senang." Devi mencoba memberi saran kepada Clarita walaupun ia tak tahu itu berguna atau tidak setidaknya ia dapat membantu. "Entahlah, liat aja nanti." Clarita meminum air mineralnya hingga tandas, keadaan seperti ini benar-benar membuatnya hampir gila. "Aku doain yang baik aja buat kalian." "Tapi aku harus gimana?" Clarita memerosotkan badannya dan menyandarkan tubuhnya pada penyangga kursi. "Coba aja kamu main lagi kerumahnya, tapi sebelum itu kamu lakukan saranku tadi." Devi mencoba meyakinkan temannya ini.  "Kamu yakin bakalan berhasil?" Clarita merasa ragu akan saran manajernya itu. "Setidaknya kamu mencoba dulu, Clarita Harington." Clarita menumpu kedua pipinya dengan tangannya, ie benar-benar merasa dilema saat ini. Bagaimana mungkin ia harus menghadapi anak kecil yang tidak menyukainya hanya karena aktingnya. **** Michael bersantai di balkon kamarnya yang menampilkan pemandangan kota dan jalan raya yang ramai, ia pun menikmati segelas capoccino. Michael pun hanyut dalam indahnya pemandangan yang ia lihat kini, sampai ia teringat akan pertemuannya dengan Marshanda beberapa hari yang lalu. (flashback) "Itu apa?" Michael menyela perkataan menggantung yang diucapkan Marshanda, dan itu berhasil membuat gadis itu merasa kikuk. "Saya ngga mampu bayar pelunasannya, Pak." Michael tersenyum miring. "Lalu? Kamu mau minta keringanan? "Saya akan melakukan apa yang bapak mau, saya cuman bisa bayar 3 juta aja pak, itu hasil jual motor juga, saya mohon pengertiannya, Pak." "Aku tidak mau." Michael memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya didepan dadanya "Saya mohon, Pak." Marshanda memohon kepadanya. Entah mengapa Michael benar-benar menyukai ketidakberdayaan wanita didepannya kini. "Gitu, kamu serius mau menuruti apa yang saya mau?" "I-iya, Pak." Marshanda merasa ragu tetapi ia tak tahu harus bagaimana lagi, jika ia meminjam uang hasil penjualan di warung makan bisa-bisa ibunya yang murka. Michael mengerutkan keningnya ia berusaha memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk Marshanda. "Baiklah, tapi untuk permintaan itu nanti saya kabari kamu lagi." Marshanda tersenyum bahagia atas tanggapan yang diberikan Michael padanya. "Terimakasih banyak, Pak." "Jangan panggil aku pak, umurku belum masuk 30-an. Cukup panggil Michael aja." Marshanda mengangguk mengerti. (flashback off) Michael tersenyum, akhir-akhir ini ia selalu memikirkan wanita tersebut sejak pertemuan pertama mereka. Kepolosan Marshanda mampu membuatnya menyukai wanita itu, ia pun masih memikirkan hal apa yang harus ia minta padanya. "Haish, kamu membuatku gila, Marshanda." Michael mengacak kasar rambutnya. Apakah benar ia menyukai Marshanda? Apa hanya karena sifat polosnya itu yang membuatnya menyukai wanita tersebut? Michael membuat nafasnya kasar, ia benar-benar tak habis pikir. Tetapi perasaannya mengatakan bahwa ia memang menyukai wanita polos itu, ia pun berniat ingin mendekati dan mengenal Marshanda lebih jauh. Tapi Michael tak tahu bagaimana caranya agar ia bisa mendekati dan mengenal Marshanda. Ia mencoba memikirkan cara agar ia bisa mendekati Marshanda. "Bagaimana caranya ya?" Michael berkutat dengan pikirannya sendiri hingga tak sadar ponselnya berdering sejak tadi. Ia pun menjawab panggilan tersebut. "Hallo." Michael mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang di seberang panggilan tersebut. "Baiklah, saya akan kesana segera." Micahel memutuskan sambungan panggilan tersebut, ia bergegas masuk kedalam. **** Marshanda baru saja tiba dirumah makan Sang ibu, ia berlalu menuju dapur menjumpai ibunya yang tengah masak karena rumah makan mereka sedang ramai. "Bu, kok tumben rame banget." Marshanda memperhatikan para pengunjung yang hampir memenuhi rumah makan mereka. Plak! "Aish.. Sakit, Bu." Marshanda meringis dan mengusap lengannya yang di tampar oleh ibunya. "Pertanyaan kamu tu aneh, bukannya bersyukur kita dapat pelanggan banyak malah dibilang tumben. Kamu mau rumah makan kita sepi?" "Ya, maaf, Bu. Kan biasanya ngga sebanyak ini, biasanya kan cuman beberapa aja yang datang dan ngga sampe mau penuh," jelas Marshanda yang masih mengusap lengannya akibat tamparan Sang ibu. "Eh, itu gimana mobilnya Pak Michael?" "Ya, udah jadi, Bu." "Bayarnya?" "Udah juga." "Uangnya cukup?" "Emm.. Iya cukup kok." "Syukurlah." Mashanda tak mau mengatakan yang sebenarnya, jika ia mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa itu menampah pikiran ibunya dan mengharuskan mengeluarkan uang hasil penjualan mereka. Ia terpaksa berbohong kali ini. "Yaudah, kamu layanin pelanggan sana. Ibu mau nyiapin beberapa pesanan." Bu Inah kembali sibuk melakukan aktivitasnya yang sempat tertunda. Marshanda mengangguk dan meninggalkan ibunya di dapur, dan berlanjut melayani beberapa pelanggan yang mulai berdatangan secara bergantian. Ia merasa senang warung makan mereka hari ini ramai dengan beberapa pelanggan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN