Michael dan Marshanda

970 Kata
*Bab 16* Michael baru tiba dirumahnya, setelah beberapa urusan yang harus ia kerjakan di kantornya hari ini. Benar-benar hari yang melelahkan baginya. Ada banyak laporan yang tidak sesuai, dan mengharuskannya mengoreksi semua laporan yang diberikan sekretarisnya. Dan hal itu menguras semua tenaganya saat itu juga. Kini dia telah berada di kamarnya, ia langsung merebahkan badannya yang terasa tak lama lagi akan remuk. "Mereka tu bisa kerja ngga sih? Masa semua laporan mereka isinya ngga ada yang beres." Michael memijit keningnya yang agak berdenyut. Pria itu bangkit menuju kamar mandi, ia memutuskan untuk mandi agar badannya terasa lebih segar. Selesai mandi, ia turun untuk makan malam bersama keluarganya. Disana ia mendapati keluarganya yang telah lengkap dan tinggallah ia yang belum, Micahel memutuskan untuk duduk di sebelah Clarita. Tak ada pembicaraan yang berguna disela-sela acara makan mereka, sampai akhirnya ayahnya membahas sesuatu yang mampu membuat Michael tersedak. "Michael, apa kamu sudah punya pacar." Robert menatap serius kearahnya kini. "Haruskan ayah membahasnya sekarang? Kita sedang makan." Michael meminum air yang ada digelasnya hingga habis, pertanyaan ayahnya berhasil membuatnya mati tersedak. "Kalau sampai kamu masih belum dapat pacar, ayah akan menjodohkan ka-." "Aku udah punya pacar," spontan Micahel. "Mana? Kalau memang ada besok malam kamu harus bawa dia kerumah dan kenalkan ke ayah dan ibu," tegas Robert. Michael terbelalak mendengar perkataan Sang ayah, bagaimana mungkin ia membawakan pacar sedangkan dirinya saja tak punya. Ia mengutuk dirinya yang terlalu gegabah menjawab perkataan ayahnya. Michael meninggalkan meja makan dan keluarganya begitu saja, tiba-tiba selera makannya hilang seketika. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya dan mencoba mencari cara agar ia tidak dijodohkan kembali oleh Sang ayah. Tiba-tiba ia teringat janji Marshanda padanya. "Baiklah, aku nyoba telpon dia, semoga dia mau." Michael mengambil ponselnya yang tergelat diatas nakas kamarnya, ia juga mengambil jaket hitamnya, ia berencana ingin berbicara secara empat mata bersama Marshanda. **** "Maaf, Pak. Eh, maksudnya Michael. Saya agak terlambat karena bantu ibu tutup rumah makan tadi," jelas Marshanda. Ia benar-benar merasa takut pada Michael karena ulahnya sendiri ia terjebak dalam pembayaran kerugian mobil milik pria itu. Ia agak terkejut saat Michael menghubunginya dan memintanya untuk pergi bertemu dengan pria tersebut di taman pada jam 10 malam seperti ini. "Yaudah, ngga apa-apa. Begini, aku mau menagih hutang janjimu waktu itu." Michael melipat kedua tangannya didepan d**a dan berusaha untuk tidak tertawa melihat ekspresi polos Marshanda. "A-ah.. Iya, Michael. Kamu mau saya melakukan apa?" Marshanda benar-benar gugup saat ini, ia takut permintaan Michael permintaan yang aneh dan sulit untuk dilakukan. "Jadi pacar sewaan aku." Perkataan itu cukup membuat Marshanda terbelalak mendengarnya, ia ingin menolak tetapi ia sudah berjanji untuk menuruti permintaan Michael. "Pacar sewaan? Kamu serius?" Marshanda berusaha meyakinkan Michael, ia takut pria ini salah bicara dan bodohnya Michael mengangguk santai menjawab pertanyaannya. "Besok malam aku jemput kamu, kita ketemu orang tua aku." "Apa? Ketemu orang tua?" Sekali lagi perkataan Michael mampu membuatnya hampir terkena serangan jantung. "Aku ngga mau dijodohin, dan kalo aku bisa bawain pacar buat mereka besok, aku ngga bakalan dijodohin," jelas Micahel. "aku ngga mau ada penolakan," lanjutnya, "Ba-baiklah." Marshanda tak mampu untuk menolak permintaan Michael, janji tetaplah janji dan itu harus dipenuhi. Michael memperhatikannya dari atas hingga bawah, hal itu membuat Marshanda tidak nyaman. "A-ada apa?" gugupnya, ia benar-benar takut melihat Michael yang memperhatikannya seperti itu. "Besok aku jemput kamu jam 10 pagi, kita cari baju yang pas buat kamu." Michael beranjak dari duduknya meninggalkan Marshanda yang diam mematung memperhatikan kepergiannya. Setelah Michael masuk mobilnya dan meninggalkan Marshanda, wanita itu mengacak kasar rambutnya. "Bodoh, dasar bodoh. Kenapa juga aku ngga pinjam uang hasil jualan aja sih? Mending aku dimarahin ibu daripada harus berurusan sama cowok itu." Marshanda benar-benar menyesal atas pilihan yang ia ambil. **** "Ayo, masuk." Kini Marshanda berada dipekarangan rumah yang luas dan mewah, pemandangan ini cukup membuatnya takjub dan tidak percaya. Berada dirumah yang seperti istana ini tak pernah terlintas di pikirannya. "Cepet masuk." Michael kembali mengajak Marshanda untuk masuk, lagi-lagi ia sangat menyukai sikap polos wanita ini. "Aa.. Iya." Marshanda kembali dar lamunanya dan berjalan mengekori Michael masuk kerumah yang sangat megah itu. "Mamah papah udah nungguin di ruang tamu," bisik Michael padanya, dan itu berhasil membuat hati Marshanda bergejolak dengan perasaan tak menentu karena wajah Michael yang begitu dekat dengannya. Ia harap Michael tidak melihat wajahnya yang kini seperti tomat matang. Tak jauh dari pandangannya ia melihat kedua orang tua Michael duduk bersama di ruangan itu, ia dan Michael duduk berhadapan dengan kedua orang tua Michael. "Selamat malam, Om, Tante." Marshanda berusaha menyapa dengan ramah walaupun ia benar-benar merasa gugup saat ini. "Iya, malam," jawab Robert dengan wajah datarnya. "Jadi ini pacar kamu?" tanya Anne dan menatap Michael agar menjawab pertanyaanya. "Iya, Bu. Dia pacar aku, Marshanda." Michael mengenalkan Marshanda kepada Robert dan Anne. Marshanda berusaha menampilkan senyum terbaiknya. "Kamu kerja atau kuliah?" tanya Anne. "Saya kuliah, Tan. Dan bantu ibu saya jualan di rumah makan." "Ayah kamu?" "Ayah saya sudah meninggal sejak lama." "Oh, maaf. Saya tidak tahu, sudah berapa lama menjalin hubungan dengan anak saya?" "Em... Sekitar sebulan ini, Tan." "Hemm... Jujur, kami tidak merestui hubungan kalian berdua. Iyakan, ayah?" Anne menatap Robert agar membelanya dan dibalas anggukan oleh pria paruh baya itu. Michael dan Marshanda terkejut mendengar jawaban Robert dan Anne, mereka heran apa yang membuat mereka tidak setuju atas hubungan keduanya. "Kenapa, Bu?" "Dia belum bekerja dan masih kuliah, ibu nggak mau kamu terlalu lama untuk menikah." Michael tersenyum muak, ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ibunya katakan tadi. "Aku akan tetap sama dia. Ayo, Marshanda kita pergi sekarang." Michael menarik pergelangan tangan Marshanda dan hal itu mampu membuat perasaan aneh muncul dalam hati Marshanda. Keduanya keluar dari rumah besar keluarga Harington, Michael membawanya untuk masuk kedalam mobil dan untuk beberapa saat mobil keduanya meninggalkan halaman rumah tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN