BAB 1

1322 Kata
Suara tepukan keras dan teriakan penonton menggema di seluruh ruang gedung olahraga SMA 40. Dengan peluh menetes berjatuhan, laki-laki bertubuh tinggi itu menatap ke depan. Mata elangnya menyalang tajam. Kakinya bergerak ke sana-ke mari sambil terus menggiring bolanya ke depan. Mata hitamnya tengah berputar mencari celah-celah kosong. Satu gerakan cepat dari arah samping membuat lawannya jatuh seketika. Laki-laki itu terus berlari sembari melirik waktu yang tersisa di papan skor. Tinggal dua menit lagi sebelum pertandingan terakhirnya di SMA berakhir. “Lo pasti bisa, Ro!” Sorakan salah seorang pemain di belakang membuat Erro menoleh dan tersenyum. Dengan penuh semangat, dipercepat larinya hingga batas maksimal. Tak dipedulikannya peluh yang terus menetes di dahinya bahkan suara nafasnya yang memburu dia abaikan juga. Celah itu terlihat. Erro bisa menangkap bayangan jaring-jaring gawang yang menyerukan namanya. Menganga lebar untuk siap menerkam tendangannya. Teriakan penonton semakin histeris bersamaan dengan gerakan kakinya. Beberapa detik semua terdiam. Sibuk menata degup jantung masing-masing. Sampai akhirnya terdengar teriakan histeris yang lebih kencang. GOL! Bersamaan dengan itu peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan. Semua penonton yang terdiri dari adik kelas dan teman seangkatan berteriak menyerukan namanya. Pemain lain segera berlarian menghampiri sang kapten yang masih berdiri dengan senyum terkembang. “Kita menang lagi! Keren lo, Ro!” Fathur berteriak heboh. Angga langsung mengangkat tangannya untuk ber-high five dengan sang kapten. Erro tersenyum lebar sambil membalas tangan Angga dengan satu sentakan keras membuat yang lainnya terkekeh. “Lo pahlawan kita, Ro. Emangnya Fathur? Bawa bola aja nggak becus,” Rifky tersenyum lebar dengan sebelah pundak menyampir di bahu Erro. Fathur melayangkan protes menanggapi ejekan Rifky. “Ya daripada lo penjaga gawang tapi kebobolan berkali kali.” Rifky langsung cemberut, yang lain tertawa lebar menanggapinya. “Eh, tumben si Echa nggak kesini?” tanya Angga ketika dirasanya ada yang kurang saat merayakan kemenangan mereka. Seketika Erro tersadar. Dia melongok ke kanan dan ke kiri untuk mencari-cari keberadaan sahabatnya itu. Matanya menelisik menelusuri barisan bangku penonton satu per satu. Tapi tetap saja keberadaan gadis itu tak terlihat. Erro menghela nafas kesal. “Mana Echa? Jangan-jangan bohong lagi. Awas aja nanti gue laporin sama Om Farhan.” Fathur menggeleng-gelengkan kepalanya. “Buset dah, kayak polisi aja lo.” Erro tersenyum tipis. Dengan gerakan cepat meraih tas punggungnya dari bangku pemain. Tak dipedulikannya suara teriakan dan seruan penonton yang masih terus menyerukan namanya. “Eh, mau kemana, Ro?” Rifky berseru. Erro tersenyum. “Gue mau nyari Echa dulu,” jawabnya bahagia. Setelah keluar dari gedung olahraga, Erro memasuki area kantin. Dan di sanalah gadis itu berada. Erro tersenyum kecut melihat Echa yang tengah asyik makan berdua bersama Zaza. Wajah gadis itu benar-benar tanpa dosa sama sekali. Sambil terus menenteng bola sepaknya, Erro mendekat. Duduk dengan santai tepat di hadapan kedua gadis yang tengah bergosip itu. Rupanya si otak cemerlang lagi yang menjadi bahan gosip mereka. Erro membuang muka muak. Zaza yang tadinya masih tertawa segera stop begitu tahu ada Erro di depannya. Bola mata Zaza membulat. Tampak sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. “Loh Ro, kok lo disini?” serunya heran. Echa memutar wajah dan tampak lebih kaget lagi melihat kedatangan Erro. Tampangnya benar-benar kucel. Ditambah baju futsal yang nyaris tak berbentuk lagi. “Bukannya lo baru tanding?” tanya Echa bingung. Erro mengedikkan bahu kesal. “Nggak tahu!” ketusnya. “Lo kemana aja, sih? Gue nyari lo daritadi.” “Gue tadi....” Echa tampak kebingungan menjawab. Dia menggigit bibirnya berusaha mencari alasan. Akhirnya  dia mengarang cerita tentang hubungan kakaknya dan Zaza. “Tadi Zaza curhat soal Kak Izzy. Jadi gue terpaksa dengerin.” “Oh... jadi last competition gue nggak penting?” sindir Erro keras. Sebelum Echa sempat menjawab, Zaza sudah mengambil langkah mundur. “Ehem... kayaknya kalian butuh waktu berdua. Gue cabut ya, hehe.” “Eh, Za!” Echa memohon. Sayangnya Zaza sudah berlari entah kemana. Echa mendesah kesal melihat tingkah sahabatnya. “Jawab dong, Cha! Lo lupa ya gue ada futsal?” “Nggak lupa, kok. Kenapa sih, Ro? Lo manja banget. Emang gue harus nontonin lo setiap hari? Gue juga bosan setiap hari lihat lo terus, ye.” Erro mendesis. Disambarnya ice lemon tea milik Echa yang baru diseruput setengah. Dengan super kilat gelas itu sudah kosong. Echa tahu persis kalau Erro sedang marah. Jelas sekali dari raut wajahnya yang mulai mengeras. Echa menghembuskan nafas pasrah. “Gue minta maaf, deh. Lain kali gue pasti nonton. Gue janji.” “Nggak ada lain kali. Hari ini last competition. Lo ngerti nggak, sih?” “Hmm... Terus gue mesti gimana? Gue aja nggak punya mesin waktu.” Erro menatap jengkel pada Echa. Belakangan sahabatnya ini seperti menyimpan sesuatu darinya. Erro tahu pasti ini ada hubungannya dengan si otak cemerlang. Gara-gara laki-laki sialan itu Echa berubah. Erro sangat benci padanya. “Ro, nanti gue nggak nebeng lo, ya.” Erro tersentak, tersadar dari lamunannya. “Kenapa?” tanyanya curiga. Echa hanya tersenyum manis. Setengah berbisik dia bergumam dengan pipi merona, “Rio ngajak gue makan.” Erro mematung sekilas. Tubuhnya menegang. Gerahamnya menggeretak. Akhirnya hal yang ditakutkannya selama ini terjadi juga. Semakin hari Echa tergila-gila pada Rio. Erro terus mengumpat dalam hati. “Tahu nggak sih, Ro? Gue seneng banget. Akhirnya Rio nunjukin tanda-tanda gitu ke gue setelah lama pedekate. Menurut lo gimana?” Erro tersenyum melecehkan. “Nothing special,” gumamnya datar. “Kok lo gitu, sih!” Tanpa berkata sepatah kata pun, Erro bangkit menyambar tasnya. Perlahan ditinggalkannya Echa yang masih terbengong di meja kantin. Sebelum benar-benar pergi, Erro berucap ketus. “Hati-hati! Dia nggak sejago gue nyetirnya!” *** Suara langkah kaki yang terdengar begitu berat nampak menantangnya dari kejauhan. Sekilas namun pasti, suara itu berasal dari lorong di depannya. Erro menghentikan langkah. Menoleh ke samping dan menyipitkan matanya. Mario Fabrian. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu melangkah ke depan tanpa meliriknya sama sekali. Pandangannya terus tertuju pada buku. Erro menyipit sekilas membaca sampul buku yang tampak dari kejauhan. Sistem Metabolisme Manusia. Erro mencemoh. Berputar arah dan berjalan menghadangnya. Dengan pelan dihentakkan kakinya mendekat. Wajahnya tampak santai ketika Rio tersentak hingga menengadah. Erro tersenyum ramah. “Udah UNAS kok masih belajar, sih? Nggak kasihan sama otak?” Rio menengok sekilas. “Otak manusia harus selalu bekerja. Atau dia akan kehilangan kinerja syarafnya yang normal.” “Atau lebih tepatnya meledak ketika terlalu banyak rumus masuk ke otak? Jadi, yang mana yang bener?” tanya Erro sambil menendang bola sepaknya kuat-kuat. Seketika buku di tangan Rio jatuh. Rio memungutnya dengan santai. Tangannya bergerak sekali untuk sekadar menepuk baju seragamnya. Seakan ada debu yang menempel akibat terkena bola yang ditendang Erro. Tak lama suara yang sangat dikenal Erro menggema dari kejauhan. Suara itu berasal dari Echa yang kini tengah berlarian di dalam koridor. “Hai Ri, maaf ya. Lo udah nunggu lama?” tanya Echa dengan seulas senyum. Namun, senyuman itu langsung surut begitu melihat tatapan tajam Erro yang ternyata berdiri di sampingnya. “Kok lo masih disini, sih? Pulang gih!” Echa menatap Erro seakan memberi kode untuk pergi. “Suka-suka gue dong. Emang sekolah ini punya buyut kalian doang? Lagi pula gue masih ada janji sama Pak Rayhan.” Erro memasang wajah keki. “Sewot banget, sih. Ngambek aja terus.” Echa menimpali. Cepat ditariknya lengan Rio agar mereka segera pergi. “Ayo Ri, nggak usah urusin dia. Emang sensian banget orangnya.” “Oke, mau berangkat sekarang?” Echa mengangguk. Senyumnya mengembang. Kemudian dia menoleh pada Erro. “Pergi dulu ya, Ro. Jangan lupa laporan sama Papa kalau nanti aku telat pulang.” “Hmm... Bye! Awas jangan sampai kemalaman!” ancam Erro ketus. “Siap bos!” jawab Echa dari kejauhan. Erro terdiam. Matanya terus menatap nyalang pada kedua sejoli yang berjalan menjauh itu. Entah sejak kapan keduanya jadi sedekat ini. Tapi, Erro merasa Echa mulai berubah. Semua terasa berbeda sekarang. Erro sadar ada tembok yang tinggi di antara mereka. Juga bentangan jarak yang begitu jauh. Satu hal yang Erro pasti, posisinya telah terenggut orang lain. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN