Malam itu terasa amat pekat. Jalanan sudah mulai lengang ketika dirasa cuaca agak memburuk. Angin sepoi-sepoi menyerbu dari kejauhan. Serta merta membuat pohon-pohon rindang bernyanyi-nyanyi pelan sebagai pengiring padatnya jalanan.
Sebuah motor hitam melaju dari utara dengan kecepatan tinggi. Erro merapatkan jaket kulitnya ketika hawa dingin dirasa semakin menusuk. Butuh setengah jam lebih jarak dari rumahnya menuju rumah Echa. Itupun kalau tidak ada macet tiba-tiba. Beruntung malam ini keadaan lalu lintas cukup tenang. Tidak seramai hari-hari biasanya. Sehingga motor Erro bisa melaju tanpa gangguan.
Beberapa menit kemudian sampailah Erro di sebuah kompleks perumahan asri yang tak asing. Bangunan-bangunan di dalamnya sudah dia hafal di luar otaknya. Bagaimana tidak, Erro sudah menghabiskan waktunya nyaris sepuluh tahun untuk keluar-masuk kompleks perumahan ini.
Sejak kecil—atau lebih tepatnya sejak mengenal Echa— Erro mulai menjadikan tempat ini sebagai rumahnya. Dulu sekali, hanya dengan berbekal sepeda gunungnya, Erro rela menembus jalanan Jakarta demi sampai ke kompleks perumahan Echa. Lalu bersama-sama mereka akan bermain seharian. Mulai dari petak umpet di dalam rumah, sepak bola di lapangan, sampai akhirnya bersepeda berdua mengelilingi area kompleks.
Seulas senyum muncul di bibir Erro mengingat masa-masa itu. Begitu bahagianya dia sampai tak sadar motor yang dikendarainya telah sampai. Tepat di depan sebuah rumah berliteratur modern dengan corak warna-warni di sisi pagar. Pelan-pelan Erro memarkir motornya. Takut menimbulkan suara. Setelahnya dia melepas helm dan beranjak turun dengan langkah mengendap.
Erro terdiam sebentar di depan pagar. Menimang-nimang sejenak sebelum akhirnya memutuskan menekan bel. Tak lama kemudian sosok laki-laki menjulang tinggi datang dan membuka gerbang. Laki-laki itu Fahrezzy—kakak Echa.
“Bang Izzy, Echa udah pulang, kan?” tanya Erro to the point. Dia hanya ingin memastikan saja kalau Echa sudah sampai di rumah dengan selamat. Tanpa kurang satu apapun.
Alis Izzy mengerut samar. “Loh, bukannya Echa sama lo? Harusnya gue yang nanya, Ro. Kemana aja lo nyulik adik gue seharian ini?” sahutnya heran.
Seketika senyum di wajah Erro luntur. “Echa belum pulang?!” jeritnya keras.
Izzy menggeleng. “Gue kira sama lo. Jadi gue aman-aman aja. Nggak taunya—”
Erro segera berlarian keluar. Tak dihiraukannya lagi suara teriakan Izzy. Bahkan seruan Om Farhan dari balik rumah dia abaikan juga. Dia tak peduli hal lain lagi. Dia harus segera mencari Echa dan membawanya pulang sekarang juga. Dalam hati dia memaki-maki dan mengumpat.
Tampilan aja sok pinter. Nggak taunya berandal juga. Sialan! Berani banget dia bawa pergi cewek gue sampe malem gini.
Erro baru saja akan menyalakan starter motor ketika sorot lampu dari kejauhan menyita pandangannya. Dengan mata menyipit tajam, diamatinya motor putih yang melaju cepat itu. Sosok Rio langsung tertangkap lensa matanya.
Erro membanting kasar helmnya dan segera menghalangi laju motor. Hingga beberapa detik kemudian terdengar suara rem berdecit amat keras.
“Gue udah bilang jangan pulang malem-malem!” teriak Erro pada Rio yang masih mengenakan helm. Tampak sekali bahwa laki-laki itu tengah tersulut emosi. Lalu pandangannya jatuh pada Echa yang masih sibuk mencerna apa yang terjadi. Gadis itu masih duduk di jok belakang dengan pandangan tak percaya.
Erro menyipit dan tanpa sadar menatap gadis itu dengan tatapannya yang tajam. “Cha, turun cepet!”
Echa menatapnya kesal. “Apaan, sih? Lo nggak tahu ya Jakarta macet!”
“Gue nggak peduli! Buruan turun!” Erro meraih tangan Echa dengan paksa dan menariknya untuk turun. Echa memberontak membuat Erro bersikap semakin kasar. Dia bersiap menggendong Echa bila gadis itu tak kunjung turun juga.
Rio meraih tangan Erro dan mencekalnya dengan kuat-kuat. “Jangan kasar sama cewek dong!”
“Bukan urusan lo!” Erro menghempaskan tangan Rio. Kemudian kembali menarik Echa agar segera turun. “Buruan turun!”
Echa merutuk kesal. “Gue bisa sendiri!” ketusnya jengkel.
Perlahan Echa turun dari jok belakang motor Rio. Ditatapnya Rio dengan pandangan bersalah. Rio hanya mengangguk dan memberi kode agar Echa segera masuk ke dalam. Echa mendesah dan memaksakan senyum kecut.
“Udah nggak usah mesra-mesraan! Buruan masuk!” Erro menarik Echa ke dalam rumah. Kali ini lebih kasar dari sebelumnya. Cepat-cepat dirapatkannya gerbang rumah Echa agar tak seorang pun bisa masuk lagi. Termasuk Rio. Sampai akhirnya tak lama kemudian terdengar suara motor menjauh. Pasti Rio sudah pergi.
“Lepasin gue!” Echa masih terus memberontak.
Erro tak peduli dan terus menyeret Echa. Namun ketika seluruh emosi gadis itu benar-benar terkumpul, dihempaskannya tangan Erro kuat-kuat. Hingga si empunya tangan mengaduh kesakitan.
“Puas lo ngerusak kencan gue?!”
Erro mendesah panjang. “Gue nggak bermaksud apa-apa. Tapi, ini kan udah malam. Lo harusnya tahu waktu dong.”
“Gue nggak mau dengerin lo lagi! Lo berubah, Ro! Lo sekarang jahat!” Echa berteriak histeris dan segera berlarian ke dalam rumah.
***
Masih pukul setengah sembilan ketika terdengar suara motor dari jendela kamar. Echa mendesah frustasi. Dengan malas dirapikannya seragam OSIS yang melekat di tubuhnya. Kemudian disapukannya sedikit bedak di pipi untuk mempercantik diri.
Harusnya dia bolos saja hari ini. Lagipula dia sudah tidak ada kegiatan lain selain menunggu pengumuman kelulusan. Sayangnya si laki-laki tengil itu tak akan membiarkannya tenang. Pasti dia sudah mengatur semua hal sehingga sekarang dirinya terpaksa menemaninya ke sekolah. Entah untuk apa.
Erro tampak sudah siap di atas jok motor ketika Echa keluar dan memasang wajah kusut. Dengan berat hati Echa memberanikan diri mengucapkan sepatah kata yang dijanjikannya semalam pada sang ayah.
“Maaf.” Echa berucap lirih. Namun cukup untuk dapat didengar oleh Erro.
Erro tampak sangat bahagia mendengar penuturan Echa. Senyuman manis terkembang di wajah tampannya. Sebelah tangannya terangkat memberantaki rambut gadis di depannya.
“Good girl.”
Echa mendesis sebal. Dihempaskannya tangan Erro menjauh. “Jangan sentuh. Dandanan gue bisa rusak. Lagian permintaan maaf itu request dari Papa. Bukan maunya gue.”
“Terserah lo, deh. Tapi yang jelas lo udah ngaku salah. Gue udah cukup senang.”
Echa membuang muka malas.
“Hari ini kita bolos aja, ya? Paling isinya cuma iklan PTN lagi kayak kemarin.”
Echa menatapnya tajam. “Jadi lo ngajak gue cuma suruh nemenin bolos? Terus ngapain berangkat? Mending gue tidur lagi aja.”
Erro memasang wajah memelas. “Yah, sekali doang, Cha. Please banget. Mumpung kamera gue udah bener, nih. Gue lagi pengen ke puncak. Panoramanya bagus banget di sana. Gue bisa nyari objek foto buat kenangan galeri ekskul.”
“Kenapa sih nggak ngajak Zaza aja? Kan kalian bisa bikin bareng-bareng projeknya.”
Erro semakin memelas. “Gue udah ngajak. Tapi Zaza lagi sibuk. Lagian gue bisa diamuk Bang Izzy kalo nyampe ketahuan pergi berdua sama Zaza.”
Echa berdecak. “Kayak Kak Izzy nggak kenal lo aja.”
“Cha, gue serius. Please, temenin gue. Gue maunya sama lo. Bukan sama Zaza.”
Echa menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk. Percuma juga dia melawan Erro. Toh, pada akhirnya dia akan mengalah juga. Daripada harus terlibat adu mulut dan cekcok lagi, seperti ini lebih baik.
***
Kawasan hijau terbentang luas sepanjang membuka mata. Hamparan pepohonan dan tanaman beraneka warna. Juga tebing-tebing tinggi memberi keindahan pada sang panorama. Ditemani sejuknya angin sepoi-sepoi dan rindangnya dedaunan.
Sebuah pondok kecil berdiri tepat di jalur perbatasan. Erro asyik memainkan kameranya mencari view terbaik. Sayangnya dari semua hamparan panorama yang begitu indah ini, tetap saja sosok di depannya jauh melebihi kata indah. Tuhan menciptakannya begitu sempurna. Bahkan panorama hijau di sekelilingnya tak sebanding dengan keindahan manusia di hadapannya.
KLIK!
Suara jepretan kamera yang tiba-tiba membuat Echa menoleh dan memasang wajah cemberut. Lagi-lagi ekspresi aneh yang dikeluarkan gadis itu selalu terlihat menarik. Erro kembali mengarahkan angle dan membidiknya.
“Heh, foto yang bener.” Echa menggerutu. “Gue bukan pegunungan, Ro. Buruan, deh. Kalau cuma mau foto gue nggak perlu jauh-jauh ke sini. Percuma dong.”
Erro mendesis. “Sok artis banget, sih. Siapa juga yang ngambil gambar lo? Lagian lo nutupin angle gue.”
Echa segera mengambil langkah mundur. Dia berdiri di samping Erro dan bersandar pada jok motor. Mata gadis itu mulai menelisik menatap sosok Erro yang sibuk memotret keindahan delta di bawah sana.
Sebenarnya Erro sangat ganteng. Apalagi jika dalam posisi menyamping seperti ini. Semua gadis tentu mengidolakannya. Sayangnya yang sering membuat Echa kesal adalah sikapnya yang bossy, tukang mengatur, dan sensian. Hal itulah yang sering membuat Echa jengkel selama hampir lebih dari sepuluh tahun hidupnya diikuti oleh laki-laki itu.
Echa masih bengong menatap Erro saat objek pandangannya tiba-tiba menoleh dan mengarahkan kamera DSLR-nya. Lagi-lagi terdengar suara bidikan kamera. Entah ini sudah yang ke-berapa kalinya.
Erro tersenyum manis. Dengan lembut diacaknya rambut Echa. Kemudian pandangannya tertuju pada kamera mengamati wajah Echa. “Nice.”
Keheningan tercipta di antara mereka selama beberapa saat. Echa menghembuskan nafas panjang dan tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Erro menahan nafas karena terkejut.
“Ro, selama ini lo pernah fall in love nggak, sih?”.
Pandangan Erro yang semula tertuju pada kamera kini menjadi kosong. Jantungnya berdegup kencang. Ada berjuta perasaan yang meluap-luap tak menentu di hatinya. Andai dia punya kekuatan, dia ingin mengungkapkannya sekarang. Tentang cinta terpendamnya selama bertahun-tahun. Sejak kecil, bahkan sejak mereka masih memakai baju merah-putih.
Erro tersenyum sendu. “Semua orang pasti pernah jatuh cinta.”
Echa mendekat. Tampak minat. “Seriusan? Siapa? Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?”
“Temen gue waktu SD.” Dan SMP, SMA. Bahkan mungkin jika Tuhan mengijinkan, gue mau dia menjadi teman hidup gue selamanya.
Echa menatap tak percaya. “Cinta monyet? Gue kenal dong, ya? Siapa sih, Ro? Lo waktu SD deket banget sama semua cewek. Playboy.”
Erro tersenyum masam. “Gue nggak playboy, please. Bocah-bocah itu aja nempelin terus.”
“Emangnya lo sampe sekarang masih suka? Lo tahu dimana dia? Iihh... cewek itu kurang ajar banget. Masak bikin lo galau sampe mau lulus nggak laku-laku gini. Berarti lo akan selalu nunggu dia sampe ubanan? Serius?”
Erro mencubit pipi Echa dengan gemas. “Heh, ngomong disaring dulu dong. Enak aja ngatain gue nggak laku. Gue sih tinggal milih aja bisa. Masalahnya pacaran itu soal hati, Cha. Pacaran sama orang yang nggak dicintai cuma bikin sakit hati satu pihak. You know what I mean, lah?”
Echa memasang wajah cemberut. “Habisnya lo kayak nggak pernah naksir cewek dan malah gangguin orang lain!” tekannya pada kalimat terakhir dengan penuh kejengkelan.
Erro menghembuskan nafas panjang. “Lo beneran suka sama Rio, ya?” tanyanya lirih.
Echa tersenyum tipis. Dengan pipi merona dia mengangguk. “Jatuh cinta itu indah banget. Kayaknya lo harus ngerasain, Ro. Coba deh lo lupain cinta monyet lo itu dan membuka hati buat seseorang. Lo akan tahu gimana rasanya.”
Erro menatap Echa dengan pandangan sendu. Tatapan matanya kali ini terasa sangat dalam dan menusuk. Echa nyaris tak mengedip merasakan bagaimana bola mata hitam itu menghujamnya.
“Sayangnya gue nggak bisa. Gue terlanjur jatuh cinta sama dia. Sangat.”
Echa masih terdiam dengan bola mata melebar. Erro segera menjauh. Pelan dia bangkit menuju motornya.
“Udah lupain aja. Yuk, cabut.”
***