Ada hal yang tak terduga terjadi di rumah. Erro tidak tahu mengapa amplop itu tiba-tiba berada di tangan ayahnya. Keadaan rumah yang biasanya hening dan sering tak berpenghuni tiba-tiba menjadi riuh.
“Arnaferro, tolong jelaskan ini semua!” suara teriakan Ghani—ayah Erro— menggema diseluruh ruangan.
Erro memberanikan diri menjawab. “Papa bisa baca dulu pelan-pelan.”
Bukannya berniat membaca, Ghani malah merobek kertas itu. Wajahnya tampak marah saat menatap anaknya. “Tidak ada yang diizinkan untuk keluar dari rumah ini! Tidak ada!”
Erro menatap tak percaya potongan kertas yang bersebaran di lantai. Tega-teganya Ghani menyobek surat beasiswa itu. Amarah yang ditahannya menyeruak begitu saja.
“Maaf Pa, tapi Erro bakal tetap pergi ke Jerman!”
Erro memunguti potongan amplop. Kemudian berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Pandangannya mulai kabur. Andai saja seorang laki-laki diizinkan untuk menangis, dia akan menangis sejak dulu. Bahkan sejak dia kehilangan ibunya. Sayangnya laki-laki adalah seorang pahlawan. Mereka pantang untuk menangis.
Erro menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya terkepal meninju dinding kamar. Pandangannya jatuh pada foto-foto yang tertempel di sana. Siapa lagi kalau bukan foto Echa. Hampir semua bagian sudah tertutup oleh foto gadis itu. Bahkan sejak SD hingga sekarang. Semua objek foto Arnaferro tak lebih dan tak kurang adalah Fahrenza.
Erro menatap sosok Echa yang tengah tersenyum di dalam foto. Tangannya bergerak menelusuri wajah di gambar itu. Pelan-pelan dikecupnya foto itu dan diajak bicara.
“Selama ini cuma lo yang bikin gue betah dengan hidup. Kalau bukan karena lo, mungkin gue udah milih mati dari dulu.”
Erro memejamkan mata sejenak. Kemudian kembali meresapi foto yang tengah menatapnya dengan senyum mengembang itu. “Lo terlalu sempurna, Cha. Hidup kita sangat berbeda. Lo punya keluarga yang sangat sayang sama lo. Sedangkan gue? Hidup gue nggak sempurna. Hancur berantakan. Gue iri sama lo.”
Setetes air mata bening meluncur begitu saja membasahi pipi Erro. Melihat Echa dan senyum lebarnya selalu membuat Erro teringat akan dirinya sendiri. Betapa Erro juga berharap lahir seperti Echa. Hidup penuh limpahan kasih sayang. Memiliki kedua orang tua lengkap. Ibu yang selalu mendengarkan seluruh keluh kesahnya dan memberinya nasehat di kala dia butuh. Ayah yang begitu pengertian— yang walaupun sibuk mengurus perusahaan manufaktur pangan, tapi tidak pernah melupakan keluarganya. Juga seorang kakak yang selalu bisa dijadikan pundak untuk bersandar.
Echa memiliki segalanya. Tidak seperti dia. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Dan sekalinya pulang, hanyalah kemarahan yang dia dapat. Bahkan saudaranya kerap mencari kesibukan sendiri dan melupakan keberadaannya.
Erro menghembuskan nafas panjang. Begitu mendongak, yang dibicarakannya muncul begitu saja. Arviello Surya Zanuar. Saudara kembarnya itu tampak menenteng setumpuk buku. Kerjaannya hanya belajar dan belajar. Begitu terus sampai Erro bosan melihatnya.
“Mau apa?” Erro memaksakan senyum. Setidaknya Ello masih punya waktu untuk menengoknya.
Di ambang pintu Ello hanya bisa menggelengkan kepala. Kacamata berbingkai hitamnya tampak berkilat dari jauh. Dia tersenyum miring sembari menyandarkan punggungnya pada pintu.
“Lo udah mulai nggak waras. Foto aja lo ajak omong.”
Erro menoleh dan melihat Ello mendekat. Kaki kembarannya tampak bergerak memainkan salah satu bola dari sekian banyak jenis bola yang memenuhi kamar Erro. Sebuah bola sepak berwarna biru tua kini tengah bermain di kaki Ello. Dengan satu tendangan kuat bola itu melayang ke arah Erro. Cepat-cepat Erro menangkapnya.
“Sepak bola bakat terpendam lo juga.” Erro mendesis sambil mengamati bola di tangannya. Dia sadar itu bola terbaru yang diberikan Echa di hari ulang tahunnya.
HBD my superhero Erro ^^ wish you all the best
Erro tersenyum membaca kalimat usang yang tertulis di bola itu.
“Lo harus pergi kejar cita-cita lo. Masalah Papa serahin aja ke gue. Gue bisa diandalkan.”
“Thanks ya, El. Gue masih punya lo.”
Ello menyunggingkan senyum dan segera menoyor kepala kembarannya. “Satu lagi b**o! Cepetan bilang ke dia sebelum terlambat. Sebelum lo bener-bener pergi ke Jerman.”
“Oke. Gue janji.”
***
Keesokan paginya Erro berlarian menghampiri Zaza yang tengah asyik memainkan kamera di depan galeri foto SMA 40. Gadis berambut hitam legam itu terkaget tatkala seseorang menjawil bahunya. Dia menoleh dan memasang wajah datar pada Erro yang tengah nyengir.
“Sendirian aja, Ro. Echa mana?”
“Gue nggak berangkat bareng dia. Tadi pagi gue harus ke kantor dinas dulu ngurus beasiswa.” Erro mengecek ponselnya sekilas. “Bang Izzy jadi nganter Echa nggak, ya?”
“Pastinya jadi. Kenapa, sih, khawatir banget?”
Erro sedikit melirihkan suara. “Ya gue nggak maulah, Za, kalo Rio yang jemput.”
Zaza tampak membulatkan bibir sembari mengangguk-angguk. “Lo sih, jadi laki-laki lemot. Buruan dong, keburu disamber orang.”
“Gue ngerti, Za. Gue udah nyusun strategi, nih.” Erro tersenyum simpul. Suaranya makin kecil. “Waktu promnight besok gue bakal nembak dia dan ngasih tahu kepergian gue ke Jerman. Yah, paling nggak meskipun gue nanti pergi ke Jerman, kita udah ada ikatan gitu. Menurut lo gimana?”
Zaza menatap Erro dengan wajah berbinar. “Akhirnya, Ro! Gue nggak nyangka lo bisa seromantis itu. Akh—good luck, yah.”
Erro mengacungkan jempol. Tepat saat itu di sisi lain koridor sosok yang dibicarakan tengah melangkah. Zaza menyenggol lengan Erro dan memberi kode agar mendekat. Erro mengangguk riang sementara Zaza segera berlarian pergi.
Echa menatap heran pada Zaza yang buru-buru pergi ketika dia datang. Kening gadis itu berkerut samar. “Lho, Zaza mau ke mana? Kok langsung pergi gitu pas gue baru dateng?”
Erro mengedikkan bahu cuek. “Katanya mau nyetor projek. Tadi kita abis diskusi gitu.”
“Oh, lo juga udah selesai projeknya? Free dong, Ro?”
Erro mengangguk. “Yup. Makan, yuk!”
“Tapi gue udah sarapan. Tadi Mama bikin nasi goreng.”
Erro tersenyum masam. “Tapi gue laper, Cha,” rajuknya manja.
“Ya udah gue temenin makan di kantin. Tapi habis ini pulang, ya?”
“Oke. Siap.”
***
Erro melahap semangkuk bakso di hadapannya dengan rakus. Echa hanya bisa bengong menatapnya. Memang sih dia sedikit lapar, tapi melihat Erro yang makan begitu lahap mirip orang kekurangan gizi membuatnya sudah cukup kenyang. Sebaliknya dia hanya memesan es teh.
“Lo laper apa doyan, sih?”
“Apa aja, deh.” Erro menjawab dengan mulut penuh. “Habisnya gue nggak mau makan di rumah. Garing.”
“Kenapa? Lagi marahan sama Ello?”
“Nggak. Ada bokap soalnya. Gue jadi males.”
Echa menatap manusia di hadapannya dengan kening berkerut. Baru kali ini ada orang yang tidak suka bertemu dengan ayahnya sendiri. Padahal sepengetahuan Echa, ayah Erro adalah orang super sibuk yang sering pulang-pergi ke luar negeri. Harusnya Erro bahagia ada ayahnya di sini sekarang. Paling tidak masih sempat menemuinya meski hanya tiga bulan sekali.
Tapi Erro seperti tidak senang dengan hal itu. Echa tidak pernah benar-benar tahu tentang keluarga Erro. Meski bersahabat cukup lama, Erro jarang bercerita tentang keluarganya. Hanya sebatas kembarannya saja yang Echa tahu. Ayah Erro jarang sekali Echa lihat. Seingatnya beliau sibuk mengurus perusahaan di Australia.
Beda sekali dengan keluarga Echa yang sangat terbuka dan ramah sehingga Erro bisa bebas mengenal keluarga Echa. Tapi itu tidak berlaku bagi Echa. Bicara dengan Ello saja jarang sekali, apalagi dengan ayah Erro yang hanya sering dilihatnya di foto.
“Kok ngelamun?” suara panggilan Erro membuyarkan lamunan Echa.
Echa tersadar dan segera menyedot minumnya. “Lagi mikir.”
“Mikirin siap—” pertanyaan Erro terpotong ketika Echa mencengkeram tangannya kuat-kuat. Gadis itu tengah menatap ke depan dengan pandangan berbinar. Erro mengernyit curiga. Dia menoleh dan melihat Rio melewati kantin sambil membaca buku tebal. Tampak begitu cool dan cuek.
Erro menatap tak suka laki-laki itu. Pandangannya kembali tertuju pada Echa yang masih mematung seperti orang bodoh.
“You should get up.” Erro berucap. Tiba-tiba menjadi dingin.
Echa tersentak. Kemudian dia tersenyum manyun. Seakan kalimat tajam Erro hanya angin lalu saja. “Habisnya dia ganteng banget ya, Ro? Gue bersyukur bisa deketin dia. Sebentar lagi kita pasti jadian. Doain, ya. Biar gue nggak single melulu.”
Tatapan Erro berubah tajam. Wajahnya yang semula ceria kini berubah menjadi murka. Siratan kebencian terlihat tatkala laki-laki berkacamata itu menghilang dari pandangannya.
“Apa sih, bagusnya dia?” celetuk Erro tanpa sadar.
Senyuman di wajah Echa surut melihat air muka Erro yang mengeras. Penyakit darah tinggi laki-laki itu mungkin kambuh lagi. Sekarang wajahnya tampak mengerikan. Oh, God!
Echa gelagapan. “Yah... gue suka aja. Cinta kan nggak butuh alasan. Kenapa sih, Ro? Salah emang?”
Erro mendengus. “Salah.”
Echa yang melihat sikap Erro berubah seratus delapan puluh derajat merasa jengkel. Dia sangat tidak menyukai Erro yang seperti ini. Tanpa sadar dia sudah menggebrak meja kantin kuat-kuat. Untungnya keadaan di kantin sepi sehingga tidak ada yang begitu mendengar.
“Emang salahnya dimana? Gue nggak boleh suka sama cowok gitu? Kenapa sih, lo selalu ngelarang-ngelarang gue? Bukannya selama ini gue nggak pernah ikut campur urusan lo?”
Melihat amarah Echa memuncak tak kuasa membuat Erro terpancing juga. Geraham Erro bergeretak penuh emosi.
“Lo ngebet banget sih punya pacar! Emangnya kalo udah punya lo ngerasa bangga?” tanya Erro dengan wajah menantang.
Echa hanya diam tercenung. Melihat gadis itu diam membuat Erro merasa semakin harus menyadarkannya. Agar Echa tidak terus-terusan mengejar Rio.
“Mendingan sekarang lo berhenti pedekate sama Rio, deh. Lo kalo terus ngejar-ngejar dia malah kayak nggak punya harga diri. Cewek itu dikejar! Bukan malah ngejar! Jangan jadi pengemis cinta kayak gini, Cha.” Erro menegaskan.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi wajah Echa. Rasanya menyakitkan sekali dihina sahabat sendiri. Dia tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Memang benar dia duluan yang mengejar-ngejar Rio, tapi Erro tidak harus berkata begini bukan?
Erro yang melihat Echa menangis langsung gelagapan. Amarahnya kini berganti menjadi sebuah penyesalan. “Sorry Cha, gue nggak—”
Sebuah tamparan keras melayang di wajah Erro, membuatnya diam mematung. Baru kali ini Echa menamparnya. Seumur hidup, Echa tak pernah berlaku kasar padanya. Ini berarti perkataannya sudah di luar batas normal.
“Jadi selama ini lo menganggap gue pengejar dan pengemis cinta?” Echa terisak. “Terus lo larang-larang gue karena lo malu punya sahabat kayak gue, kan? Iya, Ro?!”
Erro meringis menahan rasa sakit yang menjalar di pipinya. Tak mampu menjawab apapun.
“Gue benci sama lo!” teriak Echa sambil berlari pergi.
Sepeninggal Echa, Erro menjambak rambut frustasi dan memukul meja kantin kuat-kuat. Bukannya berjalan lancar, dia malah semakin menambah masalah.
“Gue begini karena gue cinta sama lo!” makinya pada diri sendiri.
***
Setelah kejadian itu Echa menghindarinya selama berhari-hari. Erro sudah berulang kali meminta maaf, tapi Echa sama sekali tak meresponnya. Berbagai cara sudah Erro lakukan. Mulai dari meminta bantuin Izzy dan Zaza, kedua orang tua Echa, bahkan teman-temannya yang lain. Tapi semuanya sia-sia. Echa tak menggubrisnya sama sekali.
Sudah seminggu pula Erro tidak main ke rumah keluarga Razakian. Karena setiap kali ke sana, Echa pasti sudah mengunci kamarnya rapat-rapat. Bahkan menyuruh Izzy atau Zio untuk mengusirnya.
Erro kehabisan akal. Dia sudah seperti orang gila sekarang. Dia kehilangan segala kebahagiaan dan semangat hidupnya. Sambil membuka kalender dia menghitung hari-harinya yang tersisa. Tak banyak waktu lagi dan dia belum sanggup menyelesaikan semuanya.
Erro meraih kameranya dan mengutak-atiknya. Tak ada foto terbaru tentang Echa. Mereka sudah benar-benar lost contact. Erro menghembuskan nafas panjang sambil menatap foto-foto Echa di dinding kamarnya.
Dari luar kamar, Ello menatap kakaknya yang tampak seperti mayat hidup. Lagi-lagi yang dilakukannya hanya mengurung diri di kamar sambil bersemedi di depan foto gadis tercintanya. Seperti itu terus selama berhari-hari.
“Lo nggak makan, Ro?” Ello masuk tanpa permisi.
Erro menggeleng dengan pandangan kosong.
“Sampai kapan lo bakal kayak gini? Lo udah kayak orang sinting, tau nggak? Mending sekarang lo makan dulu, deh, daripada nggak waras beneran.”
“Gue nggak laper.”
Ello mendesah kecewa. “Lo mau gue datengin Echa sekarang?”
Erro menggeleng. Dia terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk bangkit. Ello terheran ketika kakaknya malah meraih kemeja biru donker yang tergantung di almari dan kamera DSLR kesayangannya.
“Mau kemana?” Ello menatap curiga.
“Biar gue sendiri yang datengin dia sekarang.”
Ello menatapnya dengan mulut menganga. “Oh... oke. Hati-hati.”
***
Erro tidak benar-benar mendatangi Echa. Dia hanya mencari tahu dimana Echa berada. Tadi dia sudah mendatangi rumah keluarga Razakian untuk menanyakan keberadaan Echa. Sayangnya jawaban dari Izzy sudah cukup menghancurkan hatinya. Rupanya sekarang gadis itu sedang berkencan bersama Rio.
Erro menggas motornya dengan kecepatan penuh. Motor itu berhenti tepat di sebuah taman kota di mana terdapat pesta lampion di sana. Dengan mata elangnya yang tajam, dia bisa melihat bagaimana dua sejoli itu berjalan mesra mengitari lampion-lampion yang bertaburan cahaya.
Mengapa hatinya begitu sakit? Apakah rasanya harus sesakit ini melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang lain? Erro memukul dadanya yang terasa sesak. Malam yang begitu dingin seakan membunuh perasaannya. Dalam kegalauan yang begitu menusuk, dia memutuskan untuk menyerah dan pulang.
Cintanya selama bertahun-tahun bertepuk sebelah tangan.
***