BAB 5

2059 Kata
Malam ini acara promnight digelar. Suasana terasa begitu istimewa dan berbeda dari hari lainnya. Ruang aula SMA 40 yang biasanya menjadi tempat membosankan kini disulap menjadi surga para remaja. Ruangan itu didekor sesempurna mungkin dengan taburan cahaya dan lampu kerlap-kerlip bertebaran. Juga iring-iringan musik yang mengalun romantis dari arah panggung. Pukul 8 malam, dance floor sudah sesak oleh murid-murid yang menyerobot ruang dansa bersama pasangannya. Begitu pula dengan Echa yang malam ini terlihat ceria menari bersama Rio di dance floor paling tengah. Hubungan spesial keduanya yang masih hangat tentu menjadi pusat perhatian teman-teman lainnya. Zaza yang berada tak jauh dari mereka berdecak sebal melihat kemesraan keduanya dan buru-buru menarik Echa menjauh.  “Cha, Erro di mana?” Zaza bertanya ketus. “Kenapa lo datang sama Rio?” Echa langsung sebal tatkala nama itu disinggung. “Bukan urusan gue. Bodo amat sama dia.” “Ya ampun, Cha! Lo tega banget, sih!” Mata Zaza menajam. “Emangnya Erro punya salah apa? Kita bertiga udah sama-sama sejak SD, tega-teganya lo ngomong begitu!” “Gue udah muak sama sikap dia, Za! Gue nggak kuat lagi ngehadepin dia.” “Apa?” Zaza berdecak tak percaya. Bola matanya berputar ke arah Rio yang tampak berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka. “Bahkan lo dateng sama cowok lain tanpa mikirin Erro sedikit pun.” “Please, Za. Berhenti ngomong seolah-olah gue ada hubungan sama Erro. Gue mau ke sini sama cowok manapun itu hak gue. Lo sama Erro nggak berhak ngatur-ngatur hidup gue.” Zaza memejamkan mata sejenak. Berharap sahabatnya itu akan mengerti. “Bukannya gitu, Cha. Tapi, Erro kan sebenernya—” “Sebenernya apa?! Dia nggak suka gue dekat sama Rio? Atau dia nggak suka gue punya pacar? Kalau dia mau, kenapa dia nggak nyari aja? Di sekolah ini banyak banget cewek yang nguber-nguber dia, kan? Gue capek Za. Gue juga butuh hidup bebas. Nggak terus-terusan sama dia melulu dari jaman SD sampai sekarang. Lo pikir gue nggak punya kehidupan lain?” Zaza menghembuskan nafas panjang. Dia menyerah. “Terserah lo deh,” katanya sambil berlalu pergi. Echa terdiam menatap punggung Zaza yang bergerak menjauh. Dalam hati merasa bersalah karena tiba-tiba membentak sahabatnya. Tapi terkadang Zaza sama menyebalkannya seperti Erro. Lama-lama dia jengkel juga bersahabat dengan anak-anak fotografi yang selain hobi membawa kamera—juga hobi mencampuri urusan orang lain.  Echa memutuskan kembali ke ruang aula. Setelah menyapa beberapa teman sekelasnya dari kelas XII IPS 1, dia kembali mendatangi Rio. Laki-laki itu mengulurkan segelas sirup padanya. “Thanks, Ri.” Echa tersenyum, berusaha menghilangkan pikirannya tentang Erro. Rio mengangguk dan membalas dengan senyuman tipis. “Tadi kamu sama Zaza ngomongin apa?” Echa memaksakan seulas senyum. “Bukan apa-apa, kok.” Belum sempat Echa merasakan segarnya kebebasan, dia harus kembali berurusan dengan makluk-makluk pengikut Erro. Selain Zaza dan Izzy, tentunya anak-anak futsal alias Fourty D. Echa membuang muka malas begitu melihat Fathur mendekat. “Cha, suami lo mana? Gue telpon kok nggak diangkat-angkat?” Echa mendesis sebal. “Mana gue tahu. Gue bukan orang tuanya Erro!” Angga menggeleng-gelengkan kepala. “Pasti lagi ada masalah rumah tangga, nih. Jangan-jangan nggak dinafkahin, ya?” Rifky tergelak. “Iya, tuh. Kelihatan banget langsung cari selingkuhan.” Echa berusaha mengabaikan suara mereka. Ditutupnya telinganya rapat-rapat. Lalu cepat-cepat ditariknya Rio menjauh. Sungguh dia sudah tidak ingin mendengar apapun lagi tentang Erro. Dia sudah cukup muak. *** Dering ponsel itu terdengar nyaring dari kejauhan. Erro membuka matanya yang sudah dilanda kantuk luar biasa. Kepalanya pening hebat akibat menenggak terlalu banyak alkohol. Pandangannya buyar, dan entah mengapa dia bisa melihat sosok Echa yang telah pergi meninggalkannya. Dia terus meracau menyebut nama Echa. Tapi gadis itu tidak menoleh sama sekali. Erro meringis. Memukul dadanya sendiri berulang-ulang. Rasanya sakit sekali. Hatinya seperti sudah remuk redam. Cintanya selama belasan tahun bertepuk sebelah tangan. Kini dia harus menyaksikan sosok yang dicintainya berakhir bersama orang lain. Erro memukul meja bar dengan frustasi. Dia menyambar gelas di hadapannya dan meneguknya lagi. Dia bukan bad boy. Dia hanya seorang murid jenius dan berprestasi yang sedang patah hati. Bertahun-tahun dia patah dengan hidupnya. Dan sekarang dia semakin patah. Echa mengambil andil besar dalam mematahkan setiap harapan hidupnya. “Mas, ponselnya dari tadi bunyi terus,” ujar salah seorang bartender mengingatkan. Erro menatapnya sinis. “Berisik! Gue juga tahu!” Dengan kasar Erro meraih ponsel putihnya. Banyak pemberitahuan di w******p, LINE, dan twitter. Tangannya bergerak pelan men-scroll screen ke bawah. Beberapa detik setelahnya dia tertawa membaca sebuah trending topik yang menjadi pembicaraan hangat angkatannya. Di situ tertulis Fahrenza Raullya Razakian Social 1 and Mario Fabrian Science 3 in relationship. Lalu ada beberapa rumor yang menyebut-nyebut dirinya tengah patah hati dan omong kosong lainnya. Seperti, akhirnya pasangan spektakuler almost three year in 40 SHS “Erro-Echa” tergusur juga. Erro menertawai diri sendiri. Gosip teman-temannya memang benar. Sekarang dia tengah patah hati. Hatinya hancur berkeping-keping. Tapi sahabat yang menghancurkan hatinya tidak sadar sama sekali. Dia malah bahagia bersama orang lain. Hampir saja Erro melempar ponselnya ke lantai disko kalau seseorang tidak  segera menahan tangannya. Erro berbalik untuk melihat sosok di belakangnya. Begitu tahu bahwa itu adalah Ello, yang dilakukannya hanya tertawa. “El, ngapain lo disini? Anak baik kayak lo nggak pantes ada di sini,” Erro tertawa keras. Bau alkohol menguar begitu saja dari mulutnya. Ello memandang kembarannya sinis. “Lo gila, Ro!” “Gue? Gue gila?” Erro menunjuk dirinya sendiri dan kembali tertawa. “Iya, gue gila karena cewek. Gue tergila-gila sejak kecil. Tapi cinta gue bertepuk sebelah tangan. Jadinya ya gini deh, gue gila.”  Ello mendesah frustasi. Pelan diseretnya Erro menjauh dari bar.  Erro terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Muak dengan keadaan, terpaksa Ello menggendong kakaknya di punggung. Kemudian mendorongnya ke jok belakang mobil audi putih yang dibawanya. “Apaan sih lo? Gue masih mau minum!” Ello menahan tubuh Erro agar tetap berada pada posisinya. Saat itu barulah dia sadar bahwa ponsel dan dompet hitam Erro tertinggal di meja bar. Ello mendesis. “s**t. Hape sama dompet lo ketinggalan. Tunggu di sini, Ro. Gue ambil dulu.” Erro tak begitu mendengarnya. Dia hanya terus menatap punggung Ello yang menjauh. Pandangannya semakin kabur dan kepalanya terus berputar. Tapi yang dilakukannya malah berusaha meraih pintu dan berlari pergi. *** Pukul setengah dua belas malam acara promnight berakhir. Erro benar-benar tidak datang. Sedikit perasaan gelisah menyelinap di hati Echa. Tak biasanya laki-laki itu menghilang tanpa kabar. Sudah satu minggu mereka bertindak layaknya orang asing. Tidak menyapa, tidak berangkat bersama, tidak jalan berdua. Rasanya aneh. Echa tidak ingin mengakuinya, tapi ada sesuatu bagian dari dirinya yang hilang. Echa menghembuskan nafas panjang. Berusaha membuang pikirannya jauh-jauh. Toh, buat apa dia memikirkan Erro yang bahkan tidak mengerti perasaannya? Harusnya dia bersyukur bisa lepas dari kekangan laki-laki itu. Lagipula kata-kata Erro tempo hari lalu itu sudah sangat menyakiti hatinya. “Cha, pulang kapan?” tanya Rio tiba-tiba. Echa menoleh dengan raut wajah kaget. “Oh, eh, mau balik sekarang?” Rio mengangguk. “Nanti lo kemalaman. Ayo.” “Oke, Ri.” Echa bersiap membetulkan tasnya ketika sesuatu di dalam sana malah berbunyi nyaring. Siapa pula yang menelpon tengah malam begini. Dengan malas diambilnya ponsel di dalam. Echa mendengus begitu tahu penelponnya adalah Erro. “Ck... Mau apalagi sih, dia?!” Echa mendecak sebal. Rio menatapnya dengan kening berkerut. “Bentar ya, Ri.” Echa segera menyingkir dari ruang aula menuju taman belakang sekolah. “Apaan lagi, sih?!” jawab Echa dengan nada sinis. Tapi sayangnya bukan suara Erro yang terdengar dari ponselnya. Suara itu lebih berat dan halus. Echa langsung membekap mulut. “Oh, sorry. Gue kira Erro. Emang ini siapa?” “Gue El. Boleh minta tolong nggak? Erro ilang. Gue nggak tahu dia dimana. Barangkali dia di sekolah, tolong suruh dia cepet pulang. Thanks.” “Kok bi—” belum sempat Echa menjawab, ponsel di tangannya sudah meluncur ke bawah saat tiba-tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang. Untuk sesaat dia menegang. Pundaknya kini terasa berat dan dia bisa merasakan deru nafas hangat menyentuh kulit lehernya. Tubuh Echa mulai gemetar karena takut. “Cha, gue kangen banget sama lo.” Suara itu terdengar parau. Echa tahu pasti suara itu milik Erro. Dia meronta. Tangannya bergerak berusaha melepaskan tangan Erro yang melingkari perutnya. Samar-samar Echa bisa merasakan bau alkohol menusuk indra penciumannya. Echa pikir Erro sudah gila karena berani menyentuh minuman haram itu. “Sinting! Kemana aja lo?” teriak Echa sambil berusaha melepaskan diri. “Lepasin gue, Ro!” Erro tak mempedulikan teriakan Echa. Dia malah mengeratkan pelukannya. Laki-laki itu tertawa. Tawanya terdengar sumbang dan menyakitkan. “Kenapa? Gara-gara udah punya Rio, lo nggak mau bareng sama gue lagi?” “Bukannya gitu, Ro. Gue cuma—” Sebelum Echa menyelesaikan kalimatnya, Erro sudah membalik tubuh Echa dengan kasar. Membuat keduanya saling berhadapan satu sama lain. Dan Echa bisa melihat sorot mata elang Erro menajam ke arahnya. Seakan menanti kelanjutan dari kalimat Echa. “Maksud gue—gue nggak berubah, Ro. Gue cuma lagi falling in love. Udah, itu aja. Masak lo nggak ngerti, sih?” “Oh... Lo lagi falling in love sama Rio?” Erro tersenyum tak ikhlas. “Sejak kapan?” Echa meringis ketakutan. “Sejak tahun lalu. Maybe.” Kali ini Erro tertawa dengan nada menyakitkan. “Kalau lo aja yang baru jatuh cinta satu tahun bisa kayak gini. Terus, apa kabar sama gue yang udah sepuluh tahun lebih jatuh cinta sama dia, tapi dia nggak pernah ngerti?” Lagi-lagi cinta monyet itu. Echa mendesah frustasi. “Sampai kapan, sih, lo mau terus mengungkit cinta monyet lo itu? Udahlah—” kata-kata Echa terputus di tenggorokan karena Erro menekan pundaknya semakin kencang. “Gimana bisa lo melupakan dia kalau setiap hari lo ketemu sama dia, berangkat sama dia, dan bahkan dia—” Erro melanjutkan dengan nada lirih. “Dia bahkan ada di depan lo sekarang.” Echa menahan nafas. Menutup mulut dan menggeleng tak percaya. Cinta? Erro jatuh cinta padanya? “Lo gila, Ro! Ini nggak mungkin!” Erro menggeleng. Tubuhnya luruh ke bawah sambil memeluk pinggang Echa. “Gue emang gila. Gue tergila-gila sama lo selama belasan tahun. Gue cinta mati sama lo, Cha. Tapi cinta gue bertepuk sebelah tangan.” Echa membeku di tempatnya berdiri. Berusaha mencerna perkataan Erro barusan. Bola matanya membulat. Erro pasti sedang bercanda. Dia tidak mungkin serius mengucapkannya.  “Cewek yang gue cinta itu lo! Kenapa sih lo nggak sadar-sadar juga?! Selama bertahun-tahun emangnya lo anggep gue apa?! Lo tahu nggak sih, gue hancur tiap kali lo ngomongin cowok lain di depan gue! Rasanya sakit banget!” Erro berujar dengan nada tinggi sambil meninju dinding di belakangnya. Seolah dia memang sedang merasakan sakit. Echa menunduk menahan tangis. Bahunya mulai bergetar. Sudah cukup. Dia tidak mau mendengar lagi. Erro memang gila. Dia pasti mabuk berat. Omongannya saja sudah melantur ke mana-mana. “Kenapa diem? Jawab dong! Lo nggak bisa jawab, ya?” Erro berteriak lagi. Tapi lama-lama suaranya berubah menjadi tawa. Dia kembali meracaukan hal-hal yang tak jelas dan diluar nalar. “Cha, gue serius. Gue cinta banget sama lo. Gue pengen hidup sama lo selamanya. Gue pengen jadi suami lo beneran. Nikah sama lo. Terus punya anak yang lucu-lucu. Terus kita bahagia selama-lamanya. Kayak yang di dongeng-dongeng itu.” Erro mengelus pipi Echa dan langsung ditepis kasar si pemiliknya. “Gue nggak mau. Kita nggak bisa Ro!” Erro menatapnya dengan pandangan menuntut. “Kenapa?! Kenapa gue nggak bisa?” Echa memberanikan diri menatap Erro meski air matanya nyaris keluar. “Karena gue nggak cinta sama lo. Gue bakal menikah sama orang yang gue cinta. Sementara kita cuma sahabat.” “Lo punya gue, Cha! Nggak ada yang bisa milikin lo selain gue!” “Lo gila! Gue nggak bisa Ro! Cinta itu nggak bisa dipaksain!” Erro mencengkeram tangan Echa dengan penuh emosi. “Gue akan paksa elo supaya bisa.” Tiba-tiba Erro bangkit, mempersempit jarak diantara mereka, dan hampir menciumnya. Echa terkaget dan berusaha melepaskan diri. Dia memukul-mukul d**a Erro dan berusaha mendorongnya sejauh mungkin. “Gue benci sama lo, Ro! Gue benci! Dan sampe kapan pun gue ngga akan pernah maafin lo! Mulai sekarang lo bukan sahabat gue lagi!” bersamaan dengan itu air mata Echa berjatuhan. Dia berlari kencang menjauhi Erro. Erro hanya bisa memandangi punggung Echa yang bergerak menjauh. Air matanya berjatuhan. Tubuhnya kembali merosot tanpa dia bisa berbuat apa-apa. Untuk segala hal yang telah dia perjuangkan, Tuhan, sekali saja izinkan dia menangis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN