Segalanya telah berubah sejak hari itu. Erro tahu, tapi dia berpura-pura tidak tahu. Dia sadar dan sepenuhnya sadar tentang kejadian pada malam promnight. Bahwa apa yang diucapkannya ketika mabuk, telah benar-benar menghancurkan perasaan mereka. Kata-kata itu terasa seperti kaset usang yang bisa terus diputar. Setiap kali dia melihat Echa, gadis itu akan berpaling dan menjauh. Membuat rasa bersalahnya semakin menggerogot tanpa henti.
“Cha, lo lagi belajar SBMPTN? Sini gue ajarin matematika—”
Mendengar suara Erro membuat Echa segera merapikan seluruh bukunya. Seperti yang sudah-sudah, gadis itu berlagak tuli. Secepat kilat bangkit dan menyingkir dari hadapan Erro. Dia malas berlama-lama dengan sahabatnya yang munafik itu.
Erro menarik pergelangan tangan Echa. “Cha, sampe kapan lo mau menghindar dari gue? Lo udah pegang semua kartu gue. Apalagi yang—”
Echa menghempaskan tangan Erro dan menatapnya tajam. “Iya! Gue udah pegang semua kartu lo. Dan semua kebusukan lo udah terbongkar. Semuanya! Jadi, jangan sok baik lagi di hadapan gue karena gue nggak akan pernah bisa menerima itu!”
“Apanya yang salah?” Erro bergumam lirih, membuat langkah Echa terhenti. “Seperti yang lo bilang, gue cuma lagi jatuh cinta. Gue punya hati dan perasaan. Gue berhak jatuh cinta sama siapa pun. Jadi, apa salahnya kalau gue jatuh cinta?”
“Salah!” Echa berteriak. “Semua tentang lo serba salah! Gue nyesel pernah kenal sama lo! Lo bener-bener busuk!”
“Lo boleh hina gue sepuas lo. Gue emang busuk, Cha. Gue nggak mau lo denger dari orang lain. Sekarang gue bakal bilang yang sebenarnya. Selama ini, emang gue yang buang seluruh surat cinta lo di loker, gue juga yang nge-bully cowok-cowok yang berani deketin lo, bahkan orang yang selalu gagalin kencan lo itu gue.”
“Oh? Ada lagi?” Echa tertawa lantang. Pantas saja selama ini laki-laki yang pernah dekat dengannya tiba-tiba kabur. Hilang tanpa arah dan kabar. Erro benar-benar licik. Kenapa juga dia bisa tahan selama ini bersahabat dengan psycho semacam Erro?
“Udah, kartu gue udah abis, Cha. Lo mau bongkar yang mana lagi? Gue nggak pernah ganggu lo sama Rio, kan?”
“Bagus, deh.” Echa bersiap pegi. Namun, selangkah kemudian dia berbalik. “Sebenernya yang pengemis dan pengejar cinta itu lo atau gue?”
Erro merasa tertohok. Kata-kata itu terdengar beribu-ribu kali lebih menyakitkan daripada saat dia mengatakannya pada Echa. Ya, seharusnya waktu itu dia menghina dirinya sendiri saja. Bukan orang lain. Dia tidak akan menampik. Dia memang pengejar dan pengemis cinta. Echa pantas mengatainya.
Erro tertawa dengan nada menyakitkan. “Setelah lo tahu semuanya, apa di mata lo—Gue jadi serendah itu?”
Echa tak menjawab dan memilih segera pergi. Bisa-bisa kepalanya pecah kalau terus menghadapi psycho satu itu.
***
Erro melangkah pelan-pelan memasuki gedung olahraga. Baru beberapa langkah saja, dapat didengarnya suara pantulan bola yang tengah berjuang menjebol pertahanan ring. Erro terdiam sejenak di bangku penonton. Mata elangnya sibuk menatap Rio yang tengah memainkan bolanya di bawah sana.
Basket bukan keahliannya. Tapi bukan berarti dia tidak bisa basket. Dia unggul dalam semua mata pelajaran olahraga. Termasuk dalam hal ini tentu saja. Meski kemampuan sepak bola-nya tentu jauh di atas basket.
“Gue nggak nyangka orang berotak keriting kayak lo bisa main basket juga.”
Rio melirik sekilas. Tampak berusaha mengabaikan suara itu dan memilih fokus melempar bola. Tapi suara itu mendekat secara perlahan, disusul dengan pijakan langkah yang bersahutan. Dalam hitungan detik bola orange itu sudah menghilang dari tangan Rio dan tiba-tiba melayang menjebol ring.
“Three point,” gumam Erro dengan senyum miring.
Rio tak tinggal diam, dia berlari mendekati Erro. Berusaha merebut miliknya kembali. Erro tersenyum sambil men-dribble bola dengan kecepatan penuh. Rio bersiap merebut bola itu. Sebelum bola itu tergapai, Erro sudah berlari dan melemparnya ke arah ring. Bola itu melayang jauh. Berputar lama di lingkaran ring. Kemudian masuk dengan sangat elegant.
“Wanna play again?” tantang Erro dengan senyuman bangga.
Rio menatap tajam. “Mau lo apa?”
Erro tak menjawab. Dia tengah sibuk men-dribble bola. Sementara Rio masih terus mengejarnya. Dengan sigap Erro berbalik memunggungi Rio sehingga tak ada yang bisa mengganggunya memainkan bola. Lagi-lagi dia sudah melempar bola. Dari jarak yang amat jauh bola itu melayang tinggi. Membentur ring dan masuk secara perlahan.
Rio mendesis jengkel. “Lo mau nyingkirin gue kayak anak-anak lain yang dulu pernah naksir sama Echa?”
Erro kembali mendapat bola. Namun, bukannya melempar ke ring, bola itu hanya dimainkan saja. Tangannya bergerak lincah memutar-mutar bola. Seulas senyum terpaksa muncul dari wajah laki-laki itu.
“Santai aja, gue nggak akan ambil Echa dari lo.”
Rio melebarkan mata. Telinganya pasti salah dengar. “Gue nggak salah denger?”
Erro memandang lurus ke depan. Kemudian melempar bolanya yang ke-empat. Lagi-lagi bola itu masuk dengan mudah. Erro tersenyum puas meski sebagian hatinya terasa sakit mendengar kalimat yang diucapkannya sendiri.
“Gue nyerah. Gue sadar dia cuma nganggap gue sahabat. Nggak lebih.”
Rio berhasil mendapatkan bola. Erro hanya terdiam menatapnya. Seolah membiarkan Rio yang kini memegang kendali atas bola itu.
Bola itu menggambarkan sosok Echa. Berkali-kali dia melindunginya, membawanya menuju kemenangan, bahkan merelakan seluruh tenaganya demi melindungi bola itu. Pada akhirnya bola itu terenggut juga. Jika benar begitu teorinya, tetap saja dia kalah meski sekuat apapun dia bertahan.
“Gue akan pindah ke Jerman. Lo harus janji jagain Echa buat gue.”
Suara lirih itu membuat Rio sontak menghentikan permainannya. Dia membalik badan sehingga dirinya langsung bertatapan dengan Erro. Mata elang laki-laki itu tampak menunjukkan keseriusan yang nyata.
“Kenapa?” tanya Rio penasaran.
“Karena ada banyak hal yang masih bisa gue raih di dunia ini daripada cinta. Lo tahu? Menggapai sesuatu yang bisa lo dapatkan jauh lebih menyenangkan daripada menggapai sesuatu yang buat lo jangkau aja sulit.”
“Kalau suatu hari nanti lo nyesel?” Rio memicingkan mata.
“Kalau gue nyesel?” Erro mengulang pertanyaan Rio. Dia tampak menatap tiang ring dengan pandangan kosong. “Mungkin gue bakal nyesel kalau nyerahin sesuatu yang berharga ke orang yang salah. Jadi, gue pastikan lo bakal menderita kalau berani nyakitin dia!”
Rio tercengang. Baru kali ini ada laki-laki yang berlapang d**a melepaskan orang yang dicintainya. Dia salut dengan orang ini.
“Ri, gue bawain cola nih.”
Erro tersentak mendengar suara itu. Dia menoleh ke belakang. Matanya langsung beradu pandang dengan Echa. Tapi sepersekian detik kemudian, Echa membuang muka. Erro memaksakan seulas senyum tipis dan memilih segera menyingkir. Mungkin hatinya akan rela suatu hari nanti. Meski begini sakit rasanya.
***
Hari kelulusan tiba. Semua murid kelas XII merayakan kemenangan mereka. Tampak dari seragam putih-abu mereka yang sudah tak berbentuk lagi. Beraneka warna coretan pilox dan taburan tanda tangan mendominasi keabstrakan seragam tersebut.
Halaman upacara, koridor sekolah, ruang guru, taman, dan seluruh bagian sekolah kini riuh oleh keramaian. Semua siswa sibuk mengukir kenangan mereka. Beberapa tampak berfoto dengan geng klik mereka, ada pula yang asyik selfie dengan pacar, mengajak foto guru, bahkan ada pula yang sibuk mengotori seragam satu sama lain.
Gedung olahraga juga tak luput dari keramaian. Di tengah lapangan sana, semua anggota tim futsal tampak berbaris rapi dengan seragam abstrak mereka. Tak lama kemudian terlihat kilauan cahaya bersamaan dengan bunyi jepretan kamera.
“Wah, gue ganteng!” Angga menjerit histeris melihat fotonya di kamera.
Rifky dan Fathur kini asyik berlarian. Di tangan mereka masing-masing ada sekaleng pilox. Keduanya saling mengejar di sekeliling lapangan futsal. Erro menatap mereka sambil tertawa. Dengan satu bidikan, diabadikanya momen tak terlupakan itu. Berharap suatu hari nanti kejadian itu akan terus terkenang di hatinya.
Angga menepuk pundak Erro yang tengah memainkan kamera. “Foto gue juga dong, mumpung lagi most handsome.”
Erro bersiap mencekik leher Angga. Tawanya pecah seketika.“You say what? Are you serious?”
“Yes, Im more handsome this day. Wanna take my picture Mr. Photographer?”
“In your dream.” Erro berteriak sambil berlarian. Sontak Angga berlari mengejar Erro.
Akhirnya aksi kejar-kejaran antara anak futsal tak terelakkan. Mereka berempat saling kejar. Bahkan Erro berinisiatif dengan melempar bola. Sehingga kini tak hanya berlarian, mereka malah bermain futsal dengan gaya khas urakan. Pak Rayhan menatap murid didiknya di atas bangku penonton sambil menggelengkan kepala.
“Ro, lo dicari anak photograpenta, tuh!” tiba-tiba Fathur berteriak, masih sambil mengejar bola.
Erro menghentikan permainan. Bola yang tadi dikuasainya kini bergulir bebas. Fathur menjerit bahagia. Dengan begitu dia bisa menggantikan posisi Erro untuk menguasai permainan. Tapi rupanya Rifky dan Angga tak tinggal diam.
Erro hanya tertawa melihat teman-temannya yang masih asyik berebut bola. Pelan-pelan dia menoleh ke atas dan segera menaiki tangga ke luar gedung. Kemudian dia berjalan menyusuri lorong yang membawanya menuju galeri foto. Beberapa teman meminta tanda tangannya. Terutama para gadis. Erro tersenyum lebar dan menorehkannya di atas seragam warna-warni mereka.
“Hei, sahabat gue sejak gue masih ngompol!” Zaza berteriak heboh. “Sini tanda tangan di seragam gue!” katanya sambil melempar sebuah spidol merah.
Dengan satu gerakan sigap, ditangkapnya benda panjang yang melayang itu. Erro tersenyum miring sambil memainkan spidol di tangannya. “Hari ini perasaan banyak banget yang ngefans sama gue.”
Zaza nyengir. “Percaya, deh, yang anak futsal gantengnya nggak ketulungan.”
Erro terkekeh sekilas sebelum akhirnya menorehkan sebaris kalimat beserta tanda tangan di punggung seragam Zaza. “Langgeng terus ya sama Bang Izzy J By sahabat lo yang terganteng sedunia, Arnaferro,” ejanya sambil menekan kata ganteng.
Zaza tak mau kalah. Dia merebut spidol di tangan Erro dan memaksa laki-laki itu untuk berbalik badan.
Erro langsung mengancam. “Awas lo Za berani nulis macem-macem!”
Zaza terkikik pelan. Dia menorehkan spidol di atas seragam berwarna abstrak yang dipakai Erro. Kemudian dia menirukan Erro dan mengeja kalimat yang ditulisnya keras-keras. “Suami-istri jangan marahan terus. Be better, ya. Delizia A2.”
Erro membalikkan badan. Senyumnya tampak hambar. “Gue sama Echa nggak cuma marahan, Za. Mungkin kita juga nggak bisa kayak dulu lagi. Kita udah bener-bener lost.”
Zaza menatap Erro dengan pandangan sendu. Pelan ditepuknya pundak laki-laki jangkung itu. “Lo udah berusaha Ro, mungkin Echa aja yang belum sadar.”
Erro mengedikkan bahu. Dari jauh dia bisa melihat Echa tengah ber-selfie ria bersama Rio dengan baju warna-warni mereka. Tampak serasi dan cocok.
Zaza yang melihatnya langsung menarik Erro menjauhi pemandangan itu. Keduanya kini berkumpul bersama anak-anak fotografi karena sesi foto bersama akan dimulai. Tapi diam-diam, Erro tak pernah bisa melepas pandangannya dari sosok itu. Meski hatinya harus mati rasa oleh cemburu.
***
Suasana sekolah mulai sepi siang itu. Pesta kelulusan telah berakhir. Cuaca agak mendung ketika Erro menengadah menatap langit luas di angkasa sana. Dia tersenyum kecut sambil membidik panorama tersebut. Angkasa. Sama seperti namanya.
Tak lama kemudian seseorang menepuk pundaknya. Erro sedikit tersentak. Pelan dia menurunkan kameranya. Matanya langsung beradu tatap dengan mata hitam milik Rio.
“Selamat atas juara pertama paralel IPS.”
Erro tersenyum tipis. “Thanks. Lo juga selamat atas juara paralel IPA. Gue nggak mau ngaku, sih, tapi itu keren banget. Apalagi nilai fisika lo perfect. Good job, bro.”
Rio membalasnya dengan senyuman miring. Kedua tangan laki-laki berkacamata itu tampak bersedekap. “Gue jadi penasaran, kalau lo masuk IPA, siapa yang bakal di posisi pertama? Gue atau lo? Kita bisa bersaing secara sehat mungkin.”
Erro tertawa remeh. “Tantangan nggak mutu. Asal lo tahu aja, gue nggak doyan fisika dan segala macamnya. Gue anak IPS, dan gue suka geografi.”
“Lo nggak suka fisika atau karena di sana nggak ada Echa?”
Erro mengangkat alis tak mengerti. “Maksud lo?”
Rio kembali tersenyum. Kali ini senyumnya tampak misterius. Seolah dia mengerti segala hal tentang dunia ini.
Dengan santai Rio menjawab, “Echa masuk IPS, jadi lo milih IPS. Padahal kenyataannya lo lebih condong masuk IPA. Echa jago akuntansi, jadi lo coba mati-matian belajar akuntansi biar bisa masuk IPS. Padahal lo lebih unggul di pelajaran eksak yang berat seperti fisika. Echa suka geografi, terus lo paksa diri sendiri buat belajar struktur gunung, bumi, dan batuan. Padahal nyatanya lo lebih ngerti tentang sistem anatomi tubuh manusia yang lo ejek tempo lalu.”
Erro menatapnya dengan wajah kaget. Senyumnya berubah hambar. Semua yang dikatakan Rio adalah benar. Jadi, semua hal yang dilakukannya itu hanya untuk Echa. Bertahun-tahun dia hidup hanya untuk mengikuti Echa. Mengejarnya bagai pengikut yang setia. Seperti air yang mengikuti arusnya. Seperti bumi mengitari mataharinya. Tapi semua pengejarannya hanyalah sia-sia saja.
“Lo bener. Sejak kecil gue emang berusaha ngejar dia.” Erro menghembuskan nafas panjang. “Gue nggak nyangka lo ngerti semua itu.”
“Jangan lupa kalau kita pernah sekelas waktu kelas sepuluh. Nilai kita hampir semuanya sama. Dan buku catatan lo itu—” Rio tersenyum meremehkan. “Bukan berisi catetan tapi malah tulisan-tulisan tentang Echa. Apa ya kalau gue nyebut, seorang addicted?”
“Lo baca buku catatan gue? Nggak sopan!” desis Erro setengah bercanda.
Rio hanya tertawa kecil. “Lo nggak pernah nyatet. Lo males. Gue nggak ngerti otak lo terbuat dari apa sampai semua rumus yang ada bisa tetep masuk ke otak yang isinya cuma gimana cara ngejar cewek doang.”
Tiba-tiba Erro menatap Rio dengan pandangan serius. Membuat tawa Rio seketika terhenti. Seolah apa yang ditunjukkannya kini semua adalah janji.
“Mulai hari ini gue udah berhenti. Gue berhenti buat ngejar dia. Udah saatnya gue jadi diri sendiri dan mengejar apa yang gue mau. Gue janji ini yang terakhir. Sebelumnya, thanks karena lo udah kasih kesempatan sama gue.”
Rio tersenyum tipis. Meski begitu tampak sekali ketulusan di matanya. “Buruan, gih, temuin dia di lobby deket parkiran. Dia sendirian di sana. Anak-anak udah balik. Tolong sekalian anterin dia pulang, gue masih ada urusan sama OSIS.”
Erro mengangguk dengan seulas senyum. Cepat-cepat dia berlarian menuju lobby sekolah sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Tampak di tangannya kini terdapat setangkai mawar putih dengan sebuah surat yang tergantung manis di tangkainya.
Begitu dia sampai, sosok itu tengah memunggunginya. Erro tersenyum tipis. Dia sangat merindukan Echa. Ah, ingin sekali rasanya memeluk dia. Tapi menyentuhnya saja tangannya tak berani.
Erro berjalan memasuki lobby. Pelan dia menepuk pundak Echa. Sepersekian detik kemudian Echa terkesiap dan menoleh. Wajahnya berubah dingin ketika tahu siapa yang datang. Dengan kasar ditepisnya tangan Erro dan berusaha menghindar.
“Cha, please, dengerin gue!” Erro memohon dengan sangat. “Gue janji ini yang terakhir.”
Echa mendesis. Kemudian terpaksa menoleh. Sehingga kini dia berhadapan dengan Erro. Meski sebenarnya Echa ingin sekali membuang muka jauh-jauh.
“Mau apalagi?!” tanya Echa dingin. Pandangannya masih tertuju ke jalan raya.
Erro memaksakan seulas senyum tipis. “Gue tahu ini nggak penting banget buat lo denger, tapi gue cuma mau jujur, Cha. Apa yang gue bilang waktu promnight itu bener. Gue emang suka sama lo. Bahkan mungkin bisa dibilang... gue cinta sama lo. Gue jatuh cinta sama lo, Cha. Bahkan sejak bertahun-tahun lalu.”
Echa memejamkan mata kuat-kuat. Berusaha bersikap tak peduli meski rasanya begitu menyakitkan. Mengapa sahabatnya harus mengatakan ini? Mengapa pula dia mempercayai seseorang yang ternyata malah menghancurkannya secara perlahan begini?
Erro memainkan tangkai bunga di tangannya sambil tersenyum pahit. “Kalau lo tanya tepatnya sejak kapan. Gue akan jawab sejak kelas 2 SD. Sejak lo ngajak gue main perosotan di taman sekolah. Sejak lo ngelemparin lumpur ke seragam merah-putih gue. Sejak lo maksa gue main rumah-rumahan dan kita jadi mama-papa terus Zaza jadi anaknya. Waktu itu gue seneng banget. Gue nggak pernah sebahagia itu sebelumnya. Jadi, gue mikir kalau udah gede nanti, gue pengen nikah sama lo. Terus kita jadi mama-papa beneran dan bisa main rumah-rumahan setiap hari.”
Echa masih bungkam. Dipandanginya jalanan dengan wajah kosong. Setetes air mata mengalir turun. Dia baru mendengarnya sekali dari mulut Erro. Dia tidak pernah sadar kalau masa kecil yang mereka lalui bersama begitu bahagia. Tapi sekarang semua sudah diterjang karang. Dan Erro sendirilah yang merusaknya.
“Sejak itu gue mutusin untuk selalu ngejar lo. Masuk ke SMP yang sama, SMA yang sama, bahkan jurusan yang sama. Itu semua gue lakuin supaya gue nggak pernah pisah sama lo. Karena di deket lo bikin gue bener-bener merasa bahagia selama hidup gue. Gue—” ucapan Erro tersendat di tenggorakan.
Erro mengambil nafas panjang-panjang. “Gue minta maaf, Cha. Maaf karena nambah beban lo selama ini. Maaf karena selalu ngikutin lo. Maaf karena gue nggak pernah punya pendirian, gue cuma bisa jadi bayangan lo terus. Dan maaf kalau bikin lo nggak pernah bebas.”
Echa terdiam dengan air mata yang jatuh berlinangan. Pelan diusapnya air mata itu dan mencoba tegar. Semua yang dikatakan Erro itu tidak benar. Sungguh. Dia tidak pernah merasa bahwa Erro adalah bebannya.
Erro menatapnya dengan sendu. Rasanya ingin sekali menghapus air mata itu dengan tangannya sendiri. Tapi yang dilakukannya hanya menunduk.
“Mulai detik ini gue janji nggak akan ngejar lo lagi, Cha. Gue udah berhenti. Gue akan ngejar hidup gue sendiri. Dan gue akan pergi dari sini.” Erro memaksakan seulas senyum. Diulurkannya setangkai mawar pada Echa. “Gue harap lo selalu bahagia sama Rio.”
Echa menatap mawar putih itu dengan pandangan kosong. Pikirannya mulai kosong. “Pergi?” tanyanya dengan suara tersendat.
Erro mengangguk. “Ke Jerman.”
“Jer—man?” ulang Echa tak percaya.
Erro mengangguk lagi. “Iya, Cha. Gue dapat beasiswa. Gue mau lanjutin kuliah di sana dan ngejar impian gue jadi pemain sepak bola.”
Bersamaan dengan itu air mata di pipi Echa mengalir semakin deras. “Sejak... kapan... lo—”
“Dua bulan lalu. Maaf kalau gue telat kasih tau ke lo.”
Echa menatap Erro dengan matanya yang memerah. “Semua orang tahu?”
“Maaf.”
Echa menghapus air matanya dengan kasar. “Zaza udah tahu?”
“Udah.”
“Kak Izzy? Fourty D? Ello?”
Erro mengangguk dengan pasrah. “Semua tahu, Cha.”
“Jadi gue yang lo kasih tahu terakhir?” Echa memukul dadanya yang terasa sesak. Baru kali ini dia merasa sakit karena dihianati. Kemarin dia marah. Dan sekarang dia semakin marah.
Erro mengulurkan mawar putihnya kembali. Senyum terpaksa muncul di wajahnya. “Ini buat lo. Disimpen, ya.”
Echa menatap wajah laki-laki itu penuh amarah. Menghapus kasar air matanya. Lalu merebut mawar putih itu dan menginjak-injaknya di lantai.
“Oh, bagus! Sana pergi yang jauh! Dan jangan pernah muncul lagi di hadapan gue karena gue udah bener-bener muak sama lo, Ro! Gue nggak mau lihat muka lo lagi!” Setelah mengatakannya Echa berlarian keluar sambil menyenggol pundak Erro dengan kasar.
Erro terkesiap. Dia berjongkok dan menyelamatkan bunganya yang sudah mati di bawah sana. Dengan tangan terkepal dia berusaha mengejar sosok Echa yang melangkah menjauh.
Erro menatapnya gelisah. Echa berlarian keluar dari gerbang sekolah. Bahu cewek itu nampak bergetar karena tangis. Langkahnya sempoyongan tak jelas.
“Cha, dengerin gue dulu!” Erro terus mengejar langkah Echa.
Gadis itu mengabaikannya. Dia berjalan terus sampai tak sadar kini sudah berada di ujung trotoar. Tanpa memperhatikan sekeliling, dia nekat menerobos jalan raya. Tepat saat itu sebuah sedan hitam melaju kencang dari arah kanan.
“Cha, minggir!!!” Erro berteriak kencang. Tapi Echa tak mendengarnya sama sekali.
Sepersekian detik lagi mobil itu akan mengenai miliknya yang paling berharga. Erro tidak tinggal diam. Dia melempar tas punggungnya ke sembarang arah dan nekat berlari ke tengah jalan. Sebelum mobil itu benar-benar datang, dia berhasil memeluk tubuh Echa dan membelokkan posisi. Sehingga yang menjadi taruhan adalah tubuhnya sendiri.
Kecelakaan naas itu tak terelakkan lagi. Bagian depan mobil menghantam kakinya dengan begitu kuat. Seketika kakinya mati rasa. Seperti hancur dan remuk bersamaan dengan aliran darah yang mulai merembes dari luka yang ditimbulkan benturan kuat mobil.
Echa terdiam kaku dalam pelukan Erro. Dia masih mencerna apa yang terjadi sampai tiba-tiba sosok yang memeluknya roboh dan dia bisa merasakan aliran darah merembes dari sosok itu.
“Errooo...,” Echa menjerit histeris.
Erro jatuh ke jalanan aspal sambil menahan rasa sakitnya kuat-kuat. Celana abu-abunya telah basah oleh aliran darah. Dia meronta dan meremas tangan Echa kuat-kuat.
“Cha, kakiii... gue... sakiiiit...”
Echa menggenggam tangan Erro kuat-kuat. Tangannya gemetaran. Dia melihat sekumpulan orang mulai berlarian dan memberi bantuan. Echa menjerit meminta pertolongan dari mereka.
“Cha... kaki... gue... mati rasa... akh—” setelah mengucapkannya kesadaran Erro telah habis.
“Ro, bangun! Banguuun!”
Echa menangis dan menjerit. Genggaman Erro di tangannya mengendur dan perlahan jatuh menyentuh kerasnya aspal. Echa menyaksikan wajah pucat Erro dan cipratan darah yang mengelilingi wajahnya. Dia menangis kuat-kuat dan memeluk kepala Erro. Dia tak peduli meski darah juga mulai merembes di roknya.
Tak lama setelah itu terdengar suara sirine ambulans yang nyaring. Echa menyaksikan tubuh itu diletakkan di atas tandu dan dibawa masuk ke dalam ambulans. Samar-samar dia melihat mawar putih yang tadi dibawa Erro kini masih berada di tangan kirinya. Mawar itu sudah berubah warna menjadi merah darah. Echa memandangi mawar malang itu dengan sisa-sisa tenaganya yang mulai habis.
***