Suasana kamar itu sangatlah hening. Hanya terdengar bunyi detak jantung dari layar monitor diiringi suara tetesan infus yang bersahutan. Echa melangkah pelan menuju meja di samping ranjang. Memasukkan seikat bunga yang dibawanya ke dalam vas. Lalu merapikannya dan mencium wanginya. Seulas senyum sedih terlukis di wajahnya. Dia ingat bunga mawar putih ini diberikan Erro padanya tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi yang dilakukannya malah membuang dan menginjaknya. Sungguh malang nasib bunga itu.
Pandangan Echa teralih pada sosok Erro yang tidur tenang dengan selang oksigen menyumbat pernafasannya. Sudah seharian penuh Erro belum juga sadar. Operasi yang dijalankan tadi siang berjalan dengan lancar. Tapi sampai saat ini pun belum ada tanda-tanda bahwa Erro akan membuka mata.
Tanpa sadar air mata mengalir deras membasahi pipi Echa. Tak pernah dia melihat wajah Erro sepucat ini sebelumnya. Tak pernah dia melihat Erro begitu lemah tak berdaya di hadapannya begini. Erro yang dilihatnya kemarin masih setegar batu karang dan sekuat baja meski sudah berulang kali dihinanya. Tapi sekarang?
Tuhan, haruskah begini Echa mendapat pembalasannya? Haruskah dengan cara seperti ini dia menyesali semua perbuatannya? Haruskah sakit begini hatinya melihat semua yang terjadi akibat keegoisannya? Mengapa bukan dia saja? Mengapa harus Erro yang terus menanggung semua kejahatannya?
“Maaf, Ro. Maaf.” Echa bergumam lirih disela tangisnya. “Gue jahat ya sama lo?”
Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara detak layar monitor.
“Lo kapan bangunnya, sih? Gue kangen lo.”
Hening kembali melanda. Echa meneteskan air mata lagi.
“Ro, gue harap lo denger suara gue.” Echa meraih tangan Erro dan menggenggamnya.
Seperti ada sebuah keajaiban, tangan itu bergerak kecil di genggaman Echa. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Echa mengedip tak percaya. Secepat kilat dia menghapus air matanya. Pelan dia menatap Erro dan menanti pergerakan itu lagi.
“Ro, lo denger gue?” lirihnya penuh harap.
Untuk kesekian kalinya tangan Erro bergerak. Seulas senyum di wajah Echa terbit. Dia menanti dan terus menanti. Tapi beberapa lama dia menunggu, Erro tak lagi menggerakkan jemarinya.
Mungkin bukan sekarang. Mungkin nanti. Mungkin beberapa jam lagi. Mungkin besok. Mungkin. Mungkin. Semua kemungkinan itu pasti ada.
Echa terdiam di depan pintu sebelum akhirnya memutuskan keluar. Langkahnya nyaris oleng melihat tubuh tegap Ghani—ayah Erro—yang masuk ke dalam ruangan salah seorang dokter.
Diam-diam Echa mencuri dengar pembicaraan mereka. Lama dia mematung sampai akhirnya tangis yang ditahannya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya lemas dan dia jatuh terduduk di antara dinginnya lantai rumah sakit.
“Begini, Pak. Saudara Arnaferro mengalami kerusakan tulang kaki bagian kanan. Tabrak lari yang tadi terjadi meremukkan struktur tulang keringnya. Bagian depan mobil mengenai tulang kering dan susunan syaraf. Keadaan kaki kanannya parah. Mungkin untuk kembali normal juga sulit. Kemungkinan paling buruk adalah pincang dan kerusakan sistem syaraf yang bisa menyebabkan kelumpuhan.”
Suara-suara itu masih terus terdengar. Echa sudah menutup telinganya rapat-rapat. Berusaha untuk meredamnya kuat-kuat. Tapi suara itu terus mengetuki pintu hatinya dan berulang kali menyalahkannya. Merasa tak mampu menahannya, Echa bangkit dan menyusuri lorong rumah sakit dengan tangisnya yang menderas.
Semuanya kabur. Bayangan orang-orang yang berlalu lalang semakin tak berbentuk. Dan Echa terus berlari menuju kantin. Tak peduli beberapa orang yang membawa nampan ditabraknya, dia terus berlari. Sampai matanya menemukan sosok itu, dan secepat kilat menghambur ke dalam pelukannya. Meminta bahu darinya. Satu-satunya orang yang mampu menopangnya saat ini.
***
Sudah menjadi kebiasaan bagi Rio setiap harinya menghabiskan waktu di Jakarta Medical. Ayahnya—Fabrian—adalah salah seorang dokter senior di rumah sakit ini. Selama hampir dua puluh tahun lebih ayahnya sudah mengabdikan hidup di sini. Dan sebagai anak, Rio selalu ingin mengikuti jejak langkah ayahnya. Menjadi seorang dokter hebat yang mendedikasikan hidup di Jakarta Medical untuk menyembuhkan orang-orang.
Jika sebelumnya Rio selalu menghabiskan waktu sendirian saja di kantin rumah sakit sambil menyesap kopi panasnya, sekarang tidak lagi. Dia duduk tenang sambil menunggu seseorang. Sebelah tangannya menopang dagu dan matanya tak lepas dari buku. Dibacanya pelan-pelan paragraf demi paragraf yang tertera di sebuah halaman. Padahal pandangannya tak benar-benar fokus.
Lagi-lagi pikirannya tertuju pada kejadian itu. Kejadian yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Tepat sebelum dia akan menuju parkiran sekolah untuk mengambil motornya. Saat itu terdengar suara benturan keras dan bunyi rem yang berdecit panjang. Dan ketika Rio berlarian ke luar sekolah, sebuah tabrak lari telah terjadi.
Rio tak begitu ingat. Tapi yang dia tahu, rivalnya sudah tak sadarkan diri dalam pelukan kekasihnya. Seragam abu-abunya yang penuh coretan pilox sudah berubah warna menjadi merah darah. Suara ambulans meraung-raung tak lama setelahnya. Dan Rio, dengan penuh kesabaran menemani Echa. Bahkan dia juga yang menawarkan ayahnya sebagai dokter untuk Erro. Dan kebetulan sekali ayahnya pun bekerja di rumah sakit ini.
Baru saja Rio memutar kejadian itu seperti kaset rusak, sang tokoh utama muncul dari balik pintu kaca. Seperti kesetanan dia berlari menerobos langkah orang-orang. Dan begitu sampai di hadapannya, sang tokoh langsung berlari menubruknya dan menghambur dalam pelukannya. Tak lama setelah itu terdengar tangis remuk redam penuh kehancuran.
“Lo kenapa, Cha?” tanya Rio lembut sambil membelai rambut Echa.
“Erro, Ri.” Suara Echa terdengar pilu.
Rio memejamkan mata sambil terus mengusak lembut rambut Echa. “Dokter Arman udah bilang?”
Echa melepas pelukan mereka. Dahinya berkerut. “Maksud lo?”
Rio tak menjawab. Hanya memandang Echa dengan lembut. Seolah dia tahu apa yang telah dirasakan gadis itu.
“Lo udah tahu yang sebenernya, ya?”
Rio masih terus menatap Echa. Perlahan dia mengangguk. “Gue curi denger waktu bokap gue ketemuan sama Dokter Arman. Keadaan Erro parah dan kakinya—”
Echa menunduk sembari menyenderkan kepalanya pada d**a bidang Rio. “Gue harus gimana, Ri? Gue udah bikin Erro hancur. Gue udah ngerusakin masa depan dia. Gue...” tangis Echa tertahan. “Jahat banget.”
Rio hanya bisa mengelus punggung Echa untuk memberinya ketenangan. Dalam hati dia tahu saat seperti ini akan terjadi. Saat ketika seseorang yang dimilikinya kembali pada tempatnya.
***
Bagi Erro, dunia sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa baginya setelah dia membuka mata. Kecuali ruangan serba putih dan bau antiseptik yang menjalari indra penciumannya. Satu hal yang dia tahu, semuanya telah hancur.
Semuanya.
Bahkan ketika dia berteriak, menjerit, dan melempari seluruh barang-barang yang dilihatnya, semua tak lagi sama. Mimpi dan harapan yang selama ini dia genggam kuat-kuat lepas dengan sekejap mata. Hanya gara-gara sebuah kecelakaan yang tidak begitu dia ingat bagaimana ceritanya. Kecuali fakta bahwa luka dan rasa sakit yang ditinggalkannya masih begitu terasa.
“Ro, makan dulu.”
Ello masih terdiam menatap mangkuk bubur di tangannya. Sejak tadi dia sudah berdiri di sini. Tapi Erro tak menggubrisnya sama sekali. Saudara kembarnya itu hanya terdiam di sisi ranjang dengan pandangan kosong dan sesekali jeritan histeris.
Sudah nyaris seharian penuh dihabiskan Erro dengan diam merenung di dalam kamarnya seperti orang gila. Mental dan fisiknya drop setelah mengetahui kondisi kaki kanannya. Belum lagi kekacauan bertambah setelah sebuah e-mail dari Jerman mengabarkan bahwa beasiswa yang diterima Erro resmi dicabut.
Erro terus memandang ke luar jendela. Pandangannya tampak kosong seperti sebelumnya. Di luar sana langit tampak mendung. Berbeda dengan namanya, Angkasa yang berarti langit luas dan cerah, sekarang nama itu seakan mengejeknya. Langit di hadapannya begitu kecil, jauh, dan gelap. Tidak seperti langit yang ada di namanya.
“Sekarang temen-temen gue yang lain pasti udah di Jerman. Tapi, gue nggak bisa ke sana. Buat jalan aja gue nggak bisa.”
Ello meletakkan mangkuk buburnya ke atas meja. Secepat kilat tangannya mencengkram bahu Erro dan mengguncangkannya kuat-kuat. Supaya dia sadar. Supaya dia mengerti dan mengikhlaskan semua yang terjadi.
“Sakit! Lepasin gue, El!”
Seperti yang sudah-sudah, Erro kembali berteriak. Kondisi mentalnya semakin memburuk beberapa hari terakhir. Sebentar-sebentar dia akan diam dengan pandangan kosong, lalu sebentar lagi dia akan murka. Berteriak kesetanan dan membanting apa saja seperti orang gila.
“Ro, sampai kapan lo mau kayak gini?”
Erro memberontak dan berusaha melepaskan diri dari tangan Ello. Ini sudah kesekian kalinya dia begini. Dan dia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Tapi syaraf di otaknya merespon demikian. Membuat segala sikapnya sangat jauh di luar kendalinya. Bahkan kalau dia tidak mengontrol diri, mungkin sekarang dia sudah melempar sesuatu ke lantai.
“Ro...” Ello memanggil dengan sangat lirih.
Tak ada jawaban. Erro malah bergerak mundur dan menutup wajahnya rapat-rapat.
“Pergi! Gue mau sendiri! Biarin gue sendiri!”
Ello menatap Erro sendu. Perlahan bergerak mundur sesuai keinginan Erro. Tak lama kemudian pintu ruang rawat Erro terbuka. Dokter Fabrian masuk dengan salah seorang perawat.
“Selamat sore, Arnaferro.” Fabrian mengeluarkan senyumannya yang paling manis. Begitu pula sosok perawat yang mendampinginya. “Bagaimana kabarmu hari ini, nak? Baik? Sudah makan belum?”
Lagi-lagi Erro diam membisu. Tak ada yang dilakukannya selain mengalihkan pandangan ke luar jendela. Menatap langit luas di angkasa.
Fabrian mengamati pasiennya lekat-lekat. Tubuh Erro benar-benar lemas. Wajahnya pucat tanpa semangat sama sekali. Kantung matanya tebal dan bengkak. Ada bekas air mata yang terlihat dari sana. Lalu bibirnya mengering. Fabrian tahu persis dia menolak setiap makanan dan minuman yang dibawakan perawat.
Setiap kali Fabrian ke sini untuk mengontrol kondisinya, hanya tatapan itu yang selalu dia dapat. Tatapan penuh kekosongan dan kehampaan. Selalu begini. Atau jika tidak, pasiennya satu ini tiba-tiba akan berteriak dan memukuli kepalanya. Lalu akan berakhir dengan membanting barang-barang dan membuatnya memanggil para suster untuk memberikan suntikan penenang.
“Seharian ini sudah merasa lebih baik?” Fabrian masih tersenyum ketika memeriksa tubuh Erro dengan stetoskop di lehernya. “Anak saya seusia denganmu. Namanya Mario Fabrian. Kamu mengenalnya, kan? Kemarian dia sendiri yang bercerita tentangmu pada saya.”
Erro tak begitu mendengarnya. Dia masih hanyut dalam pikirannya sendiri. Matanya terus berputar menatap sekeliling. Padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia lihat.
Fabrian menghentikan kegiatannya memeriksa. Lagi-lagi tatapannya berhenti pada Erro yang kali ini mulai menampilkan raut wajah ketakutan. Lalu tiba-tiba dia sudah menggeram sambil memukuli kepalanya.
Beberapa hari ini tidak ada perkembangan baik. Berdasarkan pemeriksaan terbaru, Erro mulai mengidap suatu pobia. Menurut Fabrian, pobia yang diderita Erro adalah atychiphobia syndrome. Atau yang biasa disebut dengan pobia kegagalan. Pasien akan mengalami pobia setiap kali ingatannya kembali pada suatu hal yang pernah membuatnya gagal dalam hidup. Hal ini mulai ditunjukkan saat dia menjerit histeris dan menyakiti dirinya sendiri saat menyebut-nyebut bola dan Jerman.
“Dokter, saya harus ke Jerman sekarang! Tolong biarkan saya pergi!”
Fabrian tahu ini akan terjadi lagi. Atychiphobia akut dalam tubuh Erro mulai bereaksi lagi. Sekarang sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menyimpan obat penenang di balik saku jasnya.
“Dok, atychiphobia pasien kambuh lagi,” si perawat tampak menenangkan Erro yang mulai kalap. “ Apa perlu kita beri suntikan penenang sekarang?”
“Jangan.” Fabrian menjawab lirih sambil tangannya mencengkram bahu Erro dan menekannya kuat-kuat agar dia sadar.
“Lepasin! Lepasin saya, Dok!” Erro memberontak lagi. Sekarang tangannya bergerak meraih selang infus dan berusaha melepasnya. Membuat Fabrian menguatkan cekalannya. Lalu teriakan histeris Erro semakin bergema diiringi jerit kesakitannya.
Tepat saat itu Ghani berlari menerobos pintu. Raut wajahnya sudah sangat cemas. Begitu pula dengan Ello yang memilih bergerak mundur karena takut terkena amukan Erro yang bisa saja membanting gelas di ujung meja.
“Ini Papa, Ro! Ini Papa!” Ghani berteriak berusaha menyadarkan anaknya yang masih terus menjerit.
Erro menggelengkan kepala kuat-kuat. “Lepasin saya! Saya harus pergi ke Jerman. Banyak orang yang menunggu saya di sana.”
“Arnaferro, sadarlah! Kamu nggak bisa bermain sepak bola lagi. Kaki kanan kamu rusak, Ro!”
“Enggak—Bohong! Kalian semua bohong!”
Air mata yang sejak tadi ditahan Erro mengalir deras. Berjatuhan ke bawah menyentuh selimutnya hingga basah. Matanya yang semula bengkak kini semakin bengkak. Merasa frustasi akhirnya Erro hanya bisa melampiaskan diri dengan menjerit, meraung, dan melemparkan seluruh barang yang dilihatnya.
Dalam remang-remang bayangan dan disela isak tangis kehancurannya, Erro masih bisa melihat sosok itu. Sosok yang kehadirannya bisa dia lihat melalui pantulan pintu kaca.
Fahrenza. Semua gara-gara gadis itu hidupnya jadi seperti ini.
Jika ada orang yang patut disalahkan atas kehancuran hidupnya, gadis itulah orangnya. Gadis itulah yang harus menanggung seluruh kebencian dan rasa sakitnya.
Jika dulu Erro mencintainya sampai ke seluruh tulang-tulang rusuknya, mulai sekarang Erro akan membencinya sampai di akhir nafasnya.
Selanjutnya Erro tak begitu ingat karena ketika mata mereka bertemu tiba-tiba semuanya gelap.
***
Hari berikutnya kembali dihabiskan Erro dengan merenung di dalam kamar. Keadaan sekeliling kamar rawatnya sudah seperti kapal pecah. Barang-barang beterbangan di mana-mana. Bantal dan guling berserakan. Pecahan gelas dan piring berceceran di lantai. Bahkan bubur sarapan dan makan siangnya berhamburan tak menentu.
Setiap orang yang masuk ke dalam akan merasakan amukannya. Jadi beberapa perawat memilih mundur karena takut terkena amukannya. Mereka hanya datang menyerahkan jatah makannya dan pergi bila pasien bermata elang itu mulai marah.
“Saya nggak butuh makan! Saya mau kaki saya kembali!”
Perawat yang barusan masuk hanya tersenyum takut. “Tapi adik harus makan dulu. Sudah dua hari belum makan.”
“Saya nggak peduli.”
Suara ketukan pintu membuat mereka menoleh. Ello muncul dari sana. Disusul Izzy dan Zio yang kebetulan datang berkunjung. Izzy memang sengaja tidak mengajak Echa. Dia takut Echa akan terkena amukan Erro.
Izzy membeku di tempatnya berdiri. Dia benar-benar kaget melihat keadaan Erro yang menggenaskan. Erro yang di hadapannya malah seperti orang depresi. Bukan Erro si sempurna yang jenius dan berotak cemerlang.
“Mau ngapain kalian di sini?” Erro berucap datar.
“Bang Izzy sama Zio mau ketemu lo.” Ello menjawab lirih.
Erro menarik tubuhnya mundur kemudian membuang wajah. “Gue nggak pengen ketemu siapa pun. Gue pengen sendiri.”
“Maaf kalau kita ganggu lo. Tapi kita ke sini karena kita khawatir sama lo,” jelas Izzy dengan hati-hati. Takut menyinggung perasaan Erro. Karena sebelum memberanikan diri kesini, Ello sudah mengingatkannya kalau Erro bisa marah kapan saja.
“Zio kangen sama Bang Erro.” Zio menyela cepat. Adik bungsu Echa itu tampak berbinar senang melihat Erro . “Kapan kita main bola lagi, Bang?”
“Zio!” hardik Izzy marah.
Seketika Erro menggeram. Entah mengapa, ketika mendengar kata bola, impuls syarafnya berfungsi dan menghantarkan seluruh perih di kakinya. Dia akan menjerit kesakitan dan mulai histeris seperti orang gila.
Erro menarik rambutnya dan menelungkupkan wajah. “Pergiii! Gue nggak mau lihat kalian! Argghh—pergiii...”
Ello meraih tangan Erro dan berusaha menenangkannya. “Kenapa?” tanyanya cemas. “Jangan kayak gini, Ro! Semua orang khawatir sama lo.”
Erro berusaha menepis tangan Ello. “Gue nggak mau lihat lo! Pergi sana!”
Izzy segera membantu Ello setelah sebelumnya menyuruh Zio keluar. Cepat dia mencengkeram tangan Erro sebelum melempar barang-barang seperti pagi tadi.
“Ro, sabar. Sabarin hati elo.”
“Bang Izzy nggak tahu apa-apa!” Erro berteriak. Lagi-lagi mata Erro menyalang marah. “Kalian nggak tahu gimana perasaan gue sekarang! Kalian nggak tahu apa-apa!”
“Kita ngerti perasaan lo!” Izzy balas berteriak. “Kita juga ikutan sedih. Kita sedih lihat lo yang kayak gini. Kita semua kangen Erro yang dulu.”
Erro tertawa sumbang. “Gue bukan Erro yang dulu. Gue yang sekarang nggak bisa apa-apa. Gue nggak bisa main bola lagi. Bahkan gue nggak tahu apa gue bisa jalan lagi. Kalaupun bisa, gue bakal pincang, Bang. Gue bakal cacat.”
Izzy terdiam. Dia tak sanggup menjawab perkataan Erro. Cekalannya mengendur ketika dilihatnya Erro mulai menangis.
“Buat apa gue hidup kalau nggak bisa ngejar masa depan gue lagi? Mendingan gue mati daripada hidup kayak gini!”
Satu bogem mentah dari Ello mendarat tiba-tiba membuat Erro membeku. Setetes air mata lolos dari wajahnya yang pucat. Ello tahu persis saudaranya sudah berhari-hari tidak makan.
“Itu balesan dari gue kemaren.”
Erro memegangi dagunya dan meringis. “Bunuh gue sekalian.”
“Hidup lo terlalu berharga untuk dibunuh. Lo bilang di hidup lo ada dua hal yang akan lo kejar? Kalau satu hal nggak bisa lo kejar, lo masih bisa kejar yang satunya.”
“Pertama bola...” Ello terdiam sesaat. “Kedua—”
Sebelum Ello berhasil melanjutkannya, sebuah piring beserta isinya melayang jatuh. Bubur panas itu tumpah berceceran di lantai. Sang pelaku segera mundur dan menutup telinga rapat-rapat. Seolah dia tak mau mendengar apapun.
“To... long... per... gi...”
Dari balik sana seseorang mendengar semuanya. Dia bersandar pada pintu dan menangis di sana. Lagi-lagi hanya ini yang bisa dilakukannya. Mengamati Erro dari jauh tanpa berani mengusiknya.
***
Langkah Echa terhenti ketika Izzy datang mendekat. Sebisa mungkin Echa menghapus bekas air mata di pipinya. Dia tidak mau kalau kakaknya tahu bahwa sejak tadi dia menangis sendirian di sini sambil terus menatap kamar rawat Erro.
Echa memasang seulas senyum. “Kak Izzy udah ketemu sama Erro?”
Izzy mengangguk pelan. “Kondisi Erro bener-bener buruk, Cha. Dia depresi berat.”
“Gue tahu.” Suara Echa semakin pelan.
“Dia udah kayak orang nggak waras.”
“Gue tahu.” Kali ini suara Echa nyaris seperti bisikan.
“Dia nggak punya semangat hidup lagi.”
“Gue tahu.”
“Dan dia cinta banget sama lo.”
Hening. Echa terdiam. Bibirnya seakan terkunci rapat. Tanpa Izzy bilang pun, dia sudah tahu. Dia tahu semuanya. Erro pernah mengatakannya sendiri.
Izzy mendekat dan mencengkeram kuat lengan adiknya. Sehingga adiknya itu kini mendongak dengan wajah basah. Buliran air mata berjatuhan dari matanya.
“Lo nggak bisa kayak gini terus-terusan, Cha. Lo harus beraniin diri lo buat ketemu sama Erro. Gimana pun juga cuma lo yang paling dibutuhin Erro sekarang.”
Tangisan Echa mengencang.
“Dia butuh lo, Cha,” jelas Izzy dengan nada memohon. “Dia udah kasih semuanya ke lo. Bahkan nyawanya sendiri dia pertaruhin buat lo. Sekarang giliran dia yang minta satu hal sama lo—dia butuh lo di sampingnya.”
Echa menunduk dan kembali menangis.
***
Setelah memikirkan kata-kata Izzy, Echa mulai memberanikan diri menemui Erro. Kali ini dia benar-benar ingin bertemu dengan Erro. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berbicara dengan Erro secara langsung.
Perlahan Echa mendorong pintu kaca di depannya. Biasanya di siang hari begini Erro tengah sendirian di kamar. Ello dan Ghani akan datang sekitar pukul lima sore. Diam-diam setiap hari Echa memang mengawasi seluruh gerak-gerik Erro. Bahkan ketika sahabatnya itu mulai menjerit atau membanting barang-barang pun dia mengawasinya. Dan jika Erro mulai menyakiti diri sendiri, Echa menjadi orang pertama yang akan berlarian memanggil salah seorang perawat.
Bola mata Echa membulat menemukan ranjang di hadapannya sudah kosong. Seikat mawar putih yang tadi dibawanya jatuh begitu saja. Echa mulai panik dan berlarian ke bangsal perawat. Salah seorang perawat di sana hanya bilang kalau sejak satu jam lalu Erro memang belajar duduk di kursi roda. Tapi mereka tidak tahu kalau pasien itu kini hilang dari kamar inapnya.
Seperti kesetanan Echa berlarian mengelilingi seluruh rumah sakit dibantu perawat lainnya. Dia juga sudah menelpon Rio agar membantunya mencari keberadaan Erro. Dan setelah berputar ke seluruh penjuru Erro tak ditemukan juga.
Echa baru saja akan menghubungi Ello kalau saja dia tidak ingat suatu hal yang paling disukai Erro. Langit. Angkasa. Sama seperti nama laki-laki itu. Erro sangat senang melihatnya.
Sekarang Echa sudah berlarian menuju atap tertinggi rumah sakit. Dan di sanalah dia menemukan Erro. Duduk tenang di atas kursi rodanya dengan pandangan kosong. Senja sudah mulai terlihat dari kejauhan, membuat keadaan tiba-tiba menggelap. Tapi Erro seperti tak akan bergerak sama sekali. Hanya terus menatap senja yang makin surut.
“Buat apa lo peduli sama gue?”
Suara itu membuat Echa menghentikan langkahnya tiba-tiba. Setelah sekian lama akhirnya mata elang itu kembali menyapanya. Beberapa detik dihabiskan mereka untuk saling menatap ke dalam mata masing-masing. Satu hal yang mereka sadari, ada sebuah keasingan yang kental di antara pancaran mata mereka.
Echa tak pernah sadar kalau Erro di hadapannya berbeda dengan Erro yang dikenalnya. Dulu Erro tidak seperti ini. Erro yang dikenalnya begitu kuat, sehat, dan lincah dalam segala hal. Tapi yang dilihatnya sekarang sudah sangat melenceng dengan realita yang dia tahu. Sahabatnya itu duduk tak berdaya di atas kursi rodanya. Mukanya pucat pasi dan tak ada semangat sama sekali. Bahkan matanya bengkak seperti habis menangis. Padahal sebelumnya dia jarang melihat Erro menangis.
Rasa bersalah terus menerjang Echa. Momok dari semua kesakitan yang Erro alami adalah dirinya. Dan jika ada keajaiban, Echa ingin menukar posisinya kembali. Agar Erro tidak perlu merasa kesakitan atas takdir yang seharusnya dia dapat. Agar Erro berhenti menanggung seluruh dosanya.
“Apa lagi yang mau lo ambil dari gue? Hati gue, mimpi gue, bahkan kaki gue semua udah lo ambil. Sekarang apa yang tersisa buat gue?”
“Ro...” Echa bergumam lirih.
“Pergi! Gue nggak mau lihat lo!” Erro baru akan berbalik dan mendorong rodanya ketika tiba-tiba Echa menghentikannya. Memeluknya kuat-kuat dari belakang dan membenamkan kepalanya di leher Erro, membiarkan air matanya berjatuhan di sana.
Setetes air mata mengalir di pipi Erro. Dia juga menangis. Tapi bukan berarti dia akan menerima Echa kembali. Erro sudah berjanji akan membenci gadis itu hingga akhir nafas hidupnya. Tidak akan dibiarkannya dia jatuh kembali ke tangan gadis itu. Menjadi seperti orang bodoh yang tergila-gila dan bahkan merelakan hidupnya sendiri hanya untuk menolong orang yang dicintainya.
“Jangan pura-pura peduli sama gue!” Erro memberontak dalam pelukan Echa. “Lo bahkan bilang sendiri kalau gue bukan sahabat lo lagi. Buat apa lo peduli sama gue? Mendingan lo pergi jauh-jauh dari hidup gue!”
“Ro, enggak—”
Dan pemberontakan Erro membabibuta hingga tanpa sadar kursi roda yang diduduki Erro oleng ke depan. Membuat dia terjatuh tiba-tiba dan Echa menjerit ketakutan sekaligus panik. Secepat kilat membantunya berdiri.
“Gue nggak butuh bantuan lo!”
Erro menghempaskan tangan Echa. Sebisa mungkin bergerak mundur menjauhi langkah Echa. Sampai akhirnya dia tidak tahan merasakan tekanan berkali-kali di jiwanya setiap kali sosok Echa semakin mendekatinya. Dia menjerit ketakutan dan mulai berteriak. Sama seperti yang sudah-sudah, pobia kegagalannya kembali menyerang.
Tak lama setelah itu tim perawat datang dan menenangkan Erro. Echa melihat semuanya dengan sangat jelas. Bagaimana para perawat itu memberi obat penenang untuk Erro yang kalap, dan bagaimana mereka membawa Erro kembali ke kamarnya. Semua seperti adegan sinetron yang tak ingin dilihatnya. Bahkan di saat terakhir pun Erro masih terus meneriakkan kebenciannya.
***