Seperti hari biasanya, suara pecahan piring dan gelas mendominasi ruang rawat itu. Beberapa perawat yang sudah keluar-masuk kamar itu tampak pasrah. Mereka sudah hafal jelas tabiat buruk si penghuni kamar. Bahkan cleaning service di rumah sakit itu juga sudah berulang kali membersihkan kamar. Namun, esoknya kejadian yang sama terulang lagi.
Echa melangkah pelan ketika terdengar teriakan dari dalam sana. Pelan dia mendongak dan melihat anak-anak Fourty D tengah berkumpul di dalam. Tapi sepertinya mereka hanya mendapat amukan dan kebencian dari Erro.
“Gue nggak mau lihat lo semua.”
Fathur berusaha mendekat. “Kita semua kangen sama lo, Ro.”
Erro menggeleng marah. Dia menarik vas di atas meja dan melemparnya hingga seluruh bunga pemberian Echa beberapa hari lalu berserakan bersama pecahan kaca.
“Astaga Ro, jangan gini dong.” Rifky tampak ketakutan.
Angga menarik Rifky menjauh. Berusaha menahan amarahnya. “Besok kalau lo udah sembuh, kita bisa main PS bareng lagi, Ro. Terus yang kalah traktir bakso kayak biasa. Gimana?” rayunya seperti anak kecil.
Erro menatap mereka dengan sinis. “Gue nggak butuh PS! Gue cuma butuh kaki gue kayak dulu!”
Fathur gelagapan. “Atau kita main futsal bareng-bareng lagi?”
Erro mulai frustasi seperti yang sudah-sudah. Dia sangat sensitif pada hal yang berhubungan dengan bola. Barusan Fathur mengingatkannya. Hal itu menjadi semacam phobia baru dalam hidupnya. Hingga kini dia berteriak dan mulai mengamuk melemparkan bantal dan gulingnya. Lebih parah lagi dia mulai nekat memukuli kakinya dan melepas perbannya.
Echa berteriak cemas. Dia masuk ke dalam dan menahan lengan Erro yang bergerak merusak perbannya. Sadar siapa yang datang membuat amarah Erro terpancing keluar. Dia mendorong Echa dengan kasar. Gadis itu jatuh menubruk tembok.
“Dari semua orang di dunia ini, lo adalah orang yang paling nggak mau gue lihat.” Erro berucap kejam.
Angga menatap Erro tak percaya. “Ro, ini Echa. Bukan orang.”
“Gue nggak mau ketemu kalian semua. Apalagi dia!”
Fathur berdecak. “Lo pasti lagi kerasukan jin, Ro. Sadar dong. Ini Echa. Lo kenapa, sih?”
“Pergi sebelum gue teriak!” Erro menutup telinganya rapat-rapat sambil memejamkan mata.
Echa terdiam di sisi ranjang. Rasa sakit di bahunya akibat menerjang tembok sama sekali tak dia pedulikan. Dia hanya terus menatap Erro yang menghindarinya. Sulit dijelaskan, tapi Echa merasa sakit Erro mengabaikannya.
“Ayo keluar, Cha. Erro nggak siap ketemu kita.” Rifky menepuk pundak Echa.
Echa menggeleng tegas. “Gue bakal disini. Kalian keluar dulu aja.”
“Lo yakin?” tanya Fathur memastikan. Pandangannya beralih pada Erro yang kini berusaha menyembunyikan diri di balik selimut. Tampak menghindari semua orang.
Echa mengangguk pelan. Akhirnya Fourty D memutuskan pulang hingga kini yang tersisa hanya mereka berdua dan keheningan.
“Gue kangen Erro yang dulu.”
Tak ada jawaban.
“Gue bener-bener kangen sama Arnaferro Angkasa yang gue kenal dulu. Erro yang tangguh, yang selalu senyum sama semua orang, yang nggak pernah menyerah, yang hobi marah, dan yang suka ceramah.”
Detik selanjutnya Erro membuang selimutnya. Dia menatap Echa dengan sinis. “Gue bukan Erro yang dulu! Erro yang dulu udah nggak ada!”
“Tapi gue kangen sama lo.”
Erro mendesis. “Pergi sebelum gue panggil suster buat ngusir lo!”
Echa tak bergeming. Hal itu membuat Erro meraih satu-satunya barang yang tersisa di meja. Sebuah gelas kaca yang lumayan besar. Dalam hitungan detik gelas itu melayang jauh. Echa tak menghindar sama sekali. Dia bahkan membiarkan wajahnya tanpa rasa takut.
“Awas, Cha!” Rio muncul tiba-tiba dan menarik Echa ke dalam pelukannya. Gelas itu jatuh tepat di samping mereka yang tengah berpelukan. Nyaris saja mengenai miliknya yang dia sayangi.
“Lo emang sakit jiwa! Pantesan Dokter Arman bilang lo harus dipanggilin psikiater juga!” teriak Rio marah.
Rio terus menyembunyikan wajah Echa di dalam dekapannya. Dia tahu sekarang Echa menangis lagi. Tubuhnya bergetar dan terasa sangat rapuh dalam pelukannya. Maka Rio tak melepaskannya sedikit pun. Tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
“Ayo Cha, kita pulang. Nggak ada gunanya ngurusin orang gila.” Rio melangkah sambil terus memeluk Echa.
“Bagus kalau kalian pergi. Gue muak lihat kalian. Jangan pernah muncul lagi di hadapan gue!”
Tepat saat itu beberapa perawat masuk. Mereka berusaha menenangkan Erro yang telah kalap.
“Gue benci sama lo semua!”
Echa meremas kemeja yang dipakai Rio. Pelan dia mendongak melihat bagaimana perawat-perawat itu dengan kasar menyuntikkan obat penenang di selang infus. Erro yang semula berteriak kini mulai tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius. Sehingga yang terdengar selanjutnya adalah keheningan yang menakutkan.
***
Rio mengulurkan sebotol air mineral dan tisu pada Echa yang terduduk dengan bahu bergetar. Sepertinya masih shock dengan kejadian barusan.
“Makasih, Ri.” Echa memakai tisunya sembari memainkan botol minum tanpa niatan membukanya.
Rio menatap khawatir. “Are you okay?”
Echa hanya mengangguk sekilas.
“Gue mau ajak lo ketemu bokap gue.”
Echa terhenyak. Rio menariknya cepat menuju lorong yang membawanya menuju sebuah ruangan. Di pintu itu bertuliskan Dr. Fabrian.
Rio mengetuk pintu itu pelan. Setelah mendapat izin langsung dari pemilik ruangan, dia segera menarik Echa masuk ke dalam.
“Loh, kamu bawa siapa, Ri?” tanya Fabrian dengan kening berkerut.
“Ini Fahrenza, Pa,” Rio menambahkan malu-malu, “yang sering Rio ceritain itu.”
Fabrian tertawa melihat putranya salah tingkah. Sebelah tangannya kini terulur ke depan. “Jadi ini yang namanya Echa? Hai, saya papanya Rio. Salam kenal.”
Echa tersenyum dan menyambut uluran tangan Fabrian. “Saya Echa, Dok.”
“Duduk dulu, Cha.” Rio menekan pundak Echa hingga gadis itu terduduk paksa di hadapan meja Fabrian. “Jadi begini, Pa, kebetulan Echa ini sahabat Arnaferro sejak kecil. Dan Echa pengen tahu gimana kondisi Erro yang sebenernya.”
“Arnaferro Angkasa, kan?” Fabrian mencoba memastikan.
Echa mengangguk sekilas. Lalu melirik Rio. Seulas senyum terima kasih terlukis di wajahnya. Rio membalasnya dengan senyuman miring.
“Kalau boleh saya tahu, gimana keadaannya Dok? Dan—apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan buat dia?” tanya Echa penuh harap. “Tolong bantu saya Dokter.”
Fabrian tampak berpikir keras. Dia sudah dengar semuanya dari mulut Rio. Keseluruhan cerita sampai ke detail-detail kecilnya. Bahkan hingga kecelakaan naas itu terjadi.
Wajah Fabrian yang semula humoris kini berubah serius. “Menurut hasil pemeriksaan, kondisi mentalnya semakin memburuk. Kamu tahu keadaannya, kan?”
“Iya, saya tahu.”
“Dia mengalami guncangan kejiwaan. Satu sisinya merasa tak bisa menerima kenyataan, lalu sisi lainnya merasa bahwa seharusnya dia melakukan sesuatu yang dilakukannya sekarang. Dengan adanya keadaan itu, jiwanya tertekan dan akhirnya terguncang. Kondisinya semakin parah. Kalau tidak segera ditangani, hal yang paling Om takutkan adalah—dia akan benar-benar terkena gangguan jiwa.”
Echa merasakan nyeri di dadanya. Dia tidak akan pernah sanggup melihat Erro berakhir seperti itu. Melihatnya berjalan dengan kaki tidak normal saja sudah membuat Echa dihantui rasa bersalah. Bagaimana jika hal tidak diinginkan itu kembali berulang?
“Dari hasil pemeriksaan dia juga mengalami phobia baru semenjak kecelakaan itu. Sebut saja atychiphobia. Biasanya penderita trauma ini mengalami ketakutan karena pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Dari kasus yang dialami Erro, dia akan berteriak dan histeris jika dia mengingat tentang beasiswanya ke Jerman. Jadi, tolong jangan pernah membawa bola kembali dalam hidupnya. Karena kalau hal-hal seperti itu mengganggu kondisi jiwanya, itu juga akan berpengaruh pada kondisi fisiknya. Kesembuhan kakinya akan melambat seiring dengan bertambahnya tekanan di jiwanya.”
“Apa dia bisa sembuh, Dok?”
“Tentu bisa jika dia berusaha. Pastinya dia juga butuh peran orang-orang yang disayanginya untuk menjaga mentalnya. Jadi, emosinya bisa teredam dan dia akan fokus pada pemulihan kakinya. Karena jika tidak kaki kanannya bisa lumpuh.”
Echa terdiam. Dia menunduk dan mulai meremas kepalanya kuat-kuat. Rio menatapnya kasihan. Tangannya bergerak memberi ketenangan dengan sebuah genggaman lembut pada tangan Echa yang dingin
Fabrian menatap dengan sendu. “Dia membutuhkanmu, nak. Hanya orang-orang terdekatnya yang bisa mengembalikannya dari mimpi kelamnya.”
***
Erro menatap sekeliling. Lagi-lagi dia terbangun di ruangan putih ini. Mata elangnya memicing dengan tajam. Berusaha mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk kabur. Tapi begitu mengingat keadaan kakinya yang seperti batu dia langsung mengumpat.
“Sampai kapan gue bakal disini?!” Erro melihat sekeliling. Masih berusaha mencari bantuan. “Gue harus ke Jerman gimana pun caranya.”
Tak ada pilihan lain, dia akhirnya memilih menerjunkan tubuh ke bawah. Tiang infusnya jatuh dan mengeluarkan sebercak darah. Erro menatapnya gamang. Dia sedikit bersyukur tak ada rasa sakit sedikit pun—bahkan di kaki kanannya.
Erro berusaha bangkit. Satu bagian dalam kakinya menolak sistem kerja syaraf. Kaki kanannya terasa seperti batu yang tak bisa bergerak. Tidak sakit, tapi juga tidak ada rasa. Hambar.
Erro menegang. Dia meraba kakinya. Tidak ada rasa. Sontak wajahnya membeku. “Gue beneran lumpuh, ya?” tanyanya lebih pada diri sendiri.
Hanya angin berhembus yang mendengar suaranya. Dia tertawa terbahak-bahak. Menertawai dirinya sendiri. Beberapa detik berselang, tawa mengejek itu berubah menjadi tangis penyesalan. Tangannya tergerak memukul-mukul lantai keramik dengan kuat.
“Gue bakal lumpuh! Lumpuuh!”
Erro bersiap menghantamkan tinju kedua sebelum akhirnya sepasang tangan lembut menahan lengannya. Seluruh makian dan kemarahan yang siap dia lampiaskan tertahan di bibir begitu saja.
“Riska...” Erro berucap lirih seakan tak percaya pada penglihatannya. Gadis di hadapannya ini benar-benar Mariska Rosiana. “Lo sejak kapan tahu gu—”
Riska menatap Erro dengan wajah sendu. “Gue udah denger semuanya, Ro.”
Erro memaksakan tawa hambar. “Semua orang udah tahu, ya, kalau gue—” tiba-tiba setetes air mata jatuh.
Erro mendesis dan menghapus kasar air matanya. “Gue malu nangis di depan lo. Gue kan cowok.”
Riska menggeleng. Pelan dia menyentuh pundak Erro. “Kalau mau nangis, nangis aja Ro. Nangis aja sepuas lo.”
Erro menggeleng. “Gue cuma pengen sendiri, Ris.”
“Nggak, Ro.” Riska berteriak. “Kalau lo mau marah, mau ngamuk, mau mukul, mau teriak, atau apapun itu... tumpahin aja semua ke gue. Gue rela, kok.”
Erro terdiam. Dia menatap Riska dengan pandangan kosong. Tanpa sadar air matanya jatuh berlinangan. Cepat Riska menariknya hingga kepalanya bersandar pada bahu Riska dan menangis di sana.
“Gue nggak jadi ke Jerman. Beasiswa gue batal. Cita-cita gue jadi pemain sepak bola udah hancur lebur. Bahkan kaki gue terancam cacat, pincang, atau segala macem. Gue nggak bisa jalan kayak orang normal lagi. Parahnya gue bisa lumpuh. Kurang bagus apa hidup gue?”
Riska memejamkan mata sambil terus menepuk-nepuk punggung Erro. Berusaha sebisa mungkin memberi ketenangan. Meski itu mungkin tak berarti apa-apa.
“Terus Ro, keluarin aja semuanya. Sampe lo tenang. Gue bakal temenin lo.”
Erro mengangguk. Benar kata Riska. Dia hanya butuh ketenangan yang panjang. Dan dia mendapatkannya di bahu Riska. Seluruh perasaannya menghangat. Sudah lama dia tidak merasakan ketenangan dan kenyamanan seperti ini. Dia sangat merindukannya. Sekarang Riska memberinya perasaan itu.
“Thanks, Ris...”
Riska tersenyum kecil. Tanpa sadar setetes air matanya jatuh seakan dia merasakan sakit yang Erro rasakan. Cinta. Beginikah sakitnya jika orang yang kita cintai juga tersakiti?
***
Echa membeku di tempatnya berdiri. Gadis asing di depannya tengah memeluk Erro. Padahal Erro tidak pernah benar-benar dekat dengan perempuan selain dirinya dan Zaza. Anehnya Erro sama sekali tak memberontak. Entah mengapa, perasaannya sedikit kacau melihat adegan itu.
Echa menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan perasaannya. Harusnya dia bersyukur Erro tidak membuat kekacauan yang sudah-sudah. Tapi, kenapa hatinya mendadak gelisah.
“Kenapa, Cha? Kok bengong?” tanya Rio heran.
Echa terkaget. Dia mengeluarkan seulas senyum terpaksa. “Nggak apa-apa. Ayo kita pulang.”
“Kok pulang? Katanya mau lihat Erro?”
Echa terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Melihat hal itu membuat Rio merasa curiga. Dia segera berbalik dan mengintip ruang perawatan Erro. Sepasang manusia tengah berpelukan di dalam sana. Rio berjengit kaget.
“Cewek itu siapa?”
Echa mengedikkan bahu. “Gue nggak tahu kalau selama ini Erro deket sama seorang cewek. Dia introvert buat urusan pribadi.”
Rio menatap Echa lurus-lurus. Dia bisa menangkap bagaimana mata gadis itu bergerak gelisah. Rio tersenyum hambar.
“Lo cemburu?”
Echa terkaget. Dia menoleh pada Rio dan melotot. “Nggak—mungkinlah.”
Rio memaksakan tawa menutupi perasaan hatinya. Dia melenggang pergi sembari memainkan kunci sedan. Echa segera mengikuti langkah Rio menuju parkiran.
Selama perjalanan mereka terjebak keheningan. Hanya terdengar alunan merdu Sam Smith dengan lagunya Im Not The Only One. Seolah lagu itu turut menggambarkan perasaan mereka.
“Cha, udah sampai.”
Tepukan lembut Rio di bahu Echa membuat gadis itu bangun dari lamunannya. “Iya, emm thanks. Hati-hati, Ri.”
Echa melangkah turun dari mobil Rio. Selang beberapa detik, mobil itu sudah melesat jauh. Echa menatapnya dengan hampa. Lagi-lagi pikirannya terpusat pada kejadian di ruang rawat Erro tadi.
Echa masih mengingat gadis berambut panjang itu. Dari gaya pakaiannya, gadis itu terlihat elegant dan modis, meski satu sisinya cukup tomboy. Selain itu wajah gadis tersebut juga cantik. Sebersit perasaan aneh menyambit hatinya.
Zaza tampak berlarian begitu melihat kedatangan Echa. “Gimana Erro? Gue pengen ke sana, tapi takut. Gue nggak siap ketemu Erro.”
Echa memaksakan seulas senyum hambar. “Dia tadi ngelempar gue pake gelas.”
Zaza membelalak. Segera menutup mulut dengan tangan. Tampak sekali bahwa dia shock mendengarnya. “Lo nggak apa-apa?”
“Untungnya ada Rio.”
Zaza menghembuskan nafas lagi. “Tadi Kak Izzy cerita sama gue, jadinya gue nggak berani ke rumah sakit.”
Echa tersenyum masam. Kemudian mengambil duduk di kursi teras. “Za, apa Erro pernah naksir cewek? Eh, maksud gue apa dia lagi deket sama cewek?”
Zaza sedikit emosi. “Apa kurang jelas selama ini? Udah gue bilang kalau selama ini dia cuma suka sama lo. Lo aja yang buta tergila-gila sama Rio.”
“Bukan itu, Za. Soalnya gue lihat ada cewek di kamar Erro. Gue nggak tahu, tapi dia berhasil nenangin Ero.”
“Nggak mungkin,” elak Zaza. “Gue kenal Erro.”
Echa menggigit bibirnya. “Gue juga. Dia nggak—”
“Bohong!” tiba-tiba Zaza sudah berteriak. “Kalau lo kenal dia, harusnya lo tahu gimana perasaan dia.”
Echa terdiam. Baru kali ini Zaza membentaknya. “Gue salah, ya? Gue nggak tahu kalau selama ini dia suka sama gue.”
“Kita semua tahu kecuali lo, Cha.”
Echa tertawa miris. Kecuali gue. Kecuali gue.
“Hei, pada ngapain di luar? Ayo masuk makan siang.” Izzy muncul dari ambang pintu. Dia terdiam saat melihat wajah muram Echa. Tatapannya beralih pada Zaza yang hanya menggeleng pasrah.
Tiba-tiba Echa sudah bangkit dan menerobos pintu. Berlarian ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun lagi.
***