BAB 9

1597 Kata
Sudah satu minggu berlalu sejak kedatangan Riska. Semenjak itu pula terjadi perubahan drastis pada kondisi Erro. Sekarang kesehatannya jauh meningkat. Dia sudah mau makan. Sudah mau belajar berjalan. Bahkan dia sudah jarang marah. Dan selama itu pula Echa terus mengawasinya diam-diam. “Wah, mereka serasi, ya. Mana anaknya cantik pula.” “Iya, keren banget mbak itu bisa nenangin pasien phobia syndrome.” “Dokter Fabrian juga bilang kalau sekarang pasiennya yang hobi ngamuk itu udah bisa jalan. Good job.” Begitulah gosip-gosip perawat yang santer didengar oleh telinga Echa ketika dia melewati bangsal kamar Erro. Dia hanya bisa diam. Pura-pura tak mendengar ketika melewati segerombolan perawat yang riuh bergosip. Echa terdiam di ujung kamar. Matanya nampak menilik melalui kaca. Dia hanya tersenyum miris melihat Erro yang tertawa sambil melahap makanan yang disuapkan oleh—gadis yang dia tahu bernama Riska. Aneh rasanya ketika dia sadar Erro tidak tertawa untuknya. “Sampai kapan kamu cuma ngawasin anak saya secara diam-diam?” Ghani muncul sembari bersandar pada dinding tembok. “Hai, Om.” Echa memaksakan senyum. “Sepertinya Erro nggak butuh saya lagi, Om” “Kenapa kamu bilang seperti itu?” Echa tak menjawab. Hanya memandang celah kaca di hadapannya dengan sendu. Ghani mengikuti pandangannya dan tersadar. “Namanya Mariska Rosiana.” Ghani menjelaskan. “Kalau tidak ada dia, Om tidak tahu bagaimana keadaan Erro sekarang.” “Om benar.” Echa tersenyum pilu. Kemudian dia berbalik pada Ghani bersiap pulang. “Tolong bilangin makasih sama dia, ya, Om. Makasih karena udah jagain Erro.” Ghani menghembuskan nafas panjang. “Jadi, cuma ini yang kamu lakukan?” Echa mendongak dengan raut bingung. “Jadi, cuma sebatas ini cara kamu balas budi pada anak saya? Cuma dengan ngawasin dia dari jauh? Cuma dengan tanya pada dokter bagaimana kondisinya, tanya pada suster apa dia sudah makan, dan tanya pada saya bagaimana kabarnya. Udah segitu aja? Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan sudah cukup untuk membalas apa yang Erro lakukan buat kamu?” “Tapi Om, Erro udah—” Ghani menepuk pundak Echa cepat. Dia tersenyum misterius. “Besok Erro sudah boleh pulang. Om tunggu pembalasan dari kamu. Dan...” Echa mengangkat wajah. “Saya percaya sama kamu.” Setelah itu Ghani menghilang dari balik dinding rumah sakit. *** Echa melangkah tak tentu melewati lorong-lorong rumah sakit. Sedari tadi dia hanya berputar-putar saja. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan Rio tidak muncul. Padahal biasanya Rio datang dan bermain di tempat kerja ayahnya. Jadi, Echa memutuskan untuk duduk di sebuah bangku panjang. Baru ketika Echa memainkan ponsel, sosok itu muncul. Echa menatap hampa Erro yang tengah bersama Riska di taman rumah sakit. Diam-diam Echa mengamati mereka. Rasanya selalu aneh ketika melihat Erro bersama perempuan selain dia atau Zaza. Riska tampak tengah mendorong Erro yang duduk di kursi roda. Keduanya tertawa riang sambil menjelajahi taman. Entah apa yang mereka obrolkan, namun sesaat kemudian Riska menghilang ke arah lorong menuju kantin. Sehingga di taman hanya ada Erro yang tengah memandangi air mancur. Echa terdiam menatapnya. Perasaan rindu menderanya. Erro tidak pernah bersama orang lain selain dirinya. Hal itu membuat hatinya sedikit nyeri. Melihat fakta bahwa sekarang Erro tertawa bersama orang lain. Entah keberanian dari mana, Echa memberanikan diri mendatangi Erro. Laki-laki itu tengah melamun ketika dia berdiri di sampingnya. Melihatnya Echa hanya bisa gelagapan. Dia tidak tahu harus berkata apa. Semua terasa begitu berbeda sekarang. Echa berjongkok pelan. Seulas senyum canggung terukir. “Hai Ro, lagi apa?” Perlahan Erro menoleh. Tatapannya yang semula hangat mulai menajam. Dia mendengus sebentar kemudian kembali menatap air mancur. Seolah dia tidak melihat siapa pun. “Lagi apa?” Echa mengulangi pertanyaannya lebih pelan. Erro menatap lurus ke depan. Dia tersenyum sinis. “Lo pikir apa yang bisa gue lakuin? Lari? Main bola? Buat jalan aja susah.” Perkataan itu menohok tepat di hati Echa. Pertahanannya rubuh dan dia terduduk di atas rerumputan. Sambil tersenyum miris dia berucap, “Kalau lo butuh kaki, gue akan jadi kaki buat lo.” Erro menoleh dengan wajah dingin. Sama sekali bukan Erro yang dikenalnya. “Gue nggak butuh kaki lo. Gue punya kaki gue sendiri meski nggak sepenuhnya normal.” Lagi. Echa merasakan nyeri di hatinya. “Ro, maafin gue.” “Gue nggak butuh maaf lo. Mending lo pulang aja.” Echa terdiam. Bibirnya tampak bergetar. Rasanya begitu sesak. Dia ingin menangis, tapi dia tak ingin Erro menertawakannya karena begitu menyedihkan. Akhirnya seulas senyum paksa muncul di wajah Echa. “Oke, gue akan pulang, Ro. Kalau itu yang lo mau.” Echa menghembuskan nafas panjang. Berbalik dan melangkah menjauh. Sayangnya seseorang muncul dari kejauhan. Langkahnya yang semula cepat mulai melambat. Sosok itu menatapnya heran. Sosok itu Riska. “Hai... Fahrenza, kan?” sapanya canggung. Dari mana dia tahu? Mereka bahkan belum berkenalan dan belum pernah bertemu sebelum ini. Echa memaksakan seulas senyum. “Hai—Mariska?” Riska tersenyum dan mengangguk. “Kok pulang? Udah selesai ngobrol sama Erro?” “Aku nggak bisa lama-lama.” Echa memotong cepat. Dia tersenyum. “Makasih udah jagain Erro. Sampai ketemu lagi.” Riska terdiam menatap punggung Echa yang bergerak menjauh. Tampak bahwa bahunya bergetar menahan tangis. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Tapi, dia tidak tahu apa. *** Erro menatap ruangan di sekelilingnya. Putih bersih dan sangat rapi. Beda sekali dengan beberapa hari lalu waktu dia memporak-porandakan kamar ini. Dia merasa sedikit bersalah untuk hal itu. “Jangan bengong, nanti lo kerasukan jin terus ngamuk lagi.” Suara Ello terdengar dingin dan kejam dalam waktu bersamaan. Erro mendongak dan melihat sosok Ello tengah membawa kursi roda ke dalam kamar. Satu tangannya lagi membawa sepasang kruck. Erro meliriknya tak suka. “Apaan, sih? Gue nggak mau pake gituan lagi di rumah,” ucap Erro jengkel. “Nggak, kok. Cuma beberapa hari aja. Abis itu lo bisa pake kruck. Tadi Dokter Fabrian sendiri yang bilang.” Erro mendesah frustasi. Dengan susah payah dia beranjak turun sambil berjingkat menggunakan kaki kirinya. Bibirnya tampak menahan rasa sakit sewaktu dia akhirnya berhasil duduk di kursi roda. “Makanya jangan bawel. Duduk aja enak.” Ello menyindir. “Lo yang berisik, El. Pagi-pagi udah ngomel.” Ello mengedikkan bahu cuek. Lalu sibuk membereskan semua pakaian Erro ke dalam koper berukuran sedang. Setelah beres dia segera berlarian ke luar sambil menenteng koper tersebut. Lalu kembali lagi dan mendorong kursi rodanya. Setengah hati Erro merasa tak enak. Dari kemarin dia sudah membuat repot banyak orang. Dia merasa bersalah pada semua orang. Tapi, ada satu sisi dalam hatinya yang belum rela menerima kenyataan. Tentang kakinya tentu saja. Mobil audi milik Ghani sudah terparkir di lobby luar waktu mereka datang. Ghani tersenyum lebar melihat putranya yang kini tampak sehat. Dia bergerak membuka pintu samping dan tersenyum. “Ayo pulang, banyak yang nunggu kamu.” Ello yang sibuk menyetir melirik melalui kaca spion. Tampak sekali wajah kembarannya yang terharu dengan perlakuan ayahnya. Sudah lama sekali mereka membentengi diri. Sekarang akhirnya benteng itu musnah secara perlahan. Ello tersenyum miring sambil melanjutkan menyetir. *** Rumah milik keluarga Zanuar yang biasanya sepi seperti rumah hantu kini terasa begitu hidup. Semua orang tengah menyiapkan kejutan karena si pemilik rumah hari ini akan pulang. Di halaman belakang Zaza tengah merapikan kebun bunga. Lalu Rifky dan Angga menyiapkan pesta kecil-kecilan di sekitar kebun. Sementara Fathur malah merengek-rengek meminta makanan. Bukannya membantu, dia sibuk mengusili Zaza dan Echa yang tengah memasak. Izzy sendiri hanya duduk di belakang mereka dan mengawasi tingkah laku Fathur yang sering kali menggombali Echa dan Zaza. “Ehem...” Izzy berdeham dan melirik Fathur dengan kejam. “Gue cuma mau bantu doang. Sensi amat, Bang.” Fathur membeo. Izzy melangkah dan menyeret Fathur menjauh. “Sini lo, daripada gangguin orang lagi masak. Mending temenin Zio main bola di halaman. Buruan sana!” “Ya ampun gue diusir, suruh ngurusin anak kecil.” Fathur menggerutu sambil melangkah menuju pintu keluar. Izzy tersenyum bangga melihat bocah tengil itu sudah hilang dari pandangannya. Dia tersenyum riang dan segera merampas pisau dari tangan Echa. “Ihh, Kak Izzy apaan, sih?” Echa mencebik sebal. “Brokolinya masih banyak, nih.” “Serahin aja semua sama gue!” Izzy menjawab riang. Echa tahu maksud dari tatapannya. Artinya laki-laki itu ingin berduaan dengan Zaza. Echa mendengus dan memilih segera pergi. Dia bisa dengar Izzy berseru riang saat dia menyerah dan menyingkir. “Awas kalau motongnya nggak bener.” Setelah mendapat seruan dari Izzy, baru Echa memilih melakukan hal lain. Dia sibuk mengamati semua sudut di dalam rumah Erro yang baru kali ini benar-benar dia lihat. Jujur saja, dia jarang sekali berkunjung ke rumah Erro. Berbeda dengan Erro yang setiap hari muncul di rumahnya. Seakan rumah Echa adalah rumahnya sendiri. Echa melangkah menaiki tangga. Tiba-tiba langkahnya terhenti pada dua buah pintu yang bertuliskan nama Arnaferro dan Arviello. Selama bertahun-tahun, baru kali ini dia melihat kamar Erro. Kamar itu benar-benar ada di depannya. Entah mendapat dorongan dari mana, dia melangkah memasuki kamar tersebut. Hal yang pertama kali dilihatnya nyaris membuatnya tak percaya. Echa mengedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. Semua itu nyata. Foto-foto itu nyata. Bukan hanya ilusinya semata. Echa merasa lututnya melemas. Dia meraih gagang pintu untuk menyangga tubuhnya yang tiba-tiba terasa seperti jelly. Puluhan foto yang tertempel menghiasi dinding itu membuatnya  nyaris tak bisa berkata-kata. Hanya mematung tanpa bersuara. Dia beneran suka gue... Beneran. Beneran. Echa menatap foto-fotonya yang menghiasi nyaris seluruh dinding di kamar Erro. Semua tentangnya. Hanya dia. Fotonya sejak masih memakai baju merah-putih—yang entah dia dapat dari mana, sampai fotonya ketika memakai baju putih-abu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Setetes air mata mengalir turun. Echa meraih sebuah bingkai foto dan memeluknya lama. Merasakan kepingan memori masa lalu yang kini menari-nari memenuhi pikirannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN