Mobil audi hitam milik Ghani memasuki pelataran rumah. Dari jendela tampak Erro yang berusaha turun menggunakan kruck. Ello mengawasinya sambil menyiapkan sebuah kursi roda di depan pintu mobil.
“Ayo Ro, kita masuk.” Ello berteriak senang.
Erro mengernyitkan dahi heran. Tak biasanya Ello bersikap seheboh itu. Dalam hatinya mulai menaruh kecurigaan.
“Kok diem? Ayo masuk!” perintah Ello.
Erro masih mengernyit sebelum akhirnya mengalah untuk membuka pintu coklat di hadapannya. Ternyata tidak dikunci.
Erro melongokkan kepalanya. Sepi. Sama seperti biasanya. Tidak ada siapa pun kecuali—
DOOORRR.
Tiba-tiba suara riuh itu bergema bersamaan dengan semburan pita dan kertas warna-warni yang entah berasal dari mana. Lalu beberapa orang berseru heboh sambil meniup-niup terompet.
“WELCOME BACK, RO!”
Ello tersenyum tipis. Dia menepuk pelan pundak Erro. “Selamat datang ke rumah, Ro.”
Erro masih terdiam. Punggungnya tampak bergetar. Ello bisa melihat sebuah pancaran emosi yang tiba-tiba menyala dari mata saudaranya.
“Ro?”
Kasar. Erro menghempaskan tangan Ello. Kemudian menatap nyalang teman-temannya satu per satu.
“Jadi, menurut kalian kecelakaan gue ini sesuatu yang bisa dirayain?!”
Suasana menjadi hening seketika. Erro langsung mengeluarkan tatapan tajamnya pada orang-orang. Dengan sekuat tenaga dia bangkit dari kursi roda dan meraih kruck-nya. Ghani menghentikan gerakannya seketika.
Ghani menatap marah Erro. “Teman-teman kamu sudah susah payah menyiapkan ini semua. Tolong hargai sedikit!”
Erro terdiam. Masih dengan memegangi kruck-nya. “Erro nggak minta mereka nyiapin kayak gini!”
Ghani menyentak tangan Erro dengan kuat. Kedua mata lelaki itu menyalang tajam. “Buang sifat egois kamu, Ro!”
Izzy maju berusaha menengahi ayah dan anak yang sedang bersitegang itu. “Udahlah, Om. Mungkin Erro butuh istirahat, jadi dia nggak mau ada keributan apalagi pesta kayak gini.”
Erro menatap Izzy dengan pandangan yang dingin. “Bang Izzy berhenti sok peduli sama gue!”
“Gue udah nganggep lo adik gue sendiri sejak dulu. Bisa-bisanya lo mikir kayak gitu.”
“Bukannya waktu kecil lo sempet benci sama gue gara-gara gue sahabatan sama Zaza. Jadi sekarang lo anggap gue—”
“Erro! Jaga ucapan kamu! Kenapa dari kemarin sifat kamu jadi aneh begini?!” Ghani semakin marah besar melihat sikap anaknya itu.
Sekarang pandangan Erro tertuju pada Ghani yang tengah menatap matanya. Erro merasa ketika melihat mata ayahnya dia menyimpan segudang emosi, dendam, dan kemarahan.
“Papa juga! Kenapa Papa sok peduli sama Erro? Ke mana aja Papa selama ini? Apa kaki Erro harus diamputasi dulu biar Papa datang ke Erro?”
Ghani terdiam. Setumpuk perasaan bersalah menghinggapi hatinya. Dia memandang anaknya dengan pandangan yang rapuh. Lebih lagi Erro yang hanya mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku tangannya memutih.
“Gue nggak butuh dikasihani! Gue udah biasa sendiri!” kata Erro dengan nada yang lebih tenang. Dia berbalik dan dengan langkah pincang berjalan memakai kruck. Langkahnya tampak tersendat ketika menaiki tangga.
“Ro...” Ghani berseru lirih.
Erro menghentikan langkah sesaat. “Tolong kalian pergi! Gue nggak butuh belas kasihan! Gue pengen sendiri!”
Setelah mengucapkan itu, Erro memaksakan diri menaiki tangga dan meraih gagang pintu kamarnya. Pintu itu setengah terbuka. Aneh. Padahal Erro selalu membiasakan pintu kamarnya terkunci rapat.
Erro meringis tertahan ketika kakinya menapak pada lantai kamar. Rasanya perih dan nyeri sekali. Dengan menahan beratnya, dia memaksakan diri mendorong pintu. Bola matanya langsung membulat tatkala melihat sosok yang paling dicinta sekaligus dibencinya tengah di sana. Sibuk memandangi foto-foto yang nyaris menempel di seluruh kamarnya.
Seumur hidupnya, Erro tidak pernah memberi izin siapapun kecuali saudaranya menyentuh kamar ini. Dan melihat dia—seorang paling terlarang menyentuh kamar ini—malah berada di sini, membuat emosinya naik ke ubun-ubun dan membakar seluruh amarahnya.
“Jangan masuk kamar gue tanpa izin!”
Bentakan kasar itu membuat Echa terkaget dan menjatuhkan pigura di tangannya ke lantai. Dia menoleh dan langsung bertatapan dengan mata tajam elang milik Erro. Echa tampak gelagapan, dia menunduk guna membersihkan pecahan kaca di lantai. Tapi Erro mencekal tangannya.
“Gue mohon keluar!” teriak Erro marah.
“Kenapa lo nggak pernah jujur...” Kalimat itu lolos dari mulut Echa dengan sangat pelan. Bersamaan dengan setetes air mata yang mengalir dari mata beningnya. “Kenapa lo harus menyakiti diri lo sendiri dengan berbuat kayak gini?”
Echa menatap Erro dalam-dalam. Sementara Erro membalasnya dengan pandangan muak. Dia benci dengan gadis ini. Gadis ini pandai bersandiwara di depannya. Apalagi menangis untuknya? Dia tidak akan mudah percaya lagi.
Erro membuang pandangannya. Matanya malah tertuju pada dinding kamarnya yang berlapis ribuan foto. Dia ingin memaki dirinya sendiri. Mengingatnya yang dulu begitu bodoh menggilai seorang Fahrenza adalah hal paling menjijikkan dan memuakkan.
Erro melangkah maju. Dengan gerakan kesetanan dia melepasi foto-foto yang tertempel di kamarnya. Lalu menyobeknya tanpa ampun di depan Echa. Kemudian dengan kejam membuang seluruh potongannya ke lantai. Seakan potongan kertas foto itu tak ada lagi harganya.
Echa memandang Erro tak percaya. Sekuat tenaga dia menahan tangisnya. Pelan dicengkeramnya tangan Erro untuk menghentikan aksi brutalnya merobeki foto.
“Berhenti, Ro. Berhenti!”
Erro menepis tangan Echa dengan kasar. Dia berteriak dengan suaranya yang kasar dan nyaring. “Ini barang-barang gue. Terserah gue mau ngapain. Lebih baik lo keluar dari kamar gue sekarang! Pergi jauh-jauh dan jangan pernah kembali ke sini!”
“Tolong...” Echa menyerah. Air matanya jatuh berlinangan. “Gue sedih lo robekin foto gue. Please, jangan...”
Erro mulai kalap. Dia mendorong bahu Echa dengan kasar hingga cewek itu jatuh terbentur meja. Beberapa miniatur kaca berjatuhan dan mengeluarkan bunyi menakutkan. Echa hanya bisa menangis tanpa suara.
Erro tidak peduli dengan wajah penuh tangisan itu. Dia sudah muak dengan semua benda ini. Dia malu pada dirinya yang menjadi seorang pemuja paling menyedihkan. Dia jijik mengingat pernah membodohi diri sendiri dan menjatuhkan hati pada orang yang salah. Dia benci tertangkap basah mencintai seseorang dengan penuh kegilaan yang fana. Dia menyesal mencintai seoang Fahrenza. Dia ingin menhancurkan seluruhnya tanpa sisa.
“Arnaferro, stop! Please, stop!”
Suara itu muncul tiba-tiba membuat Erro seketika menghentikan aksi brutalnya. Seorang berpakaian putih datang dan menenangkannya. Kemudian mencengkeram kuat-kuat tangannya seakan dia seorang tahanan penjara. Sementara di sisi ruangan tampak Rio yang segera menghambur pada sosok Echa.
“Lepasin saya!”
“Tolong tenang, Arnaferro!” suara itu milik Fabrian.
“Buat apa dokter ke sini?! Saya bukan pasien lagi!” teriak Erro dengan murka. “Baru aja saya keluar dari rumah sakit, masak harus ketemu kalian lagi!”
Pandangan Erro teralih pada Ghani yang terdiam di sudut ruangan. Pasti ini ulah papanya. Ah, dia muak dengan ini semua. Dia benci dikekang. Dia tidak butuh orang-orang berbaju putih itu. Dia tidak sakit!
“Kamu belum sembuh total, tolong tenang.”
“Sampai kapan pun saya emang nggak bakal sembuh. Kaki saya udah nggak normal. Saya nggak bisa jadi pemain sepak bola. Impian saya udah hancur!”
“Arnaferro!” Fabrian tampak emosi. Dia sedikit menarik kasar pasiennya. Erro memberontak dan berhasil melepaskan diri hingga kini dia terjatuh di pojok ruangan dengan posisi meringkuk.
“Jangan ganggu saya! Pergi—arghh!” Erro mengerang sambil mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Lagi-lagi kepalanya berdenyut setelah sekian lama membaik. Semua sangat buruk bagi tubuh dan hidupnya.
“Beri dia obat bius, Sus. Atychiphobia syndrome-nya kambuh.”
Fabrian memberi instruksi pada asisten perawatnya untuk memberi obat bius. Erro sendiri langsung memberontak ketika melihat sinar tajam jarum suntik di hadapannya. Dia meronta ingin dilepaskan.
“Jangannn!”
Teriakan itu bergema dari ujung ruangan membuat asisten Fabrian menurunkan suntikannya tiba-tiba. Mereka menoleh dan melihat dua orang tengah berdiri di pintu kamar. Echa mengenali salah satunya sebagai Mariska. Satunya lagi adalah seorang ibu-ibu paruh baya.
“Tolong dokter, jangan lakukan ini. Kalau dokter terus membiusnya, ini akan semakin buruk buat Erro.” Riska mendekat perlahan.
Fabrian terdiam. Matanya menatap lurus pada gadis seusia anaknya yang balas menatap dengan mata percaya diri itu. Dia cantik dan menawan dengan aura tegas yang menguar kental.
Fabrian tahu gadis ini yang selalu menjadi pembicaraan para suster di bangsal kamar Erro. Tentang gadis cantik dan manis yang berhasil menenangkan seorang Arnaferro. Dia adalah obat ampuh untuk penderita Atychiphobia dengan tingkat emosional yang sangat hebat seperti Erro.
“Apa kamu membawa obat lain?” Fabrian menantangnya. “Mariska Rosiana?”
Riska tesenyum gamang. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Satu hal yang diinginkannya adalah melihat orang yang dia cintai sembuh. Dan melihat Erro seperti itu adalah cambuk paling besar baginya.
“Ro...”
Riska bersimpuh di hadapan Erro. Mata beningnya menatap mata Erro yang kosong. Hatinya terasa sesak dan sakit bertubi-tubi. Dia tidak pernah melihat orang yang dicintainya sehancur ini. Tidak pernah. Erro mungkin sudah berkali-kali hancur dalam hidupnya. Tapi ini adalah kehancurannya yang paling tidak sanggup untuk Riska lihat.
“Ro, jangan kayak gini.” Suara Riska makin serak. Sarat oleh tangisnya yang tertahan.
“Harusnya sekarang gue udah di Jerman,” Hanya kalimat itu yang berhasil lolos di mulut Erro.
“Masih ada mimpi lain, Ro.” Riska meraih tangan Erro dan menggenggamnya kuat-kuat. “Ro, gue tahu ini su—”
Sebelum Riska melanjutkan, Erro sudah menerjang ke pelukannya. Membenamkan wajah dalam-dalam pada pundak Riska. Dan mulai menggumamkan segala sesak yang menggumpal di hatinya.
Riska memejamkan mata rapat-rapat. Pelan diusapnya punggung Erro untuk menyalurkan ketenangan.
“Jangan pergi dari gue, Ris. Gue takut... Gue takut sama mereka...”
Pemandangan itu adalah yang menakjubkan sekaligus menghancurkan bagi Echa. Setetes air mata mengalir turun dari matanya. Dia tidak tahu perasaan apa yang menyanderanya. Tapi perasaan ini merintih kesakitan. Begitu nyeri dan perih secara bersamaan.
Echa bisa merasakan hangat tangan Rio meremas kuat tangannya. Berusaha menyalurkan kekuatan baginya. Tapi, itu tak berpengaruh. Pelan dia menarik tangannya dan bergumam lirih pada Rio. Kemudian pergi ke luar dengan langkah tergesa tanpa menghiraukan seruan teman-teman lainnya.
Rio bersiap mengejar, tapi Ello menghalangi jalannya dengan cepat. “Kasih Echa waktu, Ri.”
Rio menatap Ello tak yakin. Sosok yang nanti menjadi teman satu fakultasnya itu hanya mengangguk penuh keyakinan. Rio hanya bisa menghela nafas pasrah.
***
Riska terus menggenggam tangan Erro selama laki-laki itu tertidur. Wajah itu tampak begitu pucat dan lelah. Untungnya setelah menghabiskan makan siang, dia akhirnya tertidur.
Riska menghela nafas lega. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Erro. Sebisa mungkin dia akan menjaganya. Karena dia tidak akan pernah sanggup melihat Erro menderita. Bahkan jika kaki Erro lumpuh sekalipun, dia akan mengganti dengan kakinya sendiri.
Suara keritan pintu membuat Riska menoleh. Dia tersenyum tipis tatkala melihat Fabrian melangkah mendekat. Aura dedikasi yang tinggi menguar kental dari dokter tersebut.
“Terima kasih atas bantuanmu, Nak.”
Riska mengangguk pelan. “Iya, Dok. Sama-sama.”
Fabrian tesenyum tiba-tiba. Dia mengingat kembali percakapan yang dilaluinya dengan Ghani dan Astri barusan.
“Saya sudah tahu semuanya. Tentang kalian dan yayasan.”
Bola mata Riska mengembang. “Maksud Dokter?”
“Kamu dan Erro. Juga Yayasan milik Bu Astri?” Fabrian tampak memastikan.
Riska memaksakan seulas senyum. Dia tahu arah pembicaraan Dokter Fabrian. Dia sangat tahu.
“Sebagai anak yang lahir di keluarga nggak lengkap, saya tahu apa yang Erro rasakan, Dok. Sejak kecil saya memiliki segalanya. Apapun yang saya mau pasti bisa saya dapat. Tapi, semakin saya besar, saya semakin tahu arti kesepian. Saya sadar uang nggak bisa menemani saya selamanya. Papa yang selalu sibuk bekerja. Kakak yang kuliah di luar negeri. Dan... Mama yang hanya bisa saya lihat di foto—”
Riska terdiam. Pandangannya mulai merenung. Sebisa mungkin dia melanjutkan. “Saya benci sama hidup saya, Dok. Sampai suatu hari saya bertemu Erro. Dia punya hidup yang sama dengan saya. Dia mengajari saya untuk mengikhlaskan semua yang terjadi. Dan mulai melakukan hal yang lebih berarti, seperti berbagi melalui yayasan milik Bunda.”
Fabrian tersenyum lagi. Dia menepuk pelan bahu Riska. Hangat. Seperti perasaan ayah kepada anaknya. Seolah mengerti, Riska mengangguk. Memasrahkan Erro pada Dokter Fabrian adalah hal yang paling benar.
“Terima kasih, Dok.”
Riska berjalan keluar dengan perasaan lega. Setidaknya Erro sudah lebih tenang. Jadi, dia bisa pulang tanpa beban. Sekarang dia harus segera mencari Astri dan mengajaknya pulang karena niat awal mereka hanya menjenguk Erro.
Langkah Riska yang tadinya teratur mulai goyah ketika menabrak kaki panjang seseorang. Riska mengernyit menatap sosok tinggi berkacamata yang bersender pada tembok itu. Dia mengedik acuh, sampai dia sadar bahwa dia berhadapan dengan musuh yang sering disebut Erro. Namanya pasti Mario Fabrian. Anak dokter Fabrian.
“Ada apa?” tanya Riska kemudian.
Dan manusia di hadapannya hanya diam.
Merasa dirinya tidak digubris, Riska memilih untuk berjalan memutar. Sebisa mungkin menghindari tubuh di depannya. Tapi sial, lengannya malah ditarik.
Riska memicing. Gerahamnya menggeretak marah. Dia tidak suka diperlakukan seenaknya. Dengan kesal dia berbalik dan menatap tajam pada Rio.
“Apa ada urusan di antara gue sama lo, Mario Fabrian?”
Rio terhenyak kaget. Dari mana dia tahu namanya?
“Nggak usah sok panik. Gue cuma mau tanya apa urusan lo sama gue?”
Secepat kilat Rio mengembalikan ekspresi wajahnya yang semula. Dengan tenang dia menoleh ke arah Riska dan menatapnya. Ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Lo siapanya Erro?”
“Gue temen Erro. Ada masalah?” Riska menantangnya.
“Kedatangan lo membuat semuanya makin runyam.” Rio berujar tanpa memandang mata Riska.
Riska memicingkan matanya. “Kenapa? Bukankah dengan adanya gue nggak akan ngaruh buat hubungan lo sama Fahrenza?”
Rio terdiam. Dia membeku di tempatnya berdiri. Gadis itu menyimpan skak berkali-kali untuknya. Rupanya dia mengetahui segala hal tentang Erro bahkan dirinya.
Riska menghembuskan nafas gusar. Berbicara dengan orang ini seperti berbicara pada tembok. Tidak direspon sama sekali.
“Gue nggak peduli sama urusan kalian. Gue cuma pengen kembaliin Erro kayak dulu lagi. Gue akan singkirin atychiphobia akut yang dideritanya dan narik dia keluar dari lubang kegagalan. Sampai dia sembuh dan balik jadi Arnaferro yang dulu gue kenal.”
Rio menatap mata itu dalam-dalam. Yakin dan penuh ketegasan. Sorot mata yang percaya diri itu seakan mengatakan bahwa semuanya akan mudah untuk menyelesaikan ini. Rio tidak pernah mengenal gadis dengan ketangkasan besar sebelum dia bertemu dengan sosok Mariska Rosiana yang sebenarnya.
Rio tersenyum miring. “Lo bener-bener cinta mati sama Arnaferro rupanya.”
Riska tersenyum gamang. Dia berbalik dan melangkah cepat tanpa menghiraukan Rio yang terus menatap tajam punggungnya yang menjauh.
Gadis itu sangat percaya diri. Dia berbicara seolah dia tahu segalanya. Padahal, menghilangkan phobia akut yang dialami seseorang akibat kecelakaan hebat bukanlah perkara mudah.
Rio menghela nafas jengah. Dia berbalik pelan dan melangkah memasuki kamar Erro yang kebetulan tepat di sampingnya. Di dalam sana dia langsung disuguhi pemandangan yang membuatnya menganga tak percaya. Tadi dia tak begitu memperhatikannya. Tapi sekarang—ketika benar-benar menatap kamar itu—dia baru sadar bahwa nyaris seluruh dindingnya tertempel foto seorang Fahrenza.
Rio mendekati dinding kamar dan mulai meraba foto yang melapisinya. Semua terjejer dan tertempel rapi. Semuanya tentang Fahrenza. Tidak ada hal yang bukan Fahrenza di sini. Ini benar-benar gila. Erro sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan foto-foto ini.
Pandangan Rio teralih pada kertas-kertas yang berceceran di lantai. Serpihan kertas itu begitu banyak. Bertaburan tak menentu di lantai. Sudah berpuluh-puluh foto yang berakhir tragis di lantai akibat ulah Erro tadi.
“Temanmu ini beneran gila ternyata.” Rio bahkan baru sadar bahwa sejak tadi ayahnya sudah berada disini.
Rio mengedikkan bahu. Dia menoleh dan menatap papanya bingung. “Papa ngomong apa?”
Mata Fabrian tertuju pada dinding kamar Erro. Dia tersenyum tipis. “Bahkan sebelum kecelakan Arnaferro memang udah gila.”
Mulai mengerti, Rio tersenyum mengejek. “Ya, dia emang udah gila bahkan sebelum kakinya hancur!”
Suara langkah kaki mengusik mereka berdua. Di ambang pintu berdiri Echa dengan rupa kacau. Rio bisa melihat wajahnya yang sembab dan matanya memerah. Melihat hal itu, Fabrian memilih segera menyingkir karena tidak ingin terlibat urusan mereka.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Rio panik.
Echa mengangguk lemah. Pandangannya jatuh pada Erro yang tertidur pulas dengan wajah damai. “Erro baik-baik aja, kan?”
“Hmm... dia baik. Dia butuh istirahat dan terapi lebih intensif lagi. Mentalnya buruk dan phobianya semakin hebat, Cha. Erro bisa berubah kapan aja jika atycyphobia tentang kegagalannya jadi pemain sepak bola kumat. Makanya waktu Om Ghani telpon, papa langsung ke sini.”
Echa menggigit bibir. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk Erro. Dia hanya bisa berdoa dan menjaganya. Itupun jika Erro sudi melihatnya lagi.
Echa merasa pandangannya kembali kabur. Samar-samar dilihatnya sobekan foto di lantai. Dia terkesiap dan mengambil kardus di sisi ruangan.
“Gue akan bersihin ini.” Echa memasukkan seluruh sobekan foto yang berserakan ke dalam kardus. Rio buru-buru membantu, tapi Echa mencegahnya.
“Makasih atas bantuan lo, Ri. Gue pulang dulu.”
***
Malamnya Echa menghabiskan waktu tidur dengan menempel kembali serpihan foto yang tadi dikumpulkannya di kamar Erro. Cukup sulit memang untuk menyatukan kembali potongan foto itu. Tapi dia berusaha sekuat tenaga mengumpulkan kembali serpihan satu dengan lainnya. Butuh perjuangan keras karena dia harus mencari potongan lain di dua buah kardus yang isinya penuh.
Pukul 12 malam tenaganya hampir habis, tapi dia masih mencari potongan lain untuk melengkapi foto mereka saat di Bali. Echa mengobrak-abrik kardus itu tapi tak menemukan juga. Sudah berjam-jam dihabiskannya. Tapi dia baru menyelesaikan lima buah foto. Sedangkan foto lainnya masih berhamburan tidak lengkap.
Suara keritan pintu membuat Echa menoleh. Izzy berdiri di ambang pintu dengan pandangan tak percaya. Dia nyaris membelalak melihat lantai kamar adiknya yang penuh potongan foto yang ditata sedemikian rupa.
“Astaga. Lo benerin ini semua?”
Echa tak menjawab. Dia masih sibuk mengobrak-abrik kardus kedua. Berusaha mencari satu potongan lagi saat mereka touring berdua ke Tangkuban Perahu. Tapi sayangnya potongan terakhir itu tidak ditemukan dimana-mana. Dia tampak resah. Wajahnya terlihat sudah sangat lelah. Tapi dia tetap tak berhenti.
Izzy menatapnya khawatir. Cepat ditariknya lengan sang adik agar menghentikan aksi gila itu. Echa tersentak dan menatap Izzy penuh amarah.
“Berhenti, Cha. Berhenti! Nggak ada gunanya lo nyusun foto itu. Lo cuma akan kecapekan. Foto ini banyak banget, Cha. Lo nggak bisa benerin semuanya dengan utuh. Dia udah cacat, udah robek, dan nggak bisa kembali kayak dulu.”
Echa terdiam. Amarahnya hilang entah kemana. Kalimat Izzy itu memukulnya kuat-kuat.
“Apa yang lo harapin dari foto ini, Cha? Apa ketika lo benerin ini kayak semula, Erro juga akan balik kayak dulu? Enggak, Cha!”
Suara Izzy yang begitu nyaring terasa menyakitkan di telinganya. Memaksanya untuk memutar ulang semua yang terjadi. Menyadarkannya tentang fakta yang menghancurkan. Bahwa Erro yang sekarang bukanlah Erro yang dulu. Erro yang sekarang membencinya dan tidak sudi melihatnya.
Echa mulai terisak. Izzy tahu dia berdosa karena menyadarkan Echa dengan cara yang salah. Cepat direngkuhnya sang adik ke dalam pelukan. Echa menenggelamkan wajahnya pada d**a Izzy dan menangis semakin kencang.
“Aku sakit lihat dia dipeluk orang, Kak. Aku nggak sanggup liat dia sama orang lain selain aku. Aku marah dia lebih milih Mariska. Aku cemburu dia meluk Mariska sementara dia hampir bikin aku celaka. Aku sakiiit, Kak. Aku hancur kalau tiap kali Erro begitu.”
Izzy tersenyum memaklumi.
“Lo cinta sama Erro, Cha. Lo nggak bisa bohongin perasaan lo sendiri. Lo sayang sama dia lebih dari sahabat. Lo udah terbiasa sama dia dan itu bikin lo nggak sadar bahwa lo juga udah jatuh cinta sama dia. Selama ini ego lo yang ngalahin perasaan itu.”
Echa masih menangis. Izzy memang benar. “Kakak bener, aku jatuh cinta sama dia Kak. Aku cinta sama Erro. Aku sadar kalau aku nggak bisa hidup tanpa dia.”
Izzy mengangguk. Dia tahu. Pelan diusapnya punggung sang adik guna menyalurkan ketenangan. Waktu terasa berjalan lambat hingga akhirnya Echa tertidur dengan wajah kelelahan.
***