Pukul 6 pagi Echa sudah rapi dengan jeans dan kemeja ungunya. Dia mematut diri di depan cermin. Ada yang salah. Matanya tampak sembab dan wajahnya terlihat pucat. Dia meraih bedak dan mempertebalnya agar wajah menyedihkan itu tak terlihat.
Pelan dia memaksakan seulas senyum. Yah, setidaknya lebih baik. Sebelum Echa sempat melangkah, matanya tertuju pada foto-foto yang disusunnya tadi malam. Beberapa foto sudah utuh kembali meski tampak lecek dan jauh dari kata sempurna.
Echa terdiam sebentar, dia meraih sebuah plester dan mulai menempel foto-foto itu di dinding kamarnya. Sama seperti yang Erro lakukan dengan foto itu. Begitu foto tersusun rapi, matanya langsung menumbuk pada sebuah foto yang diambil ketika mereka pergi ke Anyer.
Di foto itu tampak Erro dengan senyuman cuek yang membuat hatinya bergetar. Dia tidak pernah tahu bahwa kehilangan Erro bisa sesakit ini rasanya. Dia tidak pernah tahu bahwa merindukan Erro mampu membuat tubuhnya seakan mati rasa tak bernyawa. Hilangnya sosok Arnaferro di hidupnya ternyata membawa dampak yang begitu besar.
Echa tersenyum menatap foto itu. Lalu dengan cepat diraihnya tas selempang di pintu kamar dan melangkah keluar dengan mantap.
Taksi yang dinaiki Echa berhenti di rumah megah keluarga Zanuar. Begitu Echa melangkah turun, degupan jantungnya makin kuat. Dia takut. Dia sangat takut jika Erro kembali mengamuk seperti yang sudah-sudah.
Dengan mantap, Echa memberanikan diri melangkah. Dia menekan bel pintu sekali. Terdengar suara orang melangkah dari dalam. Pintu dibuka dan Echa langsung terpana.
“Cha, sorry, gue El. Bukan Erro.” Ello berkata seolah tahu maksud dari pikiran Echa.
Echa mengedip. Oh, ternyata benar. Mata Erro tidak sesipit ini. Astaga, mereka mirip sekali. Apalagi sekarang Ello tak memakai kacamata. Rambutnya juga sedikit berantakan akibat bangun tidur. Dengan gaya seperti itu, mereka mirip sekali.
“Oh... Maaf El. Soalnya kalian terlalu mirip. Lo harus pake kacamata biar gue bisa bedain kalian.” Echa tampak salah tingkah mengira Ello adalah Erro. Harusnya dia sadar kalau Erro pasti tadi sudah mengusirnya.
“Oke. Mmm... omong-omong Erro lagi di kamar kalau lo mau ketemu sama dia.”
Echa terdiam. Dia mengeratkan genggamannya pada rantang di tangan. Bibirnya tampak bergetar. Dia tidak siap jika Erro mengusirnya.
Ello sengaja mendorong bahu Echa. “Buruan. Erro belum sarapan. Gue mau mandi dulu.”
Echa menghembuskan nafas berat. Kemudian beranjak ke dapur dan memindahkan bubur buatan mamanya ke atas piring. Dengan langkah canggung dia segera melangkah menuju kamar Erro.
Di dalam sana Erro tampak sibuk membaca sebuah buku tebal. Echa melirik covernya dan terpekik senang begitu membaca judul buku tersebut. Kumpulan Soal SIMAK UI.
“Lo mau masuk UI juga?” tanpa sadar Echa berseru riang.
Tapi sepertinya dia salah besar melakukan itu. Karena sekarang Erro tampak menggertakkan gerahamnya dengan marah. Tangannya menutup buku itu dengan kasar dan melemparnya.
“Bukan urusan lo!”
Echa menggigit bibir. Dia menunduk guna mengambil buku yang dilempar Erro tadi.
“Tanpa belajar pun lo pasti bisa masuk sana dengan mudah. Soal SIMAK itu pasti cuma kerikil kecil yang nggak ada artinya buat lo.”
Echa tahu pasti dengan kadar jeniusnya yang tinggi Erro bisa lolos.
Sambil meletakkan buku di atas meja, Echa bergumam lirih. “Gue seneng kita bisa barengan lagi di fisipol nanti.”
Ya, jika bukan bola itu pasti fotografi. Satu-satunya jurusan yang akan dipilih Erro pasti Ilmu Komunikasi. Dia tidak mungkin salah. Dia tahu banyak tentang Erro.
Erro menatap Echa dengan pandangan muak. “Jangan pernah lo pikir gue masuk sana untuk ngejar lo! Itu udah nggak ada di kamus hidup gue!”
Perkataan itu seperti palu godam yang memukulnya kuat-kuat. Dadanya begitu sesak. Sakit bertubi-tubi. Sejak kecil Erro selalu memilih sekolah yang sama dengannya. Erro selalu bilang tak ingin berpisah dengannya. Tapi ketika melihat Erro memilih fisipol bukan karenanya membuatnya sedikit sakit.
Echa tersenyum hambar. Dia memalingkan wajahnya ke samping. Matanya langsung tertuju pada dinding kamar. Dia terhenyak kaget. Baru sadar bahwa foto-foto mereka sudah tidak tertempel lagi. Dinding biru itu sekarang sudah bersih, tanpa satu buah foto pun yang menutupinya.
“Gue udah buang semuanya!”
Lagi-lagi Echa memaksakan senyum. Tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Betapa pun jahatnya Erro sekarang, dia akan bersikap baik-baik saja.
“Makan dulu, Ro.”
“Gue nggak laper.”
“Dikit aja, Ro.”
Echa mendekatkan sesendok nasi ke mulut Erro. Laki-laki itu hanya tersenyum sinis dan dengan gerakan cepat menepis tangan Echa. Sehingga sendok itu kini terpental jatuh bersamaan dengan bubur yang berceceran di lantai.
Echa menatap sendok itu dengan wajah pasrah. Dia meraihnya lagi dan mulai membersihkannya dengan tisu. Kemudian menyendokkannya lagi untuk Erro.
Untuk yang kedua kalinya Erro menepis tangan Echa. Sendok itu kembali jatuh dengan bubur berceceran di lantai. Echa tak menyerah. Dia mencobanya lagi dan lagi. Begitu terus berulang-ulang sampai akhirnya Erro menggeram marah.
“Lo tuli, ya? Gue nggak laper! Jangan paksa gue!” Erro melempar bantalnya dan mulai menarik selimutnya tinggi-tinggi. Berusaha membenamkan wajah sedalam-dalamnya.
“Pergi dari kamar gue sekarang!”
Echa menggigit bibir. Berusaha menahan isakannya. Kenapa dia sekarang cengeng sekali? Padahal sejak kecil dia yang lebih sering membentak Erro. Sementara laki-laki itu hanya akan nyengir tak bersalah. Tapi kenapa sekarang keadaan jadi begini menyedihkan? Di mana jiwa egoisnya dulu?
Echa menyerah. Pelan-pelan dia bangkit. Diletakkannya mangkuk bubur di atas meja dan tersenyum tipis menatap Erro yang memunggunginya.
“Buburnya gue taruh meja, ya. Kalau lo laper, makan aja. Mama yang bikinin khusus buat lo.” Echa terdiam sebentar. Dia menunggu Erro menjawab ucapannya. Tapi laki-laki itu malah berbalik menghadap tembok.
“Ya udah. Gue keluar, ya. Kalau butuh apa-apa panggil gue.”
Erro masih diam. Daripada makan hati, Echa memilih segera keluar dari kamar Erro. Wajahnya tampak lesu dan tertunduk. Di ujung tangga dia berpapasan dengan Ello yang menatapnya khawatir.
“Cha, lo nggak apa-apa?” tanya Ello panik.
Echa memaksakan seulas senyum. “Nggak apa-apa kok, El.”
“Jangan bohong, Cha. Pasti Erro bikin ulah lagi, kan?” Ello tampak memastikan. Melihat wajah Echa saja dia tahu gadis itu berbohong.
Akhirnya Echa mengangguk pelan. “Ng... Tapi gue nggak apa-apa, kok. Beneran.”
“Gue harap lo maklumin dia. Setelah kecelakaan itu, jiwa Erro tertekan banget, Cha. Mentalnya juga memburuk. Belum lagi atychiphobia yang nyerang dia. Tubuhnya nggak kuat nerima semua serangan itu sampai akhirnya itu bikin dia jadi kayak gini.”
Echa memejamkan mata. Rasa bersalah kembali menyerangnya. Lagi-lagi suara Rio dan Dokter Fabrian terngiang di telinganya. Sama seperti penjelasan Ello barusan. Keadaan Erro sangat buruk. Ya, penyebabnya adalah dia. Fahrenza.
“Gue tahu, El.” Echa memaksakan seulas senyum. Dia bersiap menuju dapur. Tapi, langkahnya terhenti kala mengingat sesuatu.
“El, lo tahu foto yang ada di kamar Erro?!”
Ello langsung memasang wajah bersalah. Dia segera menarik Echa menuju gudang bawah tanah. Di bawah sana terlihat tumpukan kardus yang masih baru. Echa segera membukanya satu persatu. Benar saja. Semua kardus itu isinya adalah foto di kamar Erro.
“Sori banget, Cha. Gue dipaksa Erro buat lepasin itu semua.”
Echa menggeleng. Dia malah tersenyum sumringah. “Nggak apa-apa, El. Thanks banget ya udah simpen ini. Gue kira ini dibuang Erro beneran.”
“Yes, sama-sama.”
Echa masih tersenyum. Setidaknya dia bersyukur Erro tidak benar-benar membuang benda berharga ini. Jadi, dia bisa menggantikan Erro untuk menyimpan ini.
***
Selama menjalani rawat jalan pun, Erro tak pernah luput dari pengawasan Dokter Arman dan Dokter Fabrian. Selama seminggu dua kali mereka akan secara bergantian memeriksa kondisi Erro. Dan hari ini jatuh pada Dokter Fabrian. Sudah pasti akan ada Rio yang mengikuti ayahnya. Kadang itu membuat Erro jengkel dan ingin menikamnya.
“Hai Ro, Om harap kondisi kamu sudah membaik.”
Erro tersenyum malas. Lebih lagi pada Rio yang dengan seenaknya berkeliaran di dalam kamarnya. Contohnya seperti saat ini ketika dia mengamati barang-barang di kamarnya dengan penuh selidik.
“Foto-foto lo ke mana?”
“Bukan urusan lo!” Erro menghardik marah.
Rio tersenyum miring. “Kenapa? Lo malu akhirnya rahasia lo sebagai paparazzi handal terungkap?”
Erro menatap Rio dengan sinis. “Terserah lo mau ngomong apa.”
Fabrian yang melihat ketegangan di antara mereka buru-buru berdeham. Dia paling tidak suka ada keributan. Apalagi jika anaknya yang memulai dan malah memancing emosi pasiennya yang tidak stabil.
“Jadi, ada keluhan apa, Ro?” tanya Fabrian kemudian.
“Seperti yang dokter lihat. Saya tetep nggak bisa jalan normal dan main sepak bola lagi!”
Jawaban sinis dari Erro membuat Fabrian menghembuskan nafas jengah. Lagi-lagi yang dibahasnya soal sepak bola. Pasiennya satu ini yang dibahas selalu sepak bola. Padahal dengan kondisi kakinya yang sekarang akan sulit baginya untuk bermain sepak bola lagi.
“Dokter nggak bisa jawab, kan?!”
Fabrian tersenyum simpul. “Keajaiban itu selalu ada kalau kamu mau percaya.”
“Saya nggak per—”
“ERRO!!”
Suara langkah kaki bersahutan terdengar dari ujung kamar Erro. Dari sana muncul sosok Fathur yang berlarian heboh disusul oleh Izzy. Dokter Fabrian dan Rio hanya bisa bengong menatap Fathur yang langsung berhambur ke pelukan Erro. Erro sendiri langsung memasang wajah sinis.
“Apaan, sih?” Erro berteriak kesal.
“Lo harus denger, Ro! Gue habis diterima SBMPTN Ilmu Politik, Ro!” Fathur berteriak heboh sambil terus mengeratkan pelukannya.
Erro berusaha melepaskan diri. Dia mendorong Fathur sekuat tenaga. “Lebay banget, sih!” sinisnya.
“Ihh biarin sekali-kali lebay! Gue kan seneng, bro. Lo tahu sekarang gue jadi juniornya Bang Izzy, lho. Hahaha...”
Izzy meninju bahu Fathur keras-keras. “Awas lo junior, nanti bakal gue siksa!”
Rio menggumam dengan nada mengejek. “Gue masuk kedokteran nggak seheboh itu.”
Fathur yang semula berteriak heboh langsung memasang wajah jengkel. “Sorry deh, calon Dokter Mario Fabrian yang terhormat. Sorry banget kalau gue emang lebay,” ujarnya dengan penuh penekanan. Rio langsung mendengus.
Fabrian tertawa melihat tingkah anak-anak itu. Dia tersenyum ke arah Fathur dan menepuk pundaknya. “Kalau begitu selamat, ya.”
“Makasih, Dok!” Fathur kembali heboh. Kemudian dia mengguncang-guncang bahu Erro. “Anak-anak Fourty D semua diterima juga, Ro. Rifky di Jogja. Angga di Bandung.”
“Bagus, deh.” Jawab Erro pada akhirnya. Dia menarik selimutnya dan membenamkan diri. Hanyut dalam pikirannya sendiri. Bahkan suara orang di sekelilingnya tak lagi didengar. Mereka seperti lenyap dan hilang. Diam-diam pandangannya tertuju pada buku tebal yang tergeletak di meja.
Sungguh dia ingin berhasil seperti mereka. Tapi... Dia takut gagal untuk yang kedua kalinya!
***