Panti asuhan itu terlihat bersih dan rapi seperti biasanya. Dari balik kaca mobilnya, Erro bisa melihat dengan jelas pekarangan yang dulu sering digunakannya untuk bermain bola. Masih asri dan berumput segar. Seperti terakhir kali saat dia bermain bola bersama anak-anak. Shit! Lagi-lagi perasaan sakit bertubi-tubi itu menyerangnya. Kepalanya juga mulai pening. Argh, Erro tidak mampu menatap pekarangan itu lama-lama! Cepat dia membuka pintu dan menurunkan kakinya pelan. Rasanya masih nyeri dan perih. Tapi dia sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini. Toh, selama ada kruck dia bisa tetap berjalan. “Erro!” Seruan kencang Riska muncul tiba-tiba. Gadis itu berlarian dengan panik dan langsung menangkap lengan Erro. Berusaha menopangnya dengan sekuat tenaga. “Kok lo datang tiba-tiba? Lo kan b

