Kuintip sedikit sosoknya, dan nampaknya ia datang sendiri tak bersama dengan pengawalnya malam ini. Sepertinya kedatangannya kali ini tak di rencanakan dulu sebelumnya.
Aku mengangguk, saat Gadis melemparkan tatapnya seolah memberiku kode bahwa ini adalah saat dirinya untuk menemani buronku yang tiba-tiba saja datang itu.
Beruntungnya, Gadis belum melepaskan alat penyadap yang terpasang di bagian kancing kemejanya yang sebelumnya sudah di siapkannya.
“Gadis...”
Panggilnya, nadanya sedikit berbeda dari yang kudengar sebelumnya, jauh lebih rendah dan lebih berat, bahkan banyak napas yang ikut keluar bersama dengan namanya yang baru saja di panggilnya.
“O-oh... aku kira kau tak akan datang...”
Gadis terdengar sedikit gugup, ia pasti sangat tak biasa karena harus bertemu dengannya di luar seperti sekarang ini. Bahkan kuperhatikan dari balik mobil yang cukup untuk menjadi tempat persembunyianku, matanya kini tengah awas melihat ke sekeliling, memeriksa dan kutebak ia pun di buat bertanya-tanya, mengapa tak ada pria berjas hitam yang selalu mengawalnya mala mini.
“Kau sendiri? Pengawalmu...?”
Gadis bertanya begitu dan terlihat Leon kini malah menyunggingkan senyumnya mendengar itu.
“Kau tahu profesiku ini apa?”
Tanya Leon tiba-tiba, Oh Gadis kuharap kau tak menjawab dengan jawaban yang cukup untuk menimbulkan kecurigaannya...
“Ehmm... CEO? Atau dari pangeran dari keluarga kerajaan mungkin?”
“Hahahahhh... Kau ini ada-ada saja Gadis...”
Akupun jadi ikut terkehkeh geli karena jawabnnya itu. Seharusnya kuajari dirinya cara berakting yang baik dan membuat kebohongan yang lebih baik lagi dari itu.
‘Isi kepalanya itu yang benar saja... masa iya si bandar itu berasal dari keluaraga kerajaan ckckk...’
Batinku,
“Aku ini hanya seorang pengusaha... tapi usahaku harus kulakukan dengan sangat hati-hati, bahkan harus sangat di jaga kerahasiaannya”
Ucapnya pada Gadis,
Tentu saja ia harus hati-hati, karena kalau tidak ia akan di bekuk olehku dan semua penegak hukum karena sudah berani-beraninya memproduksi bahkan mengerdarkan narkoba di negara ini.
“Ahh...”
Gadis hanya ber-ah saja begitu mendengar ucapan leon itu.
“Kenapa ‘ah’ saja? Kau tak ingin bertanya apa sesuatu yang sangat rahasia itu?”
Tanya Leon yang terlihat sedikit bingung karena reaksi Gadis yang seperti tak penasaran atas apa yang di lakukan oleh Leon itu.
“Karena itu rahasia... jadi tentu aku tak boleh bertanya, kalau aku bertanya, dan kau menjawabnya, itu bukan rahasia lagi namanya...”
Leon tersenyum pada Gadis yang nampaknya cukup untuk bermain aman, bahkan seperti available untuk bisa dekat dengannya.
‘Ada bagusnya juga Gadis yang menanggapi Leon seperti itu, dengan bersikap seolah acuh dan tak penasaran, hingga terkesan tak begitu ingin tahu soal apa yang di kerjakan oleh Leon... membuatnya jadi merasa aman dan tak perlu mengkahawatirkan kalau ia akan sampai mengalami kebocoran informasi...’
“Ia cukup berbakat juga menjadi mata-mata’
Gumamku pelan.
“Ayo masuk, kita berbicara di dalam saja”
Gadis kulihat mulai berbalik dan akan masuk ke dalam Club, namun tangan Leon menahannya agar tak sampai masuk ke dalam.
“Apa kemarin kau terluka karena aku?”
Tanyanya begitu,
“Ehmm sedikit, rupanya aku tak cukup kuat untuk menahan tubuhmu”
Balas Gadis,
Dan yang baru kuketahui adalah ekpresi khawatir seperti itu juga bisa di miliki oleh seorang bandar seperti Leon.
“Maaf...”
“....”
Apa aku tak salah dengar barusan? Dia-... meminta maaf pada Gadis yang sudah di buatnya memar? Apa dia tak ada niatan untuk meminta maaf juga pada korban akibat mengkonsumi narkoba yang di buatnya itu.
“Tak apa, lagi pula tadi aku sudah di obati...”
“Oleh siapa?”
Tanyanya, jantungku di buatnya jadi sedikit gemetaran, lumayan penasaran dengan jawaban yang akan di ucapkanya.
“Ada kakakku tadi yang bantu mengobati, jadi taka pa... aku sudah baik-baik saja sekarang”
.
Kakakku...
Sulit untuk tak sampai menyunggingkan senyumku setelah mendengarnya. Aku di anggapnya sebagai kakak, tchh... lucu sekali dia itu. Padahal tadi aku dengannya sempat ribut tak ingin menjadi kakak beradik, tapi ternyata ia malah berketa seperti itu pada Leon.
“Apa benar sudah baik-baik saja?”
“Tentu, kau tak tahu saja kalau aku ini adalah wanita kuat”
Ucapnya bertingkah seolah baik-baik saja.
Dalam hati, bisa-bisanya ia berucap seperti itu. Padahal saat kutemukan dirinya tadi pagi, ia meringis kesakitan karena memarnya itu.
“Ayo masuk...”
Sekali lagi Gadis mengajaknya.
.
.
.
Autor pov
“Kemari biar kuperiksa...”
Ucap Leon sambil meraih tubuh Gadis dan membuatnya kini jadi berada dalam pangkuannya.
“O-ohh... tak usah, aku sudah di obati-“
“Tak apa, aku tak akan melakukan hal lainnya, sungguh... aku hanya ingin melihat lukamu”
Ucapnya, dan tanpa basa-basi lagi Leon kemudian langsung saja menarik resleting belakang gaun yang di gunakan oleh Gadis.
Sreettt
Dan...
Jatuhlah sudah gaun malam off shoulder yang Gadis kenakan malam ini. Jelas kedua tangan Gadis dengan cepat langsung menutupi bagian dadanya yang kini jadi tak tertutupi apapun itu.
“Ahh... kau sampai mendapat luka seperti ini...”
Namun sepertinya pandangan mata Leon kini hanya focus pada bagian memar pada area memarnya saja. Leon tak terlihat ingin mengambil kesempatan untuk melakukan hal yang tidak-tidak padanya, begitu pikir Gadis.
“Ah, aku bawakan ini untukmu...”
Leon kemudian terlihat membawa sebuah salep oles dalam ukuran 50 ml,
“Ini vitamin K bisa membantu mempercepat pembekuan darah, dan tentunya itu bisa membuat lukamu ini jadi cepat membaik...”
Ucapnya pada Gadis,
“Akan kuoleskan ini pada area memarmu...”
Ia kemudian mulai mengeluarkan sedikit isi salep yang berbntuk gel itu lalu mengoleskan perlahan dan hati-hati pada area memar di tubuh Gadis.
“Ahh...”
Gadis sedikit meringis saat tangan Leon menyentuh bagian kulit tubuhnya yang berwarna keunguan itu.
“Maaf, aku akan lebih hati-hati...”
Ucapnya, dan tangan yang tengah mengobati luka memar Gadis itu, terlihat begitu telaten mengoleskan luka pada tubuh perempuan muda itu.
“Sudah...”
Pandangan Leon kemudian beralih, tengah lekat menatap wajah Gadis yang terlihat tegang sekali saat ini.
“Tenanglah... aku sudah di peringatkan untuk tak menyentuh semua wanita milik madam Jennie...”
Ucapnya pada Gadis,
“Aku bantu untuk berpakaian kembali”
Dengan perlahan Leon menurunkan tangan yang menutupi kedua d**a Gadis itu, sampai terpampanglah nyata dua buah d**a yang terlihat masih begitu ranum itu.
“Sepertinya belum pernah ada yang menjamahnya, bukan begitu?”
Mendengar tanya Leon itu, pipi Gadis mendadak berubah jadi sangat merona karenanya. Leon yang melihat hal itu langsung di buat tersenyum karena kepolosan Gadis yang menurutnya sangat tak cocok berada di dunia malam ini.
“Aku tahu... mengapa kau begitu terkenal di sini... Gadis... namamu, menunjukan siapa dirimu, bahkan madam Jennie juga menjadikanmu primadona karena auramu yang sangat polos namun juga sangat menarik bahkan memikat perhatian semua kaum adam, membuat mereka tergoda dan berharap bisa mengambil ‘gadismu’...”
Ucapnya, Gadis jadi tertunduk kini malu, harus mendengar semua perkataan Leon itu.
Leon kemudian mulai menaikan dress yang semula di buatnya turun sampai ke bagian perut Gadis, dan tangannya yang kini tengah mulai menyampaikan bagian depan dress itu dadanya, membuat pemiliknya sampai jadi menahan napasnya, amat di buat gerogi atas apa yang coba di lakukannya itu padanya.
Kini resleting Gadis mulai dinaikan kembali oleh Leon.
“Selesai...”
“Terimakasih...”
Ucap Gadis tulus,
...
Waktu berlalu di rasakan keduanya begitu amat lambat, Leon berkali-kali menghembuskan napasnya,
Sejujurnya, sebelum kedatangannya yang tiba-tiba di hadapan Gadis itu, ia sedang berada dalam kekalutan pikirannya.
“Ada apa?”
Tanya Gadis, ia cukup bisa membaca dari bahasa tubuh Leon yang saat ini tampak sangat tidak mood itu.
“Harus kuambilkan yang lebih kuat lagi?”
Tawarnya, Leon menggelengkan kepalanya. Ia tak henti-hentinya menegak minumannya seperti bergelas-gelas air yang di pakaianya untuk menghilangkan dahaganya.
“Aku pernah bercerita padamu bukan...”
“Ehm? Cerita yang mana?”
“Kalau aku... sangat mengutamakan kesetiaan, bagiku... entah itu dia hanyalah pengawalku, atau bahkan tukang semir sepatuku... akan kuperlakukan mereka dengan baik, tapi jika sampai, mereka mengkhianatiku, akan kubinasakan mereka sampai menjadi debu...”
Racau Leon, Gadis kini di buat bergetar karenanya, berpikir bagaimana jika Leon sampai tahu kalau ia sesungguhnya adalah mata-mata yang sedang membantu seorang jaksa yang ingin menangkapnya.
Leon kemudian terlihat merubah posisinya, sampai jadi menghadap pada Gadis.
“Ada apa? Aku mungkin tak begitu mengerti tapi-”
“Seseorang telah menghianatiku, dan mungkin saat ini... pekerjaanku sedang berada dalam masalah...”
“Apa maksudmu?”
Gadis sampai jadi menaikan kedua alisnya, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan oleh Leon.
“Tadi kuberitahu padamu kalau apa yang kukerjakan saat ini membutuhkan kehati-hatian dan harus di jaga kerahasiaannya bukan? Tapi satu jam yang lalu... seseorang membocorkan apa yang sedang kukerjakan hingga mungkin saja kini... mereka sedang berada dalam perjalanan untuk menghancurkan apa yang selama ini sudah kubangun...”
Telinga lain yang mendengarkan semua perkataan Leon itu, kini di buat langsung bangkit bangun dan berlari menuju mobilnya.
“Ahhh... Sepertinya detektif Jo sudah berhasil menggigit mangsa barunya, bahkan kini penciumannya benar-benar bisa membawanya sampai ke sarang Leon itu”
Bryan jelas langsung bergegas pergi meninggalkan club dan mulai menghubungi beberapa penyidiknya untuk iku bergerak.
Sementara itu Leon dan Gadis yang berada di dalam ruangan kini masih saling melemparkan tatap, satu mata yang terlihat sangat sayu, sudah lelah karena pengaruh alcohol yang mungkin sudah banyak di minumnya.
“Lalu bagaimana? Apa kau akan baik-baik saja?”
Tanya Gadis pada Leon.
dan bukannya menjawab ia malah mendekat, kemudian meletakan tubuhnya bersandar pada tubuh Gadis kini.
“Aku... aku akan aman, asalkan aku ada di sini bersamamu... Ibu...”
Ucapnya sebelum kemudian Leon terlelap sambil memeluk tubuh Gadis yang baru saja di panggilnya Ibu itu.
“Ibu?”
.
.
.