“Apa yang di temukan oleh detektif Jo?”
Tanya Bryan langsung pada intinya begitu ia bertemu dengan penyidiknya. Ia sungguh di buat bingung sekaligus terkejut mendengar ‘Si Gila Jo’ yang tiba-tiba langsung saja mendapatkan tangkapan besar. Yang padahal sebelumnya, Bryan masih menerima informasi kalau detektif Jo tak melakukan apa-apa dan hanya terus diam, memandangi papan penyelidikan.
“Sepertinya memang bukan Leon pelaku pembunuhan Frank, di duga kuat kalau Frank dan salah satu anak buah Leon ribut karena memperebutkan sesuatu milik Leon yang mereka curi secara diam-diam, entah itu laboratium, atau Si Lutian yang di bekukan, masih menjadi tanda tanya saat ini... “
“Sampai akhirnya... Leon mengetahui hal itu saat Frank terbunuh, dan tentu si anak buah ini sekarang sedang berada dalam bahaya...”
“Lalu?”
Aku benar-benar di buat sangat penasaran dengan drama persoalan internal organisasi Si Leon ini.
“Saat pengintaian yang di lakukan oleh pihak penyidik kepolisian pada anak buah Leon yang sedang gencar menyebar melakukan pencarian di kota itu... rupanya si anak buah Leon yang sudah berkhianat itu menghubungi detektif Jo, ia meminta perlindungan dan berjanji akan memeberitahu semua tentangLeon dan narkobanya, asalkan ia bisa di selamatkan dari ancaman Leon yang akan segera membunuhnya...”
Jelas rinci penyidik Vero padaku, dan akhrinya aku bisa mendapat garis besar mengenai kondisi yang terjadi saat ini.
“Lalu... tempatnya? Karena kudengar sekarang ini tempat di mana narokoba-narkoba milik Leon itu juga akan di sergap oleh detektif Jo”
Tapi sepertinya apa yang baru saja kuucapkan pada Penyidik Vero itu tak ada dalam hasil penyelidikannya. Karena ia kini malah mengerutkan dahinya, terihat tak mengerti dengan apa yang baru saja kukatakan padanya itu.
“Entahlah... apa terjadi kesepakatan lainnya dengan detektif Jo yang belum kuketahui...”
Balasnya, Bryan kini dibuat bertanya-tanya, padahal jelas sebelumnya Leon berkata pada Gadis bahwa mungkin saja saat ini ada orang yang akan menghancurkan apa yang sudah di bangunnya selama ini.
“Detektif Jo... dia di mana sekarang?”
Tanyaku
“Di pelabuhan, ia akan memeriksa salah satu kapal asal-“
“Ayo kita lihat apa yang akan di tangkapnya...”
Akhirnya, aku benar-benar merasa telah kembali menemukan diriku, menjadi seorang jaksa yang tak perlu melakukan banyak hal dan tinggal tunggu menonton santai, tapi tentu bisa menuai hasil yang cukup memuaskan.
Bahkan senyum bisa kulebarkan saat ini.
‘Gadis, dia... tak sia-sia kudapatkan dia dengan harga yang mahal...’
Dan lagi untung saja, ada anjing pelacak yang cukup hebat dalam hal menangkap yang selalu menangkap penjahat sekelas ikan kakap.
“Kita tunggu dan perhatikan baik-baik bagaimana anjing itu akan menggigit santapan yang lumayan legit malam ini...”
Akhirnya aku dan penyidikku kini sedang menunggu dari sebuah kapal speed boat, memperhatikan dari kejauhan adegan laga yang mungkin akan cukup menegangkan d**a. Ada sedikit harap kalau semua bisa berakhir di sini, kemudian sidang akan bisa segera berlangsung di pengadilan, dengan kemenangan yang sudah lama sekali ingin kurasakan kembali. Tak lupa juga hukuman yang harus seberat-beratkan di jatuhkan pada berandal sialan yang sudah membuatku kesusahan selama sebulan ini.
Tapi...
“Hhh... mengapa tak ada pergerakan...”
Setelah hampir satu jam lamanya aku menunggu, namun semua masih nampak sama saja. Tak ada satu pun orang terlihat dengan gelagat aneh dan mencurigakan keluar dari kapal itu, selain petugas lapangan dan para detektif yang siap menyergap.
“Apa semua ini sudah di pastikan?”
Tanyaku, rasanya ada yang aneh dengan semua ini.
“Benar, terlalu senyap di sini...”
Tapi kemudian terlihat muncul asap dari salah satu bagian awak kapal yang sedari tadi menjadi focus perhatian banyak mata yang mengintai.
Tanda bergerak maju pun telah di berikan sang kapten pada tim satu untuk bergerak perlahan dengan penuh kehati-hatian.
Mataku semakin tajam memperhatikan, tak sabaran juga dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Drttt
Drtt
Drttt
Hanpdhoneku bergetar, ada satu panggilan masuk di sana.
“Ehm? Gadis?”
“Hhh, kenapa dia menelponku di saat-saat seperti ini?”
Tapi aku pun tak bisa mengabaikan panggilan darinya itu. Hingga langsung saja kuangkat panggilan darinya itu, dengan kembali memfokuskan pandanganku lurus ke depan, tak ingin ketinggalan momen yang paling menentukan.
“Hallo, ada apa?”
“Kau di mana??!!!”
Ia terdengar begitu kaget saat ini. Entah apa yang sudah terjadi padanya, tapi itu membuat perasaanku jadi benar-benar tak tenang karenanya.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu? Ehm?”
Terbesit di kepalaku, kalau Leon mungkin berniat melakukan yang macam-macam padanya, sampai-sampai ia menelponku seperti sekarang ini,
“Jawab aku kau di mana??!!!”
Ia malah terdengar sangat risau kini dan terus bertanya aku yang sedang berada di mana.
“Aku ada di kapal, ada apa?”
“APAA???!!!”
Ia terdengar sangat kaget di sana,
“Pergi!! Cepat Pergiii!!! Akan ada di ledakann!”
Dan...
Bommmm
Meledaklah semua tepat di depan mataku, merah cahayanya yang amat terang, sampai menghujam pandanganku. Rasa-rasanya mataku lah yang baru saja terbakar habis karenanyanya.
Tubuhku pun sampai ikut terpental, merunduk akibat ledakan yang cukup hebat itu.
“Halloooo... Halooo?!!!”
“Bryan kau dengar akuu??!! Hey!! Bryan!!!”
“.....”
Tak kujaawab lagi panggilan dari Gadis itu, tanganku terlalu lemas, bahkan untuk memengang berat handphoneku yang tak seberapa itu.
“Pak mungkin ini... ini hanya perangakap...”
“Periksa seberapa kacau tim di sana?”
Aku sampai benar-benar di buat tak bisa berkata-kata kini. Lagi-lagi malah harus di bodohi oleh perangkap manusia biadab itu. Tapi kali ini bukan hanya aku... tapi beberapa petugas kepolisian yang berada di dalam kapal yang kulihat sampai terlempar jauh karena ledakan itu.
‘Hhhhh... Leon... kau keparattt!!!’
.
.
.
Author pov
Gadis benar-benar tak bisa diam saat ini. Uring-uringan, sangat kahwatir dengan apa yang telah terjadi pada Bryan di sana. Bahkan masih hangat sekali di telinganya kalau ledakan itu jelas terdengar pada sambungan telponnya dengan Bryan beberapa menit yang lalu.
“Hhhh... dia itu kenapa langsung pergi begitu saja tadi??”
“Padahal tunggu saja, atau suruh saja anak buahnya untuk memeriksanya...”
Ingin sekali ia memutar waktu dan membuat Bryan tetap berada di kamar sebelah saja, tak pergi ke tempat di mana ledakan itu terjadi.
“Hhhh...”
Lagi-lagi napas berat itu yang keluar dari mulunya, Gadis tengah berusaha mengusir semua pikiran buruk yang mungkin saja telah terjadi pada Bryan saat ini.
‘Dia... dia pasti baik-baik saja...’
Batinnya, dengan mata sendunya yang terus menatapi layar handphonenya, banyak berharap akan ada panggilan dari Bryan dan ia bisa mendengar kalimat ‘Aku baik-baik saja...’ dari mulutnya.
“Gadis, dia pasti akan baik-baik saja...”
Yakinnya pada semua kekhawatiran yang kini tengah menguasai dirinya.
Ting
Satu notifikasi terlihat masuk, namun itu bukan berasal dari handphone Gadis, melainkan dari handphone Leon yang di taruhnya sembarang dan asal begitu saja di atas meja. Sampai-sampai Gadis jadi bisa mengetahui pesan masuk tentang ledakan bom yang sudah di dalanginya itu.
done
Hanya begitu saja isi pesan yang terlihat dari pop up notifikasi di handphone Leon yang saat ini tengah tak sadarkan diri karena mabuk berat setelah menegak banyak sekali alkohol.
Itu adalah pesan yang dikirim, oleh si pengirim pesan yang sama dengan yang sebelumnya, yang mengirimi pesan bahwa dirinya sudah siap meledakan lab yang ada di dalam kapal dalam 1 menit beberapa saat yang lalu.
‘Done?? Tuhan... Apa ini artinya selesailah sudah semua bagi Si Jaksa menyebalkan namun cukup membuatku tak tenang karena mengkhawatirkannya itu?? Kumohon jaga dia agar tetap baik-baik saja...’
Gadis sampai memanjatkan doanya dalam hati, meminta agar pria yang sudah selalu memanggunya, dan menjadikannya mata-mata itu baik-baik saja saat ini.
“Ehmmm...”
Leon yang berada di samping Gadis terlihat mengerutkan wajahnya, mengeluarkan sedikit gerakan yang mungkin menjadi pertanda kalau kesadarannya kini sudah mulai kembali.
Gadis yang semula terus bolak-balik, sampai di buat tak bisa duduk. Ia memilih untuk kembali mendudukan dirinya di samping Leon. Membiarkan kepalanya yang tak bisa tegak itu untuk jautuh ke pundaknya.
“Hhmm...”
Gadis jadi memandangi pemilik wajah yang sampai saat ini masih terpejam itu. Banyak tanya dalam tatap yang di berikannya pada Leon saat ini, dan salah satunya...
’Bagaimana bisa ia kini dengan tenangnya menutup kedua matanya, sementara seseorang di luar sana telah meledakan sesuatu, membuat kekacauan atas perintahnya?’
Dan pada detik berikutnya, terlihat perlahan kelopak dari mata yang bulat dan dalam itu mulai terbuka, menampakan kedua bola mata yang bening dan tatap yang ingin Gadis singkap, semua misteri yang ada pada dirinya itu.
“Gadis...”
Panggilnya, terdengar serak sekali.
“Seseorang mengirimimu pesan”
Gadis memilih untuk memberitahu Leon begitu.
“Apa isinya?”
“Yang pertama ‘Akan meledak dalam 1 menit’ dan yang kedua...’Done’...”
“.... Itu, apa? Balon kah yang akan meledak?”
Gadis berpura-pura bertanya dengan bodohnya seolah tak tahu, memberikan dugaan kalau itu adalah tentang balon.
Sampai jadilah Leon mengeluarkan senyumnya. Padahal semula ia merasa sangat kesal dan frustasi karena harus merelakan salah satu lab-nya di bakar habis karena kebocoran informasi itu.
“Ehmm, itu balon yang sudah lama kutiup dengan sepenuh hati... tapi rupanya setelah semakin besar, kulitnya jadi semakin menipis, sampai aku jadi takut orang akan melihatnya dan merebuatnya dariku, jadilah...”
“.... Aku memilih untuk meledakannya saja...”
Leon malah masuk kedalam topik balon yang semula di ucapkan Gadis, dan menjadikan perumapamaan atas keadaan yang tengah menimpanya.
“Tapi sayang jika aku hanya meledakannya begitu saja... sampai kuundang beberapa orang yang rupanya cukup penasaran, untuk menyaksikan dan bisa ikut merasakan kagetnya ledakan itu...”
‘Ia sengaja mengundang orang-orang untuk melihat ledakan itu... meski tahu kalau itu mungkin akan membuat mereka luka bahkan bisa sampai tewas karenanya?’
‘Itu... hanya perangkap... maafkan aku Bryan...’
Batinnya, Gadis baru sadar kalau Leon memang tengah membuat perangkap dengan merelakan satu labnya itu.
Gadis kini jadi menampilkan raut yang tak bisa di artikan oleh mata yang sedang lekat memandangnya itu. Sampai kemudian belaian pun di sentuhkan tangan Leon pada wajahnya itu.
“Terimakasih sudah menemaniku hari ini...”
“Tak perlu seperti itu, aku di sini memang untuk menemani pria-pria-“
“Gadis....”
Tiba-tiba saja Leon menghentikan kalimat yang akan terucap dari bibir Gadis itu.
“Ehm?”
“Aku tak ingin kau menemani pria lainnya, temani saja aku, bekerja saja hanya untukku...”
“Apa?”
Gadis yang mendengar permintaan Leon itu kini benar-benar di buat sangat kaget. Lagi-lagi ia harus mendengar permintaan seperti itu dari seorang pria, setelah sebelumnya permintaan itu datang dari seorang jaksa gila yang malah menggunakan hutangnnya untuk bisa mengikatnya, agar mau bekerja untuknya sebagai mata-mata.
“Bekerjalah untukku... entah bagaimana, setelah terhianati oleh seseorang yang telah lama bekerja untukku, aku masih tetap di buat ingin untuk memiliki kepercayaan padamu...”
Dan seketika Gadis merasa tengah di tindihi oleh beban yang amat berat setelah mendengar kata ‘kepercayaan’ itu terucap dari bibir pria, yang sesungguhnya merupakan target yang sedang di mata-matainya.
“Aku akan membayarmu lebih, jadi jangan takut-“
“Bukan itu masalahnya, tapi... madam Jennie, aku sudah sangat menghormatinya, dia yang selama ini membantuku, aku... aku sepertinya harus mempertimbangkan itu lebih dulu, jadi beri aku waktu...”
Gadis hanya bisa membalas dengan beralasan seperti itu.
“Hmm, sampai kau setuju dengan perminataanku, untuk hanya bekerja padaku, itu artinya aku harus meminta madam Jennie untuk menjadikanmu hanya boleh memasuki satu kamar saja, di kamar ini di 501 ini saja...”
Karena tak mungkin baginya untuk memaksa, jadi ia memilih jalan seperti itu saja.
Sementara itu Gadis...
‘Yah, begitu saja lah, meski setelahnya aku akan tetap masuk ke kamar 502, untuk memberitahu lebih jelasnya, semuanya tentangmu pada Bryan...’
Batinnya,
.
.
.
“Kau... kau baik-baik saja?”
Tanya Gadis begitu ia memasuki mobil Bryan yang saat ini terlihat begitu lemas, bahkan ia menggunakan seorang supir dan memilih duduk di kursi belakang mobilnya.
“Aku baik-baik saja...”
“Lalu, kenapa kau memakai selimut seperti ini?? Kau sungguh tak terluka kan? Kakimu... Tanganmu tidak jadi terpisah dan berterbangan saat ledakan tadi bukan???”
“Masih ada Gadis, lihat...”
Bryan lalu menyingkapkan selimut yang semula memang menutupi tubuhnya itu.
“Ahhh... kau membuatku takut tahu tidak??!!! Seharusnya kau tetap tinggal sampai akhir Leon pergi!!”
Ucap Gadis dengan nada yang di tinggikannya, terdengar setengah memarahi Bryan.
“Ah, kau ini bawel juga ternyata...”
Gadis kemudian menyentuhkan tangannya pada kening Bryan, ingin memeriksa keadaanya, karena ia yang melihat perubahan pada wajah Bryan yang kini nampak jadi jauh lebih pucat dari biasanya.
“Kau- kau...”
“Kau Demam!!”
“Ahh, Ini akan sembuh dengan aku minum obat dan tidur satu jam, jadi jangan ribut begitu...”
“Ahhh, kenapa bisa seperti ini???”
Bryan diam saja atas pertanyaan Gadis itu.
Dan yang sesungguhnya terjadi adalah Bryan tadi dengan nekadnya menceburkan diri ke lautan, berniat ingin mengambil setidaknya satu saja yang bisa di selamatkannya dari ledakan kapal yang merupakan lab milik Leon itu.
“Ayo ke rumah sakit”
Ini adalah kali pertama Gadis yang sampai di buat merasakan kekhawatiran yang begitu besar, saat tahu seseorang terkena demam. Entah bagaimana ia tak bisa abai begitu saja pada Bryan yang juga telah menjaga dirinya dengan baik sebelumnya.
“Aku tak apa dan akan baik-baik saja...”
“Kau itu butuh dokter, juga obat untuk demammu”
“Sungguh aku sudah baik baik saja sekarang...”
Gadis hanya menghela napasnya saja kini pada Bryan yang malah membandal tak ingin di bawa ke rumah sakit itu.
“Tapi Gadis...”
“Ehm? Apa??”
“Soal tawaran Leon yang ingin memperkerjakanmu...”
Bryan tahu tentang hal itu, karena ia selalu mendengarkan semua pembicaraan Gadis dan Leon sampai akhir kebersamaan mereka.
“Ehmm... itu sepertinya kau harus menerimanya...”
“Apa???”
.
.
.