Episode 7-Celine Yang Tak Gentar

1145 Kata
Abra mengumpat beberapa kali, bahkan melempar ponselnya begitu saja. Tidak habis pikir dengan Fara yang bahkan tidak ada inisiatif untuk menghubunginya lebih dulu. Pekerjaannya hari ini sangat kacau. Hal itu membuatnya enggan untuk menghadiri pertemuan penting dengan klien atau para petinggi perusahaan. “Kenapa sih cewek itu susah sekali!” ucap Abra geram. Sedangkan kedua tangannya sibuk mengusap wajahnya dengan kasar. “Masa’ harus gue lagi yang inisiatif?” tambahnya. Tidak! Abra tidak akan lemah terhadap wanita yang ia cintai itu. Sudah terlalu sering ia mengemis cinta. Niat hatinya untuk membuat Fara peka juga berpikir, sudah sangat bulat. Perihal rindu, biar saja, ia pasti bisa menahan. Bahkan, bukan perkara sulit. “Atau gue main-main lagi saja, ya?” Muncul ide konyol dari dalam benak Abra. Ide yang selama ini ia lakukan ketika sedang bertengkar. “Ah, enggak! Gue bertengkar saja karena hal itu, kacau kalau masih dilanjut,” ucap Abra lagi. Untuk sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali terdiam duduk di kursi kerjanya. Tidak ia pedulikan sama sekali berkas-berkas yang harus ditandatangani. Kekacauan yang terjadi sore itu benar-benar merusak suasana hatinya, bahkan pikirannya. Lalu, tiba-tiba saja Reno yang juga salah satu manager di perusahaan Abra masuk tanpa permisi. Ia berdecak heran seiring gelengan kepala tidak habis pikir. Meski sebenarnya, bukan kali pertamanya ia mendapati sahabat juga atasannya itu sedang gundah gulana karena asmara. Reno berjalan mendekat. “Jangan terlalu dipikirkan, Bro! Pekerjaan loe tersendat,” ucap Reno sembari mendudukkan dirinya di kursi kosong. Abra menghela napas dalam. Ia menatap Reno dengan malas. “Ya, gue kerja,” jawabnya sekenanya saja. “Kerja? Yang benar saja! Ini apa?” Reno mengambil berkas, setelah itu ia lemparkan di hadapan Abra begitu saja. “Ck, ‘kan sudah gue bilang tadi, gue enggan masuk. Jadinya, begini deh.” “Seenggaknya, bedakan mana pekerjaan mana urusan pribadi, Bro!” “Loe enggak ngerti posisi gue, No!” Abra berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke arah jendela yang tengah terbuka. Lalu, berbalik menatap Reno lagi sembari melipat kedua tangannya. “Enggak habis pikir, masa’ iya gue enggak chat maupun telepon, dia enggak ada inisiatif?” Reno tersenyum. “Itulah wanita, Bro. Jual mahalnya keterlaluan, tapi, ... kalau kesalahan ada di loe, tentu dia enggak mau hubungi lebih dulu.” “Gue bersalah, tapi dia juga bersalah. Seharusnya dengarkan penjelasan gue dulu, baru setelah itu marah-marah. Yang bikin malas itu, kalau sudah ada kata putus yang keluar dari mulut dia, No! Muak gue!” Reno hanya mendesis. Sejujurnya, ia pun merasa sulit untuk memberikan nasehat apa lagi, terlebih perihal asmara. Reno saja, tidak kunjung menikah karena kesulitan mencari pasangan. Hanya saja, meskipun begitu, ia tidak senaif Abra bahkan Fara dengan membiarkan hubungan yang rusak tetap dipertahankan hanya karena nama cinta. Mungkin, jika Reno berada di posisi kedua orang itu, ia akan memilih pergi. Pergi untuk memulai yang baru. “Sudahlah, sebentar lagi jam pulang, Bro,” ucap Reno setelah beberapa saat memilih diam. “Kita bisa ke bar, main-main hahaha.” “Jangan ngaco, No! Gue enggak mau kalau ada salah paham lagi,” tolak Abra. “Kita hanya minum, bukan main cewek.” Senyum terulas manis di bibir Reno, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sedangkan, Abra tengah sibuk menimang-nimang tawaran dari sahabatnya itu. Tak mungkin Fara berada di bar, apalagi gadis itu sangat ketat akan aturan dari Surya. Jadi, mungkin saja Abra bisa melepas sedikit beban pikiran dengan minuman yang ia minati sebagai vitamin ketika emosi. Akhirnya, Abra menorehkan senyuman di bibirnya. “Baiklah! Kita berangkat,” ucapnya setuju. “Itu, baru Bro gue,” balas Reno. Setelah itu, Reno bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan sang atasan begitu saja, bahkan tanpa permisi sama sekali. Sudah biasa, bukan hal aneh lagi bagi Abra perihal sikap Reno yang terbilang tidak ada sopan santun itu. Dering ponsel tiba-tiba terdengar. Membuat Abra terkejut dan bergegas kembali ke meja kerjanya. Harapannya hanya satu, ia ingin Fara yang meneleponnya. Sayangnya, bukan. Abra menghela napas dalam, ketika mendapati nomor ponsel milik Celine yang masuk ke dalam layar. Ia mematikannya begitu saja, malas! Dan membuang ponsel itu sekenanya di atas meja. “Apa yang gue harap? Bahkan, yang datang justru wanita itu, bukan kamu, Far,” gumam Abra detik berikutnya. Perasaan Abra yang sempat kembali semangat sebab ajakan Reno, kini berangsur getir kembali. Apalah daya, jika wanita yang ia cintai sudah tidak peduli lagi. Jika benar-benar putus, apa yang bisa ia lakukan? Rasa galau muncul memenuhi seluruh relung hatinya. Ketika cinta tak lagi sama seperti sedia kala, hal yang bisa ia lakukan hanya diam. Mau berjuang pun enggan, lantaran tidak ada kepercayaan. “Saya sudah ada janji, enggak percaya banget sih!” Suara seorang wanita terdengar berisik dan sampai di telinga Abra. “Enggak bisa, Nona! Enggak ada bukti janji, ‘kan?” sahut lainnya. Mendadak kerutan tipis muncul di dahi Abra. Ia merasa heran sekaligus penasaran perihal siapa yang datang. Dengan gerak cepat, ia menghampiri keberadaan pintu ruangannya. “Abra, Sayang!” Celine melompat tiba-tiba, memeluk pria itu dengan erat. Beberapa staf Abra pun terkejut dibuat. Mereka membungkuk dan pamit pergi. “Celine, stop!” tegas Abra. Dengan usaha yang keras, ia mencoba melepas jeratan wanita itu. “Apa-apaan sih kamu?!” “Aku rindu kamu, Abra!” jawab Celine mantap. Rona merah, bahkan senyum manis ia ulas di bibir tipis yang sudah terpoles lipstik berwarna pink. Wanita itu berhasil membuat sang direktur berdecak kesal, matanya menatap lurus nan tajam ke arah kedua manik mata milik Celine. Semua yang sulit akan menjadi semakin sulit. Ketika Abra harus masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Bagaimana bisa ia mengatasi hal itu? Berikut Celine yang tidak melepasnya sama sekali. “Pergilah,” ucap Abra lirih. Ia menunduk dan memutuskan untuk berbalik. Namun, Celine tidak tinggal diam. Ia merengkuh mesra lengan pria itu dengan gerak manja. “Aku ingin menemanimu pulang, Abra,” ucap Celine. “Pergi, sebelum kesabaranku habis.” “Enggak! Aku enggak akan pergi, aku ‘kan sudah bilang enggak akan melepasmu begitu saja. Bahkan, jika harus bertaruh nyawa! Kamu sudah membuat diriku seperti ini, Abra! Kamu harus bertanggung jawab atas hatiku. Abra menelan saliva seiring kepalan tangannya—mencoba meredam emosi—hati. “Aku bisa beri kamu uang berapa pun, tapi, ... jangan ganggu hidupku lagi, Celine.” “Aku kaya, untuk apa aku minta materi dari kamu? Aku hanya ingin kamu, dan kamu harus bayar dengan dirimu.” Wanita itu tidak gentar atas niat hati untuk memiliki Abra sepenuh hati, bahkan jiwa dan raga. Baginya, perasaannya bukan sesuatu yang bisa dibayar dengan materi. Terlebih, ketika keluarganya merupakan keluarga kaya raya melebihi keluarga Abra. Ya, Celine sudah benar-benar jatuh cinta, mungkin jika dianggap sebagai obsesi pun ia tidak peduli lagi. Abra melepas rengkuhan tangan Celine yang masih mengunci pergerakannya sejak tadi. “Aku enggak cinta sama kamu, Celine! Bagaimana bisa aku bertanggung jawab atas hatimu?” tanya Abra. “Lepas!” balas Celine tegas. Dahi Abra mengernyit. “Apa?” “Lepaskan wanita itu, dan belajar mencintaiku. Dengan begitu, kamu bisa bertanggung jawab atas hatiku.” “Enggak bisa, Celine ....” “Kenapa? Kamu pernah bilang sama aku, ‘kan? Kamu kerap bosan karena hubungan bertahun-tahun itu. Lalu, kenapa kamu masih mempertahankan hubungan yang sudah rusak secara jelas?” “Karena cinta.” “Enggak!” Celine mengepalkan kedua tangannya. “Kamu enggak cinta sama dia.” “Aku enggak butuh penilaianmu atas perasaanku, Celine.” Kedua pasang mata saling menatap satu sama lain, seolah siap untuk saling menghunus. Tentang perasaan yang tidak terbalas, atau perasaan yang tertahan karena usia. Kedua insan itu tak gentar dengan niat hati masing-masing, meski belum ada lagi sepatah kata pun yang keluar dari masing-masing bibir. “Aku akan memastikan kalau kamu enggak akan bisa bersamanya lagi,” ucap Celine. “Celine!” "Kita lihat saja nanti, Abra!" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN