Bab 2

2631 Kata
                                                    “I need a love, but I can’t find my heart”                                                                                –Jacob Lee- "Hai, selamat pagi," sapaku pada seorang resepsionis yang mengenakan kemeja biru muda dengan motif bunga. " Emm ... Mia," lanjutku membaca tanda pengenal resepsionis itu di d**a kanannya. "Aku pegawai baru di sini, di manakah aku harus bertemu dengan Mr. Jack Lawren?" "Oh, kau yang bernama Elizabeth Granger, 'kan?” tanyanya membuatku menganggukkan kepala.”Silakan menemui Mr.Lawren langsung di kantornya di lantai lima belas. Beliau sudah menunggumu," lanjutnya,"Dan ini tanda pengenalmu." Mia menyerahkan sebuah papan plastik berukuran 3x5 cm di mana tertampang nama dan fotoku. Aku menerimanya dengan mata berbinar. "Terima kasih, Mia. Senang bertemu denganmu," kataku lalu melangkah menuju lift. Aku mempercepat langkah ketika pintu lift terbuka. Sedikit terhuyung karena belum terbiasa menggunakan heels hitam setinggi dua belas senti yang baru kubeli bersama William lusa kemarin. Namun lift juga tak akan menunggu lama jika aku berjalan terlalu lambat. Kuputuskan mempercepat langkah lagi bahkan jalanku terlihat mirip seperti robot. Sialnya, saat langkahku akan mencapai pintu lift, kakiku tersandung yang membuat pandangan orang tertuju padaku bahkan ada yang menertawakan. Kutundukkan kepala dengan rasa malu dan mengumpat kesal karena heels sialan ini. "Kau tak apa-apa, Ms. Granger?" Terdengar suara bass seorang pria sambil menyodorkan kartu tanda pengenalku. Aku mendongak melihat si empu-nya suara itu. "Ah terima kasih, Sir!" Aku menerima kartu tanda pengenalku yang tak kusadari turut jatuh dari genggaman lalu berdiri dengan susah payah tanpa menerima uluran tangan pria itu. Mendadak kepalaku terasa pening dan perutku mulai mual, kucoba memejamkan mata sejenak sambil menanam pikiran baik di kepala. Tarik napas lalu embuskan, pikirkan bahwa orang di sini adalah orang baik, Eliza. Kau gadis hebat , nilai baik, gadis cantik, batinku. Kubuka kedua mata dan seketika tatapanku bertemu dengan tatapan pria itu. Dia memandangku dengan kedua alisnya yang mengerut. Tangan kirinya mencoba untuk menyentuh lengan kananku namun berhasil kuhindari membuat dirinya merasa serba salah. “Kau tak apa? Kau pucat, Nona,” katanya sambil menatapku dari atas sampai bawah. Aku menggeleng lemah sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, maaf saya harus menemui Mr.Lawren, Sir, " jawabku dengan nada yang kubuat senormal mungkin. "Aku bisa mengantarmu ke sana. Aku juga ada urusan dengannya," kata pria itu lalu melangkah mendahuluiku. Pintu lift terbuka, kami pun masuk ke dalam kotak besi itu. Dia pun menekan tombol angka lima belas. Aku berdiri menyudutkan diri di sisi kiri lift untuk menjaga jarak dengannya. Dia melirikku sekilas dengan tatapan aneh kepadaku. Aku tidak peduli. "Lain kali, pakailah heels yang lebih pendek, Nona," kata pria itu membuka suara. Aku hanya mengangguk sambil melirik sekilas pria di samping kananku ini. "Apa kau baru di sini?" "Yes, Sir!" ucapku singkat tanpa memandang dirinya. "Oh, begitu! Selamat bergabung disini, Ms. Granger. Kuharap kau betah di sini," kata pria itu sambil menatapku dengan senyumnya yang terbilang cukup menawan. Aku hanya mengangguk tanpa membalas perkataannya dan hanya melirik sekilas tak nyaman dengan pria yang baru kukenal meski dia telah menolongku tadi. Kemudian suasana menjadi hening. Kucoba memberanikan diri untuk melirik kembali pria di sampingku ini untuk mengamatinya. Jika Emy di sini pasti dia kegirangan melihat pria tinggi itu. Lihat saja dia, wajahnya sungguh tampan bagai dewa Yunani dengan rahang kokoh sempurna, alis tebal dan tegas, tidak ada jambang atau kumis yang menghiasi wajahnya, hidungnya lancip, serta bibir merahnya terukir begitu sempurna. Rambut kecokelatannya seperti tembaga yang begitu klimis dan ditata rapi bergaya slicked hair . Kulitnya yang putih bersih tidak ada cacat atau luka sekalipun ditambah lagi posturnya yang tinggi. Jika aku tak memakai heels mungkin diriku hanya sebatas bahu pria itu. Tiba-tiba otakku membayangkan bagaimana bentuk d**a dan otot pria dibalik jas abu-abunya itu? Apakah tubuhnya juga seksi seperti bentuk wajahnya? Sadar akan pikiran yang sedikit m***m, aku menggeleng kepala cepat. Lagipula untuk apa aku memperhatikan dirinya? Tidak,  dia tidak menarik sama sekali. Aku melirik pria itu lagi, menurutku kali ini dia boleh masuk kategori pria tampan. Ding!!!! Terdengar suara pintu lift terbuka yang membuyarkan aksiku untuk mengobservasi dirinya. Tak banyak bicara, pria berambut tembaga itu melangkah mendahului menuju ruang Mr.Lawren yang terletak tepat di depan lift. Aku melangkah dengan sangat hati-hati takut jika terjatuh dan membuat hal yang memalukan lagi. ### Ruangan Mr.Lawren didominasi warna putih dengan beberapa bingkai foto tergantung manis di sisi ruangan. Terdapat sofa berbentuk L berwarna lime yang terletak di sebelah kanan dengan meja kaca di tengah-tengah. Di sisi kiri ruangan, terdapat sebuah rak kecil untuk meletakkan beberapa judul buku. Meja Mr.Lawren sama halnya dengan meja lain, terdapat tumpukan file di sisi sebelah kanan, segelas kopi di sebelah kirinya. Di belakang kursi yang diduduki Mr.Lawren terdapat beberapa kaktus kecil yang diletakkan dekat jendela yang menambah kesan sejuk serta background kota New York dengan langitnya yang begitu cerah. Mr.Lawren sendiri berperawakan gagah dengan potongan cepak, sedikit tumbuh kumis, memiliki iris mata biru, dan kulit yang putih sedikit kemerahan seperti terbakar sinar matahari. Jika bisa kutebak, mungkin pria itu berumur sekitar 35 tahun atau mungkin lebih muda. Aku tidak tahu. "Oh, Selamat pagi, Mr. Jhonson," sapa Mr.Lawren sambil bangkit dari tempat duduknya lalu menjabat tangan pria yang dipanggil dengan sebutan Mr. Jhonson. Pandangan Mr.Lawren beralih padaku dengan langkah tidak nyamanku terhadap heels sialan ini. "Oh, kau pegawai baru, akhirnya!" serunya senang. "Duduklah! Anda juga, Sir!" Aku dan Mr.Jhonson duduk di sofa. Fyuh! Aku akhirnya bisa bernapas lega. Aku merasa heels-ku benar- benar tak cocok. Bahkan rasanya aku merindukan memakai converse atau sepatu sport yang lebih nyaman dipakai. Mungkin sebaiknya besok aku memakai comverse saja atau tetap memakai heels dengan risiko jatuh seperti tadi?  Karena aku terlalu fokus pada tumit dan lutut yang terasa sakit dengan pertimbangan memakai converse , hingga tidak sadar bahwa Mr.Lawren memanggilku berulang kali. "Ah, maaf, Sir!" kataku salah tingkah sambil tersenyum tipis sambil melirik Mr. Jhonson yang memperhatikan gerak tubuhku yang tak nyaman. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Mr. Lawren. Aku menggeleng. “Baiklah, jadi sebagai sekretaris baru kau bisa melihat fila-file yang sudah dibuat oleh sekretaris lamaku. Tidak banyak, hanya saja, kami di sini sering mengadakan rapat dan laporan-laporan kau buat setiap kali sesi rapat selesai. Lalu kau juga mengatur semua kegiatan rapatku jangan sampai kita kewalahan. Buat dirimu enjoy di sini, Ms. Granger,” jelas Mr. Lawren. "Baik, saya mengerti," kataku sambil mengangguk. Aku melirik Mr. Jhonson lagi, pandangan pria itu masih tak lepas dariku membuatku merasa seperti wanita aneh. Dia pria aneh! "Apakah anda mengenalnya, Sir? " goda Mr.Lawren membuyarkan Mr. Jhonson yang masih menatapku. Dia hanya tersenyum tipis memandang Mr.Lawren tanpa membalas ucapannya. "Sebaiknya Ms.Granger harus bergegas membantu saya mengerjakan laporan untuk rapat besok." ### Aku duduk di kursi kerjaku setelah Ketty―staff administrasi keuangan― menjelaskan tentang ruang kerjaku yang baru yang terletak di sisi kiri dari ruangan Mr.Lawren sendiri yang dibatasi oleh dinding kaca dua sisi. Jadi dinding kaca itu nampak gelap jika dilihat dari sisi meja kerjaku sedangkan dari sisi ruang Mr.Lawren, dia bisa melihat aktivitas kami. Ruang kerjaku sendiri terdiri dari enam meja kerja yang terbagi dua di sisi kiri dan kanan. Mayoritas pegawai di divisi keuangan ini perempuan meski aku tahu di sisi kanan ruangan ada ruang kerja pegawai lain pada divisi yang sama. Nuansa ruangannya juga hampir sama dengan ruang kerja Mr. Lawren hanya saja di sini memiliki dua mesin fotocopy  besar yang terletak di ujung ruangan, televisi LED yang digantung di dinding tengah ruangan, serta sofa berbentuk L berwarna abu-abu yang dekat dengan jendela ruangan dengan meja berbahan kaca tebal berbentuk persegi panjang di tengahnya. Aku menghela napas saat mendaratkan p****t di kursi kerja lalu menyalakan komputer dengan penuh semangat. Hari ini aku langsung mendapat tugas merekap ulang jadwal Mr.Lawren yang benar-benar padat selama satu minggu ke depan lalu membuat laporan bersama Ketty tentang pemasukan dan pengeluaran keuangan perusahaan selama tiga bulan lalu. Nanti jam dua siang, kata Ketty akan ada rapat mengenai laporan bulanan perusahaan tiap-tiap divisi dan aku juga harus membuat rangkuman hasil rapat nanti. Wow, hari pertama yang melelahkan!. Beberapa detik kemudian saat asyik mengetik jadwal Mr.Lawren, telepon yang tergeletak di sisi kananku berdering. Segera aku pun mengangkat telepon tersebut. "Halo, Ms.Granger," suara Mr.Lawren terdengar dari seberang. "Yes, Sir!" jawabku. "Pergilah ke ruangan Mr.Jhonson di lantai tigapuluh. Dia memanggilmu," kata Mr.Lawren. Aku terdiam sejenak, Mr.Jhonson yang tadi mengantarku, 'kan? Ada apa? "Kau masih disana Ms.Granger?" tanya Mr.Lawren membuyarkan lamunanku. "Ah, ehm ... ya, Sir, saya akan ke sana. Terima kasih,” ucapku dengan sejuta pertanyaan. "Maaf panggil saja Eliza.” “Oh, Baiklah, Eliza,” kata Mr.Lawren.  “Ketty?” panggilku setelah menutup telepon ketika melihat wanita itu sedang mengkopi beberapa file. Dia menoleh ke arahku lalu berkata,”Ya? Ada apa?” “Bisakah kau mengantarkanku ke ruang Mr.Jhonson di lantai tigapuluh?” pintaku ragu. "Please?” Wanita itu memutar bola matanya sambil mendecih dan berkata,”Apakah kau takut tersesat, Nona?” Aku mengangguk cepat sambil meringis. “Baiklah,” kata Ketty. "Tunggu sebentar, aku harus meletakkan ini di meja Mr.Adams,” ucapnya lagi sambil membawa beberapa tumpukan kertas fotokopi. Aku segera bangkit untuk membantu Ketty membawakan tumpukan kertas itu. “Kau merayuku, huh?” sindirnya membuatku terkekeh sambil mengikuti langkah Ketty menuju ruangan Mr.Adams yang letaknya bersebrangan dengan ruangan Mr. Lawren. Setelah dari ruangan Mr.Adams, kami menuju ruangan Mr.Jhonson di lantai tigapuluh menggunakan lift. Berulang kali Ketty mengomel padaku kenapa aku harus mengajaknya pergi ke ruangan itu seperti gadis SMA yang meminta ditemani ke toilet. Aku hanya bisa tertawa dan berusaha menjelaskan dengan alasan bahwa aku belum terbiasa dengan tempat baru. Setelah sampai di lantai tigapuluh, Ketty menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya seolah berkata ‘apa setelah ini kau tersesat?’ sambil menunjuk sebuah pintu bercat hitam tepat di depan lift dengan telunjuk kanannya. Aku hanya bisa tersenyum malu lalu kami berdua mendapati seorang wanita pirang yang rambutnya digulung ke atas keluar dari pintu bercat hitam itu sambil membawa sebuah file dalam map kuning. “Sekarang kau sudah tahu ruangannya, kan,” kata Ketty sambil melipat tangan di d**a. "Sekarang aku mau kembali ke mejaku.” Sebelum dia melangkah pergi, kutarik lengannya membuat wanita berkulit eksotis itu hampir saja terjatuh. "Temani aku hingga ke dalam," bisikku. Ketty menganga lalu menatapku dari atas sampai bawah.” Apa yang membuatmu takut berhadapan dengan pria di dalam?” tanyanya seolah bisa melihat ekspresi wajahku yang tak nyaman. "Dia bukan harimau yang akan menerkammu, Elizabeth!" Aku menggeleng. ”Please, aku tidak bisa kesana sendirian, Ketty.” “Mr. Jhonson akan memarahiku jika aku turut masuk kesana,” kata Ketty sedikit kesal. "Kau karyawan, Elizabeth, kau harus professional apapun masalahmu.” “Please…” Ku tatap wajah Ketty penuh harap dengan pandangan puppy eyes membuat wanita itu menghela napas kasar. “Baiklah,” ujarnya dengan pasrah membuatku tersenyum. "Tapi, jika Mr.Jhonson menyuruhku keluar bisakah kau di dalam sana sendirian?” “Tapi….” “Dia yang berkuasa di sini, Elizabeth,” dengkusnya menatap tepat di kedua manik mataku. "Kau harus mematuhi perintahnya atau kita berdua dipecat. Bukan, semoga bukan aku yang dipecat tapi kau saja.” Refleks, kupukul lengannya dengan wajah cemberut seperti anak kecil. Ketty tertawa lalu menyuruhku diam sambil menempelkan telunjuk kanannya di bibir merahnya. Ketty mengetuk pintu hitam itu lalu  membuka kenop pintu dan mendapati Mr. Jhonson sedang menulis sesuatu di mejanya. “Ada apa Ms. Thompson? Apa aku memanggilmu ke sini?” tanya Mr.Jhonson dengan nada dingin sambil menatapku tajam yang berlindung di balik punggung Ketty. Ketty berbalik menatapku dengan wajah merahnya seolah ingin memakanku hidup-hidup. “Apa aku bilang?” katanya sambil mengetatkan rahangnya. “Aku ingin bicara berdua dengan Ms. Granger jika bisa,” kata Mr.Jhonson membuat Ketty cepat-cepat mendorong tubuhku masuk ke dalam ruangan itu lalu menutup pintu dengan sedikit keras. Aku menarik napas lalu mengembuskannya perlahan mencoba mengatur degup jantung yang begitu cepat, lalu melangkah perlahan menuju pria yang sedang duduk dengan perasaan takut. Dia melirikku sekilas lalu melanjutkan pekerjaanya. Aura dingin pria itu sangat mendominasi tempat ini meski hidungku menghirup aroma maskulin di ruangan yang didominasi warna hitam dan putih. Ruangannya besar bercat putih yang terdapat sofa hitam berbahan kulit di sisi kanan, kamar mandi di sisi kiri, rak buku berwarna putih di sebelah sofa dekat dengan meja kerjanya. Aku bisa melihat pemandangan kota New York di belakang punggungnya bahkan lebih indah daripada  ruangan Mr. Lawren. "Apa Anda memanggil saya, Sir?" tanyaku dengan nada formal saat berada di depan mejanya. Mr.Jhonson meletakkan bolpointnya lalu menatapku intens dengan iris biru samuderanya itu. Lagi-lagi aku dibuat tak nyaman oleh tatapannya yang mengintimidasi. Apa dia melihat sesuatu yang aneh pada diriku? "Duduklah!" perintahnya dengan wajah datar. Aku mengangguk lalu menarik kursi di depan mejanya. "Di sofa Ms.Granger," katanya lagi dengan sedikit ketus sambil menunjuk sofa dengan dagunya. Aku mengangguk salah tingkah lalu melangkah diikuti Mr.Jhonson di belakangku. Saat aku mendaratkan p****t, pria itu bertekuk lutut dihadapanku. "Mr.Jhonson, apa yang ka―" "Panggil aku Andre," kata Mr.Jhonson memotong kalimatku sambil menatap tepat pada kedua manik bola mataku. "Berapa ukuran sepatumu?" "Mr.Jhonson, ehm .. .maksud saya Andre, apa maksud Anda?" tanyaku tidak mengerti. Andre melepas heels kananku, spontan aku merintih kesakitan. Terlihat jelas kaki kananku lecet dan memerah akibat belum terbiasa memakai heels. "Kau lihat?” katanya sambil menunjuk luka lecet kakiku. "Bahkan kau mengeluarkan rintihan seperti itu. Buang sepatu sialan ini dan tunjukkan berapa ukuranmu sepatumu!" tegasnya sambil melepas heels kiriku lalu bangkit dari posisinya dan membuang sepatuku ke dalam sampah dekat dengan pintu ruang kerjanya. "Ukuran delapan*, Sir!" jawabku saat Andre melangkah mendekati dan duduk disampingku. "Kenapa? saya masih baru disini, bahkan belum satu hari. Tapi, Anda sudah terlalu berbuat baik kepada saya," kataku sambil menundukkan kepala dengan canggung sambil berusaha menahan rasa aneh hingga rasa mual itu kembali datang. Oh please, jangan pingsan dulu Lizzie… ingat jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Andre mendekatkan wajahnya hingga aku bisa melihat pantulan wajahku di pupilnya dan bisa merasakan embusan napas beraroma mint . Aku menggeser p****t tak nyaman dengan degup jantung yang semakin berdetak tak karuan. Namun, pria itu menarik tangan kananku untuk tetap pada tempatku tadi. Tubuhku terpaku menatap wajahnya yang benar-benar sangat dekat membuat waktu seperti terhenti berdetak begitu saja.  Kutelan saliva dengan susah payah tuk menahan gejolak rasa mual yang mulai memenuhi lambung akibat terlalu dekat dengan seroang pria. Selama ini belum pernah aku sedekat ini dengan pria manapun, belum sejak kejadian empat belas tahun lalu. "Kau begitu cantik, sungguh disayangkan jika kaki indahmu lecet karena heels itu, Ms.Granger," ucap Andre lirih tanpa mengedipkan kedua matanya. Aku menggeleng keras entah mengapa rasanya muak melihat pria seperti dirinya. “Maaf, Mr.Jhonson, aku harus pergi, Mr.Lawren pasti sedang mencariku,” kataku tanpa menggunakan kalimat formal padanya sambil menggeser p****t dan bangkit dari tempat duduk lalu mengambil sepatu yang tadi di buang oleh Andre. "Dan terima kasih atas tawaran Anda, tapi aku masih cukup mampu membeli yang baru tanpa harus membuangnya!" sindirku lalu melangkah keluar ruangan tanpa mempedulikan tatapan dingin pria itu yang  menatapku hingga keluar dari ruang kerjanya. Dia pikir aku tidak bisa membeli heels lagi? Aku memakai heels-ku saat berada di luar pintu ruang kerjanya sambil mendengkus kesal. Dasar sombong, batinku sambil merengut. Sedikit terkejut ketika sosok Ketty ternyata masih menungguku di depan pintu lift sambil melipat kedua tangannya dengan eksprasi kaget. “What the hell are you doing?” tanyanya saat aku melangkah mendekatinya. "Kenapa kau keluar dengan melepas heels-mu? Apa dia….” Aku menyipitkan kedua mataku lalu memotong pembicaraannya.”Aku tidak melakukan apa-apa selain mengatakan dirinya orang sombong. Oh Astaga, apa dia benar-benar penguasa perusahaan seperti yang kau katakan?” ketusku sambil melangkah masuk ke dalam lift diikuti Ketty dibelakangku sambil tertawa. “Benarkah? Tapi memang itulah kenyataanya, Nona,” kata Ketty,"Apa dia mulai tertarik padamu, huh? How lucky you are, girl.” Aku mendengus kesal jika membayangkan wajah Mr.Jhonson. ”Jangan harap. Aku seorang lesbian, Ms. Thompson.” *ukuran delapan (USA) sama dengan ukuran 39 di Indonesia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN