“You never know when you gonna meet someone”
–Daughtry-
Gainesville, Florida (June, 2016)
Memejamkan kedua mata seraya tersenyum sambil memikirkan hal positif di depan cermin adalah ritual pagiku sebelum memulai aktivitas harian. Kubuka kedua mata memandangi diri yang terpantul dari dalam cermin, berharap kehidupan baruku nanti di kota New York akan lebih baik. Senang rasanya hidupku kini berubah dan berbeda daripada empat belas tahun lalu. Menjadi seorang mahasiswa terbaik, memiliki pekerjaan baru, dan memiliki satu sahabat sekaligus roommate abadi yang begitu baik seperti ibuku. Ini yang membuatku meyakini bahwa masih ada orang yang bisa dipercaya―setidaknya sejauh ini―walau sahabatku itu harus berjuang hampir empat tahun agar aku bisa memercayai dirinya.
“Aku Emilia Watson,” kata seorang gadis berambut blonde sambil mengulurkan sebelah tangannya saat aku duduk menyendiri di sudut gedung aula penerimaan mahasiswa baru. "Kenapa kau sendirian? Kenapa tidak bergabung dengan mereka?”
Aku mengangkat kedua bahuku tanpa membalas uluran tangannya membuatnya salah tingkah.
“Kau daftar jurusan apa? Oh, salah … siapa namamu?” tanyanya dengan nada antusias.
“Elizabeth Granger, jurusan manajemen administrasi bisnis," jawabku tanpa menatap dirinya.
“Aku jurusan jurnalistik. Hebat, 'kan? Kau akan melihatku di televisi empat tahun lagi, Teman,” kata Emilia bangga tanpa kutanya terlebih dahulu. BIbirku menyunggingkan seulas senyum tipis ketika dia mendaratkan pantatnya di sisi kananku. "Bagaimana jika kita menjadi roommate? Aku sudah mendapatkan kamar bagus dan cocok untuk kita berdua.”
Aku menganga bahkan sebelum membalas perkataan gadis itu, dia sudah menarikku menuju apartemennya tanpa menghiraukan seorang perempuan yang berpidato di depan aula.
Aku tersenyum sambil memandangi apartemen yang kutempati hampir empat tahun lamanya bersama Emilia Watson. Meski beda kampus, dia kadang menghampiriku di kelas saat jam makan siang hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanku atau apakah aku sudah menyelesaikan essai. Meski sering kali kubalas dengan sikap dingin karena masih membatasi jarak dengan orang luar. Namun, perlahan tapi pasti gadis itu tak pernah menyerah untuk menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk disebut sebagai seorang teman.
“Kau teman yang baik, Em,” kataku pada saat kami mengerjakan tugas essai mingguan. Emilia membantu mengerjakan tugas akhirku yang hampir terbengkalai karena menderita demam hampir empat hari.
“Itu gunanya memiliki seorang teman, Elizabeth,” katanya. "Jika kau butuh apa pun, kau bisa panggil wonder woman-mu ini. Tidurlah biar aku saja yang mengerjakan essai-mu.”
Jika diingat kembali, kalian pasti menyebut kami seperti pasangan lesbian, bukan? Aku sudah terbiasa dengan kalimat itu. Aku tidak peduli. Emilia pun begitu, dia mengatakan bahwa sebaiknya kami tidak dekat dengan pria manapun selama masa pendidikan di kampus. Aku menyetujuinya, selain bisa membuat tidak fokus selama pendidikan, aku juga tidak bisa dekat denganmakhluk satu itu. Dengan dosen pria pun aku selalu mengajak satu atau dua anak untuk menemaniku agar tidak terulang kembali kejadian seperti dulu.
Namun, sebaik-baiknya hubunganku dengan temanku itu, ada satu hal yang tidak bisa kuceritakan pada Emilia bahkan tentang bekas luka di leher kanan. Aku takut dia tiba-tiba menghindar karena memiliki teman yang dulu pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Kugelengkan kepala dengan cepat tuk menghilangkan pikiran negatif seraya menarik napas dan mengembuskannya pelan lalu mengulanginya lagi.
Jangan terlalu banyak pikiran aneh, Eliza, batinku.
Kemudian aku mulai mengemasi barang-barang ke dalam kardus sebelum pindah ke apartemen baru yang letaknya dekat dengan tempat kerjaku nanti. Sambil mendengarkan alunan musik milik Daughtry, aku membayangkan betapa hebatnya pekerjaanku nanti. Hampir satu jam lebih aku berkutat mengemasi barangku yang cukup banyak dalam kardus lalu memindahkan kardus itu di dekat pintu agar saat petugas pengangkut barang datang besok, mereka bisa memindahkannya lagi dengan mudah. Setelah selesai, aku mendaratkan p****t di lantai kamar untuk melepas lelah sambil merogoh Iphone dari dalam saku depan celana jeans sambil menekuk kedua lutut.
Sender : Elizabeth
To : Emy
Kapan kau akan pulang? Aku sudah mengemasi barangku, Em, apa perlu barangmu juga kukemasi?
Aku mengirim pesan singkat ke Emy yang kini sedang pergi ke rumahnya yang berada di Kentucky hampir tiga hari.
Sender : Emy
To : Elizabeth
Minggu pagi aku akan pulang subuh dan langsung ke apartemen baru kita saja. Bisakah kau mengemasi barangku juga? Tidak banyak yang dikemas, hanya baju di lemari saja yang kau masukkan ke kardus. Sisanya sudah aku kemasi sejak wisuda kemarin. Hehehe…big thanks, Sista
Sender : Elizabeth
To : Emy
Oke, bisakah kau bawakan aku beberapa kalkun untuk stok makan kita? Aku merindukan masakan ibumu.
Setelah selesai mengklik kirim pesan ke Emy, aku beralih untuk mencari kontak ibuku yang tinggal di Jacksonville lalu menekan ikon panggil.
"Halo?" terdengar suara ibu dari seberang.
"Halo, Mom. Aku sudah selesai mengemasi barang-barang. Apa Mommy benar-benar tidak bisa datang untuk menemaniku ke apartemen baru di New York?" pintaku dengan suara penuh harap. Lagipula saat wisudaku satu minggu yang lalu ibu langsung kembali ke Jacksonville karena William―suami ketiganya― sakit dan juga harus mengurus adik tiriku, Lily.
"Maafkan aku, Sayangku, Mommy harus menjaga adikmu di rumah sakit. Bagaimana jika Daddy-mu yang menemani? "
Kuhela napas kasar, entah mengapa akhir-akhir ini cuaca sungguh tidak bersahabat meski sekarang sudah memasuki awal musim panas di mana suhu kota bisa mencapai 34 derajat celcius, namun jika kau tinggal di sana rasanya akan terasa hingga 40 derajat. Setelah William sembuh dari sakit panas dan diare, sekarang Lily juga sakit. Dia sakit demam berdarah dan harus dirawat intensif di rumah sakit selama kurang lebih seminggu. Aku pun juga belum sempat menjenguk Lily karena sibuk mengurus apartemen baru serta beberapa file yang harus kuserahkan ke tempat kerja baru.
“Eliza?” panggil ibu membuyarkan lamunanku. "Kau masih di sana, Sayang? Kau mau, kan, diantar oleh Daddy-mu?” tanyanya sekali lagi.
"Will?" Aku berpikir sebentar. "Baiklah," ucapku singkat dengan nada pasrah dan wajah cemberut.
"Apakah tidak apa-apa? Mom tahu di sana kau sedang cemberut, Dear."
Aku memutar bola mata jengkel sambil mendecih. Jika ibu tahu bahwa aku enggan dengan laki-laki, kenapa dia masih saja menyuruh Will untuk datang menemaniku? Sungguh aku tidak peduli dengan ayah tiriku itu karena tidak ada yang bisa menggantikan ayah kandungku―George― walau dia sudah meninggal saat aku masih berusia enam tahun.
"Aku tidak apa-apa, lagipula aku sudah melupakan kejadian itu, Mom," kataku sambil menggigit bibir bawahku tak yakin.
"Baiklah, jam berapa kau akan berangkat ke apartemen barumu? Mommy akan menyampaikannya pada Daddy."
"Jam sepuluh, Mom."
"Oke, nanti Mommy akan memberitahu Daddy setelah dia pulang kerja nanti,"kata ibu. "Lizzie, tolong jangan panggil dia Will. Dia Daddy-mu!" tegasnya lalu menutup sambungan telepon.
####
Pukul sembilan pagi, petugas pengangkut barang sudah memindahkan tumpukan kardus berisi barang-barangku dan Emy untuk dikirim langsung ke New York. Ayahku maksudku William sudah datang sejak dua jam lalu. Tak banyak pembicaraan khusus antara aku dan William jika laki-laki paruh baya itu tidak mengajak bicara padaku dulu. Aku lebih memilih mengutak-atik ponsel di sudut kamar walau yang kubuka hanya galeri foto wisuda-i********:-galeri foto wisuda. Sedangkan William hanya bisa berdiri dengan canggung di depan pintu sambil melihat petugas pengangkut barang yang masih sibuk dengan tugasnya. Setelah barang terakhir diangkut, barulah William masuk ke kamarku.
"Jadi mulai kapan kau akan bekerja di New York ?" tanya William dengan nada canggung mencoba membuka suara.
Aku memandangnya sekilas lalu memasukkan ponselku ke dalam saku jeans sambil bangkit dari dudukku.
"Senin depan,” jawabku dengan nada dingin. "Bisakah kau mengantarkanku belanja di supermarket dekat apartemenku nanti? Kau tahu sendiri, kan, kalau aku masih belum berani membawa mobil sendirian setelah kecelakaan dua tahun lalu?”
William hanya mengangguk.
“Lagipula aku harus membeli beberapa kemeja baru dan bahan makanan," lanjutku sambil melipat kedua tangan di d**a.
Well ... aku mengalami kecelakaan mobil hingga membuat tulang rusuk dan lenganku patah serta mengalami cedera otak ringan pada malam Natal sekitar tiga tahun lalu. Dan sekarang aku masih sedikit trauma jika harus mengendarai mobil sendiri. Jadi, ke manapun aku pergi selalu menggunakan bus atau kereta bawah tanah atau diantar Emilia.
"Apapun untukmu, Eliza, akan kulakukan. Aku bisa membelikan semuanya untukmu tapi bisakah kau menghilangkan suasana yang canggung ini? Dan jangan jaga jarak kepadaku, aku tetap Daddy-mu!" tegas William dengan kesal.
Mendengar perkataan William, seketika mood-ku berubah. Aku sungguh tidak menyukai suasana seperti ini. Dia selalu saja memulai segalanya dengan menegaskan bahwa dialah ayahku yang harusnya kusayangi seperti aku menyayangi ayah kandungku sendiri membuatku bosan dan muak.
"Jangan memulai Will, kau memang Daddy-ku setidaknya bisa disebut seperti itu,” kataku dengan sedikit emosi,”tapi aku tidak suka pada semua laki-laki yang menjadi suami ibuku selain ayah kandungku sendiri, meski itu termasuk kau!" ketusku lalu melangkah keluar kamar.
Aku menghentikan langkah saat berada di ujung pintu lalu membalikkan badan menatap William sinis. "Dan terima kasih atas uang yang nanti kau keluarkan untukku."
Karena siapapun takkan mengerti apa yang kurasakan dan kualami, meski William suami ibu yang paling baik sekalipun. Posisi Daddy George takkan pernah digantikan oleh siapapun dan kapanpun.
*****
New York
6.10 am
Ini adalah hari pertama kehidupanku dimulai di salah satu kota besar di Amerika Serikat―New York! Sambil menatap diri di cermin, aku mengeringkan rambut cokelatku yang masih basah dengan hair-dryer. Bibirku tak hentinya mengulum senyum lebar dengan hati yang berdebar tak sabar memulai bekerja. Sungguh bahagia akhirnya memiliki sebuah pekerjaan yang menurutku paling hebat di dunia. Well … bekerja sebagai salah satu sekretaris manajer divisi keuangan di Jhonson's Corp adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Kadang aku masih tidak percaya bahwa gadis seperti diriku ini diterima di salah satu perusahaan terbesar di dunia itu. Kupikir, aku takkan pernah sanggup bekerja di perusahaan di mana buku-buku karya penulis terkenal diterbitkan.
Saat magang tahun lalu, hanya dua puluh orang dari dua ratus pendaftar di kampus dengan nilai tertinggi yang bisa magang di tempat itu selama tiga bulan. Meski pada akhirnya, ketika magang aku mendapat banyak hambatan dan hampir putus asa karena harus menghadapi banyak orang baru, belum lagi jika harus bersentuhan dengan orang lain. Namun, ibu dan Dokter Margaretha selalu memberiku motivasi bahwa aku bisa melakukan ini semua meski harus memakan waktu yang lama.
“Jika kau bisa menerima Emilia sebagai temanmu, mengapa kau tidak bisa menerima orang lain sebagai rekan kerjamu?” kata ibuku saat aku menelepon dirinya kemarin. "Jika ada masalah kau bisa telepon Mommy atau Dokter Margaretha, kan, Lizzie?”
“Bagaimana jika aku muntah seperti dulu?”
“Apakah anak Mommy masih muntah jika berhadapan dengan Emilia? William? Bahkan Lily?”
Aku menggeleng sambil berkata,”Tidak karena aku sudah terbiasa dengan kalian walau … aku membenci William seumur hidupku.”
Ibuku menghela napas lalu berkata,”Dia daddy-mu, Lizzie. Baiklah terserah, kau ingat, kan, apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan orang baru?”
Aku mengangguk.”Tarik napas lalu hembuskan, pikirkan bahwa mereka adalah orang baik. Aku paham.”
“Kau yakin?”
“Aku yakin. Lagipula aku sudah 22 tahun Mommy. Dan aku merasa lebih baik bisa menggapai impianku sekarang.”
"Good girl, Lizzie," kata ibu dengan panggilan sayangnya padaku.
Ibu selalu memastikan diriku untuk tidak muntah atau panik ketika menghadapi orang baru di mana pun. Hal itu kulakukan hingga hari berikutnya di tempat magang setelah insiden tak sadarkan diri setelah menabrak bahu seorang pria. Memalukan, bukan? Untung saja aku sudah tidak ingat wajah pria yang kutabrak, jika ya mungkin aku sudah tidak ingin magang di sana lagi karena takut. Dan setelah aku lulus sarjana, salah satu dosenku merekomendasikan diriku untuk melamar pekerjaan di sana kembali. Well ... finally i got it.
"Eliza!" panggil Emy―yang datang dua hari setelah kepindahanku. Gadis berambut blonde itu berdiri di depan pintu kamarku dengan setelan kemeja pink yang ketat yang membuat dadanya terlihat semakin besar dengan rok hitam ketat selutut, sedangkan rambutnya dibiarkan tergerai menutupi dadanya .
"Pancake sudah kusiapkan, makanlah!" katanya lagi lalu meninggalkanku.
Kuanggukan kepala lalu memulas lipstik matte pink ke bibir. Aku tersenyum sekali lagi tuk memastikan bahwa penampilanku terlihat rapi dan siap untuk bekerja. Namun aku sedikit kesal dengan rambut yang sedikit susah diatur. Lebih baik, Emy yang membenarkan tatanan rambut sialanku ini, pikirku.
"Emy, bisakah kau membantuku menata rambut sialan ini?" pintaku saat keluar dari kamar sambil melangkah mendekati Emy yang sedang melahap pancake-nya di meja makan kecil kami.
"Oh, ini mudah, dan kau harusnya jangan mengeluh di hari pertamamu kerja, Sayang," kata Emy sambil membalikkan badanku.
Gadis itu pun mengikat rambutku yang cokelat sebahu dengan pengikat rambut lalu menggulungnya ke dalam seperti sanggul lalu menjepitkannya dengan bobby pin. Dia membalikkan badanku lagi merapikan helaian rambut yang terurai.
"It's done, kau terlihat begitu cantik, tak salah jika perusahaan itu menerimamu," goda Emy sambil tertawa membuat kedua pipiku merona.
"Terima kasih,”kataku lalu duduk di kursi. "Lagipula, perusahaan itu tak cukup bodoh untuk menerima mahasiswa dengan IPK 3,9 hanya dari parasnya," lanjutku sambil memotong pancake dan melahapnya. Emy hanya tersenyum jahil.
"Kau tahu, aku dengar big boss di tempat kerjamu cukup terkenal di kota ini. Dan yang kudengar dia masuk salah satu pria tersukses dan terseksi versi majalah Time beberapa kali," ucap Emy dengan penuh semangat. "Aku sangat yakin dia adalah model dari agensi Calvin Klein sekelas Matt Bomer atau Matthew Terry, 'kan?”
Kuabaikan perkataan Emy dan memilih menghabiskan sarapan. Dalam hati, aku sendiri juga tidak tahu siapa big boss-ku karena saat diwawancarai di sana, yang mewawancaraiku Mr.Thomas dan Ms.Hannah sebagai direktur dan wakil direktur Jhonson’s Corp. Bahkan seingatku, saat aku magang di sana aku juga tidak tahu atau mungkin aku lupa dengan siapa saja yang memiliki jabatan tinggi karena aku tak peduli dengan mereka.
"Sepertinya aku salah menceritakan hal ini padamu. Pria paling seksi atau paling tampan sekalipun kau takkan pernah peduli dengan mereka," ejek Emy sambil tertawa renyah. "Untung saja kau bukan seorang lesbian. Meski … kita cocok jadi pasangan lesbian.”
Refleks kupukul lengan gadis yang bermulut asal bicara itu membuat dirinya tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar jika aku tak peduli dengan pria manapun meski aku bukan seorang lesbian. Ya … setidaknya hanya kau yang tahu kebenarannya bahwa aku masih normal,” kataku jika mengingat teman satu kampusku mengejek kami sebagai pasangan lesbian terutama diriku yang menjaga jarak dengan kaum pria.
”Kau benar-benar cocok menjadi reporter sesuai impianmu Ms. Watson. Lain kali aku harap kau bisa mendapatkan berita lebih baik dan berkualitas daripada harus menceritakan deretan pria- pria yang kau sebut seksi itu," lanjutku dengan nada kesal yang membuat Emy tertawa lagi.
Emy memang menjadi reporter sesuai impiannya sebagai lulusan jurnalistik. DIa pun diterima sebagai reporter di salah satu stasiun tv di New York yang letaknya dua kilometer dari tempat kerjaku. Dia juga memang senang menggodaku dengan ceritanya tentang deretan pria-pria tampan penguasa perusahan di New York setelah tahu aku tidak menyukai kaum pria meski pada akhirnya aku tidak memedulikan ceritanya itu.
"Ayo berangkat, aku akan terlambat kerja,” kataku setelah menelan potongan terakhir pancake. Dibantu Emy, kami membereskan piring-piring kotro ke dalam tempat cuci piring lalu kucuci kedua tangan dengan cepat.
Emy mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja makan. Kami pun melangkah keluar apartemen menuju basement.
"Untuk ukuran gadis yang baru lulus, ini terlalu mahal, Emy," kataku saat kami melangkah mendekati sebuah mobil mercedes R231 berwarna hitam di parkiran mobil yang terletak di basement.
Emy hanya tertawa ringan sambil membuka pintu mobil lalu kami berdua masuk. Dia pun segera menghidupkan mesin mobilnya lalu meluncur keluar apartemen membelah jalanan New York yang cukup padat.