"Baik. Aku akan menemanimu."
Adam tersenyum puas. Ia bangkit sambil berkata," aku akan menghubungi Bibimu." Lalu ia tampak pergi ke balkon.
Audrey terlibat sedih dan pasrah. Ia tak tau harus memilih yang mana. Tak ada yang menguntungkan dirinya.
**
Audrey terbangun dengan perasaan yang begitu nyaman. Aroma kamar yang berbeda membuatnya tersadar ia tengah berada di tempat yang asing. Lalu ingatannya kembali kepada sebuah pesta itu. Ia ingat sedang berada di hotel bersama Adam. Kini ia sadar,Pria itu kini tengah memeluknya. Audrey berusaha menyingkirkan tangan Adam. Ternyata pria itu langsung terbangun dan memeluk Audrey dengan erat.
"Mau kemana?" Tanya Adam parau.
"Aku ...." Otak Audrey sulit bekerja untuk mencari alasan.
"Jangan kemana-mana. Tetaplah di sini. Kau sudah berjanji bukan?" Adam memejamkan matanya sambil menenggelamkan wajahnya di leher Audrey.
Audrey melepaskan pelukan Adam Dengan cepat. Sekarang ia sudah terbebas dari lelaki itu."Ini sudah pagi. Aku...sudah bisa kembali, kan?"
Adam menggeleng, ia menatap Audrey seperti anak kecil yang tidak diizinkan makan permen kesukaannya."Di sinilah sebentar. Aku akan mengantarkanmu pulang, Miss Brown."
Audrey mengembuskan napas berat. Ia berjalan perlahan ke arah Adam."Adam...Kamu tau kan hubungan kita apa. Kau adalah mahasiswaku. Kita tidak boleh seperti ini."
Adam menatap Audrey nanar. Ia juga tidak tau kenapa harus bersikap seperti ini pada Audrey. Tidak peduli jika Audrey itu jauh lebih tua darinya."Baiklah. Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang. Kau mandilah terlebih dahulu. Pakai baju yang sudah aku sediakan di dalam sana."
Audrey menghela napas lega. Ia melangkah cepat ke kamar mandi. Ia ingin segera pulang. Adam pun tak lagi banyak bicara. Ia bersiap-siap mengantar Audrey pulang. Sikapnya mendadak berubah.
Sepanjang jalan menuju rumah Audrey ia hanya diam. Bahkan saat Audrey mengucapkan terima kasih. Pria itu berlalu begitu saja. Audrey tak ambil pusing soal itu. Ia ingin segera pulang dan istirahat karena semalaman Adam terus menguras tenaganya. Untungnya Bibi Evelyn tak banyak bertanya. Ia sungguh percaya dengan keponakannya itu.
Hari ini Audrey kembali mengajar. Ia berusaha fokus meskipun sekarang Michele tampak tak suka dengannya. Mungkin karena kesalahpahaman waktu itu. Yang terpenting adalah ia tak mengganggu Adam terlebih dahulu. Hari ini, Adam tidak masuk kelas.
Ia sedikit bertanya-tanya tapi ia tak ingin memusingkan hal tersebut. Lebih baik pria itu tak lagi muncul. Tapi, sayangnya bukan hari itu. Adam menghilang selama dua Minggu. Audrey berpikir Adam marah padanya soal ucapannya pada waktu itu. Tapi, bukankah ia benar. Mereka tak boleh seperti itu. Apalagi Adam sungguh mengetahui kelemahannya.
"Hai, Drey. Kau sudah ditunggu seseorang di kantor," kata Bianca saat mereka tak sengaja berpapasan di koridor.
Audrey mengernyit bingung."Seseorang? Siapa?"
"Zac. Kekasihmu." Bianca terkekeh.
"Dia bukan kekasihku. Dasar kau ini." Audrey pun ikut terkekeh. Sementara Bianca melambaikan tangannya sambil berjalan menuju kelas.
Audrey melangkah cepat, sudah tak sabar bertemu dengan Zac. Terakhir kali ia melihat Zac di pesta itu."Hai, Zac, sudah lama?"
Zac menoleh. Ia tampak tersenyum lega."Ya. Lumayan."
"Kau tidak memberi tahu kalau akan datang ke sini." Audrey duduk di hadapan Zac. Pria itu tampak tak bersemangat."Kau sakit?"
"Sakit hati lebih tepatnya." Zac tersenyum kecut.
"Kenapa?"
"Ashley hamil, Audi." Wajah Zac kembali mendung.
Audrey tersenyum."Seharusnya Kau bahagia karena akan memiliki keturunan, Zac."
"Dia hamil anak dari pria lain, Audi. Bukan aku." Zac menunduk sedih.
"Ma ..Maksudnya dia selingkuh? Atau bagaimana?" Audrey bergidik ngeri. Apalagi sekarang ia mengingat kejadian saat ia memergoki Ashley di hotel.
Zac mengangguk."ya. Sekita seminggu yang lalu aku mengetahui ia memiliki hubungan dengan Pak Walikota. Ia mengandung anaknya, dan sekarang mereka tengah mengurus pernikahan."
"Maafkan aku, Zac, aku turut bersedih." Audrey mengusap lengan Zac dengan sabar. Ia tau, Zac pasti sangat kecewa.
"Aku tidak menyangka Ashley akan mengkhianatiku, Audi." Lagi-lagi Zac terlihat tak terima.
"Sudah jangan sedih. Dia bukanlah takdirmu."
Zac menatap Audrey dengan intens."Sudahlah...aku tidak boleh bersedih. Dia sudah bahagia dengan Pak Walikota. Aku akan membahagiakan orang-orang di sekitarku saja."
"Nah, itu baru Zac aku." Audrey terkekeh.
"Ayo kita pergi. Kita sudah lama tidak makan bersama bukan? Atau aku akan meminta Bibi Eve memasakkan untukku." Zac meraih pundak Audrey dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa pernah Audrey sadar seseorang tengah mengawasinya.
Ponsel Audrey berbunyi saat ia baru saja menyelesaikan sebuah penjelasan kepada mahasiswanya. Ia melempar senyuman ke arah mahasiswanya sebagai pertanda Ia meminta waktu sebentar untuk melihat ponselnya. Ia mengambil ponselnya, kemudian membaca pesan masuk yang ternyata berasal dari Zac. Senyuman langsung terukir di bibir Audrey, saat membaca deretan kata-kata dari pria itu.
"Kau yakin akan menanyakannya pada Miss Brown?" Bisik Nicole pada Michele.
Michele mengangguk."Aku rasa ia tau dimana keberadaan Adam."
Nicole memainkan ujung rambutnya sambil terus mengawasi gerak-gerik Audrey yang tengah senyum dengan ponselnya."Aku tak yakin kalau dia tau keberadaan Adam. Tapi, entah kenapa aku merasa yakin dia memiliki hubungan dengan Adam."
Michele terkekeh."Hei, apa yang kau katakan. Dia itu Dosen kita...pacaran dengan mahasiswa? Untuk apa?"
Nicole memutar bola matanya kesal."Kau tidak tau kalau Miss Brown itu bukanlah berasal dari kalangan keluarga kaya? Dia hidup bersama Bibinya yang susah. Jika bersama Adam Evans, tentu hidupnya akan menyenangkan."
Michele masih terkekeh. Ia menggeleng tak percaya."Aku tidak percaya. Meskipun aku pernah melihat Adam tengah memeluk Miss Brown. Tapi, itu hanyalah sebuah salah paham. Miss Brown bukanlah type gadis pujaan Adam. Tapi, Adam sempat bertemu dengan Miss Brown sebelum ia menghilang. Aku harap itu menjadi kunci untuk menemukan Adam."
Nicole menatap Michele kesal. Sahabatnya itu terlalu percaya pada ucapan Adam yang terkadang tidak bisa dibuktikan kebenarannya."Terserah kau saja. Aku sudah mengingatkan."
"Terima kasih atas perhatianmu, Nicole." Michele tersenyum. Lalu perhatiannya kembali terpusat pada materi yang disampaikan Audrey.
"Baiklah. Waktu kita sudah habis. Sampai jumpa Minggu depan." Audrey menyandang tasnya. Lalu berjalan keluar dengan cepat.
Nicole menyikut Michele."Hei, dia sudah pergi."
Michele panik, lantas ia memasukkan semua barangnya dengan asal ke dalam tas. Lalu mengejar Audrey. Keduanya terlihat tergopoh-gopoh apalagi Audrey sudah pergi begitu jauh. Langkah mereka pun terhenti saat melihat Audrey tengah mendapat kecupan singkat di keningnya.
"Kau lihat? Miss Brown sudah punya kekasih. Lihat itu...," tunjuk Michele.
Nicole menatap ke arah Audrey dan Zac yang baru saja bergandengan tangan memasuki mobil. Mungkin saja Audrey dan pria itu memang sepasang kekasih. Tapi, ia tetap yakin bahwa Audrey memiliki hubungan khusus dengan Adam."Lalu...bagaimana dengan rasa penasaranmu? Kau tidak jadi menanyakan tentang Adam pada Miss Brown?"