Michele menggeleng."Tidak. Aku yakin Adam akan kembali. Secepatnya. Lagipula...kecurigaanmu terhadap Miss Brown tidak terbukti. Kau lihat, kan dia tengah bersama kekasihnya."
Nicole menghela napas berat."Ya sudah. Terserah kau saja. Ayo kita ke kelas berikutnya."Kedua gadis itu pergi menuju kelas berikutnya.
Sementara itu, Zac dan Audrey tengah duduk berdampingan di mobil mewah milik Zac. Sejak status single yang disandang oleh Zac pasca putus hubungan dengan Ashley, ia semakin dekat dengan Audrey. Bahkan belakangan ini mereka sering menghabiskan waktu bersama.
"Kau tidak apa-apa mengantarku makan siang?" Tanya Audrey tidak enak hati. Zac meluangkan waktunya di sela-sela jadwalnya yang padat.
Zac menatap Audrey lembut, kemudian menggenggam jemari Audrey."Aku tidak keberatan jika itu tentangmu, Audy."
Wajah Audrey merona. Mendapat kata-kata manis dari pria yang ia cintai membuatnya terbang melayang sampai ke langit. Apalagi genggaman Zac yang begitu erat, seakan tak ingin kehilangan membuat Audrey berbunga-bunga. Ia tak akan pernah melupakan momen ini.
"Kau kenapa, Audy?" Tanya Zac sambil mendekatkan wajahnya ke wanita itu.
Audrey menggeleng, terlihat malu-malu, membuang wajahnya kemana saja agar tidak bisa dilihat oleh Zac. Tapi, pria itu justru meraih dagu Audrey, mata mereka beradu. Aroma tubuh Zac menyeruak ke dalam hidung Audrey, seakan menghipnotisnya untuk mengikuti pergerakan Zac yang kini semakin mendekatkan wajah mereka.
Tanpa disangka, Zac melumat bibir Audrey. Tanpa pernah peduli ada supir di antara mereka. Audrey terkejut, tapi kemudian otaknya langsung memerintahkan untuk membalas ciuman Zac. Hati Audrey berteriak, ia sedang berciuman dengan pria yang ia cintai.
Ciuman mereka terlepas saat keduanya hampir kehabisan napas. Dengan cepat, Audrey menyeka bibirnya yang basah untuk menutupi kegugupannya. Zac mengusap puncak kepala Audrey tanpa merasa canggung seperti apa yang dirasakan oleh Audrey.
Iamerapikan jasnya, lalu memerintahkan sang supir untuk menuju ke sebuah tempat. Sementara itu, Adrey membuang wajahnya ke luar jendela menatap jalanan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu saat melewati sebuah apotik. Perasaannya mulai tidak enak.
"Audy?" Zac menyadarkan lamunan Audrey.
"Hah?" Audrey tersentak.
Zac menatap kedua bola mata Audrey."Kau terlihat resah. Apa ada masalah?"
Adrey menggeleng cepat."Aku baik-baik saja."
Zac mengangguk."Baiklah."
Kendaraan yang mereka tumpangi pun melaju ke tempat yang dimaksud oleh Zac. Sementara sepanjang jalan sejak ciuman mereka tadi, keduanya terlarut dalam pemikiran masing-masing.
**
Tangan Audrey bergetar saat melihat dua garis merah dalam testpack di genggamannya pagi ini. Kakinya terasa lemas, ia terduduk di lantai kamar mandi. Ia hamil, tentunya ini adalah anak dari Adam Evans. Bagaimana ia mengatakannya pada pria yang bahkan mungkin belum matang secara pemikiran. Apakah pria itu akan menerimanya atau tidak.
Audrey menggeleng kuat. Ia harus segera menemui Adam untuk memberitahukan masalah ini. Pria itu harus tau. Ia pun segera mandi dan bersiap-siap pergi ke kampus. Audrey berjalan cepat di koridor menuju kantor. Bertepatan ia berpapasan dengan Michele. Gadis itu tampak begitu ramah hari ini. Tak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu memberikan tatapan tajam pada Audrey.
"Selamat pagi, Miss Brown."
Audrey tersentak, ia menghentikan langkahnya dan meyakinkan bahwa itu adalah Michele."Hai, selamat pagi, Michele."
"Kau terlihat sangat buru-buru pagi ini," kaya Michele.
Audrey tersenyum tipis."Ah, tidak juga. Kau...sendirian?"
"Ya. Mungkin Nicole akan datang sebentar lagi," balas Michele.
"Maksudku...kekasihmu Adam? Dimana dia? Sudah lama sekali dia absen di kelasku bukan?" Menyebut nama Adam, jantung Audrey berdegup kencang. Ia harus menemui ayah dari janin yang tengah dikandungnya.
"Adam sedang sibuk mempersiapkan diri menjadi pewaris keluarga Evans, Mis Brown." Michele tampaknya tau benar seluk beluk keluarga Evans. Tentu aja, begitu pikir Audrey. Michele adalah kekasih Adam.
"Dia memiliki posisi penting di kantor? Seperti itu?" Audrey mulai menyelidiki latar belakang Adam. Selama ini ia tak begitu peduli, meskipun pria itu dinyatakan sebagai salah satu orang penting di kota ini.
Michele menggeleng."Dia belum menjadi siapapun,Miss. Hanya saja sekarang ... Adam tengah mengikuti setiap proses di perusahaan didampingi orangtuanya. Kau tidak usah khawatir dengan ketidakhadiran Adam, Miss. Semua sudah paham."
Audrey mengangguk, ia hanya bisa tersenyum tipis karena belum mendapat informasi dimana Adam tinggal."Oh begitu. Syukurlah. Aku hanya khawatir dia tidak akan mendapatkan ilmu secara maksimal."
"Jangan khawatir, Miss."
Audrey memutar isi kepalanya mencari cara agar mendapat alamat Adam tanpa dicurigai oleh Michele."Berarti kalian sangat jarang bertemu mengingat jadwalnya yang padat?"
"Ya seperti itu, Miss. Tapi sesekali aku mengunjunginya di Victoria Road."
"Apa rumahnya di sana?" Rumah Adam ternyata berada di komplek yang sama dengan Zac. Tentunya banyak akan begitu kesulitan mencari alamat Adam. Tapi, ia tak yakin bisa dengan mudah menemui pria itu.
"Iya, Miss. Baiklah, aku harus masuk ke kelasku, Miss." Michele tersenyum dan berlalu dari hadapan Audrey.
Audrey memijit pelipisnya, pikirannya mulai tidak fokus memikirkan kehamilannya ini. Apa yang harus ia katakan pada Bibi Evelyn. Sepanjang jam mengajar, Audrey terlihat tidak fokus. Ia melihat ke arah bangku dimana Adam selalu duduk, tapi Pria itu tidak ada. Ini semakin membuatnya stres.
Kelas berakhir, ia tak lagi memiliki jam mengajar. Audrey bergegas, ia ingin mencari Adam.
"Terburu-buru, miss Brown?"
Suara itu membuat Audrey berhenti secara spontan. Ia menoleh cepat. Ia terlihat sangat lega. Ia berbalik arah, berjalan ke arah pria itu."Aku ingin bicara padamu."
Adam menatap Audrey dengan datar."Ada apa? Katakanlah sekarang."
Audrey menoleh ke sana ke mari. Banyak sekali yang sedang berlalu lalang."Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Ini sangat penting."
Adam tersenyum sinis."Baiklah. Kita cari kelas yang kosong." Adam melangkah duluan, sementara Audrey mengikutinya di belakang. Mereka menemukan sebuah kelas kosong. Mereka pun masuk. Adam duduk di salah satu kursi sambil menatap Audrey.
"Aku hamil, Adam."
Adam mengernyitkan dahinya."Lalu?"
Audrey menatap Adam tak percaya. Reaksi pria itu sungguh melukai hatinya."Apa maksudmu? Aku sedang mengandung anakmu, Adam."
Adam terkekeh."Benarkah? Aku tidak yakin. Aku lihat kau bersama pria lain. Mungkin saja dia yang menebar benih di rahimmu."
"Apa? Aku bisa pastikan ini adalah anakmu karena aku hanya melakukannya denganmu." Audrey menatap Adam tajam. Sebenarnya ia ingin sekali menangis. Tapi ia tak ingin terlihat begitu lemah di depan Adam.
"Maaf, Miss Brown. Aku tidak percaya. Aku tau pria itu sering bersamamu sejak dahulu. Aku tidak yakin kalau itu adalah anakku." Adam berdiri, mereka bertatapan tapi tak bersuara. Hati Audrey terasa sakit dan rasa penyesalan yang begitu besar.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu, Adam?" Tanya Adrey dengan suara yang bergetar.
Adam mengangguk pasti. Kemudian ia melangkah meninggalkan Audrey sendirian. Audrey hanya bisa meratapi nasibnya sekarang. Hidupnya juga seakan berakhir sampai di sini.