D.C | Part 7 – Sekretaris Plus-Plus

2331 Kata
Caesar menarik nafas panjang saat melihat Valerie yang duduk di depan bar dan memainkan sloki kosong sedari tadi. Caesar sangat tahu apa yang sedang Valerie pikirkan. Rasanya jika bisa, ia sangat ingin membantu meringankan beban pikiran Valerie. Tapi bagaimana caranya? Yang ada ia malah menambah beban sahabatnya itu. Mark menghampiri Caesar, menepuk pundak pria itu dan mengajaknya mendekati Valerie. Caesar tak bergeming. Ia membiarkan Mark yang mendekati Valerie lebih dulu, Mark duduk menghadap ke arah Caesar, dengan tangan tersandar di bar, Mark menggoda Valerie. “Gak usah dipikirin, aku tahu aku sangat tampan.” Valerie menoleh dan pura-pura hendak melemparkan sloki kosongnya, tapi senyum terukir di bibirnya. Melihat itu, barulah Caesar menyusul. “Capek ya?” Caesar yang duduk di sisi lainnya merapikan anak rambut Valerie yang mengganggu wajah gadis itu. Valerie mengangguk. Ia lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Caesar. Tempat ternyaman yang selama ini ia punya. “Pundak Kai terus, sekali-kali ke sini dong Val!” protes Mark, tentu saja sengaja agar suasana menjadi ceria kembali. Bukan karena ia benar-benar iri pada Caesar. “Apa kalian bisa memukuli kepalaku hingga aku amnesia?” celetuk Valerie tiba-tiba, membuat dua sahabat di kiri dan kanannya menoleh dan menatapnya dengan tak suka. Ide gila macam apa itu? “Mungkin, kalau aku hilang ingatan, pernikahan itu tidak akan dilaksanakan.” “Atau, di malam pernikahan itu kalian bisa menculikku? Buat berita kematianku dan aku akan menghilang selamanya.” “Val…” Caesar mengelus kepala Valerie yang masih tersandar di pundaknya. Sementara Mark merubah posisi duduknya menghadap bar, agar lebih mudah melihat wajah Valerie. Mark menarik nafas panjang, jarang sekali melihat Valerie semurung ini. “Apa pun, agar pernikahan itu tidak terjadi… Bisakah kalian melakukannya?” “Bisa. Kau ingin dilakukan dengan cara apa? Kasar? Aku bisa membunuh Darrel Laurens jika kau mau.” Kali ini Valerie yang menoleh pada Mark. Ya, Valerie tahu Mark memang berpotensi untuk melakukan itu. Tapi tetap saja, ide gila itu tidak bisa dilakukan bukan? “Aku juga. Kau tinggal memerintah kami, Val. C’dride siap melakukan apa pun,” lanjut Caesar. “Haruskah kita bertemu dengan ayahmu?” tanya Mark, Valerie menggeleng. Percuma saja, ayahnya pasti tetap akan melaksanakan pernikahan ini. “Dad sudah terlanjur menyukai sibrengs3k itu. Dia sangat bisa mengambil hati dad. Dad memang sedari dulu ingin memiliki anak laki-laki, dia sekarang malah menganggap Darrel sebagai anaknya…” ujar Valerie dengan sedih. Mengingat Darrel kemaren ikut serta ia dan ayahnya sarapan dan melihat sendiri kearkraban keduanya membuat Valerie semakin frustasi. “Apa aku akan benar-benar menjadi istrinya Darrel Laurens? Pria yang sangat aku benci? Pria yang membuat aku mendirikan semua ini?” “Menikah bukan berarti semuanya berubah Val. Semuanya akan tetap sama. Aku akan pastikan itu. Pernikahan itu palsu, dan akan tetap seperti itu.” Caesar berkata sambil menggenggam tangan Valerie. Meskipun Valerie akan menikah, Valerie tetaplah sahabatnya yang akan selalu ia lindungi. Tidak peduli pada laki-laki yang muncul tiba-tiba dan mengaku sebagai calon suami Valerie itu. Ya, ia akan melindungi Valerie. “Anggap saja itu pernikahan kontrak Val. Atau kita bisa membuat perjanjian pada pria itu. Serahkan saja pada kami, dia pasti akan menandatangani kontrak itu Val. Tapi, semuanya akan berantakan kalau nantinya kau benar-benar mencintainya.” “Mencintainya? Aku akan memotong pendek rambutku jika itu terjadi!” ujar Valerie dengan sungguh, ia amat menyukai rambut panjangnya hingga tidak pernah menggunting pendek rambutnya. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi sehingga Valerie berani mengorbankan rambutnya untuk itu. “Apa tidak ada yang lebih ekstrem dari pada itu?” protes Mark, sedangkan Caesar sendiri sangat tahu apa makna rambut panjang Valerie bagi gadis itu. “Aku akan membiayai pernikahanmu nanti jika aku mencintai pria itu,” ujar Valerie dengan sungguh, membuat Mark tertawa terbahak. “Pernikahan? Tolong carikan wanita yang tepat dulu untukku baru kau boleh berkata tentang pernikahan Val!” “Banyak kok yang mau padamu, kau saja yang menutup hati untuk mereka.” Valerie mencurahkan segelas minuman lagi pada sloki yang sedari tadi kosong. Ia lalu meminta dua sloki lagi pada bartender, begitu dua sloki itu ada di hadapannya, ia mencurahkan minuman itu dan memberikannya pada Caesar dan Mark. “By the way, di mana Antonio dan Jane?” “Antonio? Dia sedang bersama kekasih barunya. Dan Jane? Mungkin ayahnya sedang ada di rumah.” Sahut Mark. Oh, Antonio dan kebiasaan buruknya dan Jane dengan rutinitas membosankan jika ayah otoriternya ada di rumah. “Apa kau besok akan kembali bekerja dengan pria itu?” tanya Caesar dan Valerie mengangguk. “Tidak usah pergi jika kau tidak ingin. Kau kan bisa pura-pura sakit,” usul Mark, disambut anggukan Valerie. Sungguh ide yang sangat bagus. Baiklah, besok ia akan membuat drama berikutnya. Ia tidak akan sudi bekerja untuk Darrel lagi. ***   “Val, kau harus bangun!” “Val!” Valerie membuka matanya perlahan, jika saja yang membangunkannya saat ini adalah pelayannya, maka pelayan itu pasti sudah ia maki atau bahkan bantal yang bertengger di kepala pelayan itu. Tapi ini, suara berat milik ayahnya. Tumben sekali pria tua ini membangunkannya seperti ini? “Ugh…” Valerie melenguh, ia menarik kembali selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Menolak untuk bangun dan hendak kembali tidur. “Val, kau harus bekerja!” Valerie dengan cepat membuka selimutnya lagi, ia menatap wajah ayahnya dengan wajah yang sedang kesakitan. Atau lebih tepatnya pura-pura kesakitan. “Aku sakit, dad. Kepalaku pusing, perutku mual, seluruh tubuhku sakit sekali.” “Benarkah? Haruskah dad memanggil dokter kemari?” Oh terkutuklah Valerie karena Herald, ayahnya benar-benar mencemaskan putri semata wayangnya. Herald meraba kening Valerie, suhu tubuh gadis itu tentu saja normal. “Kau baik-baik saja, Darrel menunggumu di kantor. Tolong jangan bikin dia kecewa, dia sudah cukup banyak menderita Val.” Demi neptunus. Entah kisah sedih macam apa yang Darrel ceritakan kepada ayahnya sehingga Herald sangat bersimpati pada pria brengs3k itu. “Dia brengs3k, Dad. Dia tidak seperti yang dad pikirkan… Dia itu sangat-” “Dia akan berubah ditanganmu. Dia sudah berjanji untuk melindungimu, dan tidak akan menyakitimu, dad akan mematahkan tangannya jika ia berani melakukan itu. Sekarang bangunlah, bahkan setelah menikah nanti, kau tetap harus berlatih bisnis di kantornya.” “berlatih bisnis? Si brengs3k itu membuatku menjadi sekretaris dad! Aku tidak sudi melakukan itu!” Herald menggelengkan kepalanya, Valerie tetaplah putri kecilnya yang manja. Jika mengikuti kata hatinya, ia tidak akan tega melihat Valerie bekerja seperti itu. Ia pasti akan membiarkan Valerie terus bermain bersama C’dride. Tapi sudah saatnya, Valerie akan menggantikan posisinya dengan bantuan Darrel tentunya. “Gladwin Holding akan jatuh ke tanganmu, Val. Kau harus banyak belajar bersama Darrel Laurens. Dia pria yang sangat pintar dan pekerja keras. Dad percaya padanya. Dia bisa membuatmu menjadi lebih dewasa. Iya, sangat dewasa. Valerie merengut, ia tidak tega melawan Herald meskipun ia merasa Herald mengantarnya ke kandang singa. Biarlah. Ia akan melawan Darrel dengan caranya sendiri. *** Valerie mengendarai mobil sport berwarna hitam, sudah lama sekali mobil ini terparkir manis di garasi mansionnya. Kali ini, Valerie sudah mengenakan stelan sekretaris dari mansionnya. Tenang, Valerie punya rencana tersendiri. Meskipun rok yang ia kenakan terlalu pendek, serta belahan blousenya yang terlalu turun. Ia sengaja melakukan itu. Ia akan menyiksa Darrel hari ini! Brum! Brummm! Valerie menggas mobilnya dengan keras begitu memasuki basement L-Tech. Ia tidak peduli bahwa suara mobilnya itu berisik. Valerie menyambar tas kecil dengan harga fantastis itu kemudian turun dari mobil usai memastikan mobilnya terparkir dengan rapi. Gadis itu berjalan dengan percaya diri, heels merahnya membuat kaki panjang dan putihnya tampak seksi. Ah, Valerie juga mengikat rambutnya, memamerkan leher putihnya, tak lupa lipstick merah yang membuat bibirnya semakin seksi. Valerie menekan angka di lift, ia merasa geli sendiri usai melihat pantulan dirinya dari pintu lift. Dia benar-benar tidak terlihat seperti ‘Valerie’ yang biasanya. Kini ia benar-benar terlihat seperti sekretaris idaman semua CEO-CEO muda. Sempurna. Ia akan menyiksa Darrel hari ini. Lift terbuka, Valerie berjalan dengan angkuh dan tidak menunduk sedikitpun meski bertemu dengan orang-orang berdasi yang mungkin saja jabatannya lebih tinggi dari pada dirinya. Valerie masuk ke dalam ruangannya yang berhadapan dengan ruangan Darrel, sepertinya pria itu sedang ada tamu, karena terdengar suara tawa dan tunggu. Kenapa tawa itu sangat manja dan terdengar menggoda? Dan kenapa tiba-tiba Valerie membuka pintu? Damn it! Valerie mematung, ia hanya bisa memberikan senyum saat beberapa kepala di dalam ruangan menoleh padanya. Darrel Laurens, sedang memangku seorang wanita cantik di sofa ruang kerjanya. Di hadapan Darrel terdapat satu orang pria yang sepertinya seumuran dengan Darrel. Hell, ada apa ini? Apa mereka sedang threesome? “Oh, dia sekretaris barumu?” tanya gadis berrambut pirang yang sedang memeluk leher Darrel itu. Valerie kini membuka pintu lebar-lebar. Sudah terlanjur Valerie. Show must go on! Darrel mengangguk, dan gadis itu menatap Valerie dengan tidak suka, ia lalu membisikkan sesuatu pada Darrel, membuat Darrel tertawa. “Tenang saja, kau tetap gadis favoritku, Darl.” Huek. Tunggu, kenapa Valerie mendadak mual? “Kemarilah cantik,” ujar pria yang berada di hadapan Darrel. Membuat Darrel menoleh pada pria itu dan menatapnya dengan penuh arti. “May I? Dia hanya sekretarismukan?” tanya pria itu, Valerie tersenyum. Ini saat yang tepat untuk membalas Darrel Laurens itu. Untuk apa pria itu meminta izin pada Darrel atas dirinya? Tidak, ia tidak butuh izin Darrel sama sekali untuk itu. Valerie kemudian segera masuk, ia bahkan duduk di atas pangkuan pria itu, melakukan persis seperti gadis yang dipanggil ‘Darl’ oleh si devil itu. Darrel terpaku. Matanya hanya menatap tingkah Valerie yang centil di hadapan pria lain. Entah kenapa rahangnya mengeras. Ingin rasanya ia menyingkirkan gadis itu dipangkuannya. Tapi apa daya, bisnis adalah bisnis. Apa yang terjadi jika ia melempar gadis dipangkuannya saat ini? “Dari mana kau mendapat wanita secantik ini Darrel?” Darrel tak menjawab, ia mencoba tersenyum untuk merespon pertanyaan clientnya itu. “Apa di perusahaanmu terdapat lowongan? Bisakah aku bekerja ditempatmu saja?” tanya Valerie sembari menggulung dasi pria itu. Valerie berusaha keras untuk terlihat sensual di hadapan pria itu, meski di dalam hatinya Valerie sudah merasa mual dan ingin muntah saja, ia bahkan merasa jijik pada dirinya sendiri. Sia4lan. Ini semua demi si devil ini. “Sungguh? Apa Darrel tidak memberikan mu gaji yang cukup?” tanya pria itu dengan serius, Valerie membalas tatapan pria itu, wajah keduanya sangat dekat. Pria itu menelan ludah dan Darrel melihat dengan jelas tatapan client di hadapannya terhadap Valerie. Si4l, apa-apaan dengan blouse itu? Kenapa belahannya sangat rendah? Pantas saja client itu sedari tadi tidak henti menatap tubuh Valerie. Ah, persetan dengan gadis yang ada dipangkuannya saat ini. “Cukup Val,” Darrel menyingkirkan rengkuhan pada lehernya, ia lalu berdiri dan membuat gadis dipangkuannya nyaris terjatuh jika tidak dengan cepat berdiri. Mulut gadis itu bahkan ternganga melihat perilaku Darrel yang tiba-tiba berubah. “I’m so sorry bro, dia calon istriku yang sedang cemburu karena Darling duduk dipangkuanku. Bukan begitu sayang?” Darrel menarik Valerie, memaksa gadis itu menjauh dari clientnya yang Darrel yakini sudah turn on. Jelas saja, pria normal mana yang tidak turn on melihat penampilan Valerie saat ini? Belum lagi bibir merah menggoda itu. Arght, Darrel memaki di dalam hatinya. ‘Tunggu saja Valerie, akan ada saat yang tepat untuk meladeni permainanmu.’  Darrel bermonolog sementara Valerie tanpa sadar pasrah saja saat Darrel menarik dan menyembunyikannya di belakang punggung Darrel yang tercetak dengan jelas otot-otot di balik kemeja itu. Ya, Darrel melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dan dasi saja.   Hell, Darling? Ternyata nama gadis ini adalah Darling? Crap,  nama macam apa itu? Valerie memaki dirinya sendiri. Untuk apa ia merendahkan harga dirinya dengan duduk dipangkuan pria tidak dikenali itu kalau ternyata Darrel hanya memanggilnya nama? Tunggu, kenapa ia harus dipusingkan dengan Darrel yang memanggil wanita lain dengan sebutan ‘Darl’? “Calon istrimu?” suara Darling memecah keheningan disaat Valerie tengah sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri. “Ya, dia sedikit pencemburu. Kau harus menghilangkan kebiasaan manjamu itu, Darl.” Darrel mengacak rambut wanita itu. Sayangnya, client pria itu sepertinya marah. Ia langsung berdiri, merapikan jasnya dan menarik tangan Darling untuk ke luar dari ruangan. Darrel kembali duduk sembari melonggarkan dasinya. Sementara Valerie masih berdiri terpaku. Perasaannya mendadak tidak enak. Apa Darrel akan kehilangan rekan bisnisnya? “Sepertinya kali ini aku akan kembali merugi,” ujar Darrel frustasi. Harusnya ia bisa menahan diri untuk tidak menarik Valerie dari pangkuan clientnya itu. Apalagi clientnya satu ini memang suka diberikan service ekstra seperti biasanya. Namun kali ini berbeda, sekretaris yang dulu memberikan service ekstra telah berhenti bekerja. Dan kini, Valerie sekretarisnya. Ia tidak mungkin berbagi Valerie dengan rekan bisnisnya bukan? Ia tidak sudi ada pria lain yang menyentuh mainan miliknya. “Aku bisa membantumu supaya tidak rugi. Sebutkan dia clientmu dari perusahaan mana? Aku akan mendatanginya secara pribadi,” ujar Valerie karena merasa bertanggung jawab, Darrel sudah mengalami kerugian karena ulah teman-temannya. Ia tidak ingin Darrel kembali mengalami kerugian sehingga ia harus lebih lama lagi bekerja di tempat ini. “Dan kau mau dipakai olehnya? Satu-satunya cara mendapatkannya kembali adalah kau melayaninya.” “Apa? Kenapa seperti itu? Ini soal bisnis, bukan soal s**********n tuan muda. Mungkin saja otak client anda itu tidak penuh dengan persoalan s**********n seperti otak anda.” Darrel terkekeh. “Kau tidak pernah tahu seperti apa dia. Biarkan saja, aku masih punya banyak client lain.” “Oh. Aku baru tahu bahwa bisa memadukan seks dan bisnis? Apa begitu caramu melayani client? Dengan membiarkan dia duduk dipangkuanmu? Apa karna itu Laurens Corp bisa sebesar sekarang?” “Yup. Benar sekali. Kau mau tahu rasanya? Ah, apa aku harus membiarkanmu menjadi sekretaris plus-plus? Seperti sekretarisku sebelumnya? Yang dengan suka rela melayaniku, dan juga para clientku? Ah sayang sekali. Sekretarisku harus berhenti.” Valerie mengepalkan tangannya. Rencananya untuk menyerang dan membuat Darrel menderita hari ini dengan penampilannya lagi-lagi gagal dan berbalik padanya. Justru Darrellah yang menyerangnya. Telak hingga harga dirinya rasanya sudah tidak tersisa. “I hate you! Devil! Bastard! m***m!” “Ya. And that’s why we’re gonna married really soon, honey, beast.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN