D.C | Part 6 - Sekretaris?

2213 Kata
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”  Darrel menghalangi langkah kaki Valerie yang hendak menaiki motor kesayangannya. Hell, kenapa pria ini belum pergi dari mansionnya? Dan dari mana pria ini mendapat stelan rapi seperti ini? Apa dad yang memberikannya? Ah persetan. Valerie memilih untuk diam. Darrel mengekori Valerie dan menghadang gadis itu ketika Valerie hendak menyalakan motornya. Bukan tanpa alasan Darrel bertanya seperti itu. Entah kenapa, rasanya Valerie tidak asing tapi ia tidak bisa mengingat di mana dan kapan pernah mengenal Valerie. Karena terlalu banyak wanita yang datang dan pergi di hidupnya. Bukan salahnyakan jika ia tidak mengenali Valerie? “Minggir tuan muda Darrel yang terhormat.” “Well, aku menyukai kau memanggilku seperti itu. Aku sedang free hari ini. Aku akan mengikutimu kemana saja, tapi tidak dengan motor itu. Ayo.” Tanpa permisi, Darrel dengan mudah mengangkat tubuh Valerie dari motornya, menggendong Valerie seperti sekarung beras di pundaknya. “Oh my! Darrel apa-apaan ini! Darrel lepas! Darrel! Bastard! Lepas!” Valerie terus memukuli punggung Darrel, namun Darrel tidak memperdulikannya. Dengan langkah kakinya yang lebar ia dengan cepat sampai dimobil mewah miliknya dan memasukkan Valerie dengan paksa. Usai menduduki Valerie dan memasangi seatbelt, Darrel setengah membungkuk dan satu tangannya menahan tubuhnya di atas kap mobil. Valerie menelan ludah. Manik mata coklat milik Darrel menusuknya. Darrel terlalu tampan. Si4l, bisa-bisanya ia terbius dan tetap diam hingga Darrel berhasil membawanya seperti ini. “Aku sedang tidak menerima perlawanan, honey beast. Anggap saja ini sebagai bentuk pertanggung jawaban karena ulah teman-temanmu itu.” Darrel lalu menutup pintu mobil sementara Valerie masih mencerna panggilan Darrel barusan. Honey beast? Panggilan macam apa itu? “Beast? Kau menyebutku apa?!” Bentak Valerie saat Darrel masuk dan duduk di kursi kemudi, Darrel tertawa sambil memasang seatbelt. Darrel amat menikmati wajah merah milik Valerie. Gadis itu tampak emosi dan seperti hendak memakannya saja. Ah, itu yang ia sukai dari Valerie. Valerie semakin seksi dengan raut wajah seperti itu. Sementara Valerie melipat kedua tangannya di d**a, kesal marah dan terpesona bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, ia terbangun dipelukan Darrel, calon suaminya yang harus selalu ia benci. Pertama kali baginya ia berbagi ranjang dengan pria selain sahabatnya, Caesar. Tidak, Valerie tidak tidur hanya berdua dengan Caesar, tetapi bersama Antonio, Mark dan Jane di dalam basecamp C’dride. Ah, kalian tentu pernah melakukan itu bersama sahabat kalian bukan? Valerie bingung. Ia sungguh tidak siap jika harus menikah dengan Darrel Laurens, orang yang sudah ia hindari beberapa tahun terakhir. Ia harus melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan ini. “Kita harus membatalkan pernikahan ini,” ujar Valerie tiba-tiba. “Kenapa harus?” jawab Darrel tanpa menoleh pada Valerie. “Karena aku membencimu.” “Bagus kalau begitu. Kita harus menikah kalau begitu.” Valerie menoleh pada Darrel, melihat wajah serius Darrel, lengan kemeja yang tergulung dan satu kancing atas yang terbuka membuat Darrel semakin tampan saja. Nah, berapa kali sudah Valerie terpesona pada Darrel? Valerie menggelengkan kepalanya. Ia lalu merubah tatapannya yang sempat terbius oleh pesona Darrel, menjadi tatapan penuh kebencian. “Kubilang aku membencimu. Kenapa jadi harus menikah?!” “Ya karena aku menyukai orang yang membencimu. Apalagi gadis manis sepertimu.” “Aku sudah tidak perawan. Bukannya kau tidak menyukai gadis yang sudah pernah disentuh oleh pria lain?” “Pengecualian untukmu. Darimana kau tahu itu? Oh, kau sudah mencari tahu banyak hal tentang calon suamimu? Menggemaskan sekali honey beast-ku ini.” Darrel mengelus puncak kepala Valerie dan tentu saja ditepis oleh Valerie dengan kasar. “Nama bajing4n brengs3k sepertimu sudah sangat terkenal di seluruh negeri ini, tuan muda.” “Baiklah. Aku akan berhenti menjadi brengs3k jika itu mengganggumu.” “Jangan konyol!” “Aku serius. Aku hanya akan menjadi brengs3k denganmu. Bukan dengan gadis lain. Jadi, siap-siap saja honey, beast.” “Berhenti memanggilku seperti itu!” “Lihat, panggilan itu memang sangat cocok untukmu. Sekarang, ayo turun.” “Apa?” Valerie menatap sekeliling. Sejak kapan mobil ini berhenti dan sudah terparkir dengan sempurna? Eh, L-Tech Corp? Kenapa Darrel membawanya ke tempat ini? “Ngapain kita ke sini?” “Kerja. Kau harus mengganti rugi akibat perbuatan teman-temanmu itu.” Darrel segera turun, ia membukakan pintu untuk Valerie yang masih terpaku. Enggan turun dari mobil. “Turun atau aku akan menggendongmu honey beast.” “Ck! Dasar brengs3k!” Valerie akhirnya menuruti Darrel, ia mengekori Darrel dengan percaya diri. Tidak peduli beberapa karyawan yang menatapnya dengan aneh karena jaket kulit yang ia kenakan. Sesampai di ruangan Darrel, Valerie menatap sekeliling. Ruangan ini sangat maskulin, sesuai dengan karakter Darrel. Tunggu, apa ada kamar di dalam ruangan ini? Oh, tidak heran jika ada kamar di dalam ruangan ini. Agar Darrel bisa bermain kapan pun dengan wanita-w************n itu pastinya. Si4l, Valerie mendadak mual dan ingin muntah. Darrel masuk ke dalam kamarnya, dan tentu saja Valerie memanfaatkan itu untuk kabur. Sayangnya pintu terkunci. Padahal Valerie tidak melihat Darrel mengunci pintu ini. “Jangan berpikir untuk kabur, beast. Aku bisa mengunci pintu ini hanya dengan menjentikkan jariku,” ujar Darrel dari dalam kamar. “Ck! Menyebalkan!” jawab Valerie yang tentu saja didengar oleh Darrel. Sofa tak bersalah itu menjadi korban amukan Valerie. Boots hitam itu menendang sofa mahal milik Darrel berulang kali hingga sang pemilik merasa puas dan lelah. Klik, pintu kamar terbuka. Darrel ke luar dengan stelan yang berbeda dari sebelumnya. Rambutnya sudah tertata rapi, si4l. Bau apa ini? Parfum maskulin yang sangat menggoda Valerie. Bahkan, di dalam kamar itu terdapat kamar mandinya? Oh jangan heran Valerie! Di ruangan dad juga ada hal semacam itu. Ah, apa ini karena ia sudah lama tidak main ke kantor ayahnya? “Sekretarisku akan membawakanmu baju. Bergantilah nanti dan temui aku di ruang meeting.” “Dan kenapa aku harus menurutimu?” “Karena saat ini aku adalah bosmu.” “Apa?!” “Sejak kapan?” “Sejak teman-temanmu membuatku rugi hingga milyaran,” Darrel membuka pintu, dan hendak pergi saat Valerie melemparkan bantal sofa dan mengenai kepala pria itu. “Aku tidak akan sudi bekerja untukmu!” “Maka aku akan mengirim anak buahku untuk menghancurkan teman-temanmu.” Valerie ternganga. Darrel bahkan tidak menoleh padanya. Bagaimana bisa? Kenapa ia begitu terintimidasi oleh pria ini? “Good girl. Jangan berani untuk melawanku.” Ujar Darrel setelah tidak mendengar bantahan dari Valerie. Cukup mudah untuk mengontrol gadis itu. Hanya perlu mengancam sedikit untuk menyentuh teman-temannya. maka ia akan melakukan apa pun untuk melindungi teman-temannya. Yah, si brengs3k ini memanfaatkan itu dengan baik. Tak lama, seorang karyawan yang Valerie tebak sebagai sekretaris Darrel muncul. Valerie salah menebak, ia mengira jika sekretaris devil itu adalah seorang wanita cantik dan seksi. Kenapa ini malah seorang pria? Sekretaris pria itu memberikan Valerie sebuah tas belanja yang berisi stelan blouse dan rok bermerk. Valerie menelan ludah. Ia tidak menyukai bekerja seperti ini. Bahkan ayahnya saja sudah membujuknya ratusan kali untuk bergabung dengan perusahaan ayahnya, tapi selalu ia tolak. Kenapa ia harus melakukan ini untuk devil itu? Sial4n. “Kenakan ini segera, Boss sudah menunggu anda.” “Tidak perlu menyuruhku! Apa kau tahu siapa aku?!” “Bukannya anda sekretaris baru Boss?” “Apa?!” “Boss bilang ke saya bahwa anda adalah sekretaris baru untuknya. Memangnya bukan?” “Aku ini Valerie Gladwin! Pemilik Gladwin Holding! Kenapa aku harus menjadi sekretaris di sini?!” “Baiklah tapi tolong jangan berlama-lama lagi, meeting akan segera di mulai dengan Matthew Company. Tolong persiapkan diri anda dengan baik.” “Matthew company?” Valerie menelan ludah. Ia pernah mendengar dari ayahnya bahwa perusahaan inilah yang membuat Laurens Corp hampir bangkrut. Sepertinya akan seru. Valerie segera berganti pakaian dan segera ke ruang meeting. Tidak, ia melakukan itu bukan karena akan bekerja sungguhan menjadi sekretaris. Ia hanya ingin melihat Darrel hancur di ruang meeting itu. Tok tok! Valerie mengetuk dengan pelan dan masuk ke ruang meeting. Seketika seluruh pria yang ada di ruangan itu menoleh. Membuat Valerie menghentikan langkahnya. Si4l, kenapa pria-pria ini menatapnya seperti itu? “Ehm, Val. Kemarilah.” Oh thanks God, kali ini Darrel menyelamatkannya dari situasi canggung. Dasar bodoh. Kenapa kau malah masuk begitu saja Valerie! Valerie memaki dirinya sendiri sambil berjalan menuju Darrel, dan duduk di samping Darrel yang berada di ujung meja, menjadi pusat dari meeting ini. Dan, di seberang Darrel, seorang pria tampan yang tidak asing duduk dengan wajah yang tengil menatapnya. Ah, bukankah dia Aaron Mathew? Apa ia akhirnya meneruskan perusahaan milik ayahnya dan tidak menjadi aktor lagi? “Perkenalkan, dia Valerie. Sekretaris baruku yang akan menjadi istriku juga.” “Pft. Apa kau semiskin itu sekarang? Kau tidak bisa membayar sekretaris sehingga menjadikan putri satu-satunya Gladwin ini sebagai sekretaris? Pstt, hey Baby, kenapa kau tidak menjadi kekasihku saja? Kau tidak perlu repot-repot bekerja seperti ini. Sayang sekali tanganmu yang seksi itu harus bekerja dengan keras.” Brengs3k. Entah kenapa tatapan Aaron lebih merendahkannya dibanding cara Darrel menatapnya. Valerie hendak menjawab, namun tangan Darrel yang tiba-tiba meraih tangannya membuatnya kaget dan terdiam. “Aku menjadikannya sekretarisku karena dengan begitu dia menjadi lebih sering bersamaku. Bukan karena tidak memiliki uang atau apa pun yang ada di dalam kepalamu. Lagipula, tujuan anda di sini adalah untuk mengembalikan apa yang sudah anda ambil dengan paksa. Berhenti membuang waktu dan tanda tangani saja berkasnya. Jangan bangga karena telah membuat kami hampir kehilangan semuanya. Itu karna ulah orang bodoh yang mudah percaya dengan sampah seperti kalian. Biar kuperingatkan, jangan pernah mengganggu Laurens lagi. Atau kupastikan semua asetmu menjadi milikku. Dan berhentilah bermimpi untuk mendapatkan Zihan! Akan kupastikan kau tidak akan bisa melihatnya lagi!” *** Valerie sudah sekian kali mondar-mandir dan Darrel tetap saja fokus pada layar laptopnya. Setelah meeting tadi, pria itu kembali ke ruang kerja dan sangat fokus pada pekerjaannya. Lagi-lagi Valerie salah menebak Darrel. Ia mengira Darrel tidak pernah serius dalam hidupnya dan selalu menghabiskan waktunya dengan bermain bersama banyak wanita. Tapi kenapa di balik meja kerjanya Darrel sangat serius? Kan itu menambah tingkat ketampanannya. Astaga apa yang kau pikirkan Valerie! “Beri aku pekerjaan yang benar Darrel! Kenapa aku hanya berdiam diri saja sambil mengenakan pakaian ala sekretaris ini?!” “Kau tidak perlu melakukan apa-apa, beast. Kau cukup diam dan menemaniku saja. Itu pekerjaanmu.” “Membosankan! Kalau begitu aku ingin pulang saja!” “Ya kita akan pulang sebentar lagi. Bertahanlah sebentar.” “Ya setidaknya berikan aku pekerjaan agar aku tidak berdiam diri dan bosan seperti ini.” “Pekerjaan? Bagaimana kalau memijit kepalaku?” “Kepala?” “Iya, kepala atasku. Tenang saja. Tapi kalau kau mau memijit kepala lainnya ya dengan senang hati aku akan menerimanya.” “Bermimpilah untuk itu! Lebih baik aku diam saja kalau begitu.” Valerie benar-benar bosan. Sudah seharian ini ia tidak melakukan apa pun. Hanya menemani devil itu bekerja dan mengekori kemana pun pria itu pergi. Ia benar-benar merindukan C’dride. Sedang apa ya mereka? Valerie lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Caesar dengan video call. “Yes baby?” panggil Caesar dari seberang sana dengan iseng. “Hai Val!” “Valerie kemana saja kau?” Suasana riuh segera menghampiri Valerie, Mark dan Antonio berusaha merebut ponsel Caesar dan ingin melihat wajah Valerie. Membuat Valerie tertawa dan terhibur dengan ulah teman-temannya. “Val, kau sedang di mana?” tanya Caesar setelah berhasil merebut kembali ponselnya dan menjauh dari Antonio dan Mark. “L-Tech. Aku dipaksa bekerja oleh si devil itu,” ujar Valerie sengaja agar didengar oleh Darrel. “Apa? Kau perlu bantuan di sana? Apa kau menerima itu karna ulah kami kemarin?” Valerie tidak menjawab. Dan Caesar menebak itu benar. Caesar menelan ludah. Tidak menyangka perbuatannya akan semakin membuat Valerie semakin menderita seperti ini. “Maafkan kami ya Val. Aku akan menghadap pria itu dan mengganti rugi semuanya. Kau tidak perlu bekerja seperti ini bahkan tidak perlu menikah dengannya.” “Tidak, tidak Caesar. Aku di sini karena perintah Dad, bukan karena ganti rugi atas kejadian kemarin.” Kilah Valerie. Sungguh ia tidak ingin teman-temannya mengetahui bahwa Darrel memerasnya karena kejadian kecelakaan itu. Biarlah itu ia hadapi sendiri. Ia akan melindungi C’dride dari apa pun. “Benarkah?” tanya Caesar lagi, “Iya Kai. Jangan mencemaskanku, oke?” “Ehm!” tegur Darrel karena mendengar pembicaraan Valerie sepertinya semakin mesra dan ia tidak menyukai itu. “Sudah dulu ya Kai, ada boss gila yang sepertinya akan mengamuk.” Valerie mematikan panggilannya dan menatap Darrel dengan sinis. Demi apa pun ia sudah sangat bosan satu harian berada di dalam ruangan ber AC seperti ini. Ia sudah sangat merindukan jalanan dan motor kesayangannya. “Aku harus pulang duluan tuan muda!” “Kenapa harus?” “Aku merindukan teman-temanku. Motorku. Aku ingin ke sirkuit balapan dan bersenang-senang dengan temanku!” “Oh, setelah menikah nanti kau tidak boleh balapan lagi. Mengerti honey? Beast?” Valerie semakin jengkel dengan panggilan itu. Apalagi Darrel sengaja memisahkan kedua panggilan itu. Seolah memanggilnya dengan manis di awal tetapi memakinya di akhir. “Memangnya kenapa?” “Kenapa? Tentu saja aku tidak ingin Darrel juniorku terluka!” “Darrel junior? Bermimpilah untuk itu! Kita tidak akan menikah!” Valerie hendak ke luar, persetan dengan Darrel. Ia sudah tidak tahan lagi. Seluruh tubuhnya sudah sangat gatal karena seharian penuh menghirup udara yang sama dengan Darrel. “Karena kau membenciku? Ah, itu alasan yang sangat bagus untuk segera melaksanakan pernikahan, honey. Beast.”              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN