D.C | Part 5 - Sakit

2126 Kata
“Dari mana saja kalian?” tanya Valerie saat melihat Caesar, Jane, Antonio dan Mark baru muncul di semi bar milik C’dride yang dijadikan markas untuk berkumpul. Valerie menatap satu persatu wajah temannya yang tampak kusut. Seolah telah melakukan kesalahan besar di belakang Valerie. “Hey, apa yang kalian lakukan?” Valerie semakin curiga saat melihat reaksi Jane, gadis itu tampak ketakutan dan menghindari tatapannya. Berbeda dengan Caesar yang terlihat untuk tetap tenang, meski Valerie bisa melihat keringat di wajah pria itu. Sementara Antonio, pria itu sibuk memesan minuman, Valerie tahu Antonio menghindari tatapannya, karena dari antara keempatnya, Antonio yang paling tidak bisa berbohong. Mark? Seperti biasa, pria itu selalu santai. Ia berjalan melewati Valerie dan duduk di depan bar, menyusul Antonio. Ia bisa saja mengatakan yang sebenarnya, tapi Caesar yang harus mengatakannya sendiri. “Sorry Val, kita gak bermaksud… Bikin sampai separah itu.” Caesar menggaruk kepalanya, bingung hendak mengatakan apa pada Valerie. “Apa yang sudah kalian lakukan? Katakan!” Valerie sudah habis kesabaran, firasatnya mulai tidak enak. Ini pasti berhubungan dengan Darrel Laurens. “Kami hanya ingin mengerjainya sedikit. Kami tidak tahu kenapa truck itu bisa terbakar, dan sepertinya remnya blong. Sungguh, kami hanya berniat memperlambat perjalanan produknya. Bukan menghancurkan produknya, Val. Kami cuma mau memberi sedikit pelajaran pada pria sombong itu.” Valerie terdiam. Masih belum paham dengan rentetan penjelasan yang Caesar ucapkan. Produk? Truck? Dan hancur? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? “Truck berisi produk terbaru L-Tech, hancur terbakar.” Lanjut Mark dari belakang, membuat Valerie menoleh. Mark, senyum tanpa rasa bersalah. Valerie terpaku. Tunggu, apa yang sudah teman-temannya lakukan? “Kau, adalah bagian dari C’dride. Dan pria itu mencari masalah denganmu. Aku tidak peduli kau akan marah pada kami. Kami melakukan yang terbaik untukmu, Val.” Lanjut Mark, Caesar memberi kode agar Mark berhenti berbicara karena sedari tadi Valerie tidak memberi reaksi. “Tapi, aku rasa ada orang lain yang sudah lebih dulu menyabotase kendaraan itu. Ketika mendekati truk itu, aku bisa mencium aroma bensin yang menyengat. Dan dari yang kami lihat, supir itu kehilangan kendali karena rem mobil tidak berfungsi. Aku rasa, supir itu juga bayaran dari orang itu. Masa ia tidak bisa mencium bau bensin yang menyengat? Dan kenapa produk sebanyak itu tidak di kawal ketat?” Antonio yang memiliki bakat detektif akhirnya membuka suara, Valerie semakin tercengang. “Apa kami akan baik-baik saja Val? Bukan kami yang menyabotase truck itu.” Jane akhirnya bersuara, jujur ia takut. Tapi ia merupakan anggota inti dari C’dride, sehingga ketika Caesar memberikan ide gila itu, ia terpaksa harus mengikutinya. Antonio dan Mark saja langsung setuju, Jane jadi tidak bisa berkutik dan mengikuti ketiganya. “Kalian, akan baik-baik saja,” ujar Valerie akhirnya, ia lalu berjalan mendekati Mark dan Antonio, lalu menyambar jaket kulitnya yang tergeletak di kursi samping Mark, dan pergi begitu saja. “Val!” panggil Caesar, namun Valerie mengabaikannya. Caesar menarik rambutnya dan berteriak, frustasi. Mungkinkah Valerie marah padanya? “Tenang aja Man, Valerie tidak marah pada kita,” ujar Mark yang sudah menghampiri Caesar dan menepuk pundak pria itu. “Ya, semoga saja,” ujar Caesar pasrah. Semoga saja, Valerie tidak marah padanya. Ia tidak akan sanggup jika itu terjadi. “Kau selalu kuat dan tangguh, di ring mau pun di jalanan. Tapi di hadapan Valerie, kau sangat lemah Kai.” Ejek Mark sambil berbalik dan kembali ke bar, “Sial4n!”  Caesar menyusul lalu menendang b****g Mark karena kesal di ejek seperti itu. Tentu saja keduanya mengundang tawa Antonio dan Jane, yang terpaksa tertawa agar perasaannya tidak diketahui oleh siapa pun. *** Valerie kembali ke mansion dengan perasaan tidak menentu. Disatu sisi ia sangat senang melihat Darrel hancur karena ulah C’dride. Tapi kenapa, di sisi lain ia tidak tega? Oh creepy crap! Apa yang Valerie pikirkan? Valerie terus menggelengkan kepalanya sembari menaiki tangga, tidak peduli pada deretan pelayan yang membungkuk padanya. Valerie terus melangkah seolah ia hanya sendiri di mansion besar ini. Klik! Pintu terbuka, Valerie berjalan dengan tertunduk dan langsung merebahkan dirinya di ranjang tanpa memperhatikan apa pun. “Aduh!” Valerie seketika bangun saat merasakan tubuhnya membentur tubuh seseorang, “Darrel?!” teriak Valerie saat melihat sosok yang bersembunyi di balik selimutnya. Bagaimana bisa pria ini ada di kamar bahkan berbaring di ranjangnya?! “Kau! Bagaimana bisa kau ada di sini!” Valerie menarik selimut dan melemparnya, betapa terkejutnya Valerie saat melihat kemeja putih Darrel yang memiliki noda darah di bagian d**a dan perutnya. “Darrel? Kau kenapa?” Darrel meringis, ia berusaha untuk duduk saat Valerie mendekati dan menatapnya dengan cemas. Si4l, jika saja ia tidak sedang sakit saat ini, ia pasti sudah mencium bibir seksi Valerie saat ini. Wajah cemas Valerie, sangat cantik. Tidak. Valerie memang selalu cantik. Darrel tidak menjawab, tapi Valerie seolah bisa mengerti arti tatapan Darrel yang menatapnya dengan dalam, sorot mata coklatnya memberikan Valerie penjelasan, bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini sedang merasakan luka yang amat dalam. Bukan, bukan luka menganga yang membuat kemeja putih itu berdarah. Tapi luka lainnya. Luka yang akan sulit untuk disembuhkan karena tidak ada obatnya. Valerie menelan ludah. Darrel pantas menerima luka itu. Tapi, kenapa ia merasa kasihan? Perlahan, Valerie membuka kancing kemeja pria itu. Setelah sampai pada kancing terakhir, Valerie tanpa sengaja menarik kemeja itu hingga membuat Darrel meringis. “Aduh! Bisakah kau melakukannya dengan perlahan? Aku sedang tidak bisa bermain denganmu secara kasar, Honey.” Darrel memberikan senyum manisnya saat mata Valerie menusuknya dengan tajam. Ah, tatapan ini. Tatapan yang selalu Darrel sukai karena ia tidak melihat adanya rasa cinta dari mata Valerie. Ia sudah muak ditatap seperti itu oleh seseorang. Yah, siapa lagi kalau bukan Anna? Valerie pergi ke sudut ruangan, menarik satu persatu laci yang ada di kamarnya. Mencari kotak P3K yang seharusnya ada di kamarnya. Ah, kenapa benda itu tidak ada? “Val, kemarilah. Apa yang kau cari?” Valerie bergidik ngeri. Entah kenapa saat ini ia merasa sudah menjadi istri Darrel. Come on Val! Kau harusnya marah karena pria itu muncul seenaknya di kamarmu, bukannya malah mencari kotak P3K untuk mengobati lukanya! “Aku akan menghubungi dokter, dan berapa nomor bodyguardmu? Aku akan menyuruhnya untuk menjemputmu.” Valerie berjalan kembali ke arah ranjang, Darrel tersandar dengan mata setengah terbuka. Valerie kembali tidak tega mengusir Darrel. Si4l, ia benar-benar lemah pada iblis di hadapannya saat ini. “Kemarilah, aku tidak butuh dokter, bodyguard atau apapun.” Darrel menepuk ranjang, memerintah Valerie untuk duduk di dekatnya. Valerie menggeleng. Itu tidak akan pernah terjadi. “Tidak akan. Kali ini, aku akan membiarkanmu di sini kali ini. Tapi jangan berharap lebih! Aku membiarkanmu karena kau terlihat akan mati. Aku tidak mau itu terjadi di mansionku yang tercinta ini.” “Good girl,” “Tapi darahmu! Ah ranjangku yang berharga!” teriak Valerie saat melihat ranjangnya sudah ternoda oleh darah Darrel. Valerie melangkah menuju pintu, hendak memanggil pelayan agar mengobati luka di tubuh pria itu. “Mau ke mana?” tanya Darrel saat Valerie sudah di ambang pintu. Valerie menghentikan langkahnya, kenapa ia seperti babysitter si brengs3k itu saat ini? “Memanggil pelayan, untuk mengobati anda, your majesty!” “Tidak, stop. Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh kau untuk di sampingku. Val, tolong menurutiku kali ini.” “Jangan memanfaatkan keadaan tuan muda Darrel yang terhormat!” “Ayolah, tunjukkan sedikit simpatimu. Ini karena ulah teman-temanmu.” Valerie berbalik, berjalan mendekati Darrel dan menatapnya dengan sungguh, apa C’dride yang memukuli Darrel seperti ini? Haruskah ia tertawa atau mengucapkan selamat pada pria yang ada di hadapannya saat ini? “Mereka memukulimu?” “Tidak.” Darrel melepas jasnya, lalu dengan perlahan melepas kemejanya yang sudah Valerie buka seluruh kancingnya. Sambil meringis, Darrel melakukan itu dengan perlahan dan astaga, kenapa Darrel terlihat seksi bahkan tampan saat ini? Sadarlah Val! Dengan kemeja putih bermerek itu, Darrel menyeka darah di d**a dan perutnya secara bergantian. Tongkat baseball itu sepertinya di pasang duri tajam oleh Qeenan, sehingga membuat kulitnya tergores seperti ini. Valerie terbelalak. Luka di d**a Darrel amat dalam, namun tidak ada luka sedikit pun di wajah pria itu. Kenapa ia hanya terluka di d**a dan perut saja? Darrel dipukuli? Oh come on, enyahkan semua pertanyaan ini dari kepalamu Valerie. Apa yang terjadi pada pria ini tidak ada urusannya denganmu. Tapi, jika ini ulah C’dride, bukankah ia harus sedikit bertanggung jawab? “Katakan, apa mereka memukulimu?” Valerie tanpa sadar duduk di tepi ranjang, ia amat penasaran dengan jawaban Darrel. Darrel menoleh, menatap wajah Valerie lalu tersenyum. Haruskah ia memanfaatkan keadaan? Jika Valerie bisa bersimpati padanya karena ini, ia rela menderita kerugian besar dan dipukuli seperti ini, agar ia bisa mendapatkan Valerie. Mainan barunya. “Mereka tidak memukuliku. Mereka menyabotase bisnisku. Itu ulah C’dride bukan? Puluhan motor yang menghadang truck-ku. Kau tahu, aku bisa menjebloskan mereka semua ke penjara. Jadi, sebaiknya, kau turuti permintaanku kali ini. Aku tidak meminta banyak. Aku hanya perlu kau, di sisiku. Malam ini.” Valerie menelan ludah. Ulah teman-temannya kini menjadi bomerang untuknya. Harusnya ia tahu, Darrel tetaplah Darrel. Percuma ia merasa iba pada pria ini. Pria brengs3k ini malah memanfaatkan keadaan untuk memerasnya. “C’dride memang menghadang truckmu. Tapi mereka tidak menyabotase kendaraanmu. Bukan mereka yang membuat rem blong dan menyiram bensin di seluruh truck itu.” “Bensin?” “Ya, salah satu temanku menciumnya dengan jelas saat mendekati truck itu. Ada orang lain, yang ingin melihatmu hancur, tuan muda.” Valerie hendak berdiri, namun dengan cepat Darrel menarik Valerie, memaksa gadis itu tetap di sampingnya. Darrel bahkan merengkuh Valerie. “I know. Banyak yang ingin menghancurkanku. Haruskah kita hancur bersama, Honey?” bisik Darrel di balik telinga Valerie. Membuat gadis itu merinding seketika. “Lepas, Darrel!” Valerie mencoba melepas lengan Darrel yang bertengger di lehernya, ia benar-benar dalam pelukan Darrel saat ini. Bagaimana jika ia tidak sengaja mengenai luka di d**a itu? Oh yang benar saja Val! Kau masih mencemaskan luka pria itu? “Kau harus bertanggung jawab Honey. Ini ulah temanmu. Kau mau mereka di penjara?” “Penjarakan saja. Aku bisa membebaskan mereka dengan uangku!” “Oh ya? Kau yakin? Kau mau bermain denganku seperti ini?” Sial. Bahkan disaat terluka seperti ini, Darrel tetap menyebalkan dan tetap bisa mengintimidasinya. Valerie akhirnya diam. Melihat Valerie diam, Darrel mencium puncak kepala gadis itu dan tersenyum dengan puas. “Good girl.” ***   Ranjang empuk dan hangat membuat Valerie enggan membuka matanya, namun entah kenapa tubuhnya terasa berat dan susah untuk bergerak. Sejak kapan ranjang besarnya menjadi sangat sempit seperti ini? Sadar dengan apa yang terjadi semalam, Valerie membuka mata dan mendapati lengan kekar melingkar di perutnya. Oh my! Valerie segera duduk dan menyingkirkan tangan itu tanpa menoleh sedikit pun pada sang empunya lengan. Dan baru saja ia ingin beranjak dari ranjang, tangan pria itu kembali merengkuh pinggang mungilnya. “Jangan sampai aku patahkan tanganmu ini!” bentak Valerie, dan dibalas dengan lenguhan yang terdengar seksi di telinga Valerie. “Cukup! Aku akan melaporkan ini pada Dad! Bahwa kau masuk ke kamarku dengan paksa dan bahkan tidur bersamaku. Pernikahan ini pasti akan ia batalkan jika mengetahui itu!” “arht! Kenapa tanganmu ini keras sekali!” Valerie kesulitan menyingkirkan tangan Darrel, Darrel menggeliat, ia lalu bangun tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Valerie. Darrel menyembunyikan wajahnya pada leher Valerie. Lebih tepatnya, pria itu mengendus tubuh Valerie dan hanyut di sana beberapa detik sebelum Valerie memukuli jidatnya. “Aduh! Kau, tidak boleh kasar kepada calon suamimu!” omel Darrel, kali ini Valerie berhasil melepaskan diri dari Darrel, ia lalu berjalan dengan menghentakkan kaki menuju pintu sambil memaki dirinya sendiri karena bisa-bisanya tertidur dalam pelukan pria si4alan itu. “Percuma kau melaporkan pada dad. Tadi pagi sekali ia sudah ke sini dan memeriksa keadaanku. Kau masih terlelap sekali hingga ia tidak tega membangunkanmu.” Hell, apa katanya? Dad sudah memeriksa kamar ini? Artinya dad sudah tahu Darrel berada di kamarnya dan tidak marah atau melempar pria ini ke lantai dasar misalnya? Oh creepy crap! “Kemarilah, sayangnya tadi malam aku terlalu lelah dan sakit untuk menikmatimu, honey. Ini bukan malam yang terakhir kita bersama bukan? Si4l, aku rasa harus mempercepat pernikahan ini.” “Arght! Whatever! Kuasailah kamar ini! Aku bisa pergi dari kamar sialan ini!” omel Valerie lalu menghilang dari pandangan Darrel. Darrel tersenyum, ia amat menyukai setiap detik saat Valerie marah padanya. Itu sangat menyenangkan. Untuk pertama kalinya, Darrel merasa sangat nyaman berada satu ranjang dengan wanita. Rasa nyaman yang berbeda dari gadis lainnya. Perasaan nyaman yang menghangatkan. Bukan perasaan nyaman yang dipenuhi gairah. Entahlah, sulit menjelaskannya. Yang jelas, Darrel tidak akan melepaskan Valerie. Sekeras apa pun gadis itu menyerangnya. Ia akan membalikkan keadaan dan menjadikan itu bomerang untuk Valerie sendiri. Oh, poor Valerie.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN