Pintu diketuk oleh seseorang dari ara luar, membuat obrolan Langit dan Bulan buyar seketika. “Dokternya sudah datang, kamu diamlah di sini sebentar,” ujar Langit. Bulan tidak menjawab apa-apa dan hanya menatapi punggung lelaki itu menjauh darinya. Sekarang Langit bersikap begitu lembut dan manis lagi, sepetinya Bulan sudah mulai terbiasa. Lelaki yang tidak menyukai masa lalunya dikuliti itu sungguh membuat Bulan seperti berada di tegah-tengah air sungai. Kadang begitu tenang, kadang air pasang dan tidak terkendali. “Tolong periksa istri saya, Dok.” Langit baru kembali bersama seorang dokter perempuan. “Baiklah ....” “Kakak ... Kakak!” tiba-tiba suara Kania datang menghampiri mereka, dia berlari kecil ke arah Langit dengan napasnya yang terengah-engah. “Kenapa kamu berteriak begitu?!

