“Buka pintunya, dan turunlah cepat!” teriak seorang lelaki di samping kaca mobil Langit. Sementara orang di dalamnya sudah begitu tegang, ada cukup banyak orang di depan sana, sebab Tuan Guntur mengajak sebuah mobil lagi. Isinya adalah para orang-orang suruhan yang jelas tidak akan berniat baik. Mereka sudah menutup jalan bagi mobil yang ditumpangi Langit sehingga tidak bisa pergi ke mana pun. “Mas, me—mereka mau apa? Kenapa mereka kasar sekali?” tanya Suster Amara di belakang kursi Langit. Langit terdiam. “Aku yang akan menemui mereka, Lang. Kau diamlah di sini,” ujar Rion seraya melepas sabuk pengamannya, bersiap hendak keluar mobil. “Jangan! Aku tidak ingin melibatkanmu. Biar aku saja yang menghadapinya.” Langit menyela. “Tapi, Lang—“ Sebelum Rion menyelesaikan kalimatnya, Langi

